Beranda Berita Daerah Annyala: Kebersalahan dalam Perkawinan Adat Makassar

Annyala: Kebersalahan dalam Perkawinan Adat Makassar

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post:  Menelisik Cinta Anak Makassar dalam Film Silariang

PALONTARAQ.ID – Ada yang sudah mengetahui sebelumnya apa yang dimaksudkan dengan “Annyala”? Dalam kosakata Bahasa Makassar, Annyala diartikan bersalah, melakukan kesalahan, atau kebersalahan.

Kesalahan atau kebersalahan yang dimaksudkan disini adalah kesalahan yang dapat membawa efek hilangnya harga diri seseorang atau hilangnya harga diri suatu keluarga, sehingga dipandang sebagai kesalahan yang bukan kesalahan biasa, tetapi kesalahan yang harus mendapatkan sanksi sosial dan sanksi hukuman (penghukuman) secara adat.

Dalam pandangan adat Makassar, Annyala atau kebersalahan, umumnya terkait dengan Proses dalam perkawinan atau terjadi karena perjodohan yang tak direstui.

Kenapa perjodohannya tak direstui? Bisa jadi dengan beragam alasan, entah karena berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, pendidikan, status sosial, harta benda, permusuhan dua keluarga, dan dari semua alasan itu, terkadang lebih banyak karena faktor “doe’ panai”.

Apa itu “doe panai”? Penulis akan dijelaskan dalam satu tulisan tersendiri.

Ada tiga macam “Annyala” yang akan penulis kemukakan dalam Tulisan ini, yaitu: (1) Silariang atau kawin lari (2) Nilariang atau sang gadis dibawa lari, (3) Erangkale atau lari sendiri karena tidak setuju atas pemuda yang dijodohkan untuknya.

Pada masyarakat  Makassar, kawin lari (silariang) biasanya terjadi karena banyak alasan, sebagaimana telah disebutkan diatas.

Apapun alasannya, tindakan “silariang” tetap merupakan hal yang tidak direstui bahkan menjadi aib dalam masyarakat, menjatuhkan harga diri dari keluarga masing-masing.

Ada silariang terjadi karena uang belanja perkawinan atau mas kawin yang ditentukan oleh pihak keluarga sigadis terlampau tinggi atau dianggap tidak sederajat.

Mengenai uang belanja yang tinggi, hal ini sebenarnya biasa dilakukan untuk menolak pinangan secara halus.

Apabila terjadi perkawinan lari (silariang), maka oleh pihak keluarga sigadis akan melakukan pengejaran, biasa disebut tu-masiri’, dan kalau mereka berhasil menemukan kedua pelarian itu, maka kemungkinan laki-laki (tu-mannyala) itu akan dibunuh.

Tindakan Silariang banyak terjadi karena kedua muda-mudi yang saling mencintai namun tidak mendapatkan restu dari orang tua.

Disinilah banyak muncul ketegangan karena tu-mannyala harusnya dibunuh kecuali bila tu-mannyala tadi telah berada dalam rumah atau pekarangan anggota Dewan Hadat/Pemuka Masyarakat.

Atau setidak-tidaknya jika Tu-mannyala telah sempat melemparkan penutup kepalanya (songkok atau destar) ke dalam pekarangan rumah anggota hadat tersebut yang berarti ia sudah berada dalam perlindungan anggota Dewan Hadat/Pemuka Masyarakat itu, maka tak dapat diganggu lagi. Begitu juga kalau ia sedang bekerja di kebun, di ladang atau di sawahnya.

Bila Tu-mannyala tadi telah berada di rumah satu pemuka masyarakat (dalam hal ini imam atau kadhi) maka menjadi kewajiban baginya untuk segera menikahkan tu-mannyala.

Langkah pertama, orangtua sigadis, tu-masirik, dihubungi dan dimintai persetujuannya agar anaknya dapat dinikahkan.

Biasanya orangtua tak dapat memberi jawaban apalagi bertindak sebagai wali, karena merasa hubungannya dengan anaknya mimateami (telah dianggap mati).

Sebab itu, tak ada jalan lain bagi imam atau kadhi kecuali menikahkan Tu-mannyala dengan ia sendiri bertindak sebagai wali hakim.

