Analisis Soal-Jawab Amir HT tentang Larangan Shalat Berjamaah saat ada...

Soal-Jawab Amir HT tentang Larangan Shalat Berjamaah saat ada Wabah Penyakit

-

- Advertisment -

Maklumat Shalat Jumat ditiadakan karena penyebaran wabah Virus Corona. (Covid-19). (Sumber foto: infobdg)
Maklumat Shalat Jumat di salah satu masjid jami’ di Jawa Barat ditiadakan karena penyebaran wabah Virus Corona. (Covid-19). (Sumber foto: infobdg)

Sumber: DISINI

Atau klik link ini: http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/66945.html

Soal Jawab Amir Hizbut Tahrir (HT) al-’Alim al-Jalil asy-Syaikh ‘Atha` bin Khalil Abu ar-Rasytah seputar Covid 19 dan Shalat Jumat

بسم الله الرحمن الرحيم

Q (Question): Apakah boleh melarang penyelenggaraan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah di Masjid?

A (Answer): Sesungguhnya meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat dalam kondisi tersebarnya wabah penyakit menular tidak dilakukan secara umum.

Tetapi, orang yang sakit diisolasi dan tidak boleh masuk ke Masjid untuk Shalat Fardhu secara berjamaah dan Shalat Jumat. Dan diambil semua langkah-langkah berupa kebersihan, masker dan jika diperlukan menggunakan selubung (APD) dan lainnya.

Kemudian Orang-orang yang sehat terus melaksanakan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah tanpa dihentikan. Dan jika diperlukan, diadakan Tim Medis di Masjid untuk memeriksa orang yang diduga sakit dari Orang-orang yang Shalat sehingga bisa diambil Langkah-langkah terhadapnya tanpa meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Fardhu’ Jamaah untuk orang-orang yang sehat dari Kaum Muslimin.

Sebab Dalil-dalil yang ada tentang Shalat Jamaah dan Shalat Jumat tidak mengandung penelantaran kontinu. Bahkan shalat itu tidak menuntut jumlah besar untuk menunaikannya sebagaimana yang akan kami jelaskan dan diberikan usdzur untuk sebagian Kaum Muslimin dari menghadirinya karena sebab-sebab yang khusus untuk mereka sebagai berikut:

1. Berkaitan dengan shalat jamaah, maka itu adalah Fardhu Kifayah:

Shalat Jamaah merupakan fardhu kifayah yang wajib ditampakkan untuk masyarakat. Abu Darda’ telah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ،

عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْخُذُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ» رواه أبو داود بإسناد حسن

 

Artinya:

“Tidaklah ada tiga orang di satu kampung dan pedalaman, di mana tidak ditegakkan di tengah mereka shalat, kecuali syaitan telah menguasai mereka. Kamu harus berpegang kepada jamaah. Sesungguhnya serigala memakan domba yang menyendiri.”  (HR Abu Dawud dengan sanad hasan).

Hadits ini tentang Shalat Jamaah. Dan Shalat Jamaah itu Fardhu Kifayah. Sebagian dari Kaum Muslimin terlambat Shalat Jamaah bersama Rasul SAW maka Rasulullah SAW membiarkan mereka setelah mengancam akan membakar mereka.

Imam al-Bukhari telah mengeluarkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا

ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ

لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقاً سَمِيناً أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

 

Artinya:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, sunguh aku ingin memerintahkan tukang pencari kayu lalu dikumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan Shalat lalu dikumandangkan adzan kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami Orang-orang kemudian aku pergi ke para Laki-laki dan aku bakar rumah mereka, demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian mengetahui, bahwa dia mendapati kuah berlemak atau daging kambing yang baik niscaya dia tetap ikut jamaah Isya’.

Seandainya Fardhu ‘Ain atas tiap Muslim niscaya beliau tidak membiarkan mereka, dan itu tentang shalat jamaah karena disebutkan shalat Isya’ dan paling sedikit jamaah itu dua orang, imam dan makmum.

Hal itu sesuai hadits Malik bin al-Huwairits, dan berkata:

 

«أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَنَا وَصَاحِبٌ لِي فَلَمَّا أَرَدْنَا الْإِقْفَالَ مِنْ عِنْدِهِ قَالَ لَنَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا»، أخرجه مسلم

 

Artinya:

“Aku datang kepada Nabi SAW, aku dan temanku, ketika kami ingin pergi dari hadapan beliau. Beliau SAW bersabda, “kami jika telah tiba waktu Shalat maka kami tunaikan kemudian tunaikan oleh kalian berdua shalat dan hendaknya yang menjadi imam yang lebih tua dari kalian berdua.” (HR Muslim).

Jamaah tidak gugur kecuali dengan udzur syar’iy yang tetangnya ada nash seperti malam yang dingin atau hujan lebat, sesuai hadits Imam Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 

«كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّناً يُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ»

 

Artinya:

“Beliau memerintahkan muadzin mengumandangkan adzan kemudian setelahnya beliau bersabda, “ingatlah shalatlah kalian di rumah pada malam yang dingin atau hujan lebat di perjanalan.”

2. Adapun Shalat Jumat maka itu fardhu ain, tidak gugur kecuali dengan udzur, dan Dalil-dalil atas hal itu banyak, di antaranya:

Firman Allah SWT:

﴿إِذَا نُودِي لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ﴾

Artinya:

“Apabila diseru untuk menunaikan Shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah SWT dan tinggalkanlah jual beli.”  (TQS al-Jumu’ah [62]: 9).

Perintah di dalam ayat ini untuk wajib dengan dalil warinah larangan dari yang mubah, menunjukkan bahwa thalab itu jazim. Dan al-Hakim telah mengeluarkan di al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn dari jalur Thariq bin Syihab dari Abu Musa dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:

«الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ»

Artinya:

“Jumat merupakan hak wajib atas tiap muslim di dalam jamaah kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak atau orang yang sakit.”

Al-Hakim berkata: hadits shahih menurut syarat syaykhayn (al-Bukhari dan Muslim)”. Shalat Jumat tidak wajib atas orang yang takut karena apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW bersabda:

«مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إلَّا مِنْ عُذْرٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْعُذْرُ؟

قَالَ: خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ» أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

Artinya:

“Siapa saja yang mendengar seruan (Adzan) dan tidak menjawabnya maka tidak ada shalat untuknya kecuali karena udzur”. Mereka berkata:”ya Rasulullah apa udzurnya?” Beliau bersabda: “takut atau sakit”. (HR al-Baihaqi di Sunan al-Kubrâ).

Begitulah, shalat Jumat adalah wajib atas tiap Orang Muslim kecuali orang yang dinyatakan oleh nas syar’iy yang mengecualikannya.

Selain mereka, di antara orang yang tidak ada nash syar’iy yang mengecualikannya maka shalat Jumat fardhu ain atasnya. Ini adalah udzur Syar’iy dan tidak bisa diqiyaskan atasnya.

Udzur Syar’iy adalah apa yang dinyatakan nash syar’iy. Dan qiyas tidak masuk dalam ibadah, sebab di dalamnya tidak dinyatakan nas yang disertai ‘illat sehingga bisa dilakukan qiyas padanya.

Shalat Jumat disyaratkan berada dalam sejumlah orang Kaum Muslimin. Para sahabat telah berijmak bahwa harus ada sejumlah orang untuk Shalat Jumat.

Maka Shalat Jumat itu harus dilakukan dalam sejumlah orang. Tidak disyaratkan jumlah tertentu. Jumlah berapapun yang bisa disebut jamaah maka dinilai sebagai jumlah yang dengannya Shalat Jumat itu absah selama jumlah itu dinilai sebagai jamaah. Sebab keberadaannya sebagai jamaah ditetapkan dengan Hadits Thariq di atas.

«الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ »

Artinya:

“Jumat merupakan hak wajib atas tiap muslim di dalam jamaah.”

Dan karena jumlah tersebut ditetapkan dengan ijmak sahabat. Dan tidak ada hadits yang bisa dijadikan patokan yang menunjukkan jumlah tertentu dalam shalat Jumat.

Hanya saja, karena harus jamaah dan sejumlah, dan hal itu tidak bisa terpenuhi kecuali dengan tiga orang atau lebih, karena dua orang tidak disebut jamaah karena tidak adanya sejumlah orang bersama jamaah.

Atas dasar itu maka harus tiga orang yang padanya wajib Shalat Jumat sehingga sah shalat Jumat itu.

Jika kurang dari jumlah itu maka tidak sah disebut Shalat Jumat karena tidak adanya sejumlah orang. Telah terakadkan ijmak sahabat bahwa harus ada sejumlah orang untuk shalat Jumat.

Begitulah, di dalam Daulah al-Khilafah, shalat Jumat dan jamaah tidak ditelantarkan. Tetapi orang yang punya udzur syar’iy, dia tidak menghadiri, sedangkan orang yang lain menghadiri.

Adapun pendapat bahwa telah menjadi dugaan kuat (ghalabah azh-zhann) bahwa semua orang berpotensi tertular dan tidak mungkin mencegahnya bagaimana pun langkah-langkah dan kehati-hatian diambil maka itu merupakan kemungkinan yang lemah, khususnya bahwa jumlah minimal untuk jamaah adalah dua orang dan untuk shalat Jumat adalah tiga orang. Ini menurut yang lebih rajih.

Seandainya kita asumsikan adanya kemungkinan ini maka itu diambil di wilayahnya saja. Dari sini maka perkara itu wajib ditetapkan (diverifikasi) dengan sangat rinci dan amanah.

Jika jumlah itu terpenuhi menurut ghalabah azh-zhann maka shalat Jumat dan shalat jamaah tidak boleh ditiadakan, tetapi diambil semua langkah dan tindakan kehati-hatian.

Jadi tindakan pencegahan itu tidak berarti meninggalkan kewajiban, melainkan kewajiban itu ditunaikan disertai mengambil kehati-hatian dan langkah-langkah untuk mencegah penularan.

Ini adalah hukum yang rajih dalam masalah tersebut. Jika negara menutup masjid-masjid tanpa mengerahkan segenap upaya dalam memverifikasi ghalabah azh-zhann sebagaimana yang kami jelaskan di atas.

Berikutnya, Melarang masyarakat mendatangi masjid untuk shalat Jumat dan jamaah maka negara berdosa dengan dosa besar karena menelantarkan (meniadakan) shalat Jumat dan jamaah.*

Di akhir, sungguh sangat menyedihkan, para penguasa di negeri kaum Muslim mengikuti Langkah-langkah kaum kafir penjajah sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Jika negara-negara kafir penjajah itu terpaksa dalam percobaan mereka obat tertentu, para penguasa itu mengikuti mereka.

Jika mereka menyodorkan solusi meskipun tidak sama, maka para penguasa di negeri Kaum Muslimin berjabat tangan dengan musuhnya, sehat dan pemulihan!

Sungguh menyakitkan, wabah Corona ini menambah resesi dan kejumudan terhadap negeri dan penduduknya sehingga hampir-hampir kehidupan publik berhenti.

Padahal di negeri Kaum Muslimin telah berlalu atasnya banyak hal. Telah diuji dengan Tha’un, sementara negeri kaum Muslim sedang mengarungi perang menentukan melawan Romawi di Syam pada Tahun 18 H.

Demikian juga, Umat telah diuji pada pertengahan abad ke-enam hijriyah dengan wabah asy-Syaqfah yang sekarang disebut cacar yang menyebar dari Syam hingga Maroko. Dan itu sekarang dinilai sebagai bagian dari luka kulit yang disebabkan oleh sejenis bakteri.

Demkian juga Kaum Muslimin telah diuji pada pertengahan Abad VIII H  (Tahun 749 H) dengan apa yang disebut Tha’un al-a’zham di Damaskus.

Dan dalam semua kondisi itu, Masjid-masjid tidak ditutup dan Shalat Jumat dan jamaah tidak dihentikan. Orang-orang juga tidak dikurung di rumah mereka.

Tetapi, orang yang sakit diisolasi. Orang-orang yang sehat tetap menjalankan aktifitas mereka dengan jihad dan memakmurkan bumi.

Mereka pergi ke masjid, shalat dan berdoa kepada Allah agar melindungi mereka dari penyakit ini. Ini ditambah dengan pengobatan yang mereka adopsi dalam merawat orang yang sakit. Inilah yang benar.

 

﴿فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ

 

Artinya:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (TQS Yunus [10]: 32).

 

2 Sya’ban 1441 H/ 26 Maret 2020 M

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you