Sosial Budaya Permainan Rakyat Mengenal Ma'raga, Permainan Rakyat Sulsel

Mengenal Ma’raga, Permainan Rakyat Sulsel

-

- Advertisment -

Ma'raga. (foto: rudiamrullah?*)
Ma’raga. (foto: rudi_amrullah/*)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Tradisi Posepaa, Tendangan Hari Raya (THR) di Wakatobi

PALONTARAQ.ID – Ma’raga atau Makraga adalah salah satu karya budaya dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada Tahun 2016 untuk kategori Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional.

Bagi masyarakat Bugis Makassar, Ma’raga merupakan permainan ketangkasan sekaligus atraksi hiburan saat waktu senggang. Jika ada upacara adat, biasanya pemain raga juga memakai pakaian adat, celana pendek hitam dibalut sarung dengan kepala memakai passapu’, kain yang dililitkan di kepala.

Ukuran ketangkasan dilihat dari semakin lama dan atraktif raga (takraw) itu berada di kaki pemain, sehingga menimbulkan rasa senang dan decak kagum tersendiri dari masyarakat yang menonton.

Ilustrated by: mfaridwm/palontaraq)
Ma’raga (foto: rudi_amrullah/palontaraq)

Ma'raga. (foto: rudiamrullah?*)
Ma’raga. (foto: rudi_amrullah/*)

Ma'raga. (foto: rudiamrullah?*)
Ma’raga. (foto: rudi_amrullah/*)

Secara harfiah, Ma’ artinya melakukan, sedangkan raga adalah rotan yang dijalin kuat membentuk sebuah bola, lazim disebut dengan takraw. Jadi Ma’raga berarti melakukan permainan raga atau bertakraw secara bersama-sama. Pemainnya sendiri disebut Paraga.

Cara bermain raga atau Ma’raga yaitu para pemain berdiri membentuk lingkaran. Pemimpin permainan melambungkan raga ke atas sebagai tanda dimulainya permainan.

Pemain yang dituju kemudian mulai bermain, mengoper dari kaki ke kaki, atau dari kaki ke anggota badan lain sambil melakukan gerakan seperti tarian atau sambil membentuk formasi.

Patung Ma'raga di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung Ma’raga di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung Ma'raga di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Penulis di depan Patung Ma’raga di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama di depan Patung Makraga. (foto: ist/palontaraq)
Foto bersama di depan Patung Makraga. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Kurru Sumange’

Setiap pemain yang menerima raga harus menjaga agar tidak jatuh ke tanah dengan melakukan berbagai gerakan seperti menyepak, melambungkan atau memantulkan dengan tangan, bahu atau anggota badan lainnya tanpa memegang.

Terkadang jika seorang pemain capek, ia dapat melambungkan tinggi raga yang dimainkannya lalu menjatuhkannya pas di kepalanya, berada di dalam lingkaran passapu, penutup kepala yang dipakainya.  Sekadar mengatur nafas, kemudian ia menjatuhkan lagi di kakinya. Semuanya dilakukan tanpa menyentuh raga itu.

Foto bersama di depan Patung Makraga. (foto: ist/palontaraq)
Berkegiatan di depan Patung Makraga di Anjungan Pantai Losari, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Foto bersama di depan Patung Makraga. (foto: ist/palontaraq)
Foto Patung Makraga dipotret dari atas sebuah Bus. (foto: ist/palontaraq)

Pemain yang menjatuhkan raga di tanah tidak boleh melanjutkan permainan atau dianggap kalah jika dalam perlombaan. Di masa lampau, ketangkasan bermain raga dimanfaatkan untuk menarik perhatian gadis pujaan, dan umumnya para bangsawan muda (anak karaeng) sangat mahir ma’raga. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you