BerandaEkonomiTernyata Biang Sakitnya karena Hutang Riba

Ternyata Biang Sakitnya karena Hutang Riba

Oleh: Tabib Muda Muslim Kang Shin Wan

Related Post:  Fakta Gaya Hidup dari Riba

PALONTARAQ.ID –  Akhirnya Masjid Arroyyan di Kota kecil ini menjadi saksi, bahwa Koh Wan pernah membantu menemukan penyebab utama Bunda Puput ini sakit kepala berbulan-bulan.

Koh Wan asli penduduk kota kecil ini. Setelah lama meneruskan terapi tradisi keluarga, Tabib muda ini tertarik juga dengan bekam dan ruqyah. Beberapa guru senior ia dekati dan kemudian aktif hingga kini.

Karena wajah dan namanya serta pergaulan sehari-hari lebih dekat dengan rekan keturunan sebarang, maka banyak rekan baru memanggilnya Koh.

Sore itu Anak-anak TPA sedang libur. Pak Ustadz yang satu-satunya Pengasuh dan Pengajar TPA di Masjid tersebut sedang pulang kampung.

Maka Bunda Puput merasa lebih nyaman di Masjid daripada di Rumah untuk diskusi mendapatkan solusi buat problematika yang sedang dihadapi Akhir-akhir ini.

Didampingi suami tercinta dan Fitri, keponakan yang sudah akrab dengan Koh Wan sejak masih duduk sekolah di SMEAN.

“Koh, berbagai macam terapi sudah dilakukan dengan biaya lumayan banyak. Jika dikumpulkan mungkin cukup untuk membangun sebuah masjid. Tapi semua itu tinggal harapan semu”, kata Fitri.

“Saya sudah ke ustadz yang artis itu dan diajak berdoa dengan KUN FAYAKUUN, habis 15 juta, Koh. Tapi beberapa pekan kemudian kambuh lagi, padahal antrinya lumayan lama. Tapi kami gak mau masuk tivi”, lanjut Bunda Puput yang sudah berusia 56 tahun ini.

“Pernah ke Pak Ustadz maupun Bu Ustadzah yang di Pasuruaan. Habis satu kambing, sebagai media membuang penyakit istri. Apalagi yang ke Bu Ustadzah, sebenarnya tidak mahal biaya berobat, tapi antrinya juga berbulan-bulan. Hasilnya masih sama”, Pak Hendra juga tidak mau kalah menambahkan proses menjemput kesembuhan istri tercinta.

“Pernah juga lo Koh, berobat di Kota Santri yang ditangani anak kecil dengan menggunakan batu ajaibnya. Tapi yo sama, Allah belum memberi harapan Bude”, Fitri menambahkan.

Sebenarnya Bunda Puput dan Pak Hendra ini sangat taat beribadah. Setiap lima waktu mereka selalu berangkat ke Masjid dan pulang berdua. Itupun selalu berdua bersama.

Berangkat ke Tanah Suci pun berdua. Shodaqoh tahunan, bulanan, pekanan dan harian, juga sudah aktif dikerjakan. Bahkan sudah menjadi donatur tetap untuk beberapa Yayasan Sosial seperti Bina Insan Sholeh, Rumah Bina, Abul Yatama, Alhijrah.

Apalagi kedua anak putrinya sudah berkeluarga, sudah punya rumah, sudah punya kendaraan dan mereka mengikuti kegiatan suami. Tidak ada yang siap meneruskan kegiatan orang tua. Mereka sudah hijrah ke Semarang dan satunya lagi di Surabaya.

Koh Wan jadi ragu mau melangkah, sebab ternyata Bekam dan Ruqyah juga sudah dilakukan oleh keluarga ini. Hampir semua jenis Terapi sudah dilakukan dan nihil hasilnya.

Pengobatan dengan Akupuntur, refleksi, totok darah, Bekam, Bio Elektrik, sudah terlaksana dan lancar. Bahkan ruqyah juga sudah dilaksanakan berkali -kali.

“Alhamdulillah, sekarang dipertemukan di tempat mulia ini. Tapi saya juga masih bingung, lo Bun. Semua yang biasa saya kerjakan, sudah Bunda kerjakan.

Bahkan Bunda pernah mengundang salah satu guru saya yang masih rutin mengisi acara Ruqyah di tivi itu. Lantas, apalagi yang bisa saya kerjakan?”, sanggah Koh Wan.

Say No to Riba. (foto: ist/palontaraq)
Say No to Riba. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  8 Jurus terbebas dari Riba

Dalam hati Koh Wan berteriak tanpa suara, “Ihdinaa, ya Allah. Berilah Petunjuk, ya Allah.”

Masih juga mengulang cerita proses berobat, bahwa di satu titik kepala berasa tertusuk jarum. Perasaan membawa ketakutan, kekhawatiran, was-was yang jelas-jelas gak jelas setiap hari sebab musababnya.

Setiap kali usai sholat jamaah di masjid yang jaraknya hanya puluhan langkah kaki, muncul rasa itu tanpa bisa dikendalikan.

“Ini penyakit apa, Koh? Cek dokter juga tidak terdeteksi”, tanya Bunda Puput penasaran.

“Maaf, Pak Hendra dan Bunda Puput, adakah di rumah ini benda pusaka?”, tanya Koh Wan interogasi mereka.

“Maaf Koh, kami berdua ini perantau jauh dari Sumatra Barat. Nenek moyang kami tidak pernah ajarkan pelihara benda-benda pusaka yang biasa jadi media tinggal khodam. Kami paham itu”, bantah Pak Hendra.

Fitri menghilang sejenak, datang kemudian dengan menenteng air mineral botol 600ml yang masih berselimut butiran kristal dingin.

“Pelumas tenggorokan, Koh”, sambut Fitri.

Tanpa banyak komentar, diambilnya sebuah botol tersebut. Memutarkan kembali isi kepala. Memohon petunjuk. Karena sudah kehabisan bahan bicara, Koh Wan bertanya seadanya. Hanya sekadar mengisi kekosongan.

“Pak Hendra sudah pensiun, ya.”

“Gak, lah. Kami tidak pernah pensiun selama masih diberi sehat”, jawab Pak Hendra.

“Bapak tugas dimana?”, tanya Koh Wan.

“Di pasar, Koh. Jualan.”

“Wah, sama, dong. Ternyata kita seprofesi, ya Pak. Tapi istri yang lebih banyak di toko”, sambut Koh Wan.

Tiba-tiba Koh Wan tersentak. Seteguk air minum masuk tenggorokan seperti salah lubang. Kaget. Seperti sedang berhasil menangkap sebuah cahaya menerangi gelapnya kamar. Koh Wan tidak sia-siakan kilasan sinar itu di benaknya. Dengan semangat, mengejar dan menggali lagi informasi dari kedua kakek-nenek ini.

“Maaf Bun, Bapak punya hutang”, tanya Koh Wan menyelidiki.

“Punya”, jawab Bunda Puput.

“Di Bank?”, tanya Koh Wan.

“Ya”, tegas Bunda Puput.

“Berapa?”, desak Koh Wan.

“Lumayan, lah.”

“Seratus? Dua Ratus? Tiga Ratus Juta?”, tanya Koh Wan makin semangat.

“Ya, sekitar itulah, Koh.”

“Bagaimana pengembaliannya?”, tanya Koh Wan.

“Alhamdulillah lancar, selama ini tidak ada kendala. Lancar”, tegas Bunda Puput meyakinkan.

Dalam hati Koh Wan tersenyum lebar. Telah menemukan titik masalah yang melahirkan banyak problem dan terasa berat ini.

“Bunda tahu apa itu Riba?”, Koh Wan desak agar Bunda menjawab jujur apa adanya.

“Ya tahu sih, tapi bagaimana lagi kita akan dapatkan modal untuk mengisi 5 kios di Pasar Gede? Tanpa hutang Bank mana ada yang sanggup memberi pinjaman? Toh pengembaliannya juga lancar gak ada masalah”, setengah ragu setengah yakin Bunda menjawab.

“Saya tidak mempermasalahkan tentang pengembaliannya. Tapi Bunda sudah berani menerjang larangan Allah tanpa merasa bersalah. Ini masalah besar, Bun. Bunda pernah dengar Rasulullah memberi nasehat bahwa dosa tiba seperti dosa berzina dengan ibu kandung berkali-kali?”

Koh Wan begitu lancar berkata-kata, memberi nasehat dan pengertian. Tentang dosa. Tentang rejeki yang berkah. Bukan masalah lancar atau tidak ketika pengembalian. Tapi ini masalah ridho Ilahi yang akan membawa kita dalam hidup damai tenang dunia akherat.

Tanpa sengaja kedua bola mata Koh Wan menangkap sebuah suasana haru. Pak Hendra nampak menghayati uraian Tabib muda ini. Kedua bola mata Bunda Indahpun nampak berkaca-kaca.

Suasana hening. Koh Wan semakin mantab menghadapi keluarga Sumatra ini karena yakin telah menemukan titik masalah sebenarnya.

“Semuanya masih punya wudhu, geh.”

“Masih, Koh”, mereka bertiga menjawab kompak. Masing-masing menggenggang botol dan menempelkan lubang botol pada bibir.

“Menurut seorang ahli, air mampu merekam suara dan bergerak sesuai dengan yang disuarakan. Jika doa yang disuarakan, doa akan terwujud. Jika bacaan Alqur”an yang diperdengarkan, dia akan jadi obat”, terang Koh Wan yang pernah mengikuti jejak seorang ustadz senior di dunia ruqyah yang tinggal di wilayah Jawa Timur wilayah barat.

Dzikir tauhid, Syahadatain, Sholawat Rosul, Asma”ul Husna telah terbaca diikuti mereka bertiga. Dilanjut dengan doa pemutus kerjasama dengan syetan jenis Jin, doa pengusiran Jin, doa penyembuhan. Suroh Alfaatihah 5 kali, Ayat Kursi 3 kali.

Saat dibacakan ayat-ayat tersebut, tiba-tiba Fitri menangis histeris. Bunda Indah sendawa berulang kali. Sementara Pak Hendra muntah lendir. Semua berkeringat dahsyat bak usai bekerja berat.

“Silahkan air diminum.”

Masing-masing meminum air ruqyah 3 teguk.

“Bagaimana, Bunda? Apa yang dirasakan?”, tanya Koh Wan.

“Sejak sebelum baca doa bersama tadi, kepala terasa ringan. Dan sekarang migrain yang selama ini saya keluhkan juga hilang, Koh”, jawab Bunda Indah jujur apa adanya.

“Fitri, kenapa tadi menangis…?”, Koh Wan penasaran.

Fitri yang masih nampak sisa tangisnyapun mengakui.

“Ingat masa muda, Koh.”

“Ada apa dengan masa muda?”, semakin penasaran.

“Koh Wan kan tahu masa muda saya dulu, saat masih sekolah. Saat masih aktif di Masjid Agung dulu. Saya pernah dikasih air putih. Saya merasa ingat terus sama dia, seperti tidak mau dipisah.”

“Oooo, Mas Sofi to. Tahu, lah dari A sampai Z. Tentang janji mau kasih sate 10 tusuk, saya juga masih ingat banget.”

“Itu air apa, ya Koh. Kan cuma air, tapi tiap hari saya gelisah. Galau tanpa tahu penyebabnya”, aku Fitri.

“Sudahlah, yang penting sekarang kamu sadari sudah punya keluarga damai dan harmonis.”

“Tapi kasihan, lo Koh”, tambah Fitri.

“Kasihan? Kenapa?”, tanya Koh Wan tambah penasaran.

“Menurut info, Sofi sampai sekarang belum punya keturunan.”

“Wah, itu perlu waktu lagi untuk diskusi”, Tabib berusaha menghentikan diskusi yang sepertinya sudah mau keluar judul pokok.

“Pak Hendra, apa yang dirasakan tadi? Muntahnya dahsyat, lo Pak. Bapak pernah belajar apa?”, selidik Tabib Koh Wan.

“Masa muda dulu saya pernah menelan sesuatu, Koh.”

“Untuk kekebalan, Pak?”

“Ya….”, jawab Pak Hendra.

“Timah atau gotri ?”

“Gotri, Koh.”

Fitri dan Bunda tidak percaya apa yang mereka dengar.

“Gotri, Yah?”, tanya Bunda Indah.

“Ya…”, tegas Pak Hendra.

“Gotri itu sejenis makanan macam apa, Koh?”, Fitri bengong dan bingung dengan kata Gotri.

“Hahaha….Fitri, gotri itu onderdil sepeda yang seperti kelereng tapi dari besi. Dengan bacaan tertentu dia bisa sebagai media bantuan bangsa jin agar menjadi kebal”, jelas Tabib.

Bunda sangat serius mendengarkan diskusi sore ini setelah doa bersama. “Sudahlah, Koh. Saya sudah sadar. Memang gara-gara riba yang selama ini saya anggap nyaman, ternyata menjadi sumber sakit yang saya alami.”

“Sudahlah, semua toko kami yang di Pasar Gede akan kami jual. Kami gak ingin lagi rejeki kami ternoda dengan riba. Anak-anak juga sudah berkeluarga semua. Sudah punya rumah. Sudah ada keturunan. Sudah ada kegiatan tetap.”

“Kami tinggal disini hanya berdua. Cukup bagi kami jualan Nasi Pecel di emperan rumah ini saja sudah sangat cukup. Kami sekarang ingin pensiun dari pasar.” Bunda Indah berharap.

Air mata tak terasa membasahi pipi Bunda Indah. Sebuah kesadaran telah hadir.

Alhamdulillah, selesai diajak makan Nasi Padang dan menghabiskan segelas kopi susu, Tabib Koh Wan pun pamit, undur diri. Sebuah bungkusan tas kain kecil disematkan di setir Shogun Merah. Entah apa?

Diantara hikmahnya adalah kenyataan bahwa: Pertama, Riba yang dianggap aman, pasti menodai rejeki yang sejatinya mendatangkan berkah. Sadarlah sobat.

Kedua,  Ilmu pelet ada manfaatnya, tapi pasti membawa bencana. Bertaubatlah sebelum bencana itu datang. Ketiga, Ilmu kebal ternyata tidak gratis. Keempat, Pintarlah dalam memilih berobat, jangan hanya mengejar kesembuhan. Tapi kejarlah ridho Ilahi.

Wassalam. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT