Janji dan Sumpah Setia Mengangkat Raja

Prosesi Angngaru, ikrar dan sumpah setia kepada Pemimpin. (foto: ist/palontaraq)

Prosesi Angngaru, ikrar dan sumpah setia kepada Pemimpin. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Lihat pula:  Agreement (Ulu AdaE) in the History of South Sulawesi

PALONTARAQ.ID – DALAM Sejarah Sulawesi Selatan, janji dan Sumpah setia rakyat yang diwakili oleh para pemimpin kaum, atau kepala kampung  dengan Tomanurung dianggap sebagai peletak dasar ”yang demokratis” berdirinya Kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Artinya, keterpilihan Tomanurung dianggap sesuai keinginan besar rakyat ketika itu.

Hampir semua penulis sejarah sepakat, baik sejarawan lokal maupun sejarawan Barat, mengenai perkembangan situasi daerah yang seragam—masa kekacauan, krisis pangan dan perang saudara yang dikenal sebagai ”sianre balei taue’—sebelum masa kemunculan To-manurung (TomanurungE).

Salah satu cerita yang bersumber dari Lontaraq itu, meriwayatkan kondisi Tanah Gowa pada masa sebelum hadirnya Tumanurung, senantiasa dilanda perang saudara antara Gowa bagian utara dengan Gowa bagian selatan seberang Sungai Jeneberang.

Ketika itu Paccalayya sebagai Ketua Federasi diantara sembilan Kasuwiang (Kasuwiang yang dimaksud disini adalah para pemimpin kaum yang memiliki wilayah, pusaka, wewenang, adat, dan pemerintahan sendiri) tidak dapat mengatasi peperangan tersebut.

Hal ini disebabkan karena Paccalayya hanya berfungsi sebagai lambang yang tidak memiliki pengaruh kuat pada anggota persekutuan yang masing-masing mempunyai hak otonom.

Oleh karenanya, perang saudara atau perang antar kaum seringkali terjadi dan terus terjadi, sampai bersepakatnya mereka mengakhiri konflik dan perang itu dengan mengambil pihak ketiga untuk memimpin mereka, tak lain pihak ketiga itu adalah Tomanurung.

Tomanurung dipercaya memiliki kemampuan kepemimpinan dan wibawa diatas para pemimpin kaum.  Tomanurunglah yang dianggap sosok pemimpin berwibawa untuk mengatasi masalah mereka.

Lihat pula: Demokrasi yang Merana: Terabaikannya Nilai-nilai Lokal dalam Pengembangan Demokrasi di Indonesia (2)

Hal yang sama terjadi pula di Tanah Bone. Kronik Bone memulai cerita kerajaannya tepat diakhir cerita I La Galigo yang menjelaskan masa sebelum datangnya Tomanurung sebagai masa kekacauan dan perang saudara yang berlangsung selama tujuh generasi.

Nanti setelah To-manurungE, menjadi penguasa di Bone, barulah ketertiban dapat ditegakkan. Ditetapkannya penguasa Tomanurung di Bone diikuti dengan pembentukan Dewan Penasehat, Aruppitu (Tujuh Penguasa), yang terdiri dari pemimpin dari tujuh komunitas.

Cerita yang sama, berkembang pula di Tana Soppeng, Semula daerah ini dipimpin oleh 60 Matowa (Dewan Adat), yang dipimpin Arung Bila. Namun selama 7 (tujuh) tahun lamanya masyarakat Soppeng dilanda krisis pangan akibat kemarau panjang dan masa kekacauan yang seakan tiada hentinya.

Saat terjadinya krisis tersebut maka muncullah seorang Tomanurung di Sekkanyili’ bernama Latemmamala (ManurungE’ ri Sekkanyili’) yang kemudian hari diangkat sebagai Datu Pertama Soppeng, berdasarkan kesepakatan ”kontrak politik” antara Para Matowa (sebagai refresentasi rakyat) dengan To-ManurungE (sebagai refresentasi Tuhan diatas muka bumi ini).

Tumanurunga ri Tamalate

Diriwayatkan bahwa pada masa sebelum hadir Tumanurunga ri Butta Gowa, ketika itu Gowa berbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang mengikatkan diri dalam bentuk persekutuan (bobdgenoot) atau pemerintahan gabungan (federasi) dibawah pengawasan Paccallaya (ketua Dewan hadat Pemisah).

Kesembilan Kasuwiang (mungkin juga lebih jumlahnya), disebut juga Kasuwiang Salapanga (sembilan kelompok kaum) yang mewakili persekutuan itu, yaitu Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Samatta, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero.

Lihat pula: Menelaah Makna Kata “Kasuwiang”

Diriwayatkan suatu saat terdengarlah berita oleh Paccallaya bahwa ada seorang puteri yang turun diatas bukit Tamalate tepatnya di Takabassia.

Dalam saat penantian, tersebutlah bahwa orang – orang yang berada di Bontobiraeng melihat sesuatu di sebelah utara seberkas cahaya diatas bergerak perlahan – lahan turun ke bawah, ternyata menuju Takabassia, tepatnya persis diatas sebuah bongkahan batu perbukitan.

Kejadian ini dengan cepat diketahui Gallarang Mangasa dan Tombolok yang memang diserahi tugas mencari tokoh yang bisa menjadi pemersatu kaum dalam persekutuan Butta Gowa.

Paccalayya bersama keembilan Kasuwiang Salapanga bergegas ke Takabassia. Mereka duduk mengelilingi cahaya tersebut sambil bertafakkur dan serta merta dari cahaya tersebut menjelma wujud manusia, seorang wanita cantik menakjubkan dengan memakai pakaian kebesaran yang mengagumkan.

Kasuwiang Salapanga dan Paccallaya tak mengetahui nama dari puiteri ratu tersebut sehingga diberinya nama orang (wanita) yang menjelma yang turun dari atas dan tidak diketahui asal usulnya.

Paccallaya dan Kasuwiang Salapanga kemudian bersepakat menjadikan Tumanurung sebagai rajanya dan memberitahukan kejadian penting ini pada Orang-orang yang berperang agar menghentikan pertempuran. Sebagai wakil seluruh kaum yang berkumpul di tempat itu.

Paccalayya kemudian mendekati Tumanurunga dan bersembah, ”Sombangku!” (makassar: Rajaku, yang saya sembah!), kami datang semua ke hadapan sombangku, kiranya Sombangku sudi menetap di negeri kami dan Sombangkulah yang merajai kami.”

Permohonan Paccalayya pun dikabulkan oleh Tumanurunga, kemudian Paccallaya bangkit dan berseru kepada porang banyak yang hadir di tempat itu. ”Sombai Karaengnu tu Gowa!”  (Sembahlah rajamu hai orang Gowa).

Maka gemuruhlah suara orang banyak berikrar, ”Sombangku” (Lihat: HD Mangemba, Gowa Mencari hari Jadinya, Makalah Seminar Hari Jadi Gowa, 10 – 11 September 1990). Mungkin sejak itulah bermula nama Gowa dipergunakan secara resmi sebagai sebutan bagi rakyat dan kerajaan Gowa.

Lihat pula:  Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan

TomanurungE ri Sekkanyili’

Soppeng pada zaman dahulu, merupakan suatu kerajaan yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1300. Semula kerajaan ini terdiri dari 60 Matowa (Dewan Adat), yang dipimpin Arung Bila.

Namun selama tujuh tahun lamanya masyarakat Soppeng dilanda krisis pangan akibat kemarau panjang. Saat terjadinya krisis tersebut maka muncullah seorang Tomanurung di Sekkanyili’ bernama Latemmamala.

Berdasarkan hasil musyawarah antara ke-60 Matowa dengan To-manurung, maka mereka bermufakat untuk mengangkat Latemmalala ManurungE’ ri Sekkanyili’ sebagai Raja (Datu) Pertama Soppeng.

Kedatangan To-manurung di Soppeng dapat dibaca dalam kutipan Lontara berikut:

“Ianae sure’ poada-adaenngi tanaE ri Soppeng. Nawelainna Sewo, Gattaraeng. No’ni mabbanua tauwe ri Soppeng naia TosewoE iana riaseng to-Soppeng riaja. Ia togattarengE iana poaseng Soppeng riLau.

Agana enneppulona matoa Soppeng ri Lau Soppeng ri Aja. Nae napadduwani alena To-SoppengngE . . . . . Nade’na Puwanna.

