Beranda Sosial Budaya Bahasa Daerah Menelaah Makna Kata "Kasiwiang"

Menelaah Makna Kata “Kasiwiang”

Fragmen Perang Makassar (1667)
Ilustrasi – Fragmen Perang Makassar (1667)

Oleh: M. Farid W Makkulau 1)

Tulisan Sebelumnya: Pusat Kekuasaan Kerajaan Makassar: ‘Pocci Butta’

PALONTARAQ.ID – Siapapun yang pernah membaca dengan serius buku, “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep” (Infokom, 2015; 2017) pasti akan menemukan satu kata ‘kasiwiang’ atau ‘kasiwiyang’ yang merujuk kepada asal muasal pengambilan nama kerajaan “Siang”.

Kerajaan Siang merupakan satu kerajaan kuna yang pernah ada, berkembang, mengalami puncak kejayaan, sampai akhirnya tenggelam dalam kesejarahannya, berpusat di SengkaE. (masuk wilayah Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep saat ini) 2)

Kerajaan Siang diyakini sebagai Kerajaan Makassar pertama di semenanjung barat jazirah Sulawesi, sezaman dengan Kerajaan Luu’ atau Luwu sebagai Kerajaan Bugis di semenanjung timur jazirah Sulawesi Selatan. 3)

Tak hanya menjadi asal kata “Siang”, kata ‘kasiwiyang’ juga dikenal sebagai satu kesatuan ‘kasiwiyang’ yang membentuk Gowa (Kerajaan Gowa) yang dikenal dengan nama ‘kasiwiyang salapanga’ atau sembilan ‘kasiwiang’.

Apa sih sebenarnya arti dan makna dari ‘kasiwiang’ tersebut, dan dasar pemikiran orang dahulu (makassar: turiolo) menjadikannya penamaan satu pusat kekuasaan atau kerajaan.

Hal ini penulis anggap penting untuk dikemukakan, karena kata ini, kata ‘kasiwiang’ ini sudah sangat jarang juga diungkapkan sebagai kata atau ungkapan dalam Tutur Orang Makassar. Boleh jadi karena tidak dipahami arti dan makna yang sebenarnya.

Lihat pula: Mempopulerkan Sejarah dan Kebudayaan Pangkep

Kata ‘kasiwiang’ sebenarnya memiliki arti, yaitu ibadah; persembahan; dan pengabdian. Arti ‘kasiwiang’ yang dimaksud dalam dua hal, dua makna, yaitu secara fisik dan jiwa. Maksudnya adalah makkasiwiyang (kata kerja), beribadah secara fisik dan jiwa, melakukan persembahan secara fisik dan jiwa, dan mengabdi juga, secara fisik dan jiwa.

Jadi, ‘kasiwiyang’ yang sebenarnya adalah satu pengakuan atas atasan, bisa ditujukan kepada Dewata (Tuhan), bisa pula ditujukan kepada Batara (Raja), yang dengan pengakuan itu pihak bawahan (rakyat; hamba) melakukan ibadah, persembahan atau pengabdian secara totalitas (tunduk secara fisik dan jiwa).

Demikianlah Raja-rakyat ketika membangun hubungan kekuasaan dan pemerintahan, menuntut ‘kasiwiang’ sebagai wujud persembahan dan pengabdian, sebagaimana pula halnya dahulu orang belajar memaknai ‘makkasiwiang’, sebagai wujud ibadah dan ketundukan terhadap Dewata SeuwaE (Tuhan), yang dipraktekkan melalui banyak ritual dan upacara adat.

Penamaan “Siang” boleh jadi dimaksudkan Turiolo sebagai “pangngadakkang” (Bugis: pangngaderreng), untuk mengingatkan akan adat; perjanjian (Ulu Ada); keterikatan; sumpah antara satu dengan yang lainnya, dalam hubungan sosial, pemerintahan, dan kekuasaan, yang harus saling melengkapi.

Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ‘kasuwiang salapanga’, yang dimaknai sebagai sembilan pemimpin (yang masing-masing punya wilayah kekuasaan dan pemerintahan sendiri) bersepakat untuk menyatukan wilayah masing-masing untuk satu kekuasaan dan pemerintahan yang lebih besar.

Lihat pula: Barasa’: Kerajaan yang hanya Ada dalam Narasi Tutur

Di kemudian hari, dalam sejarah lokal, dikenal penyatuan ‘kasiwiang’ tersebut berujung pada terbentuknya satu kekuasaan yang lebih besar, sebuah negara bangsa, a nation state, a kingdom, sebuah kerajaan dibawah Tomanurung, pemimpin super power (sebagai Raja pertama), yang hadir kala itu.

Tumanurung (bugis: Tomanurung) akhirnya menjadi pemimpin tertinggi, penguasa puncak atas kesatuan ‘kasiwiang’, dan dalam banyak catatan Lontaraq Patturiolong, disebut mampu mengatasi kekacauan pada masa ‘sianre balei tauwwe’, suatu masa dimana situasi sosial politik yang tidak stabil dan hukum yang memakan dirinya sendiri.

Footnote:
1) Peneliti Sejarah dan Budaya Bugis Makassar, Menulis buku, “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Manusia Bissu, Sejarah Kekaraengan Bontoa di Maros (Editor), dan lainnya.

2) Lihat:  Pelras (1975) dan Andaya (1981) dalam Makkulau, M. Farid W (2015; 2017)

3) Lihat: Andaya (1981) dalam Fadhillah,et.al (2001)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...