Traveling Lae–lae dalam Rekaman Syair Makassar

Lae–lae dalam Rekaman Syair Makassar

-

- Advertisment -

Pulau Lae-lae. (foto: Ksm tour/*)
Pulau Lae-lae. (foto: Ksm tour/*)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: Pacarita Sikarannuang ri Lae-lae

PALONTARAQ.ID – Lae-lae adalah nama salah satu pulau kecil yang terletak di depan Pelabuhan Makassar. Tidak sampai sejam untuk mencapainya dengan speed boat atau perahu nelayan.

Lae-lae sendiri dalam Bahasa Makassar berarti kemari kemari. Mengapa ‘Lae-lae’ dijadikan nama untuk pulau itu. Mengapa harus disebut demikian? Dalam suatu syair Makassar terungkap sebagai berikut :

 

Niya’-niya’ bedeng. Rupamayyaji angkana.

Teya’ nakke balle-balle. Riyolo-mariyolona.

Niya’ biseang reppe’. A’lurang rassi Cina.

Ta’rampe ri gusunga. Assitenta iba’leanna.

Ujung napattimboiya. Romang-romang pandang bauka.

Nasangga ricumo Cinayya. Akkiyo’-kiyo’ lae, lae.

Batuanna maeko, maeko. Apaji’ naniyaremmo.

Anjo gusunga Lae-Lae. Kammatodong niarentommo. Anjo ujunga ujung pandang.

 

Artinya :

Tersebutlah konon. Kata sahibul hikayat.

Saya tidak mau berbohong. Dari dahulu sejak dahulu.

Ada perahu pecah. Penuh penumpang Cina.

Terdampar di karang berpasir. Bertentang berseberangan.

Tanjung tempat bertumbuhnya. Semak-semak pohon pandan.

Maka ributlah penumpang Cina. Memanggil-manggil lae, lae.

Artinya ke mari, ke mari. Maka disebutlah Lae Lae’

Karang berpasir itu Lae-Lae. Begitu pula dinamakan. Tanjung itu Ujung Pandang.

Demikianlah Pulau Lae-Lae terekam dalam Sastra (Kelong) Makassar. Dahulu Orang Makassar dikenal sebagai pelaut ulung, yang kebahariaannya terkenal dalam mengarungi samudera, bahkan sampai di pesisir timur Madagaskar.

Ketangguhan melaut itu merupakan ciri khas dan dan telah karakter sosial manusia Makassar yang selalu ingin merantau dan mengenal banyak daerah.

Bagi anak cucunya diwariskan pula sifat kebaharian itu, sehingga jika ada orang tak ingin mengenal laut dan tak ingin menjamah daratan lain akan dicemooh atau diejek agar berani merantau dan meninggalkan Tanah Makassar.

Ejekan atau cemoohan itu seringkali diungkapkan dengan kalimat, “Pu’re’ kau, Lae-Lae tannurapi’” (kau ini apa, Lae-Laepun engkau tak capai). (*)

 

 

(* Tulisan ini pernah penulis publikasikan sebelumnya di Social Blog Kompasiana, 26 Mei 2011.  

 

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you