Besi Luwu menurut Pandangan Penutur Bicara To Ugi

Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi – Monumen Kawali (Besi Luwu) dengan motto, “Toddopuli Temmalara.” (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – “Naiyya bessiE, engka Puengna, engkato parolana, naEkiya ulempulengngE, polEi ri langi’E appongengna, toto madEcEng natiwi”.

Artinya: Sesungguhnya besi itu, memiliki pertuanan, serta ada pula pengikutnya, namun adanya “ulempuleng” itu, datangnya dari langit asal muasalnya, takdir baiklah yang dibawanya.

Bertahun yang lalu, ayahanda kami menyatakan hal itu. Bahwa sesungguhnya bahkan  material logam yang ditempa menjadi senjata memiliki pranata (kasta?), sebagaimana halnya dalam kehidupan sosial manusia.

Adapun jenis logam yang menempati strata tertinggi, yaitu: Besi Luwu. Hal mana kemudian terbukti dari hasil penelitian para ahli Metalurgy bahwa kandungan metal Ferronikel yang ditambang di Danau Matano dan sekitarnya merupakan yang terbaik di dunia.

Kemahsyuran biji besi Matano yang ideal dijadikan bahan ramuan untuk menempa suatu senjata tajam, telah dikenal sampai di kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Mereka mengirim delegasi perdagangan untuk mendapatkan logam-logam bertuah itu ke wilayah timur kerajaan Luwu tersebut.

Terlebih pula dengan para “PanrE” (Mpu) kerajaan-kerajaan yang telah ada di Sulