De’de Toasi

-

- Advertisment -

Badik/kawali dengan De'de Toasi. (foto/koleksi: La Oddang Tosessungriu)
Badik/kawali hasil De’de Toasi. (foto/koleksi: La Oddang Tosessungriu)

Oleh:  La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya:  Gareno SiwaliE

PALONTARAQ.ID – De’DE’, jika ditransliterasi dari bahasa Makassar, kurang lebih berarti “tempaan”. Maka “de’dE TaEng” adalah berarti “tempaan TaEng” yang kemudian dipahami sebagai bentuk (rancang bangun).

Istilah berbahasa Makassar ini ketika di Tana Ugi, kemudian dipahami sebagai pamor yang berbentuk spot pijetan jari, hingga penyebutannya mendahului jenis rancang bangun bilahnya, misalnya “de’DE Toasi” di kawasan Ajatappareng. Setidaknya inilah yang kupahami untuk sementara.

Dewasa ini, animo masyarakat Sulawesi Selatan pada senjata tradisional sedemikian besar. Senjata pusaka yang dulunya terbungkus dalam lilitan kain sutera di lemari, kini keluar melihat dunia pada etalase pameran.

Senjata yang dulunya ditempa untuk membinasakan lawan, kini menjadi koleksi yang mencari persaudaraan. Pada sisi lain, istilah-istilah penyebutan pada rancang bangun senjata itu kini disebut dengan berbagai penamaan, tergantung darimana asal dialektikanya.

Perbedaan persepsi dan ragam sebutan sesungguhnya adalah kekayaan nilai kolektif. Bahwa menurut fungsinya sebagai senjata kerat ataupun tikam, ketika disebut sebagai pusaka dengan kerumitan yang melibatkan philosofi dan seni, maka ia adalah peradaban.

Sesungguhnya berkat daya cipta peradaban inilah sehingga manusia menempati puncak martabatnya diatas segala mahluk.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Sekolah buka lagi?

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT PALONTARAQ.ID - Satu persatu fasilitas umum dibuka dan diaktifkan. Diawali dengan pembukaan...

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin yang sosok dan karakter wajahnya berbeda-beda bertebaran di beberapa titik...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Berpisah dengan Ramadan

  Oleh: Habib Quraisy Baharun Related Post: Doa Rasulullah SAW ketika Berpisah dengan Ramadan PALONTARAQ.ID - Akhirnya sampailah kita dipenghujung Ramadhan 1441...

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19

  Laporan: Etta Adil  Related Post: Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah PALONTARAQ.ID - Ditengah...

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari Ke-29 PALONTARAQ.ID - Entah harus bersyukur, antara bahagia dan sedih. Kita...

Must read

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin...

Pemerintah tidak Boleh Menyerah!

  Oleh: Andi Lutfi A. Mutty PALONTARAQ.ID - Saya terperangah membaca...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you