Narasi Sejarah Louis Pierre dan Louis Douphin Anak Bangsawan Makassar di...

Louis Pierre dan Louis Douphin Anak Bangsawan Makassar di Perancis

-

- Advertisment -

Oleh: Prof Dr. Zainal Abidin Farid, SH

Ditulis Ulang/disunting oleh: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Tak banyak yang mengenal kehadiran Louis Pierre Daeng Ruru dan Louis Douphin Daeng Tulolo, dua anak bangsawan Makassar yang berkiprah di Angkatan Perang Perancis.

Kedua anak bangsawan Makassar diberangkatkan dari Ayuthia, Siam pada tanggal 5 November 1686, dengan menumpang kapal Perancis “Le Coche”, dibawah pimpinan Kapten de Hautmesnil.

Kapal itu mencapai pelabuhan Brest, Perancis Barat pada tanggal 22 Agustus 1687 dan penumpangnya naik ke daratan di Pelabuhan Port Louis (sekarang Lorient) pada tanggal 31 Agustus.

Lycee Louis le-Grand, a Paris. (foto: nationalgeographic)
Lycee Louis le-Grand, a Paris. (foto: nationalgeographic)

Lihat pula: Hukum Pelayaran dan Perniagaan ala La Petello Amanna Gappa

Pada tanggal 10 September 1687, hampir sepuluh bulan sesudah meninggalkan Siam (Thailand saat ini), mereka sudah berada di Paris.

Sampai di situ, mereka segera dipercayakan kepada Gervaise. Tidak diketahui dengan pasti tanggal berapa, tetapi suatu catatan dalam ASMEP, tertanggal 8 Desember 1687 mengatakan bahwa ‘sudah beberapa lama”.

Rupanya, sesudah dia pulang ke Perancis, Gervaise tidak mendapat tugas, dan hanya memakai waktunya dengan menulis bukunya mengenai Kerajaan Siam; sehingga dia cukup sedia untuk menerima tanggung jawab baru ini.

Kedatangan kedua anak Makassar di Perancis cukup menarik perhatian masyarakat Paris, sehingga beritanya disebut dalam dua surat kabar bulanan yang sudah terbit pada waktu itu (dua surat kabar di antaranya yang pertama terbit di dunia).

Angkatan Laut Perancis. (foto: ist/palontaraq)
Angkatan Laut Perancis. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Masjid Tua Katangka, Saksi Penyebaran Islam di Tanah Makassar

Dalam surat kabar Le Mercure Galant, nomor Oktober 1687, berita ini hanya disinggung secara ringkas tetapi dalam nomor yang terbit bulan maret 1688, ceritanya lebih panjang.

Disitulah kami mendapat nama asli dan umur mereka, yaitu Daeng Ruru (“Daen Rourou”) yang berumur kurang lebih 15 tahun dan Daeng Tulolo (“Daen Toulolo”) yang berumur kurang lebih 13 tahun.

Diberitakan juga bahwa mereka dipondokkan di sebuah sekolah yang terkenal di Paris, yaitu College de Clermont, yang berada di bawah asuhan Pastor-pastor Yesuit. Sekolah ini masih ada.

Sekarang College de Clermont sudah menjadi SMA Negeri dan dikenal dengan nama Lycee Louis-le-Grand.

Kita dapat membaca juga di situ bahwa pada tanggal 7 Maret 1687 dengan resmi mereka masuk agama Katolik, dalam suatu upacara yang mengesankan, dimana mereka dibaptiskan oleh uskup kota Le Mans, penasehat rohani pribadi dari saudara laki-laki Raja Louis ke XIV.

Dalam upacara ini, yang dihadiri oleh seluruh kawan sekolah mereka (orang-orang patut semua), yang menjadi “Bapak Serani” atau “ayah baptis” Daeng Ruru adalah Raja sendiri, diwakili oleh Marquis (gelar bangsawan) de la Sale; ibu seraninya, menantu perempuan Raja diwakili oleh Marquise de Belfons.

Yang menjadi “bapak serani” bagi Daeng Tulolo adalah anak sulung Raja yang laki-laki (lazim digelar Monseigneur le Douphin), diwakili oleh Comte (gelar bangsawan) de Montignon; dan ibu seraninya, ipar perempuan Raja, diwakili oleh Comtesse de Mare.

Daeng Ruru diberi nama Kristen Louis (kemudian biasa disebut Louis Pierre), dan Daeng Tulolo dipanggil Louis Dauphin, Peristiwa ini juga disebut dalam surat kabar la Gazatte.

Bagaimana nasib Daeng Ruru dan Daeng Tulolo sesudah itu, sulit untuk didapati. Mula-mula, saya menemukan dalam sebuah Ensiklopedi yang termasyur.

Angkatan Laut Perancis. (foto: ist/palontaraq)
Angkatan Laut Perancis. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Keberadaan Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini di Wajo, Sulsel

Ensiklopedi Moreri yang diterbitkan pada abad ke XVIII oleh Moreri dalam artikel “Daeng Maalle” (yaitu bapaknya kedua anak ini, yang mungkin bernama Daeng Mangalle) catatan-catatan di bawah ini:

Dua anak Daeng Maalle ini dibawa pulang ke Perancis waktu masih muda. Raja Louis ke XIV menyuruh didik mereka di sekolah para Yesuit di Paris, Kemudian, mereka mendapat tugas dalam resimen Mousquetaires dan dalam resimen infanteri pribadi Raja.

Yang satu gugur di medan perang; yang lain sesudah mendapat kabar mengenai meninggalnya sepupunya yaitu Raja Makassar berangkat dari Perancis untuk menuntut warisannya dengan menumpang sebuah kapal yang disediakan oleh raja Perancis.

Sebelum dia berangkat, dia rupa-rupanya ta’at beragama Katolik; malah, sebelum meninggalkan kota Paris, dia telah menyuruh melukis sebuah lukisan, dimana dia digambarkan sedang menyerahkan diri kepada Santa Perawan Maria……. dan lukisan itu digantung dalam Gereja Katedral.

Tetapi beberapa tahun kemudian, lukisan itu diturunkan, sesudah orang mendapat kabar bahwa pangeran itu sudah kembali masuk agama nenek moyangnya dan sudah berpoligami.

Jadi menurut artikel, seorang diantara mereka telah kembali ke Makassar. Ini bertentangan dengan data lain, yang saya ketemukan kemudian.

Sesudah saya membaca riwayat hidup seorang pelaut yang termasyur di Perancis, yaitu Conte de Forbin, di mana ia menceritakan antara lain pengalamannya selam berada di Siam sebagai komandan tentara bantuan Raja Phra Narai.

Dia menceritakan tentang pemberontakan orang Makassar, dan di situ dia sebut dua anak tadi. Selanjutnya dia mengatakan : “saya pernah bertemu dengan mereka, beberapa tahun kemudian, waktu mereka bertugas dalam Angkatan Laut Perancis”.

Ini berarti bahwa artikel Moreri tidak seluruhnya benar, dan hal ini memberikan saya harapan baru; maklumlah, Arsip Angkatan Laut Perancis termasuk yang paling teratur dan lengkap.

Dan memang, pada Dinas Sejarah Angkatan Laut, dimana terdapat suatu daftar yang mengandung nama semua perwira yang pernah bertugas sejak tahun 1270 sampai 1750, saya mendapat catatan sebagai berikut :

“Macassar, pangeran Hindia, Kapten Laut, tewas pada tahun 1708”. Jadi, Makassar dijadikan nama keluarga, sesuai dengan kebiasaan bangsawan Perancis pada masa kerajaan, yang memakai nama pribadi nama tempat di mana mereka (atau nenek moyang mereka) berkuasa.

Lihat pula: Ratu Wilhelmina dalam Museum Kota Makassar

Selanjutnya, saya memperoleh keterangan lebih terperinci mengenai kedua orang Makassar itu ;

1) “Macassart (Louis Pierre de), orang Hindia Belanda
Calon perwira di kota Brest tanggal 1 Mei 1690
Letnan dua di kota Brest tanggal 1 Januari 1691
Kapten Laut di Kota Brest tanggal 1 Januari 1692
Meninggal di kota Havana tanggal 19 Mei 1708

2) “Macassart, orang Hindia Belanda
Calon perwira di kota Brest tanggal 18 Mei 1699
Letnan dua di kota Brest tanggal 25 November 1712
Meninggal di kota Brest tanggal 30 November 1736.

Dengan demikian, jelas bahwa kedua orang Makassar itu tetap tinggal di Perancis, dan tidak ada yang kembali menetap di Sulawesi.

Yang saya terjemahkan di atas ini dengan istilah “calon perwira”, aslinya Gardes de Marine. Korps Gardes de Marine itu baru didirikan pada tahun 1882 dan hanya menerima kaum bangsawan yang sekurang-kurangnya berumur 18 tahun.

Di situ mereka mendapat latihan militer dan juga belajar Matematika, ilmu pelayaran, hidrografi, dan sebagainya.

Menurut kesaksian-kesaksian dari masa itu, mereka biasanya sombong sekali, suka berkelahi, dan sesudah menjadi perwira menganggap rendah perwira lain yang tidak berasal dari korps mereka.

Malah perwira-perwira tinggi, termasuk laksamana. Tidak mereka hargai kalau bukan lulusan Gardes de Marine, apalagi kalau bukan bangsawan.

Dari tanggal-tanggal yang tercantum di atas, jelas bahwa Daeng Ruru alias Louis Pierre de Macassar masuk korps ini waktu dia berumur 18 tahun (kalau pada tahun 1687 dia berumur 15 tahun, berarti bahwa dia lahir pada tahun 1672). Kanaikan pangkatnya sangat cepat, mengingat bahwa pada umur baru 20 tahun dia sudah menjadi kapten laut.

Saya telah mencoba untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut dari Arsip Angkatan Laut di Brest, yang sampai sekarang menjadi salah satu dari pangkalan yang terbesar di Perancis.

Sayangnya, sebagian telah hilang waktu perang dunia kedua, dimana benteng Brest hancur dibom. Yang masih ada, masih banyak, tetapi belum teratur, antara lain, tidak ada indeks, sehingga untuk mendapat keterangan mengenai seseorang , terpaksa peneliti membaca semua catatan yang bertepatan dengan masa tugasnya.

Namun demikian, saya mendapatkan beberapa informasi, ternyata disitu, Daeng Ruru alias Pangeran Louis Pierre de Macassar, biasa berhubungan langsung dengan Pere de la Chaise, panasehat rohani pribadi Raja Louis ke XIV dan ternyata juga bahwa dia mendapat tunjangan bulanan langasung dari kas pribadi Raja.

Suatu hal yang mengejutkan juga, bahwa dia meninggal karena bunuh diri tetapi belum saya dapati keterangan terperinci mengenai peristiwa itu.

Diketahui bahwa, sebelum dia berangkat ke Cuba dengan Armada Laksamana Ducassa, Daeng Ruru pernah sakit keras.

Kemudian, dia merasa kurang senang karena tidak diberikan tugas baru, dan oleh sebab itu pada tahun 1607 dia mengirim surat kepada Pere de la Chaise untuk mengadu.

Akhirnya dia diberi tugas di kapal “Le Grand yang dipimpin oleh Kolonel LAUT de Serquigny, dengan awak kapal 480 orang.

Mereka meninggalkan Brest pada tanggal 19 Oktober 1707. Mungkin sekali kematian Daeng Ruru berkaitan dengan masalah siri atau harga diri, yang memang di junjung tinggi oleh orang Makassar.

Riwayat hidup adiknya, Daeng Tulolo, masih mengandung banyak tanda Tanya. Dari tanggal yang tercatat dalam daftar “Lafillard”, ternyata bahwa dia baru menjadi Garde Marine waktu dia berumur 25 tahun.

Dimana di sebelumnya? Mungkin sekali dia bertugas dalam Angkatan Darat, tetapi saya belum mendapat data yang dapat membuktikannya. Dan lagi kenaikan pangkatnya sangat terlambat.

Kenapa dia tetap menjadi calon perwira selama 13 tahun, dan baru diangkat menjadi Letnan Dua empat tahun sesudah kakaknya meninggal dunia?

Apakah dalam jangka waktu itu dia tidak mencoba untuk kembali ke Sulawesi, sebagaimana ditulis oleh Moreri?

Dalam Ensiklopedi itu, tertulis dalam artikel “Daen Ma-alle” tadi bahwa pada tahun 1704, sampailan di Perancis kabar mengenai kematian Sultan Makassar.

Barangkali, salah tulis untuk 1709, karena Sultan Abdul Jalil yang naik tahta pada tahun 1677 memang meninggal dunia pada tahun itu. Boleh jadi bahwa sesudah mendengar kabar demikian.

Dan karena kakaknya sudah mati juga, Daeng Tulolo berkeinginan untuk kembali ke tanah nenek moyangnya; tetapi, yang jelas dia tidak berhasil.

Pada tahun 1736, waktu dia berumur 62 tahun, dia masih sebagai Letnan dua di kapal “L’Indien”, yang juga berpangkalan di Brest, dan di kota itulah dia meninggal. Saya sudah mendapati surat kematiannya, yang bunyinya sebagai berikut :

“Pada tanggal 30 November 1736, Louis, pangeran Macassar, berusia kurang lebih enam puluh tahun, Letnan dua dari Angkatan Laut Diraja, yang meninggal dunia kemarin, telah dibawa ke gereja des Carmes di kota ini untuk dimakamkan di situ, dan dihadiri oleh sejumlah perwira Angkatan Laut” Ttg.J.G.Perrot (Pastor kota Brest).

Seperti dapat dibayangkan, saya telah menyelidiki juga catatan –catatan mengenai perkawinan dan kelahiran di kota Brest, karena saya ingin tahu apakah Daeng Ruru dan Daeng Tulolo berkeluarga di situ.

Sayang, nama mereka sama sekali tidak disebut. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak pernah kawin, karena menurut adat di Perancis, pernikahan dicatat di tempat tinggal pengantin perempuan dan mungkin, kalau mereka kawin, bukan dengan perempuan Brest.

Sebagai penutup sementara, biarlah saya mengucapkan harapan saya supaya kota Ujung Pandang (atau lebih tepat kota Makassar) dan kota Brest dapat menjalin kelak hubungan persaudaraan yang istimewa.

Bukankankah kedua kota tersebut, kota bersejarah yang banyak mempunyai persamaan? Keduanya menjadi pusat Komando Daerah Angkatan Laut, kedua terkenal dengan bentengnya, keduanya terletak pada ujung sebuah jazirah yang penduduknya dianggap pelaut unggul di negerinya masing-masing.

Dan dua putra Makassar dengan riwayat hidup yang luar biasa telah menjadi warga kota Brest selama bertahun-tahun.

Lihat pula: Mau Studi Wisata Sejarah Makassar, Baca Dulu ini!

 

Prof. DR. Andi Zainal Abidin Farid, SH, Seorang Ahli Hukum, Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan, Pernah menjabat Guru Besar UNHAS dan Rektor Universitas ’45 (sekarang Universitas Bosowa)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Turunkan Tensi dengan Teh Bunga Rosella

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Tips Membuat Minuman Herba Penurun Tensi dan Rematik PALONTARAQ.ID - Kenal dengan Rosela? Bukan,...

Kisah Heroik Kapten Ruslan Buton Selamatkan Korban Penyanderaan

  Oleh: Ir. H Soetrisno T. Sudrjo PALONTARAQ.ID - Peristiwa itu terjadi sekira Tahun 2004 silam di tempat tinggal kami Jalan...

Ponpes Putri IMMIM siap Terapkan ‘New Normal’

PALONTARAQ.ID - Hasil Rapat Pimpinan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep, Jumat (29/5/2020) memutuskan tanggal 15 Juli sekolah dibuka...

Sekolah buka lagi?

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT PALONTARAQ.ID - Satu persatu fasilitas umum dibuka dan diaktifkan. Diawali dengan pembukaan...

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin yang sosok dan karakter wajahnya berbeda-beda bertebaran di beberapa titik...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Must read

Turunkan Tensi dengan Teh Bunga Rosella

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Tips Membuat Minuman...

Ponpes Putri IMMIM siap Terapkan ‘New Normal’

PALONTARAQ.ID - Hasil Rapat Pimpinan Pondok Pesantren Modern Putri...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you