Lae–lae dalam Rekaman Syair Makassar

by Penulis Palontaraq | Jumat, Jan 24, 2020 | 33 views
Pulau Lae-lae. (foto: Ksm tour/*)

Pulau Lae-lae. (foto: Ksm tour/*)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: Pacarita Sikarannuang ri Lae-lae

PALONTARAQ.ID – Lae-lae adalah nama salah satu pulau kecil yang terletak di depan Pelabuhan Makassar. Tidak sampai sejam untuk mencapainya dengan speed boat atau perahu nelayan.

Lae-lae sendiri dalam Bahasa Makassar berarti kemari kemari. Mengapa ‘Lae-lae’ dijadikan nama untuk pulau itu. Mengapa harus disebut demikian? Dalam suatu syair Makassar terungkap sebagai berikut :

 

Niya’-niya’ bedeng. Rupamayyaji angkana.

Teya’ nakke balle-balle. Riyolo-mariyolona.

Niya’ biseang reppe’. A’lurang rassi Cina.

Ta’rampe ri gusunga. Assitenta iba’leanna.

Ujung napattimboiya. Romang-romang pandang bauka.

Nasangga ricumo Cinayya. Akkiyo’-kiyo’ lae, lae.

Batuanna maeko, maeko. Apaji’ naniyaremmo.

Anjo gusunga Lae-Lae. Kammatodong niarentommo. Anjo ujunga ujung pandang.

 

Artinya :

Tersebutlah konon. Kata sahibul hikayat.

Saya tidak mau berbohong. Dari dahulu sejak dahulu.

Ada perahu pecah. Penuh penumpang Cina.

Terdampar di karang berpasir. Bertentang berseberangan.

Tanjung tempat bertumbuhnya. Semak-semak pohon pandan.

Maka ributlah penumpang Cina. Memanggil-manggil lae, lae.

Artinya ke mari, ke mari. Maka disebutlah Lae Lae’

Karang berpasir itu Lae-Lae. Begitu pula dinamakan. Tanjung itu Ujung Pandang.

Demikianlah Pulau Lae-Lae terekam dalam Sastra (Kelong) Makassar. Dahulu Orang Makassar dikenal sebagai pelaut ulung, yang kebahariaannya terkenal dalam mengarungi samudera, bahkan sampai di pesisir timur Madagaskar.

Ketangguhan melaut itu merupakan ciri khas dan dan telah karakter sosial manusia Makassar yang selalu ingin merantau dan mengenal banyak daerah.

Bagi anak cucunya diwariskan pula sifat kebaharian itu, sehingga jika ada orang tak ingin mengenal laut dan tak ingin menjamah daratan lain akan dicemooh atau diejek agar berani merantau dan meninggalkan Tanah Makassar.

Ejekan atau cemoohan itu seringkali diungkapkan dengan kalimat, “Pu’re’ kau, Lae-Lae tannurapi’” (kau ini apa, Lae-Laepun engkau tak capai). (*)

 

 

(* Tulisan ini pernah penulis publikasikan sebelumnya di Social Blog Kompasiana, 26 Mei 2011.  

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response