Oleh: Dr. Adian Husaini *)
Advetorial: Informasi Pendaftaran dan Penerimaan Santriwati Baru Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep TP. 2023/2024
PALONTARAQ.ID – Seorang dosen menulis ungkapan sebagai berikut: ”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan.
Dalam konsep al-Qur’an, penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan.
Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.”
***
Ungkapan seperti itu tentu saja sangat berlebihan, alias melampaui batas. Bahkan, kata-kata seperti itu seperti pengaburkan konsep aqidah Islam. Imam al-Ghazali menyatakan: “Saya perlu menegaskan bahwa kufur itu adalah mendustakan Rasulullah saw dalam segala ajaran yang beliau bawa. Sedangkan iman adalah membenarkan (tashdiq) kepada seluruh ajaran yang beliau sampaikan. Oleh karena itu orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah kafir, karena mereka telah mendustakan Rasulullah saw. Demikian pula pengikut Brahmana, mereka juga kafir, bahkan mereka lebih berhak untuk diberi predikat kafir, karena disamping mendustakan Rasulullah saw, mereka juga mendustakan para Rasul terdahulu.” (al-Ghazali, Tauhidullah: Risalah Suci Hujjatul Islam, (Terjemah dari Kitab Fashlut Tafriqah), (Surabaya: Risalah Gusti, 1999, hal. 181).
“Sesungguhnya saya lihat tentang pembahasan-pembahasan orang Nasrani mengenai aqidah mereka sungguh merupakan satu bentuk bengunan akidah yang sangat lemah, lumpuh kekuatannya, tidak rata jalannya, sehingga bagi orang yang benar-benar mempergunakan daya nalarnya akan sampai kepada satu kesimpulan yang sungguh aneh. Kenapa kita tidak berhenti sejenak untuk meluruskan penyelewengan-penyelewengan yang terdapat di dalam suatu keyakinan yang sungguh sangat meragukan?” (Ibid).
“Sesungguhnya mereka sama sekali tidak mempunyai kekuatan kecuali hanya mengikuti dengan taklid buta, mereka memegang teguh teks-teks lahiriah yang dikatakan oleh orang-orang sebelumnya, dan mereka sama sekali tidak bangkit untuk memberikan penjelasan yang benar. Bahkan mereka mengira bahwa yang demikian itu adalah syariat yang diajarkan oleh Nabi Isa as. Mereka mengakui tidak dapat atau melepaskan keyakinan seperti yang terdapat dalam teks-teks (ayat-ayat), karena meninggalkan ayat-ayat yang telah mereka yakini merupakan satu kekafiran. …”. (Mukaddimah Kitab, dikutip dari buku Yesus dalam Pandangan al-Ghazali, karya Dr. M. Abdullah Syarqawi, (terjemah dari kitab Al-Radd al-Jamil li-Ilahiya Isa bi Sharih al-Injil, karya al-Ghazali oleh: Drs. Hasan Abrori, MA), Pustaka Dai, 1994).
***
Sebenarnya konsep aqidah Islam sangat sederhana dan bisa dipahami oleh manusia mana pun juga. Bahwa, tidak ada Tuhan selain Allah. Dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kewajiban manusia – yang telah mendengar risalah Nabi Muhammad saw – adalah beriman kepada kenabian Muhammad saw. Iman itu pengakuan yang yakin, tanpa keraguan.
Pengakuan adalah langkah awal untuk dia menerima seluruh ajaran Nabi Muhammad saw. Melalui keimanan kepada Nabi Muhammad saw itulah seorang akan mengakui kebenaran al-Quran dan hadits Nabi, yang menjadi panduan umat manusia, agar tidak tersesat hidupnya.
Karena itu, Imam al-Ghazali menyatakan: “Saya perlu menegaskan bahwa kufur itu adalah mendustakan Rasulullah saw dalam segala ajaran yang beliau bawa. Sedangkan iman adalah membenarkan (tashdiq) kepada seluruh ajaran yang beliau sampaikan.”
Iman adalah harta yang paling berharga bagi manusia. Dengan landasan iman itulah, amal diterima oleh Allah SWT. Tanpa iman, maka amal seseorang – berapa pun banyaknya – tidak diterima oleh Allah SWT. Amal orang-orang kafir itu laksana fatamorgana, seolah-olah terlihat ada, padahal tidak ada nilainya (QS An-Nur: 39).
Karena itu, jangan sampai kita memandang remeh masalah iman; menyamakan iman dengan kekufuran (seperti paham Pluralisme Agama). Kerukunan sejati antar warga bangsa tidak bisa dicapai dengan cara mengorbankan iman. Kerukunan yang mengorbankan iman adalah kerukunan semu.
Kita yakin, keimanan yang kokoh akan mewujudkan kerukunan yang sejati. Sebab, orang yang beriman kepada Allah, pasti akan memiliki akhlak yang mulia. Termasuk di antaranya adalah memiliki rasa kasih sayang kepada semua manusia, dan bahkan semua makhluk Allah. Orang yang beriman, tidak akan menyiksa binatang, merusak tanaman, membuang sampah sembarangan, dan semua perbuatan yang keji dan munkar. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 15 Juni 2023).
(* Sumber: www.adianhusaini.id


