Beranda Sejarah Mengenal Kerajaan (Kesultanan) Tidore

Mengenal Kerajaan (Kesultanan) Tidore

Istana Kerajaan Tidore. (foto: ist/palontaraq)
Istana Kerajaan Tidore. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Tulisan sebelumnya:  Mengenal Kerajaan Samudera Pasai 

PALONTARAQ.ID – Kesultanan Tidore adalah salah satu kerajaan Islam yang pernah eksis, berkembang dan berjaya di Nusantara, berpusat di wilayah Tidore, Maluku Utara atau sebelah selatan Ternate.

Kesultanan Tidore mengalami masa kejayaan sekitar Abad XVI – Abad XVIII M. Kesultanan Islam di Maluku ini berhasil menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan beberapa pulau di pesisir Papua Barat.

Raja pertama Kerajaan Tidore ini adalah Muhammad Naqil,  diperkirakan naik takhta pada Tahun 1081.  Agama Islam dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan ini nanti pada sekitar akhir Abad XIV M, ketika Tidore berada di bawah kekuasaan Sultan Djamaluddin.

Pada Abad XVI M, Bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Spanyol mulai berdatangan ke Nusantara dengan tujuan awal untuk tujuan perdagangan dan mencari sumber Rempah-rempah.

Pada Tahun 1521, Sultan Mansyur menerima Spanyol sebagai sekutu bagi Kesultanan Tidore, sebagai upaya mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate yang bersekutu dengan Bangsa Portugis.

Tetapi Spanyol tidak bertahan lama di wilayah Maluku, karena protes yang dikeluarkan oleh Kerajaan Portugis. Mereka dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas pada Tahun 1494.

Akibat dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas, Spanyol kemudian mundur dari Tidore pada Tahun 1663, ketika kesultanan itu diperintah Sultan Saifuddin.

Dengan mundurnya Spanyol sebagai sekutu Tidore, maka otomatis kekuatan militer Tidore menjadi lemah dan pada akhirnya semakin kesulitan dan terdesak setelah kedatangan Belanda, melalui VOC, yang ketika itu mulai menancapkan pengaruhnya di wilayah Maluku.

Sultan Saifudin kemudian melakukan perjanjian kerjasama dengan Laksamana Speelman dari VOC pada 13 Maret 1667.  Isi perjanjian itu adalah VOC mengakui Hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas wilayah Papua. Sedang Belanda, mereka diberikan hak monopoli perdagangan Rempah-rempah di wilayah Tidore.

Kesultanan Tidore semakin kesulitan dalam mempertahankan kekuatannya setelah Sultan Saifudin wafat, dan Belanda semakin leluasa dalam menguasai hasil bumi di wilayah Tidore.

Pada Tanggal 13 April 1779 muncul sultan baru di wilayah Tidore, yakni Sultan Naku, yang menyatakan bahwa Kesultanan Tidore di bawah wilayahnya merdeka dari kekuasaan Belanda.

Setelah melalui berbagai peperangan selama bertahun-tahun, Sultan Nuku akhirnya berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan VOC (Belanda), sebagaimana disebutkan dalam Buku Babon Kerajaan-Kerajaan Nusantara. (Gustama, Faisal Ardi, Yogyakarta: 2017). (*)

 

Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep/Penulis dan Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Sudah Saatnya dibentuk Kementerian Penangkapan Aktivis

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Salah satu fokus utama Amerika Serikat (AS) setelah kemerdekaannya (4 Juli 1776) adalah pembangunan kekuatan militer. Ini dibuktikan ketika presiden pertama...

Omnibus Law Itu Strategi Jokowi untuk Menyingkirkan Oligarki Cukong

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Bergegas saya ke laptop. Khawatir inspirasi hilang. Inspirasi itu datang ketika sedang olahraga kecil di belakang rumah. Senam rutin itu...

Pesan Dakwah: Manisnya Madu

  Lihat pula: Khasiat Madu saat Dicampur Kayu Manis Oleh: Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Penjualan madu di Indonesia meningkat selama Pandemi Covid-19. Walaupun meningkat,...

Di IMMIM Pangkep, Upacara Hari Santri Nasional digelar dengan Protokol Kesehatan

  Laporan: Dra Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri IMMIM Pangkep yang sejak 9 dan 11 Agustus lalu telah memasukkan santriwati baru ke sekolah dan...