Keberadaan Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini di Wajo, Sulsel

Situs Masjid Tua Tosora, Kabupaten Wajo, Sulsel. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Situs Masjid Tua Tosora, Kabupaten Wajo, Sulsel berada dalam satu kompleks dengan makam As-Syaikh Al-Habib Djamaluddin Akbar al-Husaini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: Rosdiana Hafid  *)

Sumber terbuka: Keberadaan Syekh Jamaluddin Aknbar al-Husaini di Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan (Website Resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untukmengungkap riwayat hidup Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini atau Maulana Husain Jumadil Kubro, yang makamnya terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo. Beliau adalah cucu dari Nabi Muhammad SAW yang pertama kali datang ke Sulawesi Selatan tepatnya di Tosora, dia juga merupakan kakek kandung dari Wali Songo, yaitu Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri, Sayyid Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah historical methode yaitu menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau, yang di dalamnya meliputi empat tahap secara sistematis yaitu: pengumpulan data, kritik, interpretasi dan penulisan, dibantu dengan wawancara. Hasil penelitian menggambarkan bahwa keberadaan beliau sampai kini masih misterius dan makam yang terletak di depan Masjid Tua ini pun misterius. Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini dianggap sebagai penyebar Islam di Wajo, namun hal ini sulit untuk dibuktikan, sebab tidak didukung oleh data-data yang akurat.

Kata Kunci: Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini,  Tosora.

PENDAHULUAN                                   

Sejarah masuknya Islam di Indonesia bermula dari berita Cina (De Graaf & Pigeaud (1985: 9-10) yang menyebutkan bahwa pada Tahun 1416 M di Jawa sudah banyak orang Islam. Namun kebanyakan dari mereka bukan orang pribumi, melainkan para pendatang.

Buktinya di Gresik, Jawa Timur terdapat makam salah seorang ulama atau wali yang bergelar  Maulana Malik Ibrahim  yang wafat pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal Tahun 822 H. atau tanggal 8 April 1419 M, ia merupakan salah seorang walisongo.

Menurut keterangan, terdapat hal yang istimewa dari makam beliau, yaitu batu nisannya didatangkan khusus dari Gujarat (India), dan batu nisan tersebut diambil dari sebuah tembok kuil Hindu di Gujarat.

Hal inilah yang membuktikan bahwa hubungan antara Jawa dan Gujarat sudah berlangsung lama.Hubungan tersebut baik dalam usaha dagang, maupun penyebaran Islam (Suhadi & Hambali, 1995: 11-12).

Khususnya di Sulawesi Selatan, sejarah masuknya Agama Islam bermula pada Tahun 1511, ketika Malaka jatuh ke tangan Bangsa Portugis yang mengakibatkan jalur perdagangan di Pulau Jawa dan Sumatera mengalami kemunduran.

Hal ini mengakibatkan  jalur perdagangan berpindah ke kawasan Timur Nusantara yaitu, Sulawesi Selatan, Makassar yang berlangsung sampai abad ke 16-17 M.

Adanya jalur lalu lintas perdagangan yang berpusat di Somba Opu ibukota Kerajaan Gowa, telah menghubungkan para pedagang dan pebisnis dari berbagai wilayah, baik dari Eropa maupun Asia Tenggara, seperti dari Arab, Cina, India, dan Persia untuk datang bertransaksi  dagang di kawasan ini (anzarabdullah91@yahoo.co.id). Diakses pada 14 Agustus 2017).

Pada abad XV dan XVI Masehi, karena perdagangan nusantara dikuasai oleh pedagang Bugis-Makassar, sehingga hal ini pula yang mempercepat terjadinya Islamisasi di Sulawesi Selatan.

Pada abad XVII (1605 M) satu peristiwa sejarah terpenting yang terjadi yaitu, diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan Gowa.Peristiwa terpenting tersebut banyak sekali membawa dampak yang mempengaruhi warna kehidupan manusia, masyarakat dan kebudayaan Sulawesi Selatan dalam perjalanannya sampai sekarang.

Hal terpenting tersebut, yaitu terkait dengan  kehadiran Islam sebagai “Way of life” perjalanan hidup duniawi dan agama yang menuntun kehidupan rohaniah masyarakat Sulawesi Selatan.

Selanjutnya hal tersebut mempengaruhi pula asas Pangadereng, yaitu Sipakatau yang merupakan tata kelakuan yang dikendalikan oleh siri’ dan pesse dalam mengembangkan sikap dan semangat acca, lempu, getteng na warani, mappasanre ri Dewata Seuae, (= Kemanusian dengan tata kelakuan yang terkendali oleh harga diri dan kesetiakawanan, mengembangkan sikap dalam semangat kepandaian, kejujuran, ketegasan, dan keberanian dan menyandarkan kepada Dewata Yang Tunggal (Mattulada, 1998: 147)

Di Wajo berdasarkan lontaraq merujuk kepada kedatangan tiga tokoh penyebar Islam dari Minangkabau, yaitu Abdul Makmur Datuk Ri Bandang, Datuk Sulaiman, dan Abdul Jawad Khatib Bungsu Datuk Ri Tiro.

Fase persentuhan Islam dengan pihak kerajaan terjadi mulai tahun 1605.Sementara waktu itu Islam sudah lebih dahulu bersentuhan dengan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Luwu. Inilah periodisasi yang mengawali Islam masuk di Sulawesi Selatan pada umumnya, dan Wajo pada khususnya, sehingga menjadi teori yang banyak dikembangkan (Husnul, 2011: 396).

Keberadaan seorang tokoh penyebar Islam di Wajo, yang makamnya terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo yang bernama Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini atau Maulana Husain Jumadil Kubro.

Beliau adalah cucu turunan Nabi atau ahlulbait yang pertama kali datang ke Sulawesi Selatan, khususnya di Tosora, dan dia juga merupakan kakek kandung dari empat ulama penyebar Islam di Jawa (Wali Songo), yaitu Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri, Sayyid Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Ibid : 397).

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atasmaka rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, bagaimana Riwayat Hidup  Syeikh Jamaluddin Akbar Al-Husaini.

Bagaimana peran Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini terhadap perkembangan  Islam di Wajo. Sedang tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Riwayat Hidup Syeikh Jamaluddin Akbar Al-Husaini dan menganalisis peran Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini terhadap perkembangan Agama Islam di Wajo.

Majelis Taklim al-Mubarakh saat ziarah ke Makam Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini di Tosora, Wajo. (foto: ist/palontaraq)

Majelis Dzikir al-Mubarakh pimpinan Habib Mahmud saat ziarah ke Makam Syekh  Djamaluddin Akbar al-Husaini di Tosora,  Kabupaten Wajo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

PEMBAHASAN

1. Riwayat Hidup

Menurut riwayatnya bahwa asal usul Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini adalah keturunan langsung atau cucuNabi Muhammad  SAW, namun terdapat beberapa versi.

Yang pertama menyebutkan bahwa Syeikh Jamaluddin Akbar Al-Husaini  adalah cucu ke-10 Nabi Muhammad SAW (Buku Panduan Lawatan Sejarah Daerah di Kabupaten Wajo, 2016: 10).

Lalu pendapat  kedua;  menyebutkan bahwa Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini adalah keturunan ke-18 (http://www.kompasiana.com/heryfebriyanto/sepenggal-kisah-syekh-jumadil-kubro. (Diakses 11 September 2017).

Seorang Peziarah di depan As-Syeikh Al-Habib Djamaluddin al-Husaini. (foto: ist/palontaraq)

Seorang Peziarah di depan Makam As-Syeikh Al-Habib Djamaluddin Akbar al-Husaini. (foto: ist/palontaraq)

Kemudian pendapat ketiga menyebutkan bahwa Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini adalah keturunan  ke– 20 Nabi Muhammad SAW. Namun, semua versi tersebut berasal dari satu keturunan yang sama, yaitu keturunan dari putri nabi Fatimah Radiyallahu Anhaa, dan  sebagian besar penyebar Islam nusantara (Wali Songo) adalah juga berasal dari keturunannya.

Wali Songo adalah tokoh agama setengah legendaris yang dianggap sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Jawa. Sebagaimana ditetapkan dalam tradisi, jumlah mereka Sembilan, dengan daftar sementara sebagai berikut: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, dan Syekh Siti Jenar.

Namun, daftar ini dapat berubah-ubah dan tidak dibatasi pada sembilan orang saja; kadang-kadang dicantumkan juga Sunan Majagung, Sunan Sendang Duwur, Sunan Ngudung, Sunan Panggung, Sunan Geseng, Sunan Drajat, Sunan Tembayat (Chambert-Loir, Henri& Claude Guillot, 2010: 228).

Adapun silsilah Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini adalah sebagai berikut:

1. Ali bin Abi Thalib R.A (Fatimah R.A);

2. Hasan bin Ali (Husain bin Ali);

3. Ali Zainal Abidin;

4. Muhammad Al-Baqir;

5. Ja’far As Shadiq;

6. Ali Al-Uraidhi;

7. Muhammad An Naqib bin Ali;

8. Isa Ar Rummi Bin Muhammad;

9. Ahmad Al-Muhajir;

10. Ubaidullah bin Ahmad;

11. Alwi awwal bin Ubaidillah;

12. Muhammad Sahibus Saumiah bin Alwi;

13. Alwi As Tsani bin Muhammad;

14. Ali kholi Qosam;

15. Muhammad Shahib Mirbath;

16. Alwi Ammi Al Faqih (Tharim, Hadramaut);

17. Abdul Malik Al Muhajir Ahmad Khan bin Alwi (India)

18. Abdullah Al Azhamat Khan (India);

19. Ahmad Jalal Syah/Ahmad Jalaluddin Khan (India);

20. Jamaluddin Husain Al-Akbar/Jamaluddin Akbar Al Husaini/Jumadil Kubro (Wajo, Sengkang, Provinsi Sulawesi Selatan) (Penulis Asriadi Khamis Bintang (https://www.facebook.com/notes/andi-sumangelipu/keturunan-ke-20-nabi-muhammad-saw-dan-guru-para-walisongo). Diakses 3 Agustus 2017.

Mengenai tahun kelahirannya, disebutkan bahwa beliau lahir pada Tahun 1270 M di Negeri Malabar, yakni sebuah negeri yang terletak di Wilayah Kesultanan Delhi, India.  Sumber lain juga menyebutkan tahun yang sama, antara lain:

1. Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (2014) menyebutkan bahwa Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini, adalah raja/sultan ke-4 Kesultanan Islam Nasarabad di India Lama, juga sebagai mubalig yang traveling hingga ke Nusantara. Beliau lahir pada 1270 M, dan meninggal di Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan pada 1453 M. Jadi, diperkirakan usia beliau sekitar 183 tahun (Iwan Mahmud Al-Fattah (https://arsiparmansyah.wordpress.com/2015/03/03/asal-usul-nasab-azmatkhan-reshared/. Diakses tanggal. 3 Agustus 2017.

2. Menurut peneliti sejarah Islam Indonesia dari Universitas Negeri Belanda bernama Bruinessen (https://travel.detik.com/domestic-destination/d-2963121/napak-tilas-sayyid-hussein-jumadil-kubro-bapak-wali-songo) (Diakses 3Agustus 2017).

Beberapa catatan sejarah menyebutkan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini atau Syekh Jumadil Kubro lahir sekitar tahun 1270, dan berasal dari Samarqand, Uzbekistan Asia Tengah. Tetapi besar kemungkinan bahwa itu hanya tempat yang pernah dikunjungi oleh beliau untuk berdakwah. Lebih meyakinkan menurut peneliti sejarah ini, beliau berasal dari Hadramaut, Yaman.

Ayahnya bernama As-Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan (Azmatkhan ke III dari leluhur Walisongo) atau yang dikenal dengan nama Amir Ahmad Syah Jalaluddin, seorang Gubernur (Amir) di Negeri Malabar (https://arsiparmansyah.wordpress.com/2015/03/03/asal-usul-nasab-azmatkhan-reshared/. (Diakses pada11 September 2017).

Menurut Bruinessen, ayahnya bernama Ahmad Syah Jalaluddin, bangsawan dari Nasarabad di India. Kakek buyutnya seorang yang bergaris keturunan ke Imam Jafar Shodiq, salah seorang keturunan keenam dari Nabi Muhammad SAW (https://travel.detik.com/domestic-destination/d-2963121/napak-tilas-sayyid-hussein-jumadil-kubro-bapak-wali-songo). (Diakses pada11 September 2017).

Pada masa pemerintah Islam di India, Amir Ahmad Syah Jalaluddin dianggap sebagai seorang tokoh besar  yang berpengaruh pada waktu itu. Jabatan yang beliau peroleh adalah Raja Kesultanan Nasarbad India Lama.

Di dalam Silsilah Geonologi Allawiyyin disebutkan nazab lengkap dari keturunan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini, yaitu dari Nabi Muhammad SAW,  Fatimah Azzahra, Al Imam Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al Bagir, Ja’far As Shadiq, Ali Uradhy, Muhammad An-Nagieb, Isa ar-Rummy, Ahmad al-Muhajir, Ubaidillah, Almi Allawiyyin, Muhammad, Alwi Ali Khala-Ghasam, Muhammad Shahib Mardad, Alwi, Abdul Malik, Abdullah, Ahmad Jalaluddin yang terakhir Jamaluddin Akbar Alhusaini (Husnul, 2011: 397).

Tentang riwayat Istri-istri beliau, disebutkan bahwa beliau memiliki 9 istri, yaitu sebagai berikut:

1. Amira Fathimah binti Amir Husain bin Muhammad Taraghay (Pendiri Dinasti Timuriyyah, Raja Uzbekistan, Samarkand), menikah pada 1295, mempunyai 5 orang anak;

2. Putri Nizamul Muluk bin Sultan Nizamul Muluk dari Delhi (India) yang dinikahi pada Tahun 1309 M. Pernikahan ini terjadi saat beliau kembali dari dakwah Islamiahnya di Samarkand ke negeri India. Dari isterinya ini beliau memperoleh 3 anak;

3. Lalla Fatimah Binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Husaini (Marocco) (Menikah pada 1319 M). Dari hasil perkawinan ini memperoleh seorang anak;

4. Fathimah binti Hasan At-Turabi bin Ali Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam Al-Hadrami Al-Husaini yang menikah pada 1323 M, memperoleh seorang anak laki-laki;

5. Putri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/Sultan Baqi Syah/Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia)/Raja Langka Suka (menikah tahun 1350 M), dan mempunyai seorang anak;

6. Putri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin I Diraja Champa (Menikah pada 1355 M), dan memiliki satu orang anak laki-laki;

7. Putri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah Ibni al-Marhum Sultan Mahmud. Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah pada 1390 M), memperoleh 2 anak;

8. Putri Jauhar binti Raja Johor Malaysia. Menikah dengan Syekh Jamaluddin pada 1399 M. Memperoleh dua anak.

9. Pada 1453 kawin dengan anak raja Gowa ke 7 yang bernama Batara Gowa. Dari perkawinan tersebut lahir dua orang anak laki-laki (https://arsiparmansyah.wordpress.com/2015/03/03/asal-usul-nasab-azmatkhan-reshared/. Diakses pada tanggal 9 Agustus 2017.

Tentang silsilah keluarganya, terdapat beberapa catatan di antaranya dari Majelis Dakwah Walisongo dan juga Sultan-sultan di beberapa daerah Nusantara bahwa semua keturunan Wali Songo dan beberapa sultan di nusantara semua menunjukkan jika leluhur mereka adalah Sayyid Abdul Malik Azmatkhan Al-Husaini.

Leluhur mereka yang pertama kali datang ke nusantara kebanyakan anak-anak dari Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin, namun yang banyak dibicarakan dalam sejarah Walisongo adalah Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro, sedang leluhurnya yang lain yakni Sunan Kalijaga, Syekh Datuk Kahfi,  Syekh Quro Karawang, termasuk leluhurnya dan beberapa ulama di Jawa Barat (Ibid).

Syekh Jumadil Kubro merupakan kakek dari Raden Rahmat (Sunan Ampel), dan Buyut dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) melalui garis ayah.

Sebenarnya, nama asli dari Syekh Jumadil Kubro dalam naskah ini bernama Jumadil Kabir, sedangkan dari sumber lain disebutkan kalau nama aslinya adalah Zainul Husein atau Jamaluddin Husein Akbar.

Mengenai asal usul saudaranya, dalam catatan sejarah menyebutkan  bahwa Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini mempunyai banyak saudara, tetapi yang kami dapatkan catatan diantaranya: Aludeen Abdullah, Amir Syah Jalaluddeen (Sultan Malabar), Alwee Khutub Khan, Hasanuddeen, Qodeer Binaksah, Ali Syihabudeen Umar Khan, Syeikh Mohamad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) dan Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) (Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas).

2. Peran Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini dalam perkembangan Islam di Wajo

2.a. Hijrah dari tanah kelahiran hingga Jawa

Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini atau Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, adalah Sultan ke-4 Kesultanan Islam di Nasarbad India Lama. Setelah berakhir dari masa jabatannya sebagai Gubernur Deccan di India, beliau berkeliling ke berbagai belahan dunia untuk menyiarkan agama Islam.

Dalam siar dakwahnya tersebut, beliau pertama kali datang ke Kamboja, dan melakukan dakwah bersama dengan saudaranya bernama Syeikh Barebat Zainul Alam alias Jalaluddin Kubra di daerah Campa.

Tetapi menurut sumber ini bahwa setelah itu Syeikh Jamaluddin Akbar Alhusein (nenek dari Maulana Malik Ibrahim) ini kemudian meneruskan dakwahnya menuju ke Sulawesi dan meninggal di Tanah Bugis daerah Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan (Suhadi, 1995: 116).

Di dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini atau  Sayyid Hussein Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci Islamisasi di Jawa, dan sekaligus mubalig yang berkeliling ke Nusantara hingga sampai di Tosora, Wajo (https://arsiparmansyah.wordpress.com/2015/03/03/asal-usul-nasab-azmatkhan-reshared/. Diakses pada 3 Agustus 2017).

Mengenai keberadaan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa orang pertama yang datang dari India ke Nusantara adalah Maulana Jamaluddin Al-Akbar Alhusaini, dan mereka itu disebut Azmatkhandan bahwa diantara mereka ada yang datang melalui Kamboja dan Cina.

Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini, menjadi pelopor keluarga besar Azmatkhan yang berhijrah ke wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Sebagai seorang Ahlulbaittentu beliau ini memiliki Gen “Hijrah”.

Menurut catatan Tun Suzanna dan Haji Muzaffar Dato Hj. Muhammad, bahwa keberadaan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini di Nusantara merupakan seorang pelopor yang banyak menurunkan mubaligh, wali-wali terkemuka, dan juga para pendiri kesultanan-kesultanan Ahlulbait.

Diantara Mereka yang dimaksudkan tersebut, yaitu Walisongo, Kelantan, Champa, Patani dan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Kalau dulu buyutnya berhijrah dari Hadramaut ke India maka kini salah satu cicitnya Hijrah dari India (Asia Selatan) menuju Nusantara (Asia Tenggara).

Salah satu alasan yang paling utama yang menyebabkan hijrahnya keluarga besar Sayyid Husain Jamaluddin adalah untuk berdakwah Islamiah.

Walau memang pada masa itu sering terjadi ketidak stabilan politik di dalam wilayah India, tetapi hal ini bukanlah yang menyebabkan keluarga ini berhijrah (Iwan Mahmud Al-Fattah. https://www.facebook.com/notes/1010554665640683/. Diakses pada 9 Agustus 2017.

Dalam menjalankan misi dakwahnya Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini bersama adiknya Syekh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) tiba di Kelantan pada Tahun 1349 M.

Dari Kelantan beliau menuju Samudera Pasai, kemudian  hijrah menuju Tanah Jawa.  Di Jawa, nama Syekh Jamaluddin lebih dikenal dengan sebutan Syekh Jumadil Kubro.

Kehadirannya di Jawa tidaklah banyak diketahui orang, sehingga tidak setenar dengan Wali Songo.  Padahal, tanpa disadari  dia adalah  nenek moyang dari  ke-9 wali (Wali Songo) yang ada di Jawa tersebut.

Menurut sumber, makamnya dapat ditemukan di Kompleks makam Islam kuno yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Makam beliau ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia,karena sejak tahun 2004 yang lalu, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memperkenalkan bahwa Syekh Jumadil Kubro atau Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini sebagai salah satu walidan sekaligus nenek moyang dari para wali songo.

Sebagai salah seorang penyebar Islam, Syekh Jamaluddin  datang ke Jawa dan mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit, adalah semata-mata bertujuan  untuk berdakwah dan memperkenalkan agama Islam.

Beliau melihat bahwa Agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Jawa pada waktu itu, sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan mereka sehingga memiliki keyakinanan terhadap arwah leluhur dan Benda-benda suci.

Menurut (Suhadi, 1995: 4) bahwa gelombang kedatangan Islam ke Jawa semakin besar, khususnya pada jaman Majapahit (1294-1478), yaitu dengan adanya fakta banyak orang Islam yang dijumpai di sana.

Padahal boleh dikata bahwa Kerajaan Majapahit pada waktu itu sangat susah untuk ditembus, dikarenakan Kerajaan Majapahit telah menguasai daerah pedalaman di Pulau Jawa, sehingga kemajuan Islam berbenturan dengan suatu kekuatan politik dan budaya yang tangguh. Tetapi akhirnya perlawanan Majapahit dapat dikalahkan setelah dilancarkan beberapa ekspedisi militer, sehingga barulah Islam masuk ke Pulau Jawa (Chambert dan Guillot, 2010: 228).

Kemudian dalam melanjutkan dakwahnya, Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini bersama dengan para ulama lainnya, dan juga putra-putri santrinya  membagi diri menjadi tiga kelompok, dan sekaligus pula menggunakan tiga kendaraan laut.

Kelompok pertama, dipimpin langsung sendiri oleh Syekh Jamaludin Akbar Alhusaini memasuki tanah Jawa melalui Semarang, tetapi singgah beberapa waktu di Demak.

Selanjutnya, dari Demak perjalanannya dilanjutkan ke wilayah Majapahit, tepatnya disebuah desa kecil yang bernama Trowulan yang berdekatan dengan Kerajaan Majapahit.  Disanalah rombongan ini membangun sebuah padepokan yang bertujuan untuk mendidik dan mengajarkan ilmu keagamaan kepada siapa saja yang mau mendalami ilmu keislaman (http://www.kompasiana.com/heryfebriyanto/sepenggal-kisah-syeikh-jumadil-kubro. (Diakses pada 11 September 2017)

Kelompok kedua, perjalanan dakwah menuju ke Kota Gresik. Disana juru dakwahnya adalah cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin, bersama saudaranya bernama Maulana Malik Ibarahim.

Dan kelompok ketiga, yaitu dipimpin oleh putranya bernama al-Imam-al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy atau lebih masyhur dengan nama “Pandhito Ratu” berdakwah di  Tuban(Ibid,.Diakses pada 11 September 2017).

Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim di wilayah Jawa Timur, khususnya di Kota Gresik bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini disebabkan masyarakat Jawa pada waktu itu masih sangat mempercayai ajaran animisme dan dinamisme atau pengaruh Hindu-Budha masih melekat dihati mereka.

Masyarakat  yang bisa diajak untuk masuk Islam hanyalah yang berada di level rendah yaitu kasta Sudra (rakyat jelata/budak), dan kasta Waisya (pedagang).

Sedang untuk yang berada di level tinggi seperti kasta brahma dan Ksatriya sangat susah diajak masuk Islam. Alasannya bahwa dengan masuk Islam status sosialnya turun, dan juga yang lebih penting lagi bagi mereka bahwa keyakinan terhadap agama tidak begitu saja dapat diubah-ubah (Suhadi & Halina, 1995: 36).

Meskipun demikian, Maulana Malik Ibrahim tetap berjuang menyiarkan agama Islam dengan melakukan pendekatan secara pelan-pelan dan sabar, bergaul dengan ramah dan lemah lembut, serta memperlihatkan akhlak yang mulia dan  tidak menentang langsung kepada agama dan kepercayaan dan tradisi yang telah dianut oleh masyarakat setempat.

Akhirnya, karena kebaikan akhlaknya Maulana Malik Ibrahim mendapat simpati, dan mulailah masyarakat mengikuti ajarannya, yakni memeluk Islam.

Selanjutnya,tindakan yang diambil oleh Maulana Malik Ibrahim, yaitu mendirikan pesantren-pesantren untuk mendidik generasi penerusnya menjadi calon mubalig Islam, dan obsesinya yang paling utama ialah mengislamkan raja Majapahit.

Masyarakat yang termasuk dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, adalah sebagaimana kehidupan yang dirasuki perasaan kepatuhan dan ketundukan bersifat feodalistis di manapun, masyarakat Jawa, merupakan cermin yang mewakilinya.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa rakyat itu mengikuti agama yang dipeluk oleh rajanya. Dari situlah bertambah tekad dari Maulana Malik Ibrahim untuk mengislamkan raja Majapahit. Keinginan atau cita-cita tersebut disampaikan lewat surat kepada Sultan Kedah, yaitu Sultan Mahmud Syah Alam untuk datang dan bersilaturahim kepada raja Majapahit, agar mengajaknya memeluk Islam.

Akan tetapi, usaha tersebut tidak berhasil, walaupun Maulana Malik Ibrahim menawarkan kepada raja Majapahit seorang wanita cantik untuk dijadikan isteri, anak dari Sultan Mahmud Syah Alam, tetapi ditolak oleh raja Majapahit. Jadi harapan untuk mengislamkan raja Majapahit tidak berhasil (Ibid.,: 121-122).

Peristiwa ini berawal dari  kedatangan seorang laksamana Cina Islam bernama Zeng-ho serta musafir Ma huan yang membuka komunitas muslim Cina, sehingga mereka turut membantu Maulana Malik Ibrahim mempengaruhi raja Majapahit dan keluarganya untuk masuk Islam.

Terbukti, pada  awal  abad XV M. raja Majapahit  Prabu Brawijaya ke V beserta keluarganya  akhirnya  masuk Islam dan Syeikh Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 882 H atau 1419 M., di Gresik (Ibid).

Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini telah lebih dahulu memasuki Majapahit daripada  para wali songo yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Pada awalnya beliau tinggal di daerah Cepu Bojonegoro, dan mendapat tanah perdikan.

Dari keahlian di bidang pertanian yang dimiliki oleh Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini memberi banyak manfaat kepada penduduk Majapahit, sehingga Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini dapat meyakinkan mereka dan akhirnya banyak penduduk Majapahit masuk Islam.

2.b. Kehadirannya di Wajo dan akhir hidupnya

Merasa bahwa misi dakwahnya di daerah Jawa sudah mampu dilanjutkan oleh anakandanya yang tertua bernama Syekh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan Sunan Gresik dan salah seorang wali songo yang dianggap pertama kali menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa (Suhadi, 1995: 35), Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini kemudian hijrah bersama dengan rombongannya untuk melanjutkan misi dakwahnya ke daerah Sulawesi Selatan.

Sebelumnya rombongan Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini yang berjumlah 15 orang datang dari Aceh ke Majapahit atas undangan Prabu Wijaya.

Dari Majapahit akhirnya rombongan ini melanjutkan misinya ke Sulawesi Selatan, dan mengislamkan salah seorang raja Bugis yang bernama Lamaddusila(KH. S. Jamaluddin, tt: 26. https://www.facebook.com/notes/andi-sumangelipu/keturunan-ke-20-nabi-muhammad-saw-dan-guru-para-walisongo/10151632075329858). Diakses pada 3 Agustus 2017..

Kedatangannya ke Wajo melalui Pelabuhan Bojo Nepo Kabupaten Barru.Sesampainya di daerah Bugis, Syekh Jamaluddin langsung mengislamkan salah seorang raja.

Keterangan ini dijelaskan oleh salah seorang pendiri Nahdatul Ulama Sulawesi Selatan yang bernama K.H. S. Jamaluddin Assagaf (tt: 26) dalam bukunya Kafaah dalam Perkawinan dan Dimensi Masyarakat Sulawesi Selatan.

Keterangan ini pula dikutipnya dari kitab Hadiqat al-Azhar yang ditulis oleh Syekh Ahmad bin Muhammad Zain al-fattany, mufti kerajaan Fathani (Malaysia).

Walaupun sebenarnya masuknya Islam di Sulawesi Selatan selalu dikaitkan dengan trio datuk,yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang dari Minangkabau, yang dalam catatan sejarah dijadikan sebagai awal diterimanya Islam di Kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan sekitar pada abad ke-16.

Namun, jauh sebelumnya Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini telah lebih dahulu memperkenalkan Islam, khususnya di Wajo meski pengajarannya hanya bersifat individual.Masyarakat Wajo lebih mengenalnya sebagai Syekhta Tosora yang maksudnya adalah Syekh kita di Tosora.

Jika ditelisik dari jejak sejarah kedatangan Sayyid Jamaluddin pada 1320, Islam di Wajo lebih dahulu ada daripada berdirinya Kerajaan Wajo.

Pelantikan Arung Matowa Wajo yang pertama yakni Latenri Bali, baru dilaksanakan pada 1399.Kemudian, pelantikan Matowa ini menjadi tanda didirikannya Kerajaan Wajo.

Sayyid Jamaluddin diprediksi mulai mengenalkan Islam kepada masyarakat Wajo seiring dikenalnya sistem pemerintahan kerajaan oleh masyarakat Wajo ketika itu.“Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini diperkirakan menyebarkan Islam pada zaman pemerintahan Latenribali ini,” (Wawancara Sudirman Sabang di Sengkang, pada 25 Mei 2017).

Tentang hadirnya Islam di Wajo pada abad ke-14, yang menjadi saksi sejarah yaitu adanya makam Sayyid Jamaluddin di Desa Tosora, tepatnya di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.Makam ini berdekatan dengan sejumlah makam tokoh penting lainnya, salah satu diantaranya adalah makam Arung Bettengpola.

2.c. Ziarah diMakam Syekh Jamaluddin dan Masjid Tua Tosora

Berkunjung atau berziarah ke sebuah makam, apalagi makam yang dikunjungi yaitu leluhur, orang tua, atau anggota keluarga yang disayangimerupakan suatu perbuatan sunnah.

Hukum Islam menyebutkan bahwa bila dilakukan mendapat pahala, akan tetapi tidak dilakukan tidak apa-apa (tidak berdosa). Pelaksanaan tradisi ziarah kubur dikalangan masyarakat, dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Tradisi ziarah kubur ini erat pula kaitannya dengan kharisma dari leluhur yang makamnya banyak dikunjungi orang

Salah satu makam yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, adalah Makam Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini, salah seorangpenyebar Islam di Wajo.

Ziarah ke makam Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini memang tidak dapat disamakan dengan ibadah haji, akan tetapi perjalanan kesejarahan ini telah mencerminkan rasa hormat yang setinggi-tingginya dari masyarakat terhadap  pemimpin agama Islam yang kharismatik ini.

Makam Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini yang berdekatan dengan Masjid Tua Tosora,  hingga saat ini ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama pada bulan Safar.

Salah satu tradisi perjalanan sejarah bagi umat Islam yang sudah lama berkembang untuk mengharap rida Allah ialah ziarah. Dengan berziarah, diumpamakan sama halnya dengan orang-orang yang datang ke Baitullah akan memperoleh bermacam-macam manfaat (Mahmud, 2012: 101).

Ziarah diartikan sebagai kunjungan kepada suatu makam, dengan tujuan untuk mengenang kebesaran Tuhan, dan menyampaikan doa agar arwah ahlul kubur diterima di Sorga Allah.

Sedang, pengertian umum dari ziarah adalah kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam (Suhadi & Halina, 1995: 27-28).

Tercatat dalam buku kunjungan ziarah, dapat diketahui bahwa tamu-tamu yang datang tersebut, bukan hanya dari Wajo sendiri, melainkan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia maupun dari mancanegara, seperti Malaysia.

Gambaran objek dari makam Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini dapat dilihat di Desa Tosora,  Kecamatan Majauleng,  Kabupaten Wajo, Propinsi Sulawesi Selatan.

Situs makam Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini tersebut sangat mudah dicapai dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.Makam tersebut batu nisannya berbentuk kopiah haji, dan berada di dekat mihrab bangunan Masjid Tua Tosora.

Makam Sayyid Djamaluddin al-Husaini dekat Mihrab Masjid Tua Tosora. (foto: ist/palontaraq)

Makam Syekh al-Habib Djamaluddin al-Husaini dekat Mihrab Masjid Tua Tosora. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Tua Tosora menunjukkan bahwa pada masa itu perkembangan  Islam telah mengalami kemajuan yang pesat. Menurut penuturan dari Kepala Desa Tosora bahwa masjid ini diperkirakan dibangun oleh Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini sebagai penyebar Islam pertama di Sulawesi Selatan.

Masjid ini konon  dibangun pada abad ke 14 pada masa pemerintahan Matowa Wajo La Sangkuru Patau Mulajaji, dan pada waktu itu Belanda belum menginjakkan kakinya di Tanah Wajo  (Wawancara dengan Asri Razak Kepala Desa Tosora, pada 25 Mei 2017)

Begitu pula penuturan salah seorang penjaga makam atau juru kunci kompleks makam, bahwa Masjid Tua Tosora ini dibangun oleh seorang syekh yang berasal dari Arab, yang diperkirakan dibangun pada tahun 1600-an M. Dikatakan pula bahwa bangunan Masjid Tua Tosora ini,  bahan perekatnya berasal dari putih telur.

Dengan dibangunnya masjid di Tosora ini, berkembanglah Islam di Wajo pada waktu itu. Bila dilihat sepintas lalu kondisi masjid ini walau ukurannya kecil, tetapi konon menurut riwayatnyabahwa dahulu bila akan dipakai untuk salat Jum’at berapapun banyaknya orang yang akan melaksanakan salat Jum’at, masjid ini tetap akan muat (Wawancara dengan Bapak Alang, Juru Kunci Kompleks Makam).

Masjid ini  berbentuk persegi panjangdan memiliki coruk yang berfungsi sebagai mihrab yang berada pada sisi sebelah barat. Bangunan masjid ini terletak diketinggian 30,6 m dari permukaan laut. Sedang ukurannya adalah 15,84 x 15,70m, jadi luas keseluruhan bangunan ini adalah 3, 70 m, dengan ketebalan tembok 0,52 m (Buku Panduan Laseda ke 13 Kabupaten Wajo).

Situs Masjid Tua Tosora. (foto: ist/palontaraq)

Situs Masjid Tua Tosora, sekarang. (foto: ist/palontaraq)

3. Masuknya Islam di Kerajaan Wajo

Ketika kaum bangsawan Makassar masuk Islam, tiga tahun kemudian kebijakan Kerajaan Gowa dan Tallo lewat Mangkubuminya, mengalihkan perhatian pada penguasa kerajaan lainnya.

Untuk pertama kali dalam karier politik, Karaeng Matoaya meninggalkan kebijakan berdamai dengan Kerajaan-kerajaan sahabat karena keyakinan pada manfaat lebih besar untuk menyiarkan agama Islam. Beberapa kerajaanyang tidak mau tunduk atas seruan itu, akhirnya diperangi beliau.

Beberapa kerajaan Bugis mau menerima seruan dari raja Gowa tanpa melalui peperangan: adalah ; Kerajaan Sawitto, Kerajaan Balanipadi Mandar, Bantaeng dan beberapa kerajaan kecil lainnya.

Masuknya agama Islam di Mandar berdasarkan beberapa sumber dinyatakan bukan dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo, melainkan agama Islam dibawa oleh seorang ulama dari Jawa yang disebut Kapuang Jawa (Raden Mas Suryodilogo dan Syekh Zakariah Al’ Magribi pada akhir abad XVI).

Begitu juga dalam lontarak Balanipa disebutkan bahwa yang membawa agama Islam ke daerah ini adalah Abdurrahim Kamaluddin, yaitu pada masa pemerintahan Kakanna I Pattang Daengta Tummuane sebagai raja Balanipa ke-IV.

Namun, dari sumber lain dikatakan bahwa masuknya agama Islam di Mandar yaitu terlebih dahulu melalui Sawitto setelah beberapa tahun Kerajaan Gowa menerima Islam. Hal ini diperkirakan berelangsung pada masa pemerintahan raja Balanipa ke-4 yaitu Kakanna I Pattang Daengta Tummuane (Sewang, 2003: 112).

Pada awalnya, Kerajaan Gowa-Tallo menuntut Kerajaan Soppeng dan Bone mau menerima Islam. Namun, kedua kerajaan itu menolaknya. Itulah sebabnya sehingga Kerajaan Gowa-Tallo mempersiapkan pasukan yang kuat untuk menyerang kedua kerajaan tersebut.

Penyerangan inilah yang kemudian dikenal di Sulawesi Selatan sebagai perang pengislaman atau mususelleng. Melalui musu selleng inilah beberapa kerajaan berhasil diislamkan, antaranya; persekutuan Tellumpoccoe yang terdiri atas: Kerajaan Soppeng (1609), Kerajaan Wajo (1610), dan Kerajaan Bone padatahun 1611.

Keterangan tentang hal itu terdapat juga dalam lontarak, yakni disebutkan bahwa orang-orang Soppeng masuk Islam pada 10 Mei 1610 Masehi atau bertepatan pada 1019 Hijriah. Sedangkan orang-orang Wajo menerima dan memeluk agama Islam pada 23 November 1611 Masehi atau 1020 Hijriah (Sewang, 2003: 112-113. Poelinggomang,dkk, 2004: 90-91. Mappangara, dkk, 2003: 120-121; Massiara, I998: 61-64)

Alasan penolakan dari Persekutuan TellumpoccoE atas  seruan Kerajaan Gowa-Tallo  untuk menerima agama Islam sebagai suatu jalan yang lebih baik, karena Tellumpoccoe menganggap bahwa hal itu hanya suatu politik perluasan wilayah dan pengaruh kekuasaan yang sedang dijalankan oleh Kerajaan Gowa-Tallo.

Tellumpoccoe tidak percaya bahwa seruan itu   didasarkan pada ketulusan, sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjian melainkan bersifat politis. Alasan dari penolakan itu adalah berdasarkan alasan kesejarahan, sebab dalam lontaraq Bugis-Makassar tercatat, sejak abad XVI telah terjadi berbagai kegiatan politik yang terkadang meningkat dalam bentuk kekerasan perang antara kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar dengan maksud untuk memperebutkan kedudukan kepemimpinan di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan kenyataan itu sehingga pihak Kerajaan Gowa melakukan penyerangan pada kerajaan-kerajaan Tellumpoccoe yang dipimpin langsung oleh Raja Tallo, Sultan Abdullah dan Mangkubumi Kerajaan Gowa.

Serangan-serangan Kerajaan Gowa terhadap Tellumpoccoe dilakukan dari dua arah, yaitudari arah barat ke daerah Sawitto dan Rappang. Kemudian menyusul serangan kedua dari arah selatan melalui Tanete dan Barru.

Pada Tahun 1607 melalui arah barat pertama-tama mendarat di Sawitto, Pinrang dan tempat ini kemudian diberi namaBinanga Karaeng, artinya sungai tempat pendaratan raja Gowa.

Dari sana, mereka meneruskan perjalanan ke Suppa dan Sidenreng. Di daerah ini, tentara Gowa mendapat perlawanan yang gigih dari pasukan Tellumpoccoe, dalam pertempuran ini Gowa mengalami kekalahan, dan akhirnya mengundurkan diri (Mangemba, 1956: 89).

Dalam penyerangan berikutnya, Kerajaan Gowa berhasil karena telah mempengaruhi rakyat di Akkotengang agar memihak kepada Gowa. Dengan demikian, permintaan bantuan Arung Matoa Wajo tidak mendapat restu dari rakyat karena telah memihak kepada raja Gowa.

Sekalipun Arung Matoa Wajo telah mengingatkan rakyat Akkotengang akan kesepakatan yang pernah mereka buat seperti berikut:“Baik kebaikan maupun keburukan akan sama-sama dipikulnya”. Tetapi masyarakat Akkotengang dan rakyat Kera menjawab dengan tegas, “kebaikan telah datang, Arung Matoa Wajo sendiri tidak mau menerima kebaikan itu” (Ibid).

Sehari sesudah utusan Wajo datang dari Sekkoli, Tellumpoccoe (Bone, Soppeng dan Wajo ) mengepung Raja Gowa Sultan Alauddin di tempat itu,  Orang-orang Makassar banyak yang binasa di tempat itu. Karena bantuan dan petunjuk Arung Gillireng kepada raja Gowa sehingga ia luput dari pengepungan dan penyerangan.

Mereka mundur ke Gowa, sedang Arung Gilireng Lawawo mundur ke Akkotengang. Nanti pada 1608, raja Gowa kembali menyerang Tellumpoccoe dan dapat memukul mundur sampai ke Lalempulu (Sidenreng) dan mengadakan pertahanan di tempat itu. Orang-orang Rappang, Bulu Cenranae, Utting dan Maiwa berpihak kepada Gowa sehingga orang-orang Gowa begitu mudah memasuki daerah Rappang dan berhasil membuat benteng pertahanan (Ibid).

Penyerangan ini dibantu oleh Kerajaan Luwu yang terlebih dahulu menerima dan menganut agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada penyerangan kali ini sudah terlihat Tanda-tanda kekalahan dari penguasa Kerajaan Soppeng dengan masuknya penduduk Sidenreng menganut agama Islam, disusul kemudian Soppeng.

Dalam musim kemarau, berikutnya serangan ditujukan kepada Wajo dan kini hanya tinggal sedikit tanda kerjasama di antara kerajaan-kerajaan Bugis non-Islam. Mungkin karena syarat-syarat lunak yang ditawarkan oleh Karaeng Matoaya sehingga pada 1610, raja Wajo yang bernama  La Sangkuru Patau Sultan Abdul Rahman menerima Islam (Poelinggomang, dkk, 2004: 90-91).

Tampaknya kekalahan yang dialami oleh aliansi Tellumpoccoe, dipercepat oleh karena retaknya hubungan di antara mereka. Para raja kecil di Wajo, misalnya menerima Islam tanpa melakukan perlawanan.

Peperangan yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan Bugis disebutkan dalam lontarak sebagai mususelleng, yang oleh Pelras diterjemahkan dengan sebutan Islamic Wars.

Kini menjadi pertanyaan, apakah perang penaklukan yang dilakukan oleh Gowa terhadap aliansi Tellumpoccoe semata-mata karena mereka menolak pengislaman, ataukah hanya karena Gowa ingin mendapatkan hegemoni kekuasaan di Sulawesi Selatan, atau mungkin sekadar memperalat Islam dengan tujuan mencari bahan komoditi dalam menunjang Kerajaan Gowa sebagai kerajaan niaga yang besar di Nusantara bagian timur (Ibid., 120).

Setelah Kerajaan Bone dapat ditaklukkan pada 1611, perang pengislaman yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa dapat dianggap sudah berakhir.

Kalau dicermati tentang kedatangan agama Islam di beberapa daerah yang ada di Sulawesi Selatan, tampaknya terdapat perbedaan satu sama lainnya. Hal itu disebabkan karena kondisi daerah dan topopgrafi wilayah yang tidak sama sehingga daerah pesisiran lebih cepat tersentuh agama Islam dibanding wilayah yang berada di pedalaman.

Meski demikian, ada perbedaan mencolok pada wilayah Kerajaan Wajo dengan wilayah kerajaan lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Berdasarkan data tentang masuk dan berkembangnya agama Islam di Kerajaan Wajo dimulai pada tahun 1610, itupun melalui suatu perang yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Alauddin.

4. Syekh Jamaluddin dalam Perkembangan Islam di Wajo

Bahwa jauh sebelum Islam dijadikan sebagai agama resmi di Kerajaan Gowa-Tallo, di daerah Wajo juga kemungkinan telah dianut agama Islam walaupun secara perorangan.  Alasannya bahwa orang-orang Wajo terkenal sebagai pedagang antarwilayah.Mereka telah mempunyai hubungan dengan berbagai daerah di Nusantara ini.

Para pelaut Bugis-Makassar 1490-an, telah melakukan pelayaran niaga ke Pulau Jawa, Malaka dan Banda.Pelaut-pelaut Bugis dan Makassar yang mendatangi pelabuhan-pelabuhan di belahan barat dan timur, tentu telah mendapat pengetahuan dan pemahaman tentang Islam dari para pedagang dan penduduk negeri rantau yang telah memeluk agama Islam.

Sebagian besar dari para pedagang itu telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang  muslim di Pantai Utara dan Barat Pulau Jawa, dan sepanjang Perairan Selat Malaka, juga dengan Kerajaan Ternate yang telah menganut agama Islam (Poelinggomang, 2002: 23-24).

Sebagai pedagang, Orang-orang Wajo banyak mendatangi wilayah yang telah menganut agama Islam, di antara mereka pasti ada yang kawin mawin dengan penduduk setempat yang telah menganut agama Islam dan menerima Islam sebagai agamanya. Mereka melahirkan keturunan di rantau, adakalanya mereka membawa pulang istri dan Anak-anaknya ke negeri asalnya di Sulawesi Selatan.

Oleh sebab itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa sudah banyak Orang-orang Bugis maupun Makassar yang telah memeluk agama Islam sebelum agama itu dijadikan sebagai agama resmi kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Wajo.

Agama Islam diterima secara resmi pada Hari Selasa, 15 Syawal 1020 Hijriah atau 6 Mei 1610 oleh Arung Matoa Wajo La Sangkuru Patau bersama rakyat di Daerah Topacceddo. Tetapi agama itu sendiri telah lama masuk ke daerah Wajo  meskipun hanya dianut oleh orang-orang tertentu. Hal itu tampak jelas ketika kita merujuk ke belakang untuk membuktikan kebenarannya.

Di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo terdapat satu kuburan yang diyakini oleh masyarakat luas sebagai kuburan salah seorang ulama yang sangat terkenal, terutama di Pulau Jawa. Ulama itu bernama Syekh Djamaluddin  Akbar Alhusaeni yang datang ke daerah ini, mungkin sebagai pedagang di samping juga seorang ulama untuk melakukan syiar Islam.

Keberadaan ulama ini tidak banyak diketahui aktifitasnya sebab ketika itu agama Islam belum dianut secara resmi oleh Kerajaan Wajo. Mungkin, itulah sebabnya sehingga aktifitas yang dilakukan oleh beliau masih sembunyi-sembunyi.

Dengan demikian, diyakini bahwa ketika itu agama Islam sudah ada yang menganutnya di Kerajaan Wajo.Hanya saja, kondisi itu terbatas pada keluarganya saja, termasuk orang-orang yang hidup bertetangga dengan beliau.

Tidak berkembangnya Agama Islam pada masa hidup beliau sebab terkendala oleh budaya-budaya dan kepercayaan tradisional masyarakat Wajo yang sangat fanatik dan kuat. Selain itu,  karena tidak mendapat dukungan dari pihak Kerajaan  Wajo.

Kehadiran Syekh Djamaluddin Akbar Al-Husaeni di Kerajaan Wajo tidak diketahui latar belakangnya.Dari berbagai narasumber yang ditemui di lapangan, tidak satu orang pun yang dapat menjelaskan tentang masalah itu. Hanya diduga bahwa beliau datang ke daerah Wajo kemungkinan sebagai pedagang, tetapi yang diperdagangkan juga tidak diketahui jenisnya.

Selain berdagang, penyebaran agama Islam juga merupakan misi yang diemban, hanya saja untuk menyebarkan agama tersebut sangat sulit. Tingkat kesulitannya adalah raja yang berkuasa pada masa keberadaannya di daerah tersebut, sangat kuat memegang tradisi nenek moyangnya, begitu pula masyarakat secara umum.

Begitu kuatnya masyarakat dan penguasa di daerah ini memegang tradisinya sehingga ketika Agama Islam sudah resmi menjadi agama kerajaan, tradisi-tradisi yang ada di dalam kehidupan masyarakat sulit untuk ditinggalkan secara total lalu menyesuaikan dengan tradisi atau syariat agama Islam.

Meskipun tidak ada data yang akurat mengenai kedatangan Syekh Djamaluddin Akbar Alhusaeni di Wajo, namun faktanya bahwa makam beliau terdapat di Kabupaten Wajo, yaitu terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng.

Makam ini sangat ramai dikunjungi oleh pesiar yang kebanyakan mengaku sebagai keluarganya, terutama dari Jawa Timur. Bahkan, Presiden Rupublik Indonesia yang ke-4, yaitu Bapak K.H. Abdurrahman Wahid Hasyim bersama rombongannya pernah berkunjung ke makam beliau.

Meskipun pada  kunjungan beliau, ia tidak sampai ke lokasi makam sebab jalan menuju ke sana tergenang air karena banjir. Akhirnya, Gusdur hanya melakukan tapa semedi di tengah malam di atas pematang sawah (Wawancara Dr.Yunus di Sengkang 2017).

Beberapa sumber yang dirujuk dalam laporan ini menunjukkan bahwa tahun kedatangan Syekh Djamaluddin Akbar Al-Husaeni, dinyatakan bahwa beliau datang ke Wajo pada 1320 bersama rombongannya.Tidak dijelaskan apakah kedatangannya itu disertai oleh keluarganya ataukah menyusul kemudian.

Juga tidak terdapat catatan yang menyebutkan bahwa rombongan itu berapa jumlahnya dan apakah mereka berasal dari satu rumpun keluarga beliau.Bekas tempat tinggal beliau di Tosora juga tidak diketahui dengan pasti. Hanya disebutkan bahwa beliau tinggal di Tosora dan ketika meninggal, beliaupun dimakamkan di daerah yang sama.

Bentuk makam beliau yang ada di Tosora, jelas memperlihatkan sebuah makam Islam. Di antara semua makam yang terdapat di dalam kompleks itu, hanya ada empat makam yang bertipe sama dengan bentuk nisan menyerupai songkok haji atau sorban yang dililit bundar di kepala.

Ada dugaan bahwa tempat makam tersebut setidaknya mempunyai korelasi antara satu dengan yang lain. Apakah itu hubungan keluarga atau hubungan antara murid dan guru, ataukah hubungan relasi sebagai pedagang.

Menurut salah seorang penjaga makam bahwa di antara empat buah makam itu, sebenarnya salah satunya adalah makam saudaranya.Juga salah satu kuburan perempuan yang terletak tidak jauh dari makam beliau adalah isterinya (Wawancara Bapak Alang, Tosora, 2017).

Untuk membuktikan keterangan itu, tentu tidak dapat diterima begitu saja dan harus melalui suatu penelitian yang lebih mendalam.Ada beberapa persoalan mendasar mengenai keberadaan makam itu yang terletak di dalam kompleks bekas Masjid Raya Tua Tosora. Masjid itu dibangun pada Tahun 1621, sementara beliau meninggal pada Tahun 1453.

Dengan demikian, hubungan antara berdirinya masjid tersebut dan meninggalnya beliau sangat jauh terpaut, yaitu sekitar 168 tahun sehingga sulit untuk menghubungkannya.

Oleh sebab itu, dapat dikatakan dua hal. Pertama, Makam Syekh Djamaluddin Akbar Al’Khuzaeni lebih dahulu ada di tempat itu baru kemudian masjid di bangun. Kedua, Masjid itu memang belakangan dibangun, kemudian makam Syekh Djamaluddin Akbar Al’khuzaeni dipindahkan. Kalau begitu dimana makam itu berada sebelumnya ?

Memang itu sulit untuk dijawab sebab berbagai literatur yang membahas tentang latar kehidupan beliau, tidak satupun yang menjelaskan secara tuntas. Data yang ada menyangkut  beliau, itupun sangat simpang siur. Misalnya, dikatakan beliau lahir pada 1270, juga ada yang menyebut 1310, lalu beliau datang ke Tosora pada 1320.

Seandainya kita berpatokan pada angka tahun 1270 sebagai tahun kelahirannya, dan pada 1320 sebagai tahun kedatangannya di Tosora, Wajo, itu berarti bahwa umur  beliau ketika datang ke Tosora ,Wajo pada usia 50 tahun.

Sedang kalau kita berpatokan pada 1310 sebagai tahun kelahirannya dan pada 1320 sebagai tahun kehadirannya di Tosora, Wajo, itu berarti bahwa umur beliau ketika datang ke daerah ini baru 10 tahun.

Selain itu, jika kita menghitung umur beliau beranjak dari tahun kelahirannya, yaitu pada 1270 dan meninggal pada 1453, berarti beliau mempunyai umur sekitar 183 tahun. Kalau  kita beranjak dari tahun kelahiran 1310, dan meninggal pada 1453, itu berarti usia beliau sekitar 143 tahun.

Apa pun masalahnya, yang pasti dan tidak dapat dimungkiri bahwa makam beliau ada di daerah Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa di Jawa Timur (Mojokerto, Trowulan) terdapat satu makam beliau.Antara kedua makam ini juga menjadi persoalan keilmuan sebab yang mana asli dan yang mana bukan asli.

Meski demikian, ada  Peneliti Barat  menyatakan bahwa makam yang terdapat di Tosora, Wajo adalah yang asli. Alasannya, bahwa sejak kedatangannya di daerah itu telah melakukan penyebaran agama Islam, walaupun ia tidak berhasil mengislamkan Kerajaan Wajo atau kerajaan lainnya yang ada di daerah itu.

Memang, agak sulit untuk membuktikan bahwa beliau telah menyebarkan agama Islam pada masa itu, sebab bukti tidak ditemukan.Tetapi setidaknya dapat disimpulkan bahwa agama Islam telah masuk ke daerah ini sebelum agama itu diterima secara resmi sebagai agama kerajaan (Wawancara Asri Razak, Kades Tosora, 2017).

Persoalan lain juga muncul sekitar alasan kedatangannya di Tosora, Wajo. Memang ia adalah seorang pedagang selain sebagai ulama yang bergelar Syekh. Apakah kedatangannya atas undangan dari pembesar-pembesar di daerah itu atau bangsawan lainnya juga tidak dapat dipastikan.

Yang memungkinkan bahwa beliau memilih Tosora, Wajo sebagai tempat kedatangannya sebab wilayah itu dikelilingi oleh lima buah danau yang bersambung dengan Sungai Walanae.

Ataukah Tosora ketika itu telah menjadi sebuah wilayah yang penduduknya adalah para peniaga yang malang melintang berdagang antar pulau dan salah satu di antara pedagang dari wilayah itu bertemu dengan beliau lalu mengajaknya ke Tosora, Wajo.

Alasan ini cukup memungkinkan, sebab perlu dipahami bahwa Tosora ketika itu belum menjadi ibukota Kerajaan Wajo.Tosora menjadi ibukota Kerajaan Wajo nanti pada 1621, dan dilakukan pembenahan pada masa pemerintahan Latenrilai Tosengngeng (1658-1670) (Patunru, 1983: 56.Lihat Kaluppa, 1984: 27).

Mencermati keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak hanya agama Islam masuk ke Wajo jauh sebelum agama itu diterima sebagai agama resmi kerajaan, yaitu pada Tahun 1610, tetapi  Agama Islam telah masuk ke daerah Tosora jauh sebelum daerah itu dijadikan sebagai ibukota Kerajaan Wajo 1621.

Ketika Syekh Djamaluddin Akbar Alhusaeni  datang ke daerah ini, Tosora masih berdiri sendiri sebagai sebuah wilayah yang berpemerintahan sendiri. Hal itu jika dikaitkan dengan kedatangan Syekh Djamaluddin Akbar Alhusaeni pada 1320, atau terpaut jauh dengan  kedatangan agama Islam di Wajo 1610, yaitu sekitar 290 tahun.

Dari keduanya dapat disimpulkan bahwa Agama Islam masuk ke daerah Tosora, sebelum Tosora dijadikan sebagai ibukota kerajaan atau agama Islam sudah masuk ke daerah ini  sebelum berdirinya Kerajaan Wajo yang efektif.

Penutup

Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini adalah seorang tokoh kharismatik yang beragama Islam, dan hidup mengabdikan diri hingga akhir hayatnya di daerah yang bukan negeri kelahirannya, yaitu di Tosora.

Beliau lahir di negeri Arab, namun sebagian besar hidupnya itu tidak diabdikan di negerinya sendiri. Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini adalah juga seorang tokoh agama yang datang ke Wajo, disaat negeri tersebut masih jauh dari pengaruh Islam.

Keberadaannya di Wajo khususnya di Tosora hingga kini masih misterius, dan belum terjawabkan secara pasti. Namun, besar dugaan bahwa keberadaannya, sampai sekarang masih belum mendapatkan jawaban yang pasti. Tahun kedatangannya juga masih simpang siur, antara tahun yang satu dengan tahun yang lain berbeda.

Bukan hanya tahun keberadaannya di Tosora Wajo yang belum terjawabkan, melainkan mengenai asal usul keluarganya juga selama ini tidak diketahui pula. Data-data yang ditemukan selama penelitian tidak menjawab tentang hal itu. Hanya disebutkan bahwa beliau mempunyai seorang istri, tetapi tidak disebutkan bahwa ia memiliki keturunan dari istrinya yang di Wajo.

Sumber lisan yang diperoleh dari juru kunci atau penjaga makam Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini menginformasikan bahwa ia mempunyai satu saudara dan satu pengawal (mungkin muridnya) yang selama itu setia menemaninya.

Kuburan orang-orang yang dimaksud tersebut ada di dalam kompleks makam yang jaraknya tidak berjauhan antara satu makam dengan makam yang lainnya.

Syekh Jamaluddin dianggap oleh masyarakat sebagai Penyebar Islam di Tosora, Wajo. Namun, hal itu sulit untuk dibuktikan keberadaannya, sebab tidak didukung oleh fakta-fakta yang memadai. Beliau diberitakan berada di Tosora, Wajo pada 1320 M. dan meninggal pada 1453 M. sebagai penyebar Islam.

Jika tahun ini dijadikan patokan keberadaannya, maka mustahil bila ia adalah penyebar Islam di Tosora, Wajo. Alasannya, karena Kerajaan Wajo yang ibukotanya Tosora baru menerima agama Islam pada awal abad ke-17,  yaitu pada 1610 M, atau 147 tahun setelah beliau wafat.

Sementara Jejak-jejak agama Islam di daerah ini tidak ditemukan pada masa beliau ada di Tosora. Oleh sebab itu,  sulit dibuktikan keberadaannya jika beliau dianggap salah seorang tokoh penyebar Islam di daerah ini. Kalau demikian kenyataannya, lalu apa yang beliau lakukan selama berada di Wajo? apalagi ia menyandang gelar “syekh”.

Dengan demikian, beliau memang ternyata tokoh yang misterius. Ia penyandang gelar syekh  tapi bukan penyebar Islam. Makamnya terletak di depan Masjid Tua Tosora, tapi bukan beliau yang mendirikannya.

Lalu mengapa makam beliau terletak di depan Masjid Tua itu? Hal inipun misterius, sebab masjid tua itu berdiri satu abad setelah ia meninggal dunia.

Lalu, apa yang dikerjakan ketika beliau berada di Tosora. Yang pasti bahwa beliau adalah seorang pedagang dan bukan penyebar agama Islam. Barang apa yang diperdagangkan itu juga tidak disertai data pendukung yang memadai. (*)

 

Daftar Pustaka

De Graaf, H.J. & TH.G.TH.Pigeaud, 1985.Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Yogyakarta: Grafitipers dan KITLV.

Fahimah, Husnul Ilyas.  2011. Lontaraq Suqkunna Wajo Telaah Ulang Awal Islamisasi Di Wajo. Penerbit: Lembaga Studi Islam Progresif, Pamulang Tangerang Selatan.

Henri Chambert-Loir & Claude Guillot, 2010. Ziarah & Makam Wali Di Dunia Islam. Jakarta: Penerbit Komunitas Bambu.

Kaluppa, Bahru. 1984. Studi Kelayakan Bekas Ibukota Kerajaan Wajo (Abad XVII) Di Tosora Kab.Wajo Sulawesi Selatan.Penerbit: Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan.

Mangemba, 1956.Kenallah Sulawesi Selatan.Jakarta: Timur Mas.

Massiara, 1988.Menyingkat Tabir Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan.Jakarta: Yayasan Bhinneka Tunggal Ika.

Mattulada, 1998.Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan.Makassar: Hasanuddin University Press.

Mappangara, Suriadi, dkk. 2003. Sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: De lamacca

Mahmud, M. Irfan, 2012. Datuk Ri Tiro Penyiar Islam di BulukumbaMisi, Ajaran dan Jati Diri. Penerbit: Ombak.

Patunru, Abdurazak Daeng, 1983. Sejarah Wajo. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.

Poelinggomang. Edward L, dkk., 2004. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I. Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Sulawesi Selatan.

Poelinggomang,Edward, 2002. Makassar Abad XIX, Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim. Jakarta: Gramedia.

Suhadi, Machdi& Halina Hambali, 1995. Makam-makam Wali Sanga di Jawa. Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sewang, Ahmad. 2003. Islamisasi Kerajaan Gowa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Buku Panduan Lawatan Sejarah Daerah Ke 13 di Kabupaten Wajo, Sengkang. Provinsi Sulawesi Selatan.

Asriadi Khamis Bintang (https://www.facebook.com/notes/andi-sumangelipu/keturunan-ke-20-nabi-muhammad-saw-dan-guru-parawalisongo/10151632075329858/),

Iwan Mahmud Al-Fattah (https://arsiparmansyah.wordpress.com/2015/03/03/asal-usul-nasab-azmatkhan-reshared/

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-2963121/napak-tilas-sayyid-hussein-jumadil-kubro-bapak-wali-songo).

http://www.kompasiana.com/heryfebriyanto/sepenggal-kisah-syekh-jumadil-kubro

anzarabdullah91@yahoo.co.id.

http://majalahlangitan.com/akar-majapahit-di-makam-syekh-jumadil-kubro/

 

 

(* Rosdiana Hafid, Peneliti pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin Talasalapang Km.7 Makassar 90221, Telp. (0411) 883748-885119, Faksimile (0411) 865166, Pos-el: rashdyana67@gmail.com

(** Tanggal Publikasi di Website Direktorat Jendeal Kebudayaan Kemdikbud RI, 2 Januari 2018.

Like it? Share it!

Leave A Response