Sekilas tentang Kerajaan Tallo

Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Mau Studi Wisata Sejarah Makassar, Baca Dulu Ini!

PALONTARAQ.ID – Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang pernah ada dalam wilayah Sulawesi Selatan saat ini. Eksistensinya dimulai sebagai pecahan dari Kerajaan Gowa, dampak dari perebutan takhta dua putra mahkota setelah wafatnya Raja Gowa VI, Karaeng Tunitangkalopi.

Berawal dari pertengahan Abad XV, Penerus Raja Gowa VI adalah dua bersaudara, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Karena keduanya ingin berkuasa, akhirnya Batara Gowa Tumenanga ri Paralakkenna ditetapkan sebagai Raja Gowa VII, sedang Karaeng Loe ri Sero memerintah sebagian wilayah sebagai Raja Tallo pertama. (Makkulau, 2007).

Wilayah Kerajaan Tallo meliputi Saumata, Pannampu, Moncong Loe, dan Parang Loe. (Sumber: Ahmad M. Sewang, 2005. Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 22. ISBN 979-461-530-7, 9789794615300).

Dalam perjalanan kedua kerajaan yang sesungguhnya berasal dari satu rahim ini, terlibat persaingan dan perebutan pengaruh, hingga tiba pada masa pemerintahan Raja Gowa X, Karaeng Tunipalangga Ulaweng dan Raja Tallo IV, Daeng Padulu’ dicapailah kesepakatan penyatuan kembali Gowa-Tallo dengan sebutan “Rua karaeng se’re ata” (Artinya: Dua raja tetapi satu rakyat).

Penyatuan Gowa-Tallo inilah yang kemudian disebut sebagai Kerajaan Makassar. Konsekuensinya, Raja Gowa menjadi Sombayya (Raja tertinggi) sedangkan Raja Tallo selain sebagai tetap Raja Tallo, juga merangkap sebagai Tuma’bicara Butta (Perdana Menteri di Kerajaan Gowa).

Sejak saat itu Kerajaan Tallo selalu mendukung dan terlibat dalam politik ekspansi Kerajaan Gowa di Jazirah Pulau Sulawesi serta ke beberapa kerajaan di Nusantara bagian timur, bahkan sampai di Australia bagian utara dan Filipina bagian selatan, sampai akhirnya Kerajaan Makassar mencapai puncak keemasannya.

Lihat pula: Palontaraq ajak Studi Wisata Sejarah Sulsel

Di antara Raja-raja Tallo yang menonjol adalah Karaeng Matoaya (1593-1623) dan Karaeng Pattingalloang (1641-1654) yang Kerajaan Makassar pada masa kejayaannya. (Sumber: William Cummings (2002). Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar (edisi ke-berilustrasi). University of Hawaii Press. hlm. 30-32. ISBN 0-8248-2513-6, 9780824825133).

Bentuk makam kubah dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Bentuk makam kubah dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Berikut ini adalah Daftar Karaeng (Raja) Kerajaan Tallo (Sumber: William Cummings (2011). The Makassar Annals. 35 dari Biblioteca Indonesica. BRILL. hlm. 352-353. ISBN 90-04-25362-9, 9789004253629), yaitu:

1. Karaeng Loe ri Sero, Tuniawanga ri Sero, memerintah pada pertengahan sampai dengan akhir Abad XV, Anak Tunatangkalopi Raja Gowa ke-6;

2. Karaeng Tunilabu ri Suriwa, memerintah pada akhir Abad XV, Tahun 1500-an, Anak raja sebelumnya;

3. I Mangayoangberang Karaeng Pasi’ Karaeng Tunipasuru, memerintah Tahun 1500-an – 1540/43, anak raja sebelumnya;

4. I Mappatakakatana Daeng Padulu’, Karaeng Pattingalloang, gelar anumerta “Tumenanga ri Makkoayang” 1540/43 – 1576 Anak raja sebelumnya, perdana menteri pertama Kerajaan Gowa-Tallo;

5. I Sambo Daeng Niasseng Karaeng Pattingalloang Karaeng Bainea, memerintah Tahun 1576-1593, Anak raja sebelumnya;

6. I Mallingkaan Daeng Mannyonri, Karaeng Matoayya Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga ri Agamana, memerintah Tahun 1593–1623, Anak raja ke-4, raja muslim pertama Kesultanan Makassar;

7. I Manginyarrang Daeng Makkio, Karaeng Kanjilo Sultan Abdul Jafar Muzaffar Tumammalinga ri Timoro, gelar anumerta “Tumenanga ri Tallo, memerintah Tahun 1623–1641, Anak raja sebelumnya, pernah menyerang Timor;

8. I Mangadacinna I Daeng Baqle, Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tumenanga ri Bontobiraeng”, memerintah Tahun 1641-1654, Saudara raja sebelumnya;

9. I Mappaiyo Daeng Mannyauru Sultan Harun Al Rasyid Tumenanga ri Lampana, memerintah Tahun 1654-1673, Anak raja ke-7;

10. I Mappincara Daeng Mattinri, Karaeng Kanjilo, Sultan Abdul Qadir Tumenanga ri Pasi’, memerintah Tahun 1673–1709, Anak raja sebelumnya;

11. I Mappau’rangi Daeng Mannuntungi, Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin Tumenanga ri Tallo, memerintah Tahun 1709–1714, Anak raja sebelumnya;

12. I Manrabbia Daeng Ma’nassa, Karaeng Kanjilo Sultan Najamuddin Tumenanga ri Jawayya, memerintah Tahun 1714–1729, Anak raja sebelumnya, meninggal di Jawa;

13. I Makkasu’mang Daeng Mattalik Karaeng Lempangang Sultan Syafiuddin Tumenanga ri Butta Labbiri’na, memerintah Tahun 1739–1760, Saudara dari Raja Tallo sebelumnya.

Makam Yandulu Karaeng Sinrijala dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Makam Yandulu Karaeng Sinrijala dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Bercermin dari Sejarah

Kompleks Makam Raja-raja Tallo

Kompleks Makam Raja-raja Tallo dari Abad XVII hingga Abad XIX terletak di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. (Sumber: Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, 1985 berdasar Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kotamadya Ujungpandang, Provinsi Sulawesi Selatan. Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, h.56-58)

Kompleks Makam Raja-raja Tallo ini menjadi salah satu rujukan studi, penelitian dan wisata Sejarah, berada sekitar 7 km sebelah utara Kota Makassar. Luas kompleks makam sekitar 9.225 meter persegi, terletak di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kecamatan Tallo.

Dari pusat Kota Makassar, Kompleks Makam Raja Tallo dapat dengan mudah di akses, karena posisinya dekat dengan pintu tol Tallo, jalur tol Ir Sutami, dan jalan tol Pelabuhan. Selain itu, situs ini cukup mudah diakses dari bandar udara internasional Sultan Hasanuddin.

Kompleks Makam Raja-raja Tallo terletak dalam lingkup Benteng Tallo, yang kini tertinggal sebagian puingnya saja. Ada terdapat 93 makam di area kompleks, namun hanya 21 diantaranya yang dikenali dan bernama. Mereka adalah raja dan keluarga kerajaan Tallo yang dimakamkan antara Abad XVII-XIX.

Kompleks Makam Raja-raja Tallo ini ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional yang dilindungi pemerintah. Terdapat 3 tipe makam dalam kompleks ini, yaitu kubang, papan batu, dan kubah.

Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu tipe makam dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu tipe makam dalam Kompleks Makam Raja-raja Tallo. (foto: ist/palontaraq)

Tipe kubang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, menyerupai bentuk susunan balok-balok candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Tipe makam ini biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat, atau pembesar istana.

Tipe papan batu, yakni tipe yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu. Adapun tipe kubah, yakni bangunan yang beratap melengkung seperti kubah yang menaungi makam di dalamnya.

Sebagian besar makam terdiri dari susunan batu andesit dan sebagian lainnya menggunakan bahan bata. Kompleks makam telah dua kali dipugar oleh Pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan dipugar hingga mendekati bentuk aslinya.

Menurut Bahtiar, penjaga makam, ada satu makam sering dikunjungi khusus oleh peziarah, yaitu Makam Sultan Mudaffar, Raja Tallo VII (1598 – 1641). Nama lengkapnya I Manginyarrang Dg Makkiyo Karaeng Kanjilo ‘Macan Keboka’ Ammalianga ri Timoro. Beliau adalah putra Kareng Matoaya I Malingkaang Daeng Mannyonri, Raja Tallo I yang memeluk Islam.

Ada pula Makam Yandulu Karaeng Sinrinjala (saudara Sultan Mudhafar), Sawerannu (istri Raja Tallo VII), Sultan Abdul Kadir (Mallawakkang Dg Matinri, Raja Tallo IX), Karaeng Parang-Parang (Karaeng Bainea ri Tallo) dan I Makkasumang Dg Mangurangi Sultan Syaifuddin (Raja Tallo XII, 1770–1778).

Juga makam yang bisa dikenali adalah Makam Madulung Sultana Sitti Saleha (Raja Tallo XIII), La Oddangriu Dg Mangepe Sultan Muhammad Zainal Abidin (Raja Tallo XV, Raja Gowa XXX), Pakanna (Raja Sanrobone XI), Mangati Dg Kenna Sultana Sitti Aisyah, dan I Malawakkang Abdul Kadir Dg Sisila.

Selain itu ada pula Makam Abdullah bin Abdul Gaffar (Duta Bima di Tallo), Linta Dg Tasangnging Karaeng Bontosunggua (Tumabicara Butta Gowa), Abdullah Daeng Riboko, Arif Karaeng Labbakang, I Manuntungi Dg Mattola, Saribulang Karaeng Campagana Tallo), Mang Towayya, Sinta Karaeng Samanggi, Karaenta Yabang Dg Talomo (Karaeng Campagaya Krg Bainea Ri Tallo), dan Karaeng Mangarabombang (Karaeng Bainea ri Tallo).

Demikianlah sekilas tentang Kerajaan Tallo, jika ingin berziarah ke Kompleks Makam Raja-raja Tallo maka dipersyaratkan untuk didampingi oleh pinati (Pinati pertama di masa lampau ditunjuk langsung oleh Raja Tallo), sebagai juru doa sekaligus juru kunci makam.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response