
Tulisan Sebelumnya: EGO (30-32)
EGO (33): “Sepatu Tuhan” masih di tangan. Buku kumpulan esai ini masih kupertahankan berada di rumah meski banyak kawan yang memintanya sesuai kesepakatan dipinjam bergilir.
Penulis buku ini, seorang kawan yang akhir-akhir sering kukunjungi rumahnya di Makassar, tahu bahwa bukunya masih berada di tanganku, sebagaimana sebuah kecapinya. Aku kemudian jadi tahu bagaimana esai dan kecapi harus mendendangkan sebuah kisah kehidupan.
Kecapi kupangku dan kupetik seraya mengucap paragraf demi paragraf satu judul esai dalam “Sepatu Tuhan”, dengan suara keras bersama iringan merdu lirik kecapi, keduanya terekam menjadi satu.
Saat kuperdengarkan hasil rekamannya kepada Adil anakku, ia tak percaya dan mengatakan bahwa itu bukan suara dan petikan kecapiku.
“Memangnya Etta ini tidak punya bakat seni terpendam?” ujarku pongah merasa diri sudah seniman kawakan.
Catatan Ego (33) Etta Adil, Pangkep, 11 Oktober 2012.
EGO (34): “Datang dan saksikanlah lahirnya seorang maestro kecapi dari Minasate’ne / di rumahku malam ini.” Demikian pesan pendek yang kukirim pada tujuh kawan yang kuakrabi.
Selang beberapa menit kemudian empat kawan berdatangan ke rumahku. Ada banyak makanan dan minuman kukeluarkan untuk menjamu kawan tersebut.
“Mana maestro kecapi itu, kami ingin mendengarkan petikan kecapinya,” ujar seorang diantara mereka.
“Itu hanya alasanku agar kalian mau datang kesini menemani diskusi. Ini ada banyak kue, kalau tidak habis bisa dibawa pulang,” jawabku seraya meminta mengabaikan saja kawan lain yang tidak datang.
“Acuhkan saja mereka! Anggap saja mereka tidak bisa menjadi saksi lahirnya seorang maestro kecapi.” tambahku.
Catatan Ego (34) Etta Adil, Pangkep, 12 Oktober 2012.
EGO (35): Data pemilih untuk kepentingan Pemilihan Gubernur (Pilgub) dari Panitia Pendaftaran Data Pemilih (PPDP) telah memasuki batas deadline.
Aku yang seharusnya lebih banyak turun untuk membimbing kinerja PPS di wilayah kerjaku, khususnya Kelurahan Bontokio dan Bontolangkasa terkait rekap data pemilih ini tak kunjung jua kulakukan.
Aku lebih banyak menelepon, memastikan semuanya berjalan dengan baik. Pada akhirnya semua Ketua PPS se-Kecamatan Minasate’ne sibuk ke PPK dan KPU menyetor hasil kerja PPDP-nya.
PPS Bontokio kutelepon agar ke KPU karena ada kesalahan dalam format pengisian datanya setelah sebelumnya Ketua PPS Bontolangkasa kuminta ke sekretariat PPK untuk menyerahkan data pemilihnya di wilayah kerjanya.
Jelang Dzuhur, KPUD menyatakan data pemilih dari PPK Minasatene mengalami kesalahan format data dan perlu perbaikan segera. Semua Ketua PPS diminta berkumpul di Kantor Kecamatan setempat untuk memperbaikinya sampai jelang Ashar pada hari itu juga.
Aku yang turut menyusul ke kantor kecamatan mendapat kabar menggembirakan bahwa hanya PPS Bontolangkasa yang merupakan wilayah monitoringku yang benar-benar bersih dari kesalahan format data.
“Apa kubilang, siapa dulu dong pembimbingnya,” ujarku kepada kawan PPK dan Ketua PPS lainnya. Aku langsung kabur meninggalkan kantor kecamatan karena menganggap kerjaku sudah selesai atas kerja keras kawan PPS dibawahku.
Catatan Ego (35) Etta Adil, Pangkep, 13 Oktober 2012.


