Cerita Rakyat Putri Sallatanna Belang-belang di Maros

Putri Sallatangna Belang-belang (ilustrasi)

Putri Sallatangna Belang-belang (ilustrasi)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Lihat pula:  Karaeng Loe ri Pakere, Raja Pertama di Maros

PALONTARAQ.ID – Alkisah  tersebutlah seorang saudara raja dari Kerajaan Gowa, bernama I Baso Mangnguluan Daeng Mangemba Karaengta Mangkasara, meninggalkan istana karena sedih, dirundung galau, sumpek dengan kehidupan serba dipertuan dan dilayani,  hingga meninggalkan Balla Lompoa (istana) di Sombaopu.

Bersama istri dan anak tunggalnya, dan diikuti beberapa hamba dan pengikut setia berlayar ke arah utara. Tiba di sebuah muara sungai, mereka naik kedarat untuk beristirahat sebentar, dinamailah  kampung itu Panaikang.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan  menyusuri sungai.  Seorang dari hambanya mengambil beras untuk ditampi, tempat beras itu disebut balase. Antah beras yang sudah ditampi beras lalu dibuang ke darat pinggir sungai, dinamailah Kampung Balaese, yang lama kelamaan diubah namanya menjadi Kampung Balosi.

Antah beras yang terus terbuang tumbuh bernama Ase Lapang. Padi Ase Lapang yang tumbuh di Balosi sangat enak dan gurih, apalagi kalau lauknya ikan bolu dari Lamma.

Suatu waktu perahu berlabuh di suatu labuhan yang banyak orang sedang menjahit bilah-bilah bambu sebagai alat penangkap ikan. Dinamailah kampung labuhan itu Panjallingan.

Setelah turun dari perahu, perjalanan mereka dilanjutkan dengan berjalan kaki kearah timur sampai tiba pada sebuah kampung yang sekelilingnya terhampar sawah yang sangat luas. Mereka disambut Tari Passoloreng oleh pembuka dan pendiri hunian tersebut, Ince Yaddoco.

I Baso Mangnguluan dipersilahkan menanam batu hitam pada empat sudut kampung, yang mana kampung itu sekarang dinamai Belang-belang.

Anak tunggal  I Baso Mangnguluan, Sitti Ara Daeng Kebo’ kemudian digelari  Sallatangna Belang-belang. Kecantikannya tersohor kemana-mana, sampai akhirnya sampai ke telinga Karaeng Gowa yang ternyata adalah anak saudaranya sendiri.

Karaeng Gowa lalu mengirim Mangkubumi melamar putri Sallatanna Belang-belang untuk putra makhota. Utusan tersebut berangkat lewat jalan darat dengan menunggang kuda melalu Tallo, Bira, Marusu, sampai akhirnya tiba di Belang-belang.

Pinangan diterima dengan syarat sang putri jalan di pundak orang-orang dan putra mahkota harus datang terlebih dahulu menemui putri Sallatanna Belang-belang.

Maka dikirimlah ribuan pekerja untuk manggali anak sungai mulai dari ujung Sungai Marana  sampai di Belang-belang caddi’, anak Sungai Marana. Namun Tiba-tiba Putri Sallatanna Belang-belang wafat, maka penggalian itupun dihentikan.

Adapun putra mahkota telah berlayar dari istana Somba Opu kemudian singgah di sebuah kampung di pinggir laut. Putra mahkota duduk diatas sebuah batu cadas sambil merenungkan rindu pada calon istrinya. Tempat itu lalu disebut Kuring, lalu menjadi Kuri’ sesuai dialek masyarakat setempat.

Pada saat putra mahkota Gowa itu berada di Kuri, bersamaan itu pula tibalah utusan dari Belang-belang mengabarkan bahwa sebenarnya  Putri Sallatanna Belang-belang telah wafat.

Betapa kaget dan sedih Putra mahkota. Raut wajahnya kehilangan cahaya, matanya berbinar menerawang, tak jelas akan kemana, menumpahkan hati yang terlanjur bercampur rindu mendalam. Pupus sudah harapannya menyunting dan membawa sang putri idaman ke Istana Gowa.   “Irikko Anging, Anging Sallatangna Belang-belang”. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response