Setelah itu, baru dipikirkan yang harus dilakukan Tu-mannyala agar diterima kembali sebagai keluarga yang sah dalam pandangan adat.

Hubungan antara tu-masiri’, yang dipermalukan dengan tu-annyala, yang bersalah sebagai tu-appakasirik, mereka yang membuat malu, akan diterima selama tu-mannyala, mereka yang bersalag, belum abbajik (berbaikan; berdamai).

Bila tu-mannyala mampu dan berkesempatan appakabajik (berdamai) ia lalu minta bantuan kepada penghulu adat/pemuka masyarakat tempatnya meminta perlindungan dahulu.

Lalu diutuslah seseorang untuk menyampaikan maksud appala bajik (meminta berbaikan atau ingin berdamai) kepada keluarga tu-masirik atau kepada penghulu kampung tempat keluarga tu-masirik yang selanjutnya menghubungi keluarga tu-masirik agar berkenan menerima kembali tumate tallasa’na, orang mati yang masih hidup.

Keluarga tu-masirik lalu menyampaikan kepada sanak keluarganya tentang maksud kedatangan tu-mannyala appala bajik.

Bila seluruh keluarga berkenan menerima kembali tu-mannyala tersebut, maka disampaikanlah kepada yang mengurus selanjutnya pada pihak tu-mannyala.

Kemudian si tu-mannyala dengan keluarganya mengadakan persiapan yang diperlukan dalam upacara appala bajik tersebut.

Keluarga tu-mannyala menyediakan sunrang sesuai aturan sunrang dalam perkawinan adat, selain menyediakan pula pappasala (denda karena berbuat salah).

Pappasala dengan sunrang dimasukkan dalam ‘kampu’ disertai ‘leko’ sikampu’ (sirih pinang dalam kampu). Keluarga tu-mannyala juga yang wajib menyiapkan dalam pertemuan itu antara lain hidangan adat.

Pada waktu yang telah ditentukan, tu-mannyala, orang yang telah berbuat salah/aib, datang dengan keluarga yang mengiringinya ke rumah salah seorang tu-masirik, orang yang menderita malu atau yang dipermalukan.

Sementara itu keluarga tu-masirik telah pula hadir. Dengan upacara penyerahan kampu’ dari pihak tu-mannyala atau tu-mappakasirik yang diterima oleh tu-masirik maka berakhirlah dendam dan ketegangan selama ini.

Tu-mannyala tadi meminta maaf kepada keluarga tu-masirik yang hadir dan pada saat itu dirinya resmi diterima sebagai keluarga yang sah menurut adat.

Suatu proses perkawinan juga dapat terjadi karena ‘nipakatianang’ , dihamili sebelum nikah. Keadaan demikian ini dapat menimbulkan dua kemungkinan, yaitu (1) Kawin secara adat atau (2) Annyala.

Kawin secara adat terlaksana apabila kehamilan siperempuan, tau-nipakatiananga belum tersebar atau baru diketahui ibu dan kerabat ibu yang terdekat sehingga mereka ini secara rahasia (tidak diketahui oleh tu-masirik perempuan yang hamil) menghubungi keluarga tu-mappakasiri’. 

Dengan maksud agar dalam waktu yang singkat perkawinan dapat dilangsungkan melalui prosedur yang biasa. Kedua belah pihak berusaha menutupi dan melindungi rahasia demi nama baik kedua keluarga.

Bilamana perkawinan secara adat tidak terlaksana, maka terjadilah prosedur yang sama dengan annyala, dimana keadaan perempuan telah menyedihkan karena silelaki tidak bertanggung jawab atau menghilang.

Si perempuan yang berlindung kepada imam (kadhi) dinikahkan dengan seorang lelaki yang niatnya darurat.

Lelaki yang menikahi seorang perempuan karena terlebih dahulu hamil yang sebelumnya tidak ada hubungan disebut kawin penutup malu (b. makassar: Bunting Pattongkok Siri) si perempuan yang bernasib sial ini oleh orangtuanya atau oleh kerabatnya disebut “Nimateanmi”, dianggap sudah mati. (*)

 

M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya, tinggal di Pangkep

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...