Pesantren Khalifah Harun Ar-Rasyid, Amir Para Khalifah Abbasiyah

Khalifah Harun Ar-Rasyid, Amir Para Khalifah Abbasiyah

-

- Advertisment -

Ilustrated - Khalifah Harun Ar-Rasyid. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrated – Khalifah Harun Ar-Rasyid. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak mengenal sosok khalifah yang satu ini dalam sejarah Pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah? Ialah Khalifah Harun ar-Rasyid, salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyah yang terkenal karena kesuksesannya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

Era keemasan Islam (The Golden Ages of Islam) tertoreh pada masa kepemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap perkembangan peradaban Islam telah membuat Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia pada Abad VIII M.

Khalifah Harun Ar-Rasyid disebut-sebut sebagai Amir para khalifah Abbasiyah. Kehebatan dalam kepemimpinannya seringkali dibandingkan raja agung pada zamannya, yaitu Karel Agung (742 M – 814 M) di Eropa.

Pada masa kekuasaannya, Baghdad sebagai ibukota Dinasti Abbasiyah menjelma menjadi kota metropolitan dunia. Jasanya dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban dunia hingga abad ke-21 masih dirasakan dan dinikmati sampai kini.

Khalifah Harun ar-Rasyid menggantikan kakaknya, Khalifah keempat Abbasiyah, Musa al-Hadi. Harun ar-Rasyid naik takhta di usia 22 tahun. Gelarnya “Ar-Rasyid” mengingatkan kita pada “Khulafa ar-Rasyidin”.

Pertama-tama yang dilakukan Harun ar-Rasyid adalah membebaskan tahanan politik, Yahya bin Khalid, dari penjara dan menjadikannya mentor, mengangkatnya sebagai Perdana Menteri. Yahya bin Khalid beberapa kali menghalangi khalifah sebelumnya, Musa al-Hadi, menggeser Harun ar-Rasyid dari jalur suksesi. Musa menginginkan anaknya sendiri, Ja’far, yang menggantikannya nanti.

Yahya bin Khalid mengingatkan Khalifah Musa al-Hadi saat berkuasa untuk memegang teguh wasiat ayah Musa dan Harun, yaitu Khalifah al-Mahdi. Musa al-Hadi murka dan itulah yang menjadi sebab dipenjarakannya Yahya bin Khalid.

Figur Harun Ar-Rasyid yang melegenda dalam Sejarah Kekuasaan Islam ini lahir pada 17 Maret 763 M di Rayy, Teheran, Iran. Dia adalah putra Khalifah Al-Mahdi bin Abu Ja’far Al-Mansur khalifah Abbasiyah ketiga. Ibunya, Khaizuran adalah seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan dinikahi Al-Mahdi. Sang ibu sangat berpengaruh dan berperan besar dalam kepemimpinan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid.

Sejak belia, Harun Ar-Rasyid ditempa dengan Pendidikan Islam dan Politik Pemerintahan di lingkungan istana. Salah satu gurunya yang paling populer adalah Yahya bin Khalid. Berbekal pendidikan yang memadai, Harun pun tumbuh menjadi seorang terpelajar. Harun Ar-Rasyid memang dikenal sebagai pria yang berotak encer, berkepribadian kuat, dan fasih dalam berbicara.

Pengalaman berkesan Harun Ar-Rasyid saat terjun dalam urusan pemerintahan adalah saat ayahnya mempercayainya memimpin ekspedisi militer untuk menaklukk Bizantium sebanyak dua kali. Ekspedisi militer pertama dipimpinnya pada 779 M – 780 M.

Saat diangkat menjadi khalifah, Harun menitahkan untuk mencari Abu Ishmah dan dia tidak akan memasuki Bahgdad dan salat dzuhur di masjid, kecuali di sampingnya ada kepala Abu Ishmah yang sudah dipenggal. Darah pun tumpah di awal kekhilafahannya.

Pemenggalan kepala Abu Ishmah ini disimbolkan sebagai kekuatan militer yang dimiliki sang khalifah baru. Menurut Imam Thabari, dulu Harun, Abu Ishmah, dan Ja’far (putra Musa) pernah berkuda bersama. Saat hendak melewati sungai, kabarnya Abu Ishmah, sang jenderal, lebih mengutamakan Ja’far bin Musa melewati sungai dan memerintahkan Harun diam di tempat sampai “penerus takhta menyeberangi sungai”.

Harun kecewa karena saat itu dia masih sebagai waliyul ‘ahdi (penerus tahta), dan Abu Ishmah terang-terangan mendukung Khalifah Musa mengangkat Ja’far. Maka, Harun pun meminta kepala Abu Ishmah setelah dia menjadi Khalifah agar tidak ada yang berani menentang pengangkatannya.

Bagaimana dengan Ja’far bin Musa? Di masa ayahnya, Musa, masih menjabat Khalifah, kepala kepolisian Abdullah bin Malik al-Khuza’i telanjur memberikan baiat-nya kepada Ja’far. Maka, di malam Harun menerima baiat, kamar Ja’far didatangi oleh Huzaymah bin Khazim at-Tamimi yang membawa lima ribu pasukan, berjaga-jaga kalau kepala kepolisian melindungi Ja’far.

Huzaymah mengancam kalau Ja’far tidak membaiat Harun, maka kepala Ja’far akan dipenggal saat itu juga. Ja’far tidak punya pilihan lain. Dia setuju membaiat pamannya, Harun. Begitulah urusan baiat-membaiat ini bisa membuat kepala terpisah dari tubuh.

Bagaimana dengan Kepala Kepolisian Abdullah bin Malik al-Khuza’i yang sudah telanjur mendukung Ja’far? Keluarlah fatwa bahwa dia bisa menghapus baiat yang sudah telanjur itu dengan cara berjalan kaki dari Baghdad ke Ka’bah memohon ampun.

Abdullah bin Malik tidak punya pilihan, selain melaksanakan penebusan baiat yang telanjur keliru ini. Kepalanya selamat dari tajamnya pedang, meski kakinya dipastikan melepuh berjalan sejauh itu.

Perdana Mentari (wazir) Yahya Barmakid adalah seorang yang mencintai ilmu. Dia memberikan pengaruh positif kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Imam Suyuthi mengabarkan betapa Harun juga mencintai para ulama, gemar bersedekah, dan taat beribadah.
Dikabarkan dia salat sunnah seratus rakaat setiap hari. Orangnya tinggi dan kulitnya putih. Rajin membaca shalawat setiap mendengar nama Rasulullah disebutkan. Harun membangun perpustakaan yang kemudian dikenal dengan nama Baytul Hikmah, dan kelak dilanjutkan oleh anaknya, Al-Ma’mun.

Baytul Hikmah menjadi cikal bakal kegemilangan dunia ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam. Naskah dari Yunani, Cina, Sanskrit, Persia, dan Aramaik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pakar Islam, Yahudi, Nasrani bahkan Budha pun berdatangan dan mengkaji ilmu pengetahuan dan berdiskusi di Baytul Hikmah.

Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, Kesenian juga berkembang baik, termasuk pembacaan puisi dan nyanyian. Bahkan kisah “Seribu Satu Malam” diceritakan dalam setting masa Harun ar-Rasyid. Ini pula yang menyebabkan nama Khalifah Harun sangat terkenal dalam dunia sastra—bahkan di Barat sekalipun.

Khalifah Harun ar-Rasyid juga bersahabat akrab dengan Abu Yusuf, ulama besar murid Imam Abu Hanifah yang diangkatnya menjadi Hakim Agung. Madzhab Hanafi berkembang luas lewat posisi resmi Abu Yusuf di pemerintahan ini.

Imam Suyuthi, yang berasal dari tradisi madzhab Syafi’i, banyak mengisahkan bagaimana Abu Yusuf seringkali mengeluarkan keputusan yang mendukung kebijakan Khalifah Harun ar-Rasyid yang keliru.

Khalifah Harun ar-Rasyid wafat dalam usia 45 tahun dan mewariskan kekayaan negara 900 juta dirham dan rakyatnya cukup sejahtera. Sebelum wafat, Harun mengajak kedua anaknya, al-Amin dan al-Ma’mun, pergi haji dan kemudian menuliskan wasiatnya yang disimpan di dinding Ka’bah bahwa al-Amin akan menggantikan Harun, dan setelah al-Amin wafat, maka al-Ma’mun yang berkuasa. Namun, sepeninggalnya, sejarah berkata lain. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you