Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (5)

by Penulis Palontaraq | Senin, Nov 4, 2019 | 29 views
Sureq Galigo. (foto: ist)

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Ashari Thamrin

Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (4)

TERBENTUKNYA KERAJAAN LUWU

Kembali ke reuni keluarga. Telah disebutkan bahwa perkawinan Batara Guru (La Toge’Langi’) dengan We Nyili’ Timo dianggap sebagai lambang reunifikasi (penyatuan kembali) dua keluarga besar dari Suku To Riu (Wawenriu) dengan Suku To Liu (Luwu) yang berasal dari satu nenek moyang (To Pongko), yang lama terpisah dan tercerai berai akibat diaspora (penyebaran penduduk/ keturunan).

Selain sebagai reuni, perkawinan itu juga dianggap sebagai peredam percikan apipermusuhan di antara kedua peradaban. Dan perkawinan itu pun telah menjadi sebuah gebrakan yang mematahkan kebiasaan lama berdiaspora, yang melebar pada bagian hilir dan hulu, serta membiarkan bagian tengah menjadi kosong.

Pengisian dataran tengah yang kosong ini dilukiskan dengan indah dalam Epos Lagaligo sebagai pengisian ‘Aleq Kawa’ atau dunia tengah.

Beberapa tujuan tersirat di atas juga dilandasi oleh sebuah fikosofi yang bijak akan masa depan keturunan mereka. Orangtua dari kedua belah pihak tentu telah berpikir bahwa keturunan mereka tidak dapat terus menerus mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia, yang lama kelamaan akan terkuras habis manakala tidak dilakukan peremajaan.

Karena itulah, ketika kita membuka episode pertama Epos La Galigo: Saat Diturunkannya Batara Guru”, terlihat benar bagaimana Raja Pertama Kerajaan Luwu ini di training habis-habisan. Ia tidak diberi makan danminum selama tiga hari-tiga malam, hingga benar-benar merasakan penderitaan.

Tak ada tujuan lain dari pada training tersebut kecuali memberi proyeksi kepadaBatara Guru bahwa penderitaan seperti itulah yang akan dihadapi oleh keturunan Batara Guru, kelak manakala tidak ada upaya untuk mulai belajar bercocok tanam.

Dan tempat paling sesuai untuk bercocok tanam adalah dataran tengah.Efektifitas dari filosofi ini terlihat hingga zaman orde baru lalu, di manaLuwu selalau menjadi penghasil beras nomor satu di Sulsel.

Kelahiran Batara Lattu dari Perkawinan ini dapat dianggap sebagai simbol lahirnya kembali (reinkarnasi) nenek moyang mereka ‘To Pongko’, sebagai manusia awal yang pernah mendiami Tana Luwu di Wotu.

Karena itulah, reunifikasi keluarga ini dikukuhkan dengan dijadikannya Wotu sebagai Ware’ (Kotaraja) Kerajaan Luwu yang pertama, dengan La Toge’ Langi’ sebagai Datu’ Pertama.

Selanjutnya, kerajaan inidiserahkan kepada Batara Lattu ketika Ia telah dewasa dan dianggap cakap memimpin sebuah Kerajaan.

Kelahiran putra mahkota ini dianggap sebagai titik awal menyatunya  dua peradaban yang diwakili oleh 3 (tiga) kerajaan tua di Luwu yakni Wawenriu’, Luwu’, danTampotikka.

WELCOME TO WAWENRIU’

Dari uraian di atas dapat ditebak bahwa nama Kerajaan Luwu diambil dari kata ‘To Luwu’ (orang Luwu), salah satu suku tertua yang mendiami Malangke, sempalan dari To Pongko (Wotu).

Tak ada keterangan yang dapat dijadikan rujukan kenapa dan kapan nama ini disepakatiuntuk mewakili kedua peradaban tersebut. Kuat dugaan, keterampilan To Luwu dalam membuat publikasi dalam bentuk karya tulis berupa Lontaraq dan juga Epos La Galigo menjadi alasan utama kata Luwu dijadikan pemersatu keduanya.

Bahasa yang digunakan dalam EposLagaligo maupun Lontara berasal dari penutur vokal ‘E’, dan bukan menggunakan bahasa dari penutur vokal ‘O’, dan bukan juga menggunakan bahasa titik temu antara keduanya, Bahasa Bare’e.

Kendati demikian, bukan berarti tak ada Lontaraq atau La Galigo yang ditulis dalam Bahasa Bare’e, karena kenyataannya Orang Selayar mengenal juga La Galigo dan bahasa Orang Selayar begitu mirip dengan Bahasa Wotu.

Jika nama Kerajaan Luwu diambil dari Komunitas suku To Luwu, lalu apakah nama yang digunakan untuk menyebut Peradaban Danau Matano ketika itu? Mungkin inilah jawaban dari teka-teki menghilangnya Kerajaan WeWanriu’ selama ini.

Agaknya telah terjadi salah eja atau salah tulis dalam Epos La Galigo, untuk nama Kerajaan Wawenriu’. Inilah yang menyebabkan banyak sejarahwan mengalami kesulitan mengidentifikasi toponim kerajaan ini.

Kesalahan eja atau penulisan terletak pada pertukaran vokal. Sebetulnya bukan Wewanriu, tetapi Wawenriu’.

Wawenriu’ adalah singkatan dari Wawa Inia Rahampu’u. Pembuktian akanhal ini dapat dilakukan dengan melafalkan kemajemukan kata Wawa Inia Rahampu’u secara berulang-ulang.

Secepat apapun kita melafalkan kemajemukan kata tersebut secara berulang-ulang, maka secepat itu pula kita mendapatkan kata Wawenriu’.

Arkeologis Bugis Makassar Iwan Sumantri, dalam bukunya yang berjudul “Kedatuan Luwu” menegaskan, bahwa Wawa Inia Rahampu’u adalah Luwu, dan Luwu adalah Wawa IniaRahampu’u.

Penegasan Iwan Sumantri ini menguatkan bahwa Wawenriu itu adalah Wewanriu yang sering disebut-sebut dalam Epos La Galigo.

Kerajaan ini pula yang maksud dalam Epos I La Galigo sebagai Boting Langi’, kerajaan yang merupakan tempat asal Batara Guru (La Toge’ Langi’), Raja pertama KedatuanLuwu.

Jika ditelusuri melalui kajian linguistik, Boti(ng) sama dengan Woti(ng). Woti artinya Wadah atau Waduk atau Danau, sedangkan Langi’ berarti tempat yang tinggi. Dengan demikian, Boti(ng) Langi’ artinya DANAU yang berada di Ketinggian.

Kita dapat membuktikan bahwa satu-satunya danau yang berada di ketinggian di Sulawesi Selatan hanya dijumpai ketika kita berjalan dari Wasuponda ke Sorowako. Itulah Danau Matano, dan di sekitar danau inilah –pada masa lampau- berdiri Kerajaan Wawa Inia Rahampu’u, atau Wawenriu’.

Darisegi asal usul kata, Wawenriu adalah derivasi (turunan) kata WaeNRIU yang artinya air minum atau air tawar. Jelas, ini asli ucapan lidah dari penutur vokal ‘E’,seperti yang diuraikan di atas.

Jika kata ini ditransformasi ke lidah penutur vokal ‘O’, maka ada beberapa variasi yang akan ditemui, seperti: Wawonrio, Wowonrio, Wawondio, Wowondio, dan sebagainya.

Dua  bunyi terakhir yakni Wawondio dan Wowondio, dekat dengan nama sebuah Kecamatan di Luwu Timur, yaitu Wawondula, atau biasa juga orang tuturkan dengan nama Wowondula.

Kata Wawondula atau Wowondula ini dapat dianggap sebagai bentuk bias dari Bahasa Bare’e,sebagai akibat dari persaingan hegemoni dua penutur bahasa, yakni kelompokpenutur vokal ‘E’ dari Selatan dan kelompok penutur vokal ‘O’ dari Utara.

Jadi jelas bahwa Wawenriu’ itu adalah Kerajaan Dataran Tinggi, atau kerajaan air tawar. Karena itu tempatnya bukan di muara sungai atau ditepi pantai.

Beberapa argumen di atas cukup jelas bagi kita bahwa Argumen-argumen itu hanya merujuk kepada Wawa Inia Rahampu’u, sebagai satu-satunya kerajaan yang disebut sebagai Wewanriu’ dalam Epos I La Galigo. Persoalan kesulitan identifikasi selama inibersumber pada kesalahan eja ataupun salah tulis.

 

Bersambung …..

Like it? Share it!

Leave A Response