Islam Masjid Tua Katangka, Saksi Penyebaran Islam di Tanah Makassar

Masjid Tua Katangka, Saksi Penyebaran Islam di Tanah Makassar

-

- Advertisment -

Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

PALONTARAQ.ID – Masjid Tua Katangka terletak di Kabupaten Gowa, kira-kira 45 menit dari Pusat Kota Makassar.  Masjid tertua di Sulawesi Selatan ini berada di Kelurahan Katangka Kecamatan Sombaopu. Kini Masjid Tua “AlHilal” Katangka ini berada dalam pemeliharaan Pemerintah RI sebagai salah satu cagar budaya yang perlu dilindungi, saksi sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Masjid Tua “Al-Hilal” Katangka yang berbentuk bujur sangkar dengan atap bersusun dua ini merupakan bukti syiar Islam pada saat Kerajaan Gowa (Kerajaan Makassar) sedang menapak masa kejayaannya.

Dari sisi arsitektur, bangunan masjid ini dipengaruhi gaya arsitektur Jawa. Ini tampak dari adanya empat tiang besar yang menyangga ruang utama. Empat tiang besar ini identik dengan saka guru dalam rumah joglo. Bentuk atap Masjid Katangka menyerupai Masjid Agung Demak yang menjadi pusat penyebaran Agama Islam pertama di Indonesia.

Kompleks Makam Raja dan Masjid Tua Katangka. (foto: ist/palontaraq)
Kompleks Makam Raja dan Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pembangunan Masjid “Al-Hilal” Katangka ini menurut beberapa sumber, dipimpin langsung Raja Gowa I Mangngarangi  Daeng Manrabia Karaeng Katangka, berukuran 13 x 13 meter, sedang serambinya berukuran 15 x 4 meter, memiliki 6 jendela berukuran 3,5 x 1,5 meter. Didalamnya terdapat 4 pilar berbentuk lingkaran dengan diameter 70 cm. Keempat tiang ini menyimbolkan 4 Sahabat Nabi SAW, Khulafaur Rasyidin.

Masjid Tua “Al Hilal” Katangka ini dilengkapi ornamen tulisan Arab berbahasa Makassar, yang  bercerita tentang awal pembangunan Masjid Katangka.  Ornamen tersebut terletak di atas Pintu- pintu masuk dan jendela masjid.  Dinding masjid dibuat tebal karena bangunan ini sengaja dirancang sebagai benteng terakhir dari Serangan tentara Belanda.

***

Lihat pula: Palontaraq ajak Studi Wisata Sejarah Sulsel

Pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, I Mangngerangi Daeng Manrabbia (1593-1639) sewaktu belum masuk Islam, beliau kedatangan seorang Syeikh dari Negeri Arab. Menurut riwayatnya Syeikh itu masih turunan (zurriyat) Nabi SAW. Syeikh kemudian menghadap Raja Gowa di Tamalate dan berunding diatas Barugaloea.

Menjelang waktu Shalat Jum’at, Syeikh itu pamit pada Raja dan selanjutnya menuju ke barat yang jaraknya tidak jauh dari Bukit Tamalate, disana terdapat sebuah hamparan tanah yang luas (Tempat yang dimaksud adalah lokasi berdirinya Masjid Tua Katangka sekarang).

Cerita ini merupakan satu versi tersendiri tentang asal muasal Pembangunan Masjid Tua Katangka.  Syeikh dan pengikutnya sebagaimana disebutkan dalam cerita ini adalah berjumlah 40 orang, itu melakukan shalat Jum’at di hamparan tanah tersebut. Ke-40 pengikutnya ini disebut Mokking sedang yang memimpin jamaah itu disebut Anrong Guru Mokking yang selanjutnya berubah menjadi pemuka agama.

Menurut riwayat, Syeikh ini kawin dengan putri Raja Gowa XIV dan melahirkan seorang putra bernama Syeikh Mukhsin. Syekh Mukhsin ini yang banyak membantu kakeknya, Sultan Alauddin setelah beliau menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan.

Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Foto bersama di Halaman Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lihat pula:  Jika Berada di Losari, Shalatlah di Masjid Amirul Mukminin

Dugaan yang kuat bahwa masjid itu dibangun pada Abad ke XVI dapat dilihat pada tulisan di tembok masjid yang tertulis Tahun 1603. Ini pula kalau dibandingkan dengan Masjid Tua di Palopo yang dibangun pada Tahun 1604, batu yang digunakan dan arsiteknya sama dengan Masjid Tua “Al-Hilal” Katangka.

Akan tetapi, kalau diperhatikan tulisan prasasti dari ketiga pintu masuk itu, maka nampak jelas pada masa pemerintahan Raja Gowa XXXIII I Malingkaan Daeng Manyonri Sultan Idris Azimuddin terdapat tulisan antara lain berbunyi, Raja Gowa XXXIII I Malingkaan Daeng Nyonri yang membangun masjid tersebut.

Namun sewaktu masjid itu dibangun oleh Raja Gowa I Malingkaan sudah ada bangunan masjid tua yang sering dipakai oleh orang Islam untuk melaksanakan shalat . Ini berarti bahwa Raja Gowa, I Malingkaang, ini hanya merenovasi dan memberinya tulisan – tulisan berupa prasasti yang jelas tertulis pada tembok masjid tua itu.

Kompleks Makam Raja Gowa/Makassar di sekitar Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kompleks Makam Raja Gowa/Makassar di sekitar Masjid Tua Katangka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kemudian 1981 direnovasi lagi oleh pihak Suaka dan Peninggalan Sejarah Purbakala Sulselra. Pada prasasti di pintu pertama bertuliskan Huruf Arab, tapi dalam Bahasa Makassar yang artinya masjid ini dibangun pada Hari Senin, Tanggal 8 Rajab 1803 H merupakan awal mula dikerjakannya masjid tersebut.

Bersamaan dengan itu diperintahkan kepada Gallarang Mangasa, Tombolo, dan Samata untuk menjaga masjid ini bersama Tumailalang Lolo ri Gowa.

Pada tulisan prasasti di pintu kedua berbunyi: Pembangunan Masjid yang dimulai pada Bulan Rajab itu ditempati Shalat Jum’at untuk petama kalinya dalam tahun “Ba”.

Digambarkan pula bagaimana suasananya: ketika itu sangat ramai, dihadiri oleh warga Masyarakat Gowa dan sekitarnya, sedang raja ketika itu memberikan sedeklah kepada hadirin, baik yang ikut melaksanakan shalat maupun yang tidak Shalat Jum’at.

Pada pintu ketiga tulisan prasasti menjelaskan bahwa Masjid Katangka dibangun pada masa pemerintahan I Malingkaan bergelar Sultan Idris Aididdin, putera Abdul Kadir Mahmud. Raja ini pulalah yang memperbaiki kehidupan Masyarakat Gowa.

Sedang ukiran dalam masjid ini dikerjakan oleh Daeng Bantang. Hingga saat ini Masjid Tua Katangka masih berdiri dengan megahnya dan masih difungsikan untuk masyarakat muslim sekitarnya.

Selain itu pula dijadikan salah satu obyek wisata sejarah di Kabupaten Gowa. Di sekitar mesjid itu pula terdapat kuburan Raja-raja Gowa, antara lain kuburan Andi Idjo Karaeng Lalolang Raja Gowa XXXVI (terakhir).

***

Lihat pula:  Masjid 99 Kubah, Ikon baru Kota Makassar

Dalam perkembangannya, seiring dengan perkembangan Kerajaan Makassar yang menapak puncak kejayaannya. Masjid dibuat berada dalam kompleks benteng Kerajaan Gowa, dan juga digunakan sebagai tempat raja dan pengawalnya melaksanakan shalat, maupun untuk pertemuan kegiatan keagamaan.

Karena Kerajaan Makassar ketika itu sudah menjadi pusat perlintasan perdagangan dunia yang ramai, maka Masjid Katangka juga sering digunakan untuk shalat  para saudagar Muslim dari Melayu, India, dan Arab.

Rupanya Kerajaan sudah mengantisipasi masa perang yang tidak diduga-duga, itulah sebabnya Masjid ini kemudian juga difungsikan sebagai tempat pertahanan.  Hal ini bisa dilihat dari kokohnya dinding masjid yang mencapai ketebalan 120 sentimeter.

Berdasarkan narasi tutur secara turun-temurun, disebutkan bahwa para khatib yang menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid Katangka dijaga dua pengawal yang membawa pedang. Hingga saat inipun, kedua sisi mimbar Masjid Katangka masih terpancang tombak bermata tiga untuk mempertahankan simbol peristiwa masa lalu. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you