Kuru Sumange’

Ilustrated by: ist/palontaraq
Ilustrated by: ist/palontaraq

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Kurru Sumange’

PALONTARAQ.ID – Inilah kata yang kerap diucapkan Ibunda kami.. serta ibunya bunda serta ibunya lagi dari segala lapis jaman. Ia adalah mata rantai kasih yang mempertautkan solidaritas kemanusiaan (pessE) sejak dari pesisir Malili, melintasi pegunungan Verbeck hingga Latimojong.

Kemudian berlanjut menjelajah lereng baratnya di Toraja hingga EnrEkang sampai Duri, Batu Lappa menuju LEtta’, turun ke Bunging hingga Talabangi sampai menebar pada dataran rendah di seantero Ajatappareng.

Pada saatnya, simpulnya bertemu di Pammana, tatkala sebelumnya kata bernas itu menyusuri pesisir Teluk Bone setelah mengelingi lembah-lembah Tana Soppeng.

Kurusumange’ adalah kata yang diuntaikan tatkala menerima pemberian dari sesama manusia. Maka itu dimaknai “terima kasih” ataupun “thank you” oleh para tourist di Tana Toraja.

Pada saat lain, seorang ibu memeluk cium anaknya yang habis terjatuh hingga jidatnya benjol, iapun menghibur anaknya itu : “Kuuruuu sumange’mu, Ana’ku kasi’na”. Otomatis maknanya bukanlah lagi ungkapan syukur dan “terima kasih”.

Ibarat suatu lingkaran dinding, sumange’ adalah dinding terluar yang melingkupi dinding lain didalamnya, bernama : jiwa. Lapisan dinding jiwa inipun melingkupi dinding lain didalamnya bernama: tinio.

Kemudian tinio inilah yang mewadahi sebutir mustika hidup yang bercahaya, bernama : bannapati. Ialah roh yang abadi, pelintas alam demi alam yang takkan hancur, meski alam semesta ini dibalik (rigiling sinapatiE).

Demikian itulah Founding Father peradaban Bugis memahami keberadaan “sumange'”, dimana setiap mahluk hidup pewadah sumange’ itu seyogyanya saling mengasihi dengan “sipakuru” (saling menguatkan).

Semoga kuat dan kokoh “dinding” roh kehidupanmu, demikian doa pengharapan “pakurusumange'” seorang tua kepada anaknya. Semoga ditinggikan derajat sumange’mu agar itu menjadi pedoman kami mengikuti langkahmu, makna “pakurusumange” seorang kawula kepada Rajanya.

Mogalah panjang umurmu dan dilanggengkan kesehatan dan kemujuranmu, do’a seorang yang melepas sahabatnya dalam bepergian. Semoga cahaya kearifan dan kebijaksanaan senantiasa bersinar pada dinding sumange’mu, harap seorang pelajar menyambut pujian dari gurunya.

Sesungguhnya dalam buntalan keluhuran “kurusumange'”, tersimpan senyawa makna terima kasih, penghormatan, dukungan apresiasi, simpati, empati dan belas kasih.

Kurusumange’ta ri idi’ maneng ??????????????

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT