Mengakrabi Sejarah Arung Palakka

Penulis ditengah para pelajar menjelaskan Sejarah Arung Palakka di Museum Kota Makassar. (foto: andiadil/palontaraq)

Penulis ditengah para pelajar menjelaskan Sejarah Arung Palakka di Museum Kota Makassar. (foto: andiadil/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Mengakrabi Sejarah Sultan Hasanuddin

PALONTARAQ.ID – Siapa yang tidak kenal Arung Palakka? Tokoh sejarah fenomenal ini adalah “Sang Pembebas” bagi rakyat Bugis, khususnya Bone-Soppeng dan tokoh penting dibalik terjadinya Perang Makassar.

Tak mudah memahami Sejarah Arung Palakka dan alasan dibalik perjuangannya, membebaskan rakyat Bugis Bone-Soppeng dari ‘penjajahan’ (kerja paksa) Gowa membangun Benteng-benteng Makassar.

Dalam konteks keindonesiaan, Arung Palakka malah dicap sebagai ‘pengkhianat’, karena bersama Belanda memerangi Makassar. Padahal ketika itu, Abad XVII, Kata “Indonesia” sendiri belum ada sebagai suatu bangsa dan negara.

Bone sendiri sebagai suatu negara berbentuk kerajaan yang berdaulat namun berada diujung kehancuran akibat dibawah dominasi Makassar, setelah sebelumnya berkali-kali digempur serangan militer oleh Gowa, dari sejak kekuasaan Raja Bone La Tenrirawe BongkangE (MatinroE ri Gucinna).

Tahun 1562 dicatat sebagai serangan militer I Gowa ke Bone di masa pemerintahan Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548-1565).

Kerajaan Makassar (Gowa-Talloq) pada akhirnya mencapai puncak kejayaannya di Abad XVII. Makassar muncul sebagai satu pusat kekuasaan negara maritim yang sangat masyhur dan terkuat di nusantara bagian timur. Wilayah kekuasaan Kerajaan Makassar menjangkau seluruh wilayah Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua, sampai Australia bagian utara dan Philipina bagian selatan.

Radja Palacca, Koning der Bougies. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Radja Palacca, De Koningh der Bougies. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lihat pula: Nama-nama Arung Palakka

Arung Palakka lahir pada Hari Jumat, 15 September 1635, di sebuah desa yang bernama Lamotto, Mario-ri Wawo, Soppeng. Ayahnya bernama Lapottobune Aru Tana Tengnga dan ibunya bernama We Tenrisui, putri Raja Bone XII.

Arung Palakka pernah hidup dalam pelarian dan pengejaran Gowa setelah sukses membebaskan dirinya dan beberapa bangsawan Bugis dari kamp kerja paksa di Tallo. Hidupnya selanjutnya dihabiskan dalam perjuangan mencari bantuan dan menggalang kekuatan untuk melawan Kerajaan Makassar.

Beberapa bangsawan dan Raja Bugis yang dituakannya didatanginya selama dalam pelarian untuk mendapatkan bantuan, sebelum menyeberang ke Buton dan ke Batavia. Sejak Tahun 1660-an, Arung Palakka malang melintang dan berpetualang layaknya seorang jagoan yang ditakuti di Batavia.

Oleh VOC Belanda, Arung Palakka kemudian diberi daerah khusus di pinggiran Kali (Muara) Angke, hingga ia dan pengikutnya disebut To Angke atau Ugi To Angke.

Ketika tinggal di Batavia itu, Arung Palakka membangun persekutuan rahasia dengan Gubernur Jenderal VOC, Cornelis Janszoon Speelman dan Kapiten Jonker dari Pulau Manipa, Maluku.

Secara bersama-sama mereka berhasil memegang kendali atas VOC, termasuk memegang monopoli perdagangan emas serta hasil bumi. Arung Palakka beberapa kali mendesak CJ Speelman untuk memerangi Kerajaan Makassar.

Kalung emas (tiruan) Arung Palakka, tersimpan di Museum La Galigo, Fort Rotterdam. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kalung emas/selempang (tiruan) Arung Palakka, tersimpan di Museum La Galigo, Fort Rotterdam. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Speelman sendiri awalnya ragu sebelum Arung Palakka sendiri membuktikan kekuatan perangnya, di sisi lain, Kerajaan Makassar ketika itu sudah berada di puncak keemasan sebagai kekuatan maritim tertangguh di Nusantara.

Pada Tahun 1662, VOC mendapatkan perlawanan dari rakyat Minangkabau yang ingin memonopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Rakyat Minangkabau marah dan mengamuk pada Tahun 1666, menewaskan Jacob Gruys, perwakilan VOC di Padang.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Arung Palakka dan sekutunya dari Buton dan Ternate untuk membuktikan kekuatan perangnya yang sudah dilokalisir di Muara Angke dan minta dikirim VOC ke Minangkabau.

Terjadilah Perang Pariaman, Arung Palakka bersama pasukan pelariannya dari Tanah Bugis berhasil mematahkan perlawanan rakyat Minangkabau dan menaklukkan seluruh pantai barat Sumatera, serta memutus hubungan antara Minangkabau dengan Aceh.

Usai Perang Pariaman, Arung Palakka menagih janji VOC untuk menyerang Makassar dan membebaskan bangsanya dibawah dominasi Makassar serta dari kerja paksa membangun Benteng-benteng Makassar.

Penulis dengan latar belakang Potret/lukisan Arung Palakka di Museum La Pawawoi, Watampone. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dengan latar belakang Potret/lukisan Arung Palakka di Museum La Pawawoi, Watampone. (foto: ist/palontaraq)

Atas desakan Arung Palakka, diseranglah kemudian Kerajaan Makassar, atas pimpinan Speelman dan Arung Palakka, dari laut Benteng-benteng Makassar dibombardir meriam oleh pasukan VOC, pasukan Bugis Arung Palakka, serta dibantu laskar Ternate dan Buton yang memihak dan sudah berjanji sebelumnya untuk turut serta membantu perjuangan Arung Palakka, sementara dari darat, pasukan Bugis ikut menyerang laskar Makassar.

Lihat pula:  Arung Palakka, Inspirasi Perjuangan Rakyat Bone

Inilah tragedi sejarah, perang yang terjadi inilah yang kemudian dikenal sebagai “Perang Makassar” yang berujung kekalahan Kerajaan Makassar yang ketika itu terjadi dibawah kekuasaan Sultan Hasanuddin. Dampak dari Perang tersebutlah yang kemudian melahirkan Perjanjian Bungaya.

Arung Palakka hidup lama kemudian paska kemenangan perangnya dan berbagi kekuasaan dengan Belanda, mengendalikan kekuasaan kerajaan-kerajaan di jazirah Sulawesi Selatan setelah naik takhta sebagai Raja Bone dan sepeninggalnya, mengatur politik kawin mawin antara Bone-Gowa-Luwu.

Penulis di Kompleks Makam Arung Palakka. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kompleks Makam Arung Palakka. (foto: ist/palontaraq)

Para Peziarah di depan Makam Arung Palakka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Peziarah di depan Makam Arung Palakka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Peziarah di depan Makam Arung Palakka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis di Kompleks Makam Arung Palakka Matinroe ri Bontoala. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Arung Palakka meninggal di Bontoala, sebuah desa di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, pada 6 April 1696. Makamnya berada di Jalan Bonto Biraeng, Katangka, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan masih satu kelurahan dengan Makam Sultan Hasanudddin.

Cungkup Makam Arung Palakka cukup unik, berada di baris paling depan di kompleks makam di Bontoala tersebut, dimaksudkan untuk menandai posisi pentingnya diantara makam yang lain. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response