Naiamani matowaE ennennge-pulona paoto’ palewui tanaE. Namanurunna petta ri Sekkanyili’. Napaissenna matoa Tinco. Jennang Pesse. Angkanna matoa padduisenngE To Soppeng Riaja. Napoadanni matoa Ujung. Matoa Botto. Matoa Bila.

Makkaedae engkaro Manurung ri Sekkanyili. Nae makkedai matoa Biila. Matoa Botto. Matoa Ujung.

Madecenngi tapaissengi padduisenna Soppeng Rilau. Matoa Salotungo. Nakadoi padduiseng riaja. Nassiturusini suroE tampaiwi. Puraikkua engkani matoa padduiseng rilauE.

Makkedae matowa Soppeng Riaja. Engka To-manurung ri Sekkanyili’. Napokku are’ sosso tanngamu. Makkedai matoa Soppeng Rilau. Madecenngi lao takkarenngi ale. Sarekumamaseammi puwanngE. Naia ‘dongiri’ temmatipa’I Mpawai rim awe rimabela. Namauna pattarommeng nateaiwi. Tateai toi. Puraikuwa. Lokkani matowaE ennennge-pulona.

Makkedani matowa Ujung. Matoa Bila. Matoa Botto. Ia kiengkang maie lamarupeE maelokkeng muamaseang. Aja’na muallajang. Naikona kipopuang. Mudongiri temmatipa’keng. Musalipuri temmadingikkeng. Naikona puwakkeng rim awe rimabelaE. Namauna pattarommeng. Muteaiwi kiteai mutonisa.

Mekkedani petta manurungngE ri Sekkanyili’. Temmubaleccoreppa’. Temna. Petta ManurungngE ri Sekkanyili’.

Makkedatopi petnang. Engkatotu sapposisekku manurung ri Libureng. Madecengi muliburingale iko to SoppengngE. Kudua sapparekko deceng mennang.

Naia datu soppeng rilau Naia Datu Soppeng Riaja. Mupasituru tanngamu lao mualai. Purai ‘kua lokkani matoaE ennengE-pulona. Lattu ri Libureng kuwa riasennge ri GowariE. Napoleini To-manurungngE tudang ri balubu na’depparie.

Makkedani Matoa Ujung. Matoa Bila. Matoa Botto. Lanamai kiengkang lamarupe’E maelokkeng muamaseang. Aja’na muallajang. Na-iko kipopuang. Mudongiri temmatipa’keng.

Musalipuri temmadingikkeng. Muwessei tammakapakkeng. Naiko puwakkeng rim awe ri mabelaE. Namau nanammeng napattarommeng muteaiwi. Kiteai matonisia.

Makkedai manurungngE ri GowariE. Temmu baleccoreppa’. Temmuadduan-nawa-nawapa’ Sikadonni adaewe. Ianaro riaseng akkulua-dangenna To-SoppengngE napuppunna lattu ri torimunrinna DatuE ri Soppeng nato ri munrinna to SoppengngE. Makkoniro ammulanna madua Datu ri Soppeng.

(Sumber: Lontara Soppeng, Salinan A Pategai 4-1-23 Hal. 152 – 153).

Artinya (terjemahan bebas) :

Inilah kitab yang menceritakan tentang Tana Soppeng ketika penduduk meninggalkan Sewo dan Gattaeng. Syahdan, maka turunlah penduduk untuk bermukim di Soppeng.

Adapun Orang-orang yang datang dari Sewo disebut orang Soppeng Riaja, sedangkan mereka yang dating dari Gattareng disebut orang Soppeng Rilau.

Demikian terbagi dualah orang Soppeng pada waktu itu, tanpa ada raja sebagai penguasa. Hanya terdapat sebanyak 60 tetua/pemimpin untuk kedua wilayah daerah,  Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau  tersebut.

Para ketua itulah yang mengayomi negeri Soppeng sampai datangnya paduka Petta ManurungngE ri Sekkanyili’.

Ketika Matoa Tinco, jennang Pesse serta segenap matoa wilayah Persekutuan Soppeng Riaja mengetahui perihal datangnya seorang Tomanurung di daerah ri Sekkanyili’ segera disampaikannya hal tersebut kepada Matoa Ujung, Matoa Botto dan Matoa Bila, bahwa ada Tomanurung di Sekkanyili’.

Berkatalah Matoa Bila, Matoa Ujung dan Matoa Botto : Sebaiknya hal itu diberitahukan pula kepada Ketua Persekutuan Soppeng Rilau, yaitu Matoa Salotungo (perkataan ./ saran ketiga matoa tersebut) ternyata diiyakan oleh pada Ketua Persekutuan Soppeng Riaja, maka disepakatilah untuk mengundang mereka (Ketua-ketua Persekutuan Soppeng Rilau).

Setelah itu pada datanglah semua ketua persekutuan Soppeng Rilau, lalu berkatalah Ketua Soppeng Riaja, “Sebaiknya kita (para ketua – ketua persekutuan Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau) berdatang sembah. Semoga niat kita dirahmatinya.”

“Kiranya beliaulah yang berkenan memimpin dan mengayomi kita sekalian dalam segala hjal (dekat maupun jauh). Kendatipun ada putusan kita, tetapi tidak disukainya, maka kita pun akan tidak menyukainya.”

Setelah itu pergilah keenam puluh ketua tadi menemui TomanurungngE. Berkatalah Matoa Ujung, Matoa Bila dan Matoa Botto, “Bahwasanya kedatangan kami sekalian ini, tidak lain adalah untuk memohonkan rahmatmu.”

“Janganlah hendak nya Paduka kembali gaib (menghilang) ke kayangan.  Sudilah kiranya paduka mau menjadi raja kami, maka pimpin dan  bimbinglah kami kepada keselamatan dan kesejahteraan. Ayomilah kami semua dalam menghadapi setiap masalah.”

“Padukalah raja (yang berkuasa) atas diri kami dalam segala hal. Kalaupun ada putusan / pendapat kami, namun paduka tidak berkenan menyetujuinya, maka kami pun tidak akan mempertahankannya lagi.”

Berkatalah Paduka TomanurungngE ri Sekkanyili’, “Hanya apabila engkau semua tidak mengkhianati diriku, hanya apabila engkau semua tidak mengsyerikatkan aku”.

Syahdan maka bersepakatlah antara Paduka yang mulia TomanurungngE ri Sekkanyili’ dengan keenampuluh matoa. Berkata pula Paduka TomanurungngE, “Kusampaikan pula kepadamu sekalian.  Ada pula saudara misanku, sepupu sekali yang turun (manurung) di Libureng.”

“Lebih baik engkau bermufakat bersatu pendapat, agar kami berdualah yang mencarikan jalan kebaikan untukmu semua. Dialah (ManurungngE ri Libureng sebagai Raja/Datu Soppeng Rilau dan aku Datu di Soppeng Riaja). Bersepakatlah engkau semua dan jemputlah ia.”

Setelah itu berangkatlah keenam puluh matowa tadi, untuk menemui dan menjemput TomanurungngE ri Libureng, di suatu tempat yang dinamakan GoawiE.

Syahdan, maka diketemukanlah sang Tomanurung (manurungngE ri GoariE/Libureng) sedang duduk diatas gucinya. Berkatalah Matoa Ujung, Matoa Bila dan Matoa Botto, “Bahwasanya kedatngan kami semua kemari ini, adalah untuk semata-mata memohonkan rahmatmu.”

“Janganlah hendaknya paduka kembali ghaib (menghilang) ke kayangan. Padukalah yang kiranya kami pertuan, untuk memimpin kami kepada jalan keselamatan dan kesejahteraan, mengayomi dan melindungi kami semua dari segala marabahaya, mempersatukan kami secara ketat dan penuh berkah.”

“Engkaulah raja, penguasa kami dalam segala hal. Kalaupun ada anak keturunan kami, putusan kami yang engkau tidak sukai/kehendaki maka kami pun rela untuk tidak menyukainya.”

Berucap ManurungngE ri GoariE, “Bahwasanya apabila engkau semua tidak khianat, hanya saja kalau engkau semua tidak menyerikatkan aku.”

Syahdan, disepakatilah ikrar tersebut. Itulah yang dinamakan janji setia antara orang Soppeng, hal mana berkelanjutan secara turun temurun sampai kepada anak keturunan kedua belah pihak. Demikianlah asal muasalnya sehingga ada dua raja/datu di Tana Soppeng”. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response