Kalam Hikmah: Belajar dari Kisah Imam Hasan al-Basri

by Penulis Palontaraq | Senin, Des 31, 2018 | 104 views
Ilustrasi - Imam Hasan al-Basri (foto: youtube)

Ilustrasi – Imam Hasan al-Basri (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Ummu ‘Adil

SUATU  hari di tepi Sungai Dajlah, Imam Hasan al-Basri seorang Sufi besar melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Kemudian terbersit dalam hati, Imam Hasan al-Basri, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!”

Tiba-tiba Imam Hasan al-Basri melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas.

Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkannya. Kemudian dia berpaling ke arah Imam Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia, maka dengan nama Allah tolong selamatkan yang seorang lagi, yang belum sempat saya tolong”, ujarnya.

Bagaimanapun Imam Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak”.

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan”. Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak itu, Imam Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati, dan bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain. Jika Allah membukakan pintu Solat Tahajud untuk kita, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur nyenyak.

Jika Allah membukakan pintu Puasa Sunat, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunat. Boleh jadi orang yang gemar tidur dan jarang melakukan puasa sunat itu lebih dekat dengan Allah, daripada diri kita.

Ilmu Allah sangat amatlah luas. Jangan pernah Kagum, takjub ataupun Sombong pada Amalanmu. Sahabatku indahnya cerita ini. Semoga menjadi Pengobat Jiwa agar kita terhindar dari sifat Mazmumah, mudah sombong dan membanggakan diri, belum lagi gila pujian dan penghargaan. Walau sehebat apapun diri kita jangan pernah berkata “Aku lebih baik dari pada kalian”. (Imam Al Ghazali)

Semoga bermanfaat adanya. Wallahu a’lam bish-showab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response