Beranda Traveling Traveling ke Malino, Kota Wisata yang Bersejarah

Traveling ke Malino, Kota Wisata yang Bersejarah

Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)
Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya:  CSR Tonasa gelar Penguatan Forum di Malino

PALONTARAQ.ID – Ada yang tahu dimana itu Malino? Kalau Masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa, nampaknya tidak ada yang tidak mengenalnya.  Malino boleh dibilang ‘daerah puncak’, sebutan destinasi wisata di daerah ketinggian berhawa dingin, layaknya Kota Malang kalau di Jawa Timur atau Bogor di Jawa Barat.

Malino adalah kelurahan yang terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daerah yang terletak 90 km dari Kota Makassar ke arah selatan ini merupakan salah satu obyek favorit wisata alam.

Malino disebut juga “Kota Bunga”. Tanaman hias beragam jenis tumbuh subur di daerah ini, diperjual-belikan, dan seringkali menjadi oleh-oleh tersendiri dari Malino, selain Buah Markisa, Dodol Ketan, Tenteng Malino, Apel, Wajik, Sayur-sayuran segar, dan yang lainnya.

Berkunjung ke Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)
Berkunjung ke Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)

Berkunjung ke Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)
Berkunjung ke Hutan Pinus Malino. (foto: ist/palontaraq)

Beragam jenis tanaman hias yang diperjual-belikan. (foto: ist/palontaraq)
Beragam jenis tanaman hias yang diperjual-belikan. (foto: ist/palontaraq)

Perjalanan dari Kota Makassar menuju Malino dapat memakan waktu sampai 2 jam.  Perjalanan dilalui di antara bukit dan lembah, jalanan menanjak dan berkelok-kelok melintasi deretan pegunungan yang indah layaknya lukisan alam.

Lihat pula: Forum Desa Lingkar Tonasa gelar Pelatihan di Malino

Malino memang sudah terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata alam sejak zaman Penjajahan Belanda. Suhu di kota Malino ini mulai dari 10 °C-26 °C.

Jika pelancong mengunjungi “Kota Bunga” Malino pada saat musim hujan, diharapkan agar berhati-hati saat berkendara karena Malino seringkali berkabut dan jarak pandangnya 100 meter saja.

Lingkungan Malino yang asri dan sejuk. (foto: ist/palontaraq)
Lingkungan Kota Malino yang asri dan sejuk. (foto: ist/palontaraq)

Di lokasi air terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)
Spot selfie, foto bareng, atau foto pra-wedding dalam Kawasan Hutan Pinus, Malino. (foto: ist/palontaraq)

Ada banyak hotel, vila, wisma dan rumah penginapan yang disewakan oleh penduduk setempat, baik dalam Kota Malino maupun yang berada di depan Hutan Pinus yang menjadi salah satu obyek wisata alam di Malino.

Wisata Alam dan petualangan lainnya yang dapat dikunjungi, antara lain: Air Terjun seribu tangga, Takapala, Kebun Teh Nittoh, Lembah Biru, Bungker Peninggalan Jepang, dan Gunung Bawakaraeng yang dikultuskan sebagai tempat suci dan keramat.

Malino 1927. (foto: ist/palontaraq)
Malino 1927. (foto: ist/palontaraq)

Malino, Kota Bersejarah

Nama atau Penamaan Daerah ketinggian Kabupaten Gowa ini awalnya disebut ‘Lapparak’. Kata ‘Lapparak’ ini dalam Bahasa Makassar artinya lebar, datar atau sangat luas. Masyarakat setempat menyebutnya Kampung ‘Lapparak’ untuk menyebut daerah datar, di antara gunung dan perbukitan yang berdiri kokoh tersebut.

Penamaan Malino nanti mulai dikenal dan semakin populer sejak zaman penjajahan Belanda, yaitu setelah Gubernur Jenderal Caron pada Tahun 1927 memerintah di “Celebes on Onderhorighodon”,  menjadikan Malino  sebagai tempat peristirahatan bagi para pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Para penikmat wisata alam dalam Kawasan Hutan Pinus, Malino. (foto: ist/palontaraq)
Para penikmat wisata alam dalam Kawasan Hutan Pinus, Malino. (foto: ist/palontaraq)

Suasana lingkungan dalam Kota Malino yang asri dan sejuk. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Suasana lingkungan dalam Kota Malino yang asri dan sejuk. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sebelum memasuki kota Malino, terdapat sebuah tembok prasasti di pinggir jalan dengan tulisan: Malino 1927.  Penyebutan ini bukan berarti Malino baru dikuasai Belanda pada tahun itu. Jauh sebelumnya, Belanda sudah berkuasa dalam wilayah palili Kerajaan Gowa, terutama setelah pasca Perjanjian Bungaya 18 November 1667.

Sejak Tahun 1927, setelah ditetapkan secara resmi sebagai tempat peristirahatan dan rekreasi Pegawai Pemerintah Hindia Belanda, maka dibukalah kesempatan pada orang asing baik Belanda maupun Cina untuk membangun bungalow atau villa. Sedang penduduk setempat dilarang mendirikan rumah. Rumah rakyat digeser masuk ke hutan atau lereng gunung, kecuali di sekitar pasar.

Pada masa Pemerintahan Jepang, Malino juga tak luput dari pengawasannya. Karena tanahnya yang subur, maka Malino saat itu dijadikan sebagai daerah penghasil sayur mayur untuk menutupi kebutuhan sayur para serdadu dan pekerja Jepang.

Jepang juga membangun bungker-bungker sebagai lubang perlindungan dan tempat penghadangan musuh. Jepang juga membangun gudang senjata dan Rumah Sakit Kaigumbioying dan Markas Tentara (sekarang dijadikan Gedung SMP Negeri 1 Tinggimoncong sekarang).

Pada Tahun 1946 terjadi krisis politik dalam tubuh Pemerintahan dan Negara Republik Indonesia yang baru diproklamasikan setahun sebelumnya, Agustus 1945.

Ketika itu, akibat politik Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia dengan membonceng Sekutu, maka tanggal 16 – 22 Juli 1946, dilaksanakan Konferensi Malino di Malino yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT).

Kondisi ini dimanfaatkan Belanda yang telah mengusai sebelah Timur Nusantara.  Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian: Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Timur Raya.

Konferensi Malino ini bertujuan membahas rencana pembentukan Negara-negara bagian berbentuk federasi di Indonesia serta rencana pembentukan negara yang meliputi Daerah-daerah di Indonesia bagian Timur.

Konferensi Malino ini dihadiri oleh 39 orang dari 15 daerah dari Kalimantan (Borneo) dan Timur Besar (De Groote Oost), dilaksanakan di sebuah kapel Katolik di Kota Malino.  Saat ini kapel tersebut masih ada dan tetap berfungsi sebagai kapel yang dikelola biarawati JMJ (Jesus Marie Joseph).

Dalam konferensi yang dipimpin Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook tersebut dibentuk Komisariat Umum Pemerintah (Algemeene Regeeringscommissaris) untuk Kalimantan dan Timur Besar yang dikepalai Dr. W. Hoven.

Diangkat pula menjadi anggota luar biasa Dewan Kepala-kepala Departemen (Raad van Departementshooden) untuk urusan kenegaraan adalah Sukawati (Bali), Najamuddin (Sulawesi Selatan), Dengah (Minahasa), Tahya (Maluku Selatan), Liem Tjae Le (Bangka, Belitung, Riau), Ibrahim Sedar (Kalimantan Selatan) dan Oeray Saleh (Kalimantan Barat), yang disebut pula “Komisi Tujuh”.

***

Nama Malino sebenarnya adalah nama sungai yang berhulu di Laparrak (Malino sekarang). Sejak zaman kerajaan, Malino atau Laparrak hanya terdiri dari hutan belantara, di dalam wilayahnya terdapat beberapa anak sungai yang semuanya bermuara pada Sungai Jeneberang.

Sungai Malino dapat dilewati  menuju kota Malino lewat Jembatan Gantung Lebong. Sungai Malino mengalirkan air dengan tenang, sesuai dengan namanya Malino yang artinya amat tenang.  Keadaan alam dan lingkungan yang damai khas pegunungan inilah sehingga masyarakat setempat menyebutnya juga Malino. Lambat laun nama Lapparak tenggelam dan berubah nama menjadi Malino.

Sepanjang perjalanan, merasakan kesejukan hawa pegunungan menuju Malino. (foto: ist/palontaraq)
Sepanjang perjalanan, merasakan kesejukan hawa pegunungan menuju Malino. (foto: ist/palontaraq)

Wisata petik buah strawberry di Malino. (foto: ist/palontaraq)
Wisata petik buah strawberry di Malino. (foto: ist/palontaraq)

Di Bukit Indah Malino. (foto: ist/palontaraq)
Di Bukit Indah Malino. (foto: ist/palontaraq)

Pada masa Pemerintah Belanda dahulu, Malino hanyalah merupakan gabungan kampung yang dinamai Kampung Buluttana (diperintah oleh Karaeng Buluttana), masuk dalam  Wilayah Distrik Parigi yang berkedudukan di Tanete sampai pada Tahun 1939.

Pada Tahun 1939-1952, ibukota Distrik Parigi dipindahkan dari Tanete ke Saluttowa, sekitar 10 km dari sebelah barat kota Malino, dimana terdiri atas  6 (enam) kampung gabungan (desa), yaitu masing-masing:

1. Kampung gabungan Jonjo diperintah oleh Anrong Guru Jonjo.

2. Kampung Gabungan Gantarang diperintah oleh Karaeng Gantarang.

3. Kampung Gabungan Buluttana, diperintah oleh Karaeng Buluttana.

4. Kampung Gabungan Longka, diperintah oleh Karaeng Longka.

5. Kampung Gabungan Manimbahoi, diperintah oleh Karaeng Manimbahoi.

6. Kampung Gabungan Sironjong, diperintah oleh gelar Karaeng Sironjong.

Karena Malino yang semula dijadikan sebagai tempat peristirahatan, sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi serta letaknya yang strategis, maka Pada Tahun 1952, maka ibukota distrik dipindahkan kembali dari Saluttowa ke Malino.

Kampung gabungan tersebut masing-masing diperintahkan oleh Gallarang. Namun kedua distrik di daerah dataran tinggi itu pada Tahun 1957 dibentuk Coordinatorschap Gowa Timur yang berkedudukan di Malino, terdiri atas wilayah Parigi, inklusif Malino kota dan Tombolo Pao.

Pada tahun 1961, Pemerintahan Coordinatorschap ini dihapus sesuai dengan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia. Saat itu dilakukan reorganisasi pemerintahan distrik menjadi kecamatan.

Gowa saat itu terdiri dari 12 distrik, kemudian dilebur menjadi 8 kecamatan, yakni kecamatan Tamalate, Panakukkang, Bajeng, Palangga, Bontomarannu, Tinggimoncong, Tombopulu dan Bontomarannu.

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada Tahun 1962, seiring dengan tuntutan dan perkembangan pemerintah kabupaten, di ujung Timur Gowa, dibentuk satu distrik, namanya distrik Pao yang dibentuk dari 6 kampung gabungan, yaitu Kampung Baringong,  Tonasa,  Pao,  Suka,  Balasuka, dan  Mamampang.

Distrik Parigi dan Distrik Pao kemudian dilebur menjadi satu kecamatan, itulah Kecamatan Tinggimoncong. Tapi kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, pada Tahun 1990-an, dengan alasan mempermudah pelayanan, maka Kecamatan Tinggimoncong dimekarkan lagi menjadi satu kecamatan yakni Kecamatan Parigi.

Di lokasi air terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)
Di lokasi air terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)

Di lokasi air terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)
Di lokasi air terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)

Malino, Kota Wisata Alam dan Wisata Budaya

Ada banyak obyek wisata alam di Kota dingin Malino. Para pengunjung dapat menikmati hawa sejuk pegunungan di kawasan hutan pinus, yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah. Ada pula wisata air terjun Lembanna (wisata air terjun seribu tangga),  air terjun Takapala, Air terjun Parang Bugisi,  Air terjun Malino, dan Air terjun Biroro.

Air Terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)
Para pengunjung dengan latar belakang Air Terjun Takapala, Malino. (foto: ist/palontaraq)

Wisata petik teh dapat pula dinikmati di Malino saat berkunjung ke Kebun Teh Nittoh. Ada permandian Lembah Biru, Bungker peninggalan Jepang, Kapel tempat Konferensi Malino, Hotel tempat Deklarasi Malino, serta banyak lagi wisata outbond bernuansa petualangan di wilayah pegunungan.

Suhu yang dingin menjadikan Kota Malino sebagai sentra pertanian. Kol, brokoli, bawang prei, kentang, tomat, wortel dan stroberi dengan mudah tumbuh di sini. Harganya pun murah. Bunga brokoli misalnya hanya Rp.10.000 per kilogram.

Buah-buahan dan sayuran tumbuh subur lereng Gunung Bawakaraeng, gunung berapi yang tidak aktif lagi yang sebagian warga sekitarnya menganggapnya sebagai tempat suci dan keramat. Di wilayah kaki Gunung Bawakarang, oleh masyarakat setempat ada istilah “Naik Haji” ke gunung ini.

Kawasan Hutan Pinus cocok jadi tempat rekreasi keluarga. (foto: ist/palontaraq)
Kawasan Hutan Pinus cocok jadi tempat rekreasi keluarga. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Hutan Pinus cocok jadi tempat rekreasi keluarga. (foto: ist/palontaraq)
Di Kawasan Kebun Strawberry, cocok jadi tempat rekreasi keluarga. (foto: ist/palontaraq)

Wisata Petik Buah Strawberry. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Wisata Petik Buah Strawberry. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Wisata Petik Buah Strawberry. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Di Lokasi Wisata Petik Buah Strawberry. (foto: ist/palontaraq)

Malino juga menjadi daerah penghasil beras bagi wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa.  Julukannya sebagai “Kota Bunga” bukan sekadar isapan jempol belaka. Ada banyak penduduk setempat yang mendirikan Pondok-pondok Bunga hias dan para pengunjung dapat membelinya sebagai Oleh-oleh.

Sebagai daerah tujuan wisata, di sini tersedia hotel, wisma, vila, dan penginapan. Tarif hotel berkisar Rp.300.000,-sampai Rp.500.000,- per malam. Bisa berhemat dengan memilih wisma yang harganya sekitar Rp.200.000,-per malam. Atau jika ingin lebih ekonomis, juga tersedia penginapan yang tarifnya sekitar Rp.100.000,- per malam.

Ada tempat wisata budaya di Malino dengan ceritanya tersendiri. Para pengunjung dapat menyinggahi Rumah Adat Balla Jambua, Rumah Adat Balla Tinggia dan Balla Lompoa.

Malino, Kota Perdamaian dan Pelatihan

Kota Malino juga sempat menyita perhatian Masyarakat Indonesia dan Dunia ketika 12 Februari 2002 dilaksanakan Deklarasi Malino I dan II pasca Kerusuhan dan Konflik Agama yang berdarah selama 36 bulan (1999-2002) di Ambon, Maluku.

Deklarasi Malino ini diprakarsai dan dipimpin oleh HM Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden RI saat itu.  JK pernah mengungkapkan bahwa ia memilih Malino sebagai tempat penyelenggaraan perdamaian konflik Ambon karena posisi strategis, juga mudah disterilkan keamanan dan pengamanannya lantaran hanya ada satu jalur dari Makasar, serta dan iklimnya yang dingin diharapkan dapat mendinginkan suasana bagi kedua belah pihak yang berkonflik.

Malino juga menjadi pilihan para event organizer, perusahaan, sekolah dan mahasiswa perguruan tinggi untuk menyelenggarakan berbagai macam pelatihan.  Ada banyak fasilitas outbound yang dapat dimanfaatkan di kawasan Hutan Pinus, serta disukai karena berhawa sejuk dan dingin.

Keistimewaan dari Malino pesona alam pegunungannya yang indah, dimana mudah ditemui berbagai vila, hotel, penginapan serta rumah penduduk yang bisa disewa. Daerah ini memang berada di ketinggian 1.500 mdpl dengan objek wisata yang menarik dan potensial akan flora dan fauna yang beragam.

Kawasan Hutan Pinus Malino menyediakan penginapan dengan beragam fasilitas nyaman untuk memanjakan wisatawan. Tarifnya pun relatif terjangkau kantong. Berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per malam. Kawasan ini  tak pernah sepi pengunjung, terutama di masa liburan.

Untuk masuk ke kawasan wisata Hutan Pinus, pengunjung harus membayar tiket antara Rp5.000-Rp10.000. Di dalamnya Para pengunjung dan traveler akan disambut beragam wahana permainan seru seperti lapangan tembak, naik kuda, perosotan, dan aneka olahraga pencinta alam lainnya. Juga ada area bermain khusus untuk anak-anak.

Mengeksplor keindahan Malino tentu membutuhkan waktu beberapa hari. Di bagian lain pada wilayah perkebunan, Para Pengunjung bisa melihat-lihat di sekitar area perkebunan strawberi. Semua lahannya terlihat sangat tertata rapi dan dikelilingi deretan pohon pinus. Menambah suasana asri di sekitarnya.

Mari Malino, menenangkan diri, menikmati hawa sejuk pegunungan, di Malino.(*)

 

Berita sebelumyaPengertian Manajemen
Berita berikutnyaBig Government

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT