Menikmati Wisata Alam “Bantimurung”

Air terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Air terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Tracing the Prehistoric Trail in Sumpang Bita Pangkep

PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak mengenal kawasan wisata alam Bantimurung di Maros? Rasa-rasanya, destinasi wisata ini merupakan wisata pertama dan favorit rekreasi di era Tahun 90-an, pada saat semua kabupaten di Sulsel belum mengeksplorasi dan mengembangkan daerahnya sebagai daerah tujuan wisata.

Menilik perjalanan sejarahnya, Bantimurung memang menyimpan pesona dan kebahagiaan tersendiri saat mengunjunginya. Bisa bermain air dibawah gemerisik air terjun yang dingin dan menyegarkan, dengan alam yang teduh dan pepohonan rindang dalam kawasan hutan sekitarnya.

Kawasan Bantimurung juga masuk dalam kawasan hutan konservasi alam dan sejarah, di dalamnya hidup ratusan jenis kupu-kupu serta artefak sejarah dalam gua (leang prasejarah), yang merupakan bukti jejak kehidupan Towala (Manusia Gua) di tempat itu.

Keterkenalan Bantimurung sebenarnya sudah dimulai sejak masa Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669), saat Regency (Kabupaten) Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda. Ketika itu, wilayah Kerajaan Maros ditetapkan sebagai  Regentschaap, dengan dipimpin penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati).

Air Terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Air Terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di bebatuan cadas dekat sungai yang mengalirkan air dari Ari Terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di bebatuan cadas dekat sungai yang mengalirkan air dari Ari Terjun Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Pangkep Masa Lampau Berkilauan Emas

Asal Usul Kata “Bantimurung”

Dalam perjalanan sejarahnya,  Maros ditetapkan sebagai Distrik Adat Gemenschaap, dibawah kekuasaan seorang kepala distrik yang dipilih dan diangkat dari bangsawan lokal bergelar Karaeng, Arung atau Gallarang.

Kerajaan Simbang merupakan salah satu Distrik Adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah Kerajaan Maros.  Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa menjadi Karaeng Simbang dan dibawah kekuasaannya, dilakukan banyak penataan dan pembangunan di wilayahnya.

Salah satu program Karaeng Patahoeddin Daeng Paroempa adalah pembangunan jalan lintas kerajaan agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah sekitarnya menjadi lancar.  Pembuatan jalan lintas tersebut  membelah daerah hutan belantara dan pada saat pengerjaannya terdengarnya bunyi menderu dari dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.

Ketika itu,  para pekerja disuruh untuk menghentikan sementara pekerjaan pembuatan jalan dan menyelidiki asal suara gemuruh tersebut. Karaeng Simbang  memerintahkan  pegawai kerajaan untuk masuk ke dalam hutan memeriksa asal suara itu.

Usai memeriksa dan sang pegawai kerajaan itu datang melapor, Karaeng Simbang lalu bertanya,  “Aga ro merrung?” (Bahasa Bugis: suara apa itu yang bergemuruh?)

“Benti, Puang,“ (Air, Tuanku), jawab sang pegawai tadi.

“Benti”, adalah Bahasa Bugis halus atau tingkat tinggi untuk air. Kosa kata seperti ini biasanya diucapkan oleh seorang hamba atau rakyat jelata ketika bertutur dengan kaum bangsawan.

Penulis dalam KWA Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dalam KWA Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Souvenir, Kupu-kupu yang diawetkan dalam KWA Mattampa. (foto: ist/palontaraq)

Souvenir yang dijual, Kupu-kupu yang diawetkan dalam KWA Mattampa. (foto: ist/palontaraq)

Mendengar laporan tersebut, Karaeng Simbang penasaran dan berkenan melihat langsung asal sumber suara gemuruh dimaksud. Sesampainya di tempat asal suara, ia  takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung.

Karaeng Simbang lalu berujar, “Makessingi kapang narekko iyae onroangngnge diasengi Benti Merrung!“ (Bugis: Mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh).

Berawal dari kata Bentimerrung inilah lambat laun mendapatkan penyesuaian dan penyempurnaan pengucapan menjadi Bantimurung.

Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan lintas tidak dilanjutkan ketika itu. Malah, daerah di sekitar air terjun tersebut dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang, dengan dikepalai seorang kepala kampung bergelar Pinati Bantimurung.

Lihat pula:  Legenda Tobarani dari Tanralili: Karaeng Tallua ri Marusu’

Kawasan Wisata Alam Bantimurung

Saat ini, Bantimurung menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Maros, begitu pula Simbang. Sedangkan air terjun Bantimurung menjadi kawasan wisata alam yang ramai dikunjungi, bukan cuma oleh Orang Maros, tapi dari berbagai daerah.

Pintu masuk dan parkiran sebelum masuk Kawasan Wisata Alam Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Pintu masuk dan parkiran sebelum masuk Kawasan Wisata Alam Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Wisata Alam Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Wisata Alam Bantimurung. (foto: ist/palontaraq)

Butterfly Museum dalam KWA Bantimurung, Maros. (foto: ist/palontaraq)

Butterfly Museum dalam KWA Bantimurung, Maros. (foto: ist/palontaraq)

Air terjun Bantimurung ini memiliki ketinggian sekitar 30 meter dari permukaan tanah dengan lebar 15 meter, tetap mengalir deras sepanjang tahun menuju aliran sungai terdekat dan hamparan sawah pertanian.  Kawasan ini penuh dengan tepian bebatuan dan  tebing terjal, danau, serta hawa sejuknya menjadikannya destinasi studi wisata dan rekreasi keluarga yang asyik dan menenangkan.

Bantimurung dikenal luas sebagai “The Kingdom of Butterfly”, seperti julukan yang diberikan oleh Alfred Russel Wallace (1857) karena keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupunya. Di wilayah ini terdapat juga lokasi penangkaran Taman Kupu-kupu yang sekaligus jadi wahana pendidikan konservasi bagi pelajar, peneliti, dan masyarakat umum.

Hulu sungai di Kawasan Wisata Bantimurung berhulu di danau Kassi Kebo yang dikelilingi tebing terjal. Di dekat danau terdapat gua batu yang meyajikan juntaian stalagtit dan tonjolan stalagmit serta keindahan ornamen gua lainnya. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response