Siajing: Titik Pusat Lingkar Keluarga Bugis

Siajing - Bugis. (foto: ist/palontaraq)

Siajing – Bugis. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Related Post:  Bija

PALONTARAQ.ID – Jika “sompunglolo” dipahami sebagai simpul ikatan kekerabatan, “siajing” adalah titik pusat garis lingkar yang mengikat suatu kumpulan persekutuan hidup sebagai suatu keluarga.

Titik pusat itu disebutnya “jing”, yakni sumber kehidupan asali dari suatu rumpun keluarga, dimana itu dinamai “toriolo” (leluhur).

Olehnya itu, “siajing” adalah 1 turunan dari leluhur yang sama, hal mana itu disebut menurut bentangan tali yang memperhubungkan dengan titik pusatnya (jing), yaitu : keluarga dan kerabat.

Bentangan tali yang memperhubungkan dengan titik pusat itulah yang diperumpamakan sebagai tali ari-ari (lolo). Jauh dekatnya bentangan tali itu dengan “jing”, diklasifikasikan dengan ring demi ring.

Ketika seseorang terlahir dari ibu yang sama dengan seseorang lainnya, disebut “siala essureng” (sesama “pintu” keluar) yang kemudian lebih mudah disebut “silessureng” (saudara). Perhubungan inilah berada dalam ring I.

Kemudian anak-anak kedua orang bersaudara dalam ring I itu terhubung dalam ring II yang sangat luas dengan lima sub ruang, yakni “sisappo” (satu komplek pagar) bermaknakan sepupu.

Hingga demi memudahkan penyebutannya, disebutlah ia “sappo” dengan predikat ruang dibelakangnya, yaitu : sapposiseng (sepupu sekali), sappokadua (sepupu dua kali), sappokatellu (sepupu tiga kali), sappokaeppa (sepupu empat kali) dan sappokalima (sepupu lima kali).

Orang Bugis adalah salahsatu bangsa yang memiliki ring sepupu terbanyak di dunia, hingga dihitung menjadi 5, menurut jumlah 5 jemari dalam 1 tangan. Jari kelingking (ana’ lima’) disimbolkan bagi sepupu sekali, bermakna orang bersepupu sekali saling mengasihi sebagai anak yang sama dari 1 induk, layaknya saudara kandung.

Ungkapan seorang tua Bugis yang “mammasE-masE” (ramah/berbelaskasih) kepada kemenakannya ketika menyebut anaknya, ia menyebutnya “kakamu” (kakakmu) ataupun “anrimmu” (adikmu).

Seakan-akan kemenakannya itu adalah adalah anak yang dilahirkannya, sebagaimana dinyatakannya : “magatti’nami masiang natania iyya’ jajiangko” (hanya karena cepatnya terbit fajar sehingga bukan aku yang melahirkanmu).

Sepupu dua kali adalah anak-anak yang dilahirkan oleh kedua orang bersepupu sekali. Mereka disimbolkan sebagai jari manis (lima cenning), bermakna ini adalah hubungan yang sangat manis, akrab dan saling menyayangi serta merupakan padanan paling ideal untuk dijodohkan sehingga disebut “sialamEmengna” (jodoh yang semestinya).

Jari tengah (datu lima) adalah jemari tertinggi diantara keempat lainnya. Inilah yang disimbolkan bagi sepupu tiga kali, yakni putera puteri kedua orang bersepupu dua kali.

Makna yang dikandungnya adalah sikap formal namun tetap akrab diantara kedua orang bersepupu ini. Mereka saling meninggikan (sipakaEnrE’), memuliakan (sipakalebbi) dan menghormati (sipakaraja), sehingga menjadi contoh dan teladan bagi rumpun keluarga lain.

Sepupu empat kali disimbolkan oleh jari telunjuk (pajjello’), merupakan anak-anak kedua orang bersepupu tiga kali yang saling menunjukkan kebaikan (sijello’-jellokeng ri dEcEngngE). Mereka saling membantu dalam suatu rasa solidaritas, termasuk dalam hal meningkatkan taraf penghidupan.

Ketika seorang sepupu empat kali diketahui mengalami kesusahan dalam pekerjaan, sepupu empat kalinya “menunjukkan” jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Demikian antara lain maksud “sijello’-jellokeng” ini.

Jempol tangan adalah jemari terbesar dan terjauh jaraknya dari keempat jemari lain yang masih saling berdempetan. Jemari ini adalah simbol bagi sepupu lima kali, yakni Putra putri kedua orang bersepupu empat kali. Ialah yang terbesar karena ia pulalah yang terbanyak sebagai dari lingkar kekerabatan serta terjauh dari titik pusat “jing”.

Namun demikian, ia belumlah lepas dari garis pagar (sappo) kekerabatan karena masih dalam 1 tangkai tangan. Olehnya itu, biasanya ring ini didekatkan kembali dengan pusat jing dengan cara menjodohkan Anak-anak mereka dengan Anak-anak sepupu kelima. Pada akhirnya, cucu keduanya kembali bersaudara.

Siajing adalah mutlak ketentuan Allah sehingga setiap orang tidak dapat memilih rumpun siajing yang mana ia dilahirkan. Olehnya itu, seorang Siajing memiliki kewajiban pada Siajing lainnya sebagai amanah langsung dari Allah SWT.

Keterkaitan seseorang terhadap siajingnya adalah bersifat kekal, sehingga leluhur orang Bugis mengungkapkan :

“Mauni ribissai pitu lEkko salo, riremmE pitu tasi’, temmalara’ assiajingengngE” (meski dicuci pada tujuh kelokan sungai, direndam pada tujuh lautan, takkan luntur hubungan “siajing”).

Maka baik buruknya seseorang, takkan merubah status keterkaitannya dengan siajing-nya. Dalam hal ini leluhur mengungkapkan :

“NarEkko majaa’i, siajing majaa’ta. NarEkko makessingngi, siajing makessingta” (jika ia buruk, “siajing” buruk kita-lah ia. Jikalau ia baik, “siajing” baik kita pulalah ia).

Bahwa bukan hanya “kebaikan” seorang siajing yang membanggakan. Jika kita bangga dengan kelebihan atau prestasinya, sebaliknya harus mampu pula menerima keburukannya sebagai bagian dari kita.

Olehnya itu, dalam segala situasi dan kondisi, lingkar kekerabatan passiajingeng dikuatkan nilai esensi yang dikenal sebagai “massEddi siri” (kesatuan harkat martabat).

Seseorang dapat saja berbeda pandangan atau bahkan berselisih paham dengan siajingnya, namun pertikaian itu takkan dijadikan sebagai konsumsi publik.

Lihat pula: Tau Ugi

Orang-orang Bugis yang dimuliakan sepanjang sejarah, dapat saja saling memusuhi dengan siajingnya, namun ditampakkan “akur” dihadapan orang banyak. Saling memburukkan dimuka umum adalah hal terlarang (pEmmali), sebagaimana itu diistilahkan: “sijellokeng roppo-roppo” (saling menunjukkan sampah).

Mereka pula takkan saling berebut warisan yang memungkinkan dapat menjadi aib keluarga besar, hal mana itu dinyatakan sebagai “tessiyala mana” (tidak saling merebut warisan).

“Aja’ naita bati, silacakeng tange’ masiajing, sitongkang addEnEng massiajing, sitebbang aliri massiajing, siekkE’ tigerro’ massiajing, tennaitai dEcEngna lino, lebbipi matti’ ri ahEra'”.

Artinya: Semoga janganlah terjadi pada turunan kelak, yakni saling mengunci pintu antar kerabat, saling memiringkan tangga antar kerabat, saling menebang tiang rumah antar kerabat, saling cekik tenggorokan antar kerabat, tak akan mendapat kebaikan dunia, terlebih kelak diakhirat), demikian pesan leluhur yang menjadi penutup uraian ini.

Kiranya konsep ideal tentang keluarga inilah pondasi sosial masyarakat Bugis yang kemudian dalam perjalanan pembentukan peradabannya menjadi suatu kerajaan.

Kerajaan itu berkembang menjadi banyak kerajaan yang terwujud sebagai kawasan kekerabatan regional. Tidak satupun kerajaan Bugis yang tidak terkait simpul kekerabatan “passiajingeng” antar satu sama lainnya.

Olehnya itu sehingga kerajaan-kerajaan ini terikat solidaritas hubungan darah yang dikenal sebagai ” Tana Sempugi” yang disingkat “Tana Ugi”, negeri kesatuan ari-ari.

Tema ini telah ditulis pada uraian terdahulu sebagai perbaikan dan untuk memenuhi maksud baiknya, bahwa keluarga adalah amanah dari Allah SWT.

Tiada hal apapun yang sepadan untuk memutus silaturrahim antar siajing, termasuk tahta kerajaan sekalipun. Terlebih pada masa sekarang ini, kerajaan di NKRI tak lain adalah lembaga pelestarian Nilai-nilai budaya belaka.

Jika tahta kerajaan tanpa kekuasaan politik itu harus menjadikan hubungan keluarga sebagai tumbalnya, apalah lagi yang hendak dilestarikan setelah pondasi budaya itu dibongkar habis ?

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Jakarta 16 Januari 2020

 

Like it? Share it!

Leave A Response