Presiden lumpuh

by Penulis Palontaraq | Senin, Nov 25, 2019 | 42 views
Presiden RI, Joko Widodo. (foto: ist/palontaraq)

Presiden RI, Joko Widodo. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Jika Presiden sehat, maka dia melakukan keseluruhan tugas, wewenang dan tanggung jawab secara mandiri, merdeka, berdaulat, dan otoritatif. Namun, karena Presiden lumpuh, maka dia butuh banyak penopang agar tetap bisa berjalan.

Banyaknya staf khusus presiden diluar Staf Presiden resmi, itu menunjukan Presiden telah lumpuh tak bisa menjalankan roda kekuasaan. Akibatnya, Presiden seperti ini tidak bisa diharapkan bisa berlari mengejar visi dan misi kepresidenan.

Berjalan saja tertatih tatih, karena perlu disokong banyak staf. Kalau staf ini dibuang, Presiden lumpuh, tak bisa berjalan. Kenapa?

Karena staf khusus ini adalah orang atau titipan orang yang berjasa memberi legitimasi kekuasaan pada Presiden. Jika staf khusus ini tidak diberi jatah jabatan, kekuasan Presiden bisa dirongrong dan jatuh.

Jadi, dengan banyaknya staf khusus itu bukan menunjukan presiden hebat. Justru, mengonfirmasi Presiden sedang lumpuh, sakit parah.

Ditinjau dari sisi birokrasi, amanat kekuasan baik menyerap aspirasi rakyat dan mengeksekusi kebijakan untuk mengatur rakyat bisa melalui perjalanan birokrasi yang berputar-putar dan sangat melelahkan. Belum lagi, besarnya peluang distorsi kebijakan.

Misalnya, apa jaminannya staf khusus ketika menyampaikan aspirasi kepada Presiden, itu aspirasi rakyat (milenial) atau kreasi staf khusus saja? Apa jaminannya, yang staf khusus delegasikan kepada rakyat itu kebijakan presiden atau kreasi staf khusus sendiri?

Jadi ditinjau dari sudut apapun, baik prosedur birokrasi maupun substansi kebijakan, staf khusus ini semua bermasalah. Belum lagi, gaji staf khusus yang fantastis itu jelas membebani APBN, membebani rakyat.

Menyoal Gaji Staf Khusus? (foto: ist/palontaraq)

Menyoal Gaji Staf Khusus? (foto: ist/palontaraq)

Disaat gaji guru honorer yang jelas bekerja hingga 11 bulan tidak dibayar, sementara staf khusus yang cuma jual muka selfie ria, sebulan dapat 51 juta. Itu belum termasuk fasilitas dan tunjangan yang diperolehnya.

Ini Benar-benar Negara Warung Tegal (Warteg). Mengatur negara suka-suka. Kayak mengurusi Warteg saja. Anak kemarin sore yang tak ngerti apa-apa, dihujani wewenang dan akses pada kekuasaan.

Sementara deretan orang pintar, yang ahli dan telah berpuluh tahun menekuni bidangnya, dipinggirkan. Jokowi memang biang masalah, maka semua yang memilih dan mendukung Jokowi ikut menanggung dosa atas semua kerusakan yang ditimbulkan Jokowi.

Ya Allah, kapan semua ini berakhir. Apa perlu kami berdoa agar Jokowi segera binasa? Tidak juga. Karena pangkal masalahnya adalah Sekulerisme demokrasi. Ya Allah, segera angkat dan campakan Sekulerisme demokrasi dari negeri ini. [*]

Like it? Share it!

Leave A Response