Beranda Bahasa Mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan

Mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: Tetap Fokus Menulis selama Masa Pandemi Covid-19

PALONTARAQ.ID – Komunitas Kompasianer Makassar (Kompak Tawwa), Ahad malam ini (26/4/2020) menggelar Pelatihan Menulis Online via Whatsapp (WA) Grup.

Sebagai Pemateri, saya merasa senang dapat kembali berkomunikasi dan sharing dengan teman-teman penulis dan blogger.

Pelatihan Menulis Online kali ini mengangkat tema “Mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan”.

Menurut Moderator Pelatihan sekaligus Admin Grup, Muhammad Taufik, dipilihnya tema ini karena masih banyak penulis berbakat yang belum mengakrabkan diri dengan PUEBI, yaitu tentang ketaatan menulis berdasar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

“Setiap tulisan adalah cermin kualitas penulisnya, karena itu Komunitas Kompasianer Makassar mengajak siapa saja yang merasa penulis atau ingin belajar menulis untuk bergabung bersama kami,” tulis Taufik.

Mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan
Mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan

Pelatihan Menulis online ini diikuti oleh 50 Peserta sesuai dengan list di grup WA. Umumnya berasal dari Komunitas Blogger di Makassar, termasuk Kompasianer asal Makassar yang selama ini aktif menulis di Blog Sosial Kompasiana.

Sebenarnya saat ini tak sulit-sulit amat untuk mengakrabkan diri dengan PUEBI, apalagi sudah ada PUEBI Daring, yaitu versi web ramah gawai dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagaimana diatur dalam Permendikbud 50/2015.

Pentingnya mengenal PUEBI sebagai Pondasi Tulisan karena dalam kenyataannya masih banyak penulisan kata dan kalimat yang keliru dan tidak sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), yang dahulunya disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia dan Ruang Lingkupnya. (foto: ist/palontaraq)
Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia dan Ruang Lingkupnya. (foto: ist/palontaraq)

Yang lebih penting sebenarnya adalah tak sekadar belajar EBI, tetapi langsung mempraktekkannya dalam penulisan, baik dalam penulisan reportase (berita), artikel, esai, ataupun karya fiksi, cerpen atau novel.

PUEBI Daring yang ada saat ini sangat membantu, malah telah diperkaya dengan beberapa catatan tambahan yang belum dinyatakan secara implisit dalam Permendikbud 50 Tahun 2015, terkait Pemakaian Huruf, Penulisan dan Pemenggalan Kata, Pemakaian Tanda Baca, serta Penulisan Unsur Serapan.

Naskah PUEBI yang beredar di internet umumnya berbentuk PDF sehingga sulit untuk ditelusuri oleh mesin pencari dan dirujuk dengan tautan spesifik.

PUEBI seyogianya tersedia dalam format HTML agar memenuhi kebutuhan pembelajaran tersebut.

Terima kasih sebelumnya kepada Teman-teman penulis dan blogger yang telah bergabung dan menggabungkan diri dalam ruang berbagi di WA Grup ini.

Saya tentunya lebih memosisikan diri sebagai pemantik diskusi, karena satu alasan khusus dan ini pasti, yaitu masih belajar juga mengakrabkan diri dengan PUEBI.

Ada beberapa teman yang sudah menjadi penulis dan blogger kenamaan ikut menggabung di grup WA Pelatihan online ini, dan ini satu kebanggaan tersendiri juga bagi saya yang baru tiga tahun terakhir ini aktif kembali menulis, setelah lama ‘bersemedi’ di ‘dunia lain’.

Karena keterbatasan waktu dan umumnya kita semua berangkat dalam kapasitas sebagai Blogger, maka beberapa materi pelatihan PUEBI ini, sebelumnya telah saya publikasikan (published) di web blog yang saya asuh: https://Palontaraq.id

KBBI Daring dapat dilihat DISINI, sedang Bahan Pemerkaya lainnya dapat dilihat DISINI

Rujukan Bahasa. (foto: ist/palontaraq)
Rujukan Bahasa. (sumber: linguabahasa)

Selanjutnya akan saya bagikan beberapa link materi PUEBI dimaksud dengan harapan dapat dikoreksi dan mendapatkan penyempurnaan. Kalau perlu, silakan ‘ditelanjangi’ di kolom komentar postingan web blog tersebut.

Beberapa materi terkait PUEBI tersebut adalah sebagai berikut:

1. Apa dan Bagaimana itu PUEBI?

2. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

3. Penulisan Kata: Partikel

4. Konjungsi dan Pemakaiannya

5. Cara Menulis Dialog dalam Cerpen dan Novel

6. Memaknai Kata ‘Khazanah’

7. Beda rasa yang te (se) rasa

8. KBBI tentang Shalat (Salat)

9. Menyoal Penggunaan Kata “Membonceng”

10. Awalan “me” pada Konsonan yang berdiri sendiri

11. Tambahan: Jangan Mudik, Pulang Kampung saja!

Demikian yang dapat saya bagi. Semoga bermanfaat adanya dan ditunggu tanggapannya di kolom komentar postingan. Tabe’ salamakki tapada salama’. (*)

 

M. Farid W Makkulau, kerapkali menggunakan nama pena Etta Adil, telah menelorkan beberapa karya buku, antara lain: HA Gaffar Patappe-Demimu Rakyat Pangkep (Pemkab Pangkep, 2003), Pikiran dan Kebijakan Ir. H. Syafrudin Nur, M.Si (Pemkab Pangkep, 2006), Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Infokom, 2007), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Komik-Kisah si Lemo Lestarikan Terumbu Karang (Dislutkan/Coremap, 2009), Syahrul Yasin Limpo-Sulsel Go Green “Menjaga Lingkungan Menuai Rahmat” (Citra Pustaka, 2012), Syamsuddin A. Hamid-Mata Kalbu Sahabat (Citra Pustaka, 2013), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015), Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015), Antologi Puisi-Menjawab Waktu (Guepedia, 2020), Berkebudayaan Malu-Sehimpun Catatan Budaya Bugis Makassar (Guepedia, 2020).

Pada Tahun 2017, Penulis sebagai LCO (Local Community Organizer) CSR PT. Semen Tonasa meraih Penghargaan “Terbaik 1” Tingkat Nasional dalam Indonesian Sustainable Development Goals Award 2017 (ISDA 2017) dengan judul Karya Tulis “Perubahan Sosial Tidak Mungkin Terjadi Tanpa Pendampingan” (HAKI 078550) untuk Kategori Perseorangan Tingkat Lapangan CSR Best Practice for MDGs to SDGs dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI.

Penulis dapat dihubungi via email: palontaraq@gmail.com

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah ada di sini resumenya.
    Saya ketinggalan saat berlangsung materi ta’ karena terfokus pada pikiran harus mempersiapkan sahur, saya mulai beraktivitas di dapur (saya mulai persiapkan malam, biasa mulai jam 9 supaya bangunnya tinggal makan).
    Saya jadi lupa menyimak materi ini. Besoknya atau malah dua hari kemudian baru saya lihat grup.

    Terima kasih sudah menuliskannya kembali.

    Memang perlu materi PUEBI karena masih banyak blogger bahkan penulis yang sudah menghasilkan buku pun yang tata cara menulisnya masih berantakan. Saya juga masih terus belajar memperbaiki tulisan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Sudah Saatnya dibentuk Kementerian Penangkapan Aktivis

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Salah satu fokus utama Amerika Serikat (AS) setelah kemerdekaannya (4 Juli 1776) adalah pembangunan kekuatan militer. Ini dibuktikan ketika presiden pertama...

Omnibus Law Itu Strategi Jokowi untuk Menyingkirkan Oligarki Cukong

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Bergegas saya ke laptop. Khawatir inspirasi hilang. Inspirasi itu datang ketika sedang olahraga kecil di belakang rumah. Senam rutin itu...

Pesan Dakwah: Manisnya Madu

  Lihat pula: Khasiat Madu saat Dicampur Kayu Manis Oleh: Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Penjualan madu di Indonesia meningkat selama Pandemi Covid-19. Walaupun meningkat,...

Di IMMIM Pangkep, Upacara Hari Santri Nasional digelar dengan Protokol Kesehatan

  Laporan: Dra Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri IMMIM Pangkep yang sejak 9 dan 11 Agustus lalu telah memasukkan santriwati baru ke sekolah dan...