Sejarah Pemerintahan di Museum Kota Makassar

Ruang Sejarah Pemerintahan dan Profil Walikota dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ruang Sejarah Pemerintahan dan Profil Walikota dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: M.Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Menengok Koleksi Museum Kota Makassar

PALONTARAQ.ID – Ada banyak Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum yang ingin mengetahui sejarah kota, perkembangan pemerintahan dan perubahan wajah kotanya dari tahun ke tahun, tapi tak tahu harus kemana.

Kehadiran Museum Kota Makassar di Jalan Balai Kota selama ini tak banyak diketahui setelah sebelumnya pernah dimanfaatkan sebagai Kantor Bappeda Kota Makassar. Disisi lain, koleksi museum sendiri masih sangat terbatas dengan ruang pameran yang juga sempit dan terbatas.

Koleksi Museum, termasuk Profil Walikota Makassar dari masa ke masa hanya memaksimalkan ruang-ruang yang ada di bekas Kantor Walikota Makassar tersebut. Gedung Museum Kota adalah bekas Kantor Gementehuis sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda dalam Tahun 1916 (ada pula yang menyebutnya Tahun 1918).

Penduduk Makassar sejak Abad 17 terdiri dari Penduduk lokal (Makassar, Bugis, Mandar, Toraja), Tionghoa (China), India, Arab, Melayu, dan Para pedagang dari Eropah (Barat). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penduduk Makassar sejak Abad 16- 17 terdiri dari Penduduk Multi-kultural, penduduk lokal (Makassar, Bugis, Mandar, Toraja), sudah bercampur baur dan berinteraksi dengan pendatang dari Tionghoa (China), India, Arab, Melayu, dan Para pedagang dari Eropah (Barat). (foto: mfaridwm/palontaraq).

Makassar memang layak dikenal dan diakrabi, tidak hanya sebagai sebuah kota (kotamadya) dengan penduduk yang multi-kultural, tetapi juga sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, dan lebih khusus lagi pernah menjadi ‘kota dunia’ di masa kekuasaan Kerajaan Makassar (Kerajaan kembar Gowa-Talloq) di Abad XVI-XVII.

Kota Makassar saat ini terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi, terletak antara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah Barat adalah Selat Makassar dan Kabupaten Pangkep.

Salah satu Potret Kota Makassar dari Pantai (Tanjung) Losari. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu Potret Kota Makassar dari sisi Pantai (Tanjung) Losari. (foto: ist/palontaraq)

Pemandangan Pantai Losari, sudah berubah menjadi Tanjung dan berkembang sebagai pusat pertumbuhan kota baru dan sudah berdiri Masjid 99 Kubah di lahan bekas reklamasi Pantai. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemandangan Pantai Losari, sudah berubah menjadi Tanjung dan berkembang sebagai pusat pertumbuhan kota baru dan sudah berdiri Masjid 99 Kubah di lahan bekas reklamasi Pantai. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang), secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu Bagian Barat ke arah Utara relatif rendah dekat dengan pesisir pantai, dan Bagian Timur dengan keadaan topografi berbukit seperti di Kelurahan Antang Kecamatan Panakukang.

Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi (setelah perluasan sejak Tahun 1965 di masa pemerintahan HM Dg Patompo). Kondisi iklim di Kota Makassar sedang hingga tropis memiliki suhu udara rata-rata berkisar antara 26,°C sampai dengan 29°C.

Sebagai sebuah kota yang pernah menjadi pusat kerajaan maritim, saat ini Makassar adalah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara dan juga dikenal sebagai “Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai (Sungai Tallo, Sungai Jeneberang, dan Sungai Pampang) yang kesemuanya bermuara ke dalam kota.

Faktanya sekarang, Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Dari kondisi ini menyebabkan Kota Makassar sering mengalami genangan air pada musim hujan, terutama pada saat turun hujan bersamaan dengan naiknya air pasang.

Ruang Sejarah Pemerintahan dan Profil Walikota dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Pelajar/Pengunjung di Ruang Sejarah Pemerintahan dan Profil Walikota dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ruang Pamer Profil Walikota Makassar berdampingan dengan Narasi Perjanjian Bungaya dan Ratu Wilhelmina dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ruang Pamer Profil Walikota Makassar berdampingan dengan Narasi Perjanjian Bungaya dan Ratu Wilhelmina dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lihat pula: Ratu Wilhelmina dalam Museum Kota Makassar

Walikota Makassar

Pejabat Walikota Kota Makassar dari sejak Pemerintahan Kolonial (Hindia) Belanda, yaitu J. E. Dambrink (1918-1927), J. H. De Groot (1927-1931), G. H. J. Beikenkamp (1931-1932), Ir. F.C.Van Lier (1932-1933), Ch. H. Ter Laag (1933-1934), J. Leewis (1934-1936), dan H.F.Brune (1936-1942).

Penulis dan Lambang Kota Makassar di masa Pemerintahan Hindia Belanda. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dan Lambang Kota Makassar di masa Pemerintahan Hindia Belanda. (foto: ist/palontaraq)

Mr.Gunta yamasaki

Profil Mr. Gunta Yamasaki, Walikota Makassar pada masa Pemerintahan Nippong, Jepang. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Di masa Pemerintahan Jepang, yang menjadi Walikota Makassar adalah Mr. Gunta Yamasaki (1942-1945) dan setelah hengkang dari Indonesia. Setelahnya pemerintahan kota dipegang kembali Belanda yang sempat masuk kembali dengan membonceng sekutu, disebut Pemerintahan NICA dan yang menjadi walikota di Makassar adalah H.F. Brune (1945) dan D.M. Van Zwieten (1945-1946)

Akibat masih terdapatnya gejolak politik dalam negeri dan ketidak-stabilan pemerintahan paska Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno-Hatta, di Makassar sempat terbentuk pula refresentasi Pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipimpin oleh Intje M. Qaimuddin (1950-1951) dan J. Mewengkang (1951).

Profil Walikota Intje M. Kaimuddin dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil Walikota Intje M. Kaimuddin dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Barulah kemudian sejak Tahun 1951, kondisi Pemerintahan Republik Indonesia sudah mulai stabil dan yang berturut-turut diangkat menjadi Walikota Makassar adalah Sampara Dg. Lili (1951-1952), Achmad Dara Syachruddin (1952-1957), M. Junus Dg. Mile (1957-1959), Latif Dg. Massikki (1959-1960), dan H. Aroepala (1960-1965).

Profil Walikota A. Latief Dg Massikki dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil Walikota A. Latief Dg Massikki dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil Walikota Makassar H Aroepala. (foto: mfardiwm/palontaraq)

Profil Walikota Makassar H Aroepala dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfardiwm/palontaraq)

Lihat pula:  Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

Walikota berikutnya adalah yang fenomenal dan banyak mengubah tata kota yaitu Kolonel H.Muhammad Dg.Patompo. Perkembangan kota Makassar saat ini tidak lepas dari peran HM Patompo yang berani mengubah nama Makassar menjadi Ujungpandang, juga merupakan walikota terlama dalam Sejarah Pemerintahan Kota Makassar, yakni Tahun 1965-1978.

Profil tentang Walikota HM Dg Patompo terasa khusus, karena menempati ruang pamer di sudut ruang tersendiri dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil tentang Walikota HM Dg Patompo terasa khusus, karena menempati ruang pamer di sudut ruang tersendiri dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil Walikota Makassar dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Profil Walikota Makassar dalam Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sejak masa pemerintahan HM Dg Patompolah, digunakan nama Kotamadya Ujungpandang dan menuntut perluasan wilayah dari kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Gowa yang menyerahkan beberapa wilayahnya, seperti Barombong, Karuwisi, Panaikang, Tello Baru, Antang, Tamangapa, Jongaya, Maccini Sombala dan Mangasa.

Kabupaten Maros menyerahkan wilayahnya: Bira, Daya, Tamalanrea, Bulurokeng dan Sudiang. Sedangkan Kabupaten Pangkep menyerahkan tiga pulaunya: Pulau Kodingareng, Pulau Barang Lompo dan Pulau Barrang Caddi.

Secara administratif pemerintahan, Kota Makassar dibagi menjadi 15 kecamatan dengan 153 kelurahan. Di antara 15 kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mariso, Kecamatan Wajo, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Biringkanaya.

Jika dihitung dari masa pemerintahan HM Dg Patompo, maka setidaknya nama Kotamadya Ujungpandang dipakai selama kurang lebih 34 tahun, yaitu sejak masa pemerintahan HM Dg Patompo sendiri, diteruskan oleh Kolonel Abustam (1978-1982), Kolonel Jancy Raib (1982-1988), Kolonel Suwahyo (1988-1993), dan H.A. Malik B. Masry,SE.MS (1994-1999).

Beberapa Prestasi Pemerintah Kota Makassar juga tersaji di Lantai 3 Museum Kota Makassar. (foto: mfardiwm/palonatarq)

Beberapa Prestasi Pemerintah Kota Makassar juga tersaji di Lantai 3 Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palonatarq)

Penulis dan Rombongan Pelajar yang Studi Wisata Sejarah di Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dan Rombongan Pelajar yang Studi Wisata Sejarah di Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Sejak Tahun 1999, Nama Makassar dikembalikan. Perubahan nama Ujungpandang menjadi Makassar kembali disambut oleh masyarakat kota dengan gegap gempita dalam suatu perayaan di Pantai Losari ketika itu. Yang menjadi walikota pertama paska perubahan nama itu adalahh Drs. H.B. Amiruddin Maula, SH.Msi (1999-2004).

Walikota H.B. Amiruddin Maula inilah yang menetapkan Bekas Kantor Walikota Makassar sejak masa pemerintahan Hindia Belanda ini menjadi Museum Kota Makassar sampai saat ini, dan beberapa bangunan bersejarah lainnya tetap dipertahankan keasliannya, sekalipun beberapa diantaranya sudah berubah fungsi.

Wisata Sejarah ke Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Berwisata Sejarah ke Museum Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Setelah H.B. Amiruddin Maula, berturut-turut yang menjadi Walikota Makassar ialah Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin, MM (2004 – 2008), Ir. H. Andi Herry Iskandar, MSi (2008 – 2009), Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin, MM (2009 – 2014), Ir. H.Moh. Ramdhan Pomanto (2014 – 2019).

Masing-masing Potret dan Prestasi yang menonjol dari Walikota Makassar dari masa ke masa tersebut disajikan dalam lemari kaca di Museum Kota Makassar, berdampingan dengan penyajian narasi tentang Perang Makassar, Perjanjian Bungaya, dan Ratu Wilhelmina, terkecuali untuk Penjabat Walikota sekarang, Iqbal Suhaeb, belum disajikan datanya.(*)

Like it? Share it!

Leave A Response