Beranda Sosial Budaya Bahasa Daerah Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu - Tinjauan Linguistik Diakronik (4)

Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (4)

Sureq Galigo. (foto: ist)
Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Ashari Thamrin

Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (3)

SEJARAH PENEMUAN BESI

Fenomena kebahasaan (Linguistik) di bekas Kerajaan Luwu ini, menguatkan keyakinan bahwa pada masa lalu, sesungguhnya ada dua peradaban besar yang saling bertanding sekaligus bersanding memperebutkan pengaruh yang bermuara pada Kebesaran Kerajaan Luwu.

Kedua peradaban ini mewakili Peradaban Lembah Danau Matano (Kabupaten Luwu Timur sekarang), dan Peradaban Lembah Salu Pongko  (sekarang masuk wilayah KabupatenLuwu Utara).

Peradaban Lembah Danau Matano memainkan hegemoni kekuasaan di wilayah Geografis penutur vokal ‘O’ dan penutur vokal campur (Bahasa Bare’e). Sementara Peradaban Lembah Salu Pongko menguasai wilayah-wilayah Geografis penutur vokal ‘E’.

Selain berebut pengaruh, kedua peradabanini bersaing memproduksi Metalurgi dari perut bumi masing-masing untuk pasokan bahan pembuatan senjata, alat perang dan kebutuhan lainnya, baik untuk dipakai sendiri atau pun pesanan dari komunitas lain.

Dua sungai besar yakni Sungai Larona dan Sungai Rongkong – menjadi arus lalu-lintas untuk mengangkut hasil produksi metalurgy mereka ke tempat tujuan pemesanan.

Sungai Larona yang mengalirkan air Danau Matano melalui Kota Malili, dan berujung di Teluk Bone, dijadikan sebagai sarana angkut produk tambang oleh penutur vokal ‘campur’,dari sekitar gunung Pongko (Matano) ke tempat tujuan.

Sementara Sungai Rongkong yang mengalirkan air dari Seko dan Limbong melalui Sabbang – Baebunta dan berakhir di Muara Salo’Pongko, dijadikan sarana angkut produk tambang oleh penutur vokal ‘E’ dari Seko ke tujuan pemesanan.

Penggalian Arkeologi besar-besaran antara Tahun 1938 yang dilaporkan oleh Willems dan kawan-kawan dan juga OXYS pada Tahun 2004 pada 2 (dua) peradaban itu menguatkan hal tersebut.

Persaingan yang ketat di antara keduanya, tak urung menyulut api permusuhan dan ancamanpeperangan. Untungnya, peranan besar MACOA BAWALIPU di WOTU yang berada diantara kedua belah pihak dapat meredam percikan api permusuhan tersebut.

Solusi kawin mawin yang ditawarkan Macoa, dapat diterima dengan senang hati oleh kedua belah pihak. Solusi damai atas ancaman perang ini justru dilukiskan dengan sangat indah oleh Lagaligo Putra Sawerigading dalam Epos La Galigo.

Disebutkan dalam Epos La Galigo tentang pengisian Ale kawa (Dunia Tengah) oleh Batara Guru dari  Dataran Tinggi  (Boting Langi’ /Danau Matano) dan We Nyili’timo dari Bawah Air (Boriq Liu’/Pesisir Pantai Malangke).

PerkawinanBatara Guru (La Toge’ Langi’) dengan We Nyili’ Timo dianggap sebagai lambangreunifikasi (penyatuan kembali) 2 (dua) keluarga besar dari suku To Riu’  (Wawenriu) dengan suku To Liu’ (Luwu) yang berasal dari satu nenek moyang  (To Pongko), yang lama terpisah dan tercerai berai akibat diaspora (penyebaran penduduk/keturunan).

Selain sebagai lambang reunifikasi, perkawinan ini pun dapat dianggap strategi yang sengaja dilakukan sebagai bentuk gebrakan diaspora (penyebaran penduduk), untuk mematahkan kebiasaan lama berdiaspora melalui hilir (laut/pantai) dan hulu (gunung)yang telah dilakukan berabad-abad sebelumnya.

Pilihan diaspora melalui pesisir pantai atau juga gunung dan mengabaikan diaspora di dataran tengah, dianggap nyaman oleh anak-anak To Pongko yang tidak ingin direpotkan oleh hutan dan semak belukar liar yang memenuhi dataran tengah wilayah Luwu pada masa lampau.

Pilihan diaspora lama dengan menyusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hilir ke hulu lebih disukai karena dengan begitu mereka tidak direpotkan dengan persediaan bahan makanan berupa ikan dan udang yang melimpah di sepanjang DAS.

Apalagi, tak jauh dari tepi DAS, jutaan pohon sagu pun telah siap menanti untuk ditebang dan diambil isinya. Cukup dengan menebang sepohon, mereka sudah dapat hidup sebulan.

Mereka tak perlu memikirkan kapan datangnya musim tanam dan kapan waktunya musim panen. Yang ada hanyalah masa panen dan terus memanen.

Satu-satunya hal yang membebani pikiran mereka adalah bagaimana mendapatkan alat tebang yang efektif untuk ‘massambe tabaro’ (menebang pohon sagu) untuk makanan, dan menebang pohon kayu untuk perumahan.

Alat tebang berupa batu runcing dianggap sulit dan lamban, dan begitu banyak menguras waktu dan tenaga. Beban pikiran ini justru membawa berkah tersendiri bagi nenek moyang Orang Luwu. Pencarian alat tebang yang baik, membawa mereka pada penemuan besi.

Dan ketika mereka mengetahui bahwa ternyata perut bumi mereka dipenuhi oleh Biji-biji besi, dan sangat mubazzir jika hanya digunakan untuk keperluan penebangan pohon sagu dan pohon kayu, mereka pun mulai mengeksploitasi besi-besi tersebut untuk ditukar dan diperdagangkan kepada komunitas lain.

Eksploitasi besar-besaran tingkat lokal mulai terjadi ketika telah terbentuk dua peradaban di Danau Matano dan Malangke, yang berujung pada persaingan yang ketat di antara keduanya dan sering menyulut api permusuhan dan ancaman peperangan antar sesama keturunan To Pongko, sesuai diceriterakan di atas.

 

Bersambung  ……..

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...