Mencari Pustaka tentang Syekh Yusuf al-Maqassary

Syekh Yusuf "Tuanta Salamaka" al-Maqassary. (Ilustrated: ist/mfaridwm)

Syekh Yusuf “Tuanta Salamaka” al-Maqassary. (Ilustrated: ist/mfaridwm)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Syekh Yusuf al-Maqassary dalam Narasi Tutur

PALONTARAQ.ID – Meski dikenal luas, namun tak banyak referensi tentang Syekh Yusuf ‘Tuanta Salamaka’ al-Maqassari. Masyarakat awam di Sulawesi Selatan umumnya menziarahi kuburnya di Gowa, lebih kepada kepentingan mendapatkan berkat.

Di Sulawesi Selatan sendiri, Syekh Yusuf dikenal lewat praktek tarekatnya. Ada yang mengenalnya sebagai tokoh sejarah yang melawan Belanda di berbagai daerah, dan ada pula yang mengenalnya lewat narasi tutur tentang kesaktian atau kewaliannya.

Prof Dr Azyumardi Azra, MA dalam bukunya, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan Abad XVIII” (2004) malah menguraikan peran penting Syekh Yusuf al-Maqassari sebagai perintis ketiga pembaruan Islam di Nusantara, setelah Syekh Nuruddin al-Raniri dan Syekh Abdul Rauf al-Sinkili.

Tak banyak memang ilmuwan dan sejarawan yang menyentuh koneksi keilmuan Syekh Yusuf al-Maqassari dalam perkembangan pembaruan Islam di Nusantara, termasuk melakukan kajian mendalam terkait aspek kehidupan sosio-religius kaum muslimin di wilayah jelajah dakwah Syekh Yusuf, dari Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Barat, Aceh, hingga Arabia (Yaman, Hijaz, Mekkah, Syria dan Turki), Srilangka, dan Afrika Selatan.

Lihat pula: Menyingkap Rahasia Ajaran Syekh Yusuf dan Pertalian dengan Nabi Khidir

Nampaknya, kita memerlukan upaya bersama, pemerintah dan masyarakat Sulawesi Selatan untuk membangun Perpustakaan dan Museum Syekh Yusuf al-Maqassari.

Tak sampai disitu, Fragmen sejarah dan warisan pengajaran Syekh Yusuf di berbagai daerah di Jawa juga perlu dikumpulkan, sebagai bahan pembelajaran bagi generasi masa kini dan yang akan datang.

Patung Syekh Yusuf di Taman Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Patung Syekh Yusuf di Taman Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Keulamaan dan ketokohan Syekh Yusuf al-Maqassari dalam Sejarah Islam Nusantara perlu didudukkan pada tempat yang selayaknya. Dan itu yang belum dilakukan selama ini dan belum ada sampai saat ini.

Sebagai pembelajaran sejarah di masa kini, kita perlu tahu, apa kata Lontaraq Bilang tentang Syekh Yusuf, sebagai historiografi tertua di Kerajaan Gowa dan Tallo di Sulawesi Selatan sampai telaah mutakhir mengenai Syekh Yusuf al-Maqassari.

Lihat pula: Cahaya dari Timur: Syekh Yusuf al-Maqassari

Telaah dan penelitian mutakhir tentang Syekh Yusuf itu, diantaranya ialah: Abu Hamid, Syaikh Yusuf Tajul Khalwati: Suatu kajian Antropologi Agama (Disertasi Doktor, UNHAS, 1990), Tudjimah, Syaikh Yusuf Makassar: Riwayat Hidup, Karya dan Ajarannya. (Depdikbud, 1987), E.P.J. von Kleist, “Ein Indonesischer des 17 Jahrhunderts in Sudafrika: Zwei Sendschreiben des Scheichs Yusuf Makassar.” (Tesis MA, tidak diterbitkan).

Ada pula Kapstadt: Albert-Ludwigs-Universitat, 1986, Suleman Essop Dangor, Syaikh Yusuf, Durban: Kat Bros, 1982; H.A. Massiara, Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka dari Gowa, Jakarta: Yayasan Lakipadada, 1983; I.D. du Plessis, Sjeg Joesoef, Kaapstad: Nationale Bookhandel, 1970.

Penulis dengan latar belakang Potret/Lukisan Syaikh Yusuf al-Maqassari di Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dengan latar belakang Lukisan Syaikh Yusuf al-Maqassari di Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Ada penelitian terbaru, sayang tidak terpublikasi luas.  Beberapa diantara kajian akademik itu malah tidak diterbitkan, salah satu contohnya adalah karya Nabilah Lubis, Zubdat al-Asrar fi Tahqiq ba’d Masyarib al-Akhyar Karya Syekh Yusuf al-Taj: Sebuah Kajian Filologi (Disertasi Doktor, UIN Syarif Hidayatullah, 1992).

Syeikh Yusuf al-Maqassari sendiri, menurut P.Voohoeve dan Tudjimah yang telah meneliti tentang Karya-karya Syekh Yusuf, ditemukan dalam berbagai perpustakaan dan di kalangan para pewarisnya di Tanah Bugis Makassar, ada sekitar 37 karya, kesemuanya ditulis dalam Bahasa Arab.

Diantara karya tulis Syekh Yusuf al-Maqassari tersebut ialah: Al-Barakat al-Sailaniyyah, Bidayat al-Mubtadi, Al-Fawaih al-Yusufiyyah fi Bayan Tahqiq al-Shufiyyah, Hasyiyyah fi Kitab al-Ambah fi I’rab La Ilaha illa Allah, Kaifiyyah al-Nafy wa-al Itsbat bi al-Hadits al-Qudsi, Mathalib al-Salikin, Al-Nafahat al-Sailaniyyah, Qurrat al-‘Ain, Sirr al-Asrar, Taj al-Asrar fi Tahqiq Masyarib al-‘Arifin, dan karya lainnya.

Hal ini belum termasuk tentang Sejarah dan Latar belakang pendirian beberapa Tarekat yang dipelajari Syekh Yusuf al-Maqassari dari berbagai guru/masyaikh dan disebarkannya pula di berbagai daerah dalam jelajah dakwahnya, diantaranya Tarekat Naqshabandiyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Ba’alawiyyah, dan Tarekat Syaththariyyah.

Koleksi buku Penulis tentang Syekh Yusuf. (foto: ist/palontaraq)

Koleksi buku milik Penulis (Pustaka Palontaraq) tentang Syekh Yusuf. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: MoncongLoE, Negeri Asal Ibunda Syekh Yusuf al-Maqassary

Tak berbilang guru tempatnya belajar dan mengembangkan Tarekat. Kesemuanya menarik untuk ditelusuri dan dikaji, suatu fenomena keilmuan yang sangat dahsyat, termasuk jika menyimak pribadi Syekh Yusuf sendiri yang tidak meninggalkan jihad melawan Penjajah Belanda, pada saat yang sama tetap tekun mengembangkan dakwah dan dunia sufistik yang diakrabinya.

Banyak sekali kajian dan hasil penelitian tentang Syekh Yusuf, tersebar serampangan dan seperti tak ada upaya pengumpulan. Meski itu berat, perlu waktu dan perjuangan, namun kerja-kerja penyelamatan sejarah dan ajaran Syekh Yusuf itu tetap perlu dilakukan.

Penulis, dan tentu kita semua, berharap Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Gowa dapat memulai upaya ini, Pendirian Perpustakaan dan Museum Syekh Yusuf al-Maqassari, dengan pelibatan dan kerjasama Perguruan Tinggi,  Perpustakaan Nasional, serta berbagai stake-holder terkait lainnya. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response