Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mengapa Mesti Belajar Matan Tuhfatul Athfal?
PALONTARAQ.ID – Sepekan terakhir ini dari tanggal 11-17 Juli pada setiap malamnya, mulai pukul 20.20 WIB (21.20 WITA), penulis mengikuti Daurah Online (Via Zoom Meeting) untuk Syarh Tiga Kitab Matan dalam Ilmu Tajwid, yaitu Kitab Matan Hidatus Sibyan, Tuhfatul Athfal, dan Muqaddimah Jazariyah dengan Pembimbing Program Belajar dan Pemberi Sanad Matan-Matan Tajwid, Al-Ustadz Abu Ahmad Muhammad Azhar Al-Maidaniy ُحَفِظَهُ اللَّه, Pimpinan LPI Al-Ahsan Medan.
Ketertarikan untuk mengikuti Daurah Ilmu Tajwid ini, selain karena kecintaan ilmu, juga tentu saja karena ingin bertalaqqi, berguru dan mengambil sanad dari Ustadzuna Abu Ahmad Muhammad Azhar al-Maidaniy ُحَفِظَهُ اللَّه,Pemilik beberapa sanad Kitab Matan Ilmu Tajwid, diantaranya: Matan Al-Wadihah Fi Tajwidi Al-Fatihah, Matan Hidayatus_Sibyan Fi Tajwidil_Qur’an 2 Jalur Pewaris Sanad Ke 4, Matan Ighotsatul_Mahluf Fi Sifatil_Huruf, Matan Roiyyah Al-Khoqoniy, Matan Tuhfatul_Athfal 4 Jalur Pewaris Sanad Ke 7, Matan ‘Umdatul Mufid wa ‘Uddatul Majid Fi ‘Ilmi Tajwid, Matan Al-Muqoddimah Al-Jazariyyah 4 Jalur Pewaris Sanad Ke 11, Matan As-Salsabil Asy-Syafiy 2 Jalur, dan Matan Al-Mufid Fi ‘Ilmi Tajwid.
Selain itu, Ustadz Abu Ahmad Azhar Al-Maidaniy ُحَفِظَهُ اللَّه juga Pemilik Sanad Hadits Musalsal Bil_Awwaliyah, Hadits Musalsal Bil_Mahabbah, Hadits Musalsal Bil-Qurro’ dan Hadits Musalsal Taawwudz.
Beliau juga telah menulis beberapa kitab sebagai bahan pengajaran daurah di lembaga LPI Al-Ahsan yang dipimpinnya, yaitu diantaranya Kitab Syarh Matan (Hidayatus Sibyan, Tuhfatul Athfal, dan Al-Muqoddimah Al-Jazariyyah), Kitab Al-Ahsan Kumpulan Materi Bahasa Arab Dasar-Mahir, Kumpulan Materi Bahasa Arab (Dasar, Terampil dan Mahir), Kitab Qowa’idun Nahwi wa Amtsilatul Jumaliha ma’a I’irobiha, Al-Hiwarot_AlMufidah Litatbiqil Lughotil ‘Arobiyyah, Al-Mukhtashor Al-Qowaidun_Nahwiyyah Lilmubtadiin, Kitab Terjemahan dari Percakapan dalam Kitab Al-‘Arobiyyah Baina Yadaik, dan Kitab Kumpulan Materi Ilmu Tajwid dan Contoh Penerapannya Metode Al-Ahsan
Daurah pertama yang penulis ikuti, adalah Daurah Kitab Matan Hidayatus Sibyan yang telah kita ketahui bersama terdiri atas 40 bait, yang terbagi atas 8 Bab, yaitu Bab Muqaddimah (bait 1-3), Bab Hukum Tanwin dan Nun Sukun (bait 4-9) yang melingkupi pembahasan tentang Idzhar (ada 6 huruf idzhar dengan contohnya, idghom (terbagi 2, idghom bigunnah, terdiri atas 4 huruf yaitu mim, nun, wau, dan ya dan idghom bilagunnah, terdiri atas 2 huruf, yaitu lam dan ra) dengan contohnya dalam Al-Qur’an, Iqlab, dan ikhfa (huruf ikhfa ada 15).
Selanjutnya, Bab Hukum Mim dan Nun Bertasydid (Mutasaddadatain) dan Hukum Mim Sukun (Ikhfa Syafawi, Idghom Syafawi, Idzhar Syafawi) yang bisa dilihat pada bait 10-13, lalu Bab Idghom yang mana dituliskan tentang Idghom kabir dan idghom shogir), juga dijelaskan tentang Sebab-sebab idghom dari bait 14-20.
Pada bait 21-25 diuraikan Bab Hukum Lam Ma’rifah (Ta’rifi) dan Lam Fi’li, yang mana didalamnya melingkup pembahasan tentang Lam ta’rifi, yaitu Alif lam Qomariyah (idzhar Qomariy) dan Alif Lam Syamsiyah (Idghom Syamsiy) serta pembahasan Lam Fi’il.
Selanjutnya Bab Huruf Tafkhim dan Huruf Qolqolah pada bait 26-27, Bab Huruf Mad dan Aqsam pada bait 28-38 (melingkupi pembahasan tentang Mad Asli atau Mad Thobi’iy, dan Mad Far’iy yang melingkupi pemahaman tentang mad badal, mad wajib muntashil, mad jaiz munfashil, mad shilah, mad lazim, mad aridh lisukun, mad layyin, dan mad ‘iwadh, serta terakhir Bab Penutup pada bait 39-40.
Lihat pula: Daftar Kitab Daurah dan Referensi Ilmu Tajwid
Daurah Kitab Syarh Matan Hidayatus Sibyan, penulis ikuti dari Tanggal 11-12 Juli, dan diakhir daurah penulis hanya mendapatkan Ijazah Sama’ (Sanad Riwayah) dari Kitab Matan yang dikarang oleh Syaikh Sa’id bin Sa’ad bin Muhammad (Ibnu Nabhan) Al-Hadhromiy ini.
Semangat besar penulis untuk mengikuti Daurah Kitab Matan Ilmu Tajwid lainnya, salah satu pertimbangannya adalah karena pada masing-masing kitab saling melengkapi. Misalnya, Ada Bab yang dibahas di matan Tuhfatul Athfal, namun pada Kitab Matan Hidayatus Sibyan tidak dibahas, begitu pula pada Kitab Matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyah.
Kitab Syarh Matan Tuhfatul Athfal, penulis ikuti dari Tanggal 13-14 Juli, dan diakhir daurah penulis tidak hanya mendapatkan Ijazah Sama’ (Sanad Riwayah), tetapi juga Sanad Dirayah (diperbolehkan mengajarkannya) dari Kitab Matan yang dikarang oleh Syaikh Sulaiman bin Husain bin Muhammad bin Syalabiy al-Jamzuriy ini.
Sementara itu, untuk Daurah Kitab Syarh Matan Muqaddimah Jazariyah, penulis ikuti dari Tanggal 15-17 Juli, dan diakhir daurah penulis mendapatkan Ijazah Sama’ (Sanad Riwayah), dari Kitab Matan yang dikarang oleh Syaikh Abul Khoir Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yusuf Al-Jazariy atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Jazariy ini.
Alhamdulillah, suatu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, penulis dapat melewati malam-malam yang penuh pemahaman dan keberkahan ilmu. Perjuangan mengambil sanad dari para ulama ini adalah sebagaimana dipesankan Imam Ahmad -rahimahullah- yang berkata:
“طلب الإسناد العالي سنة من سلف”
Artinya:
“Mencari sanad yang tinggi merupakan sunnahnya para ulama Salaf”
Syukran wa Jazakumullah khair atas Guruku, Ustadzuna, Abu Ahmad Azhar Al-Maidaniy ُحَفِظَهُ اللَّه yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk bertalaqqi, berguru, dan mengambil sanad daripadanya, Barakallahu fiikum, dan sebagai murid, insya Allah semoga hamba Allah yang faqir ini dapat terus memperbaiki diri dalam bacaan, hafalan dan pemahaman tentang Ilmu tajwid yang telah diterima, terkhusus untuk tiga kitab matan: Hidayatus Sibyan, Tuhfatul Athfal, dan Muqaddimah Jazariyah yang ijazahnya telah penulis terima.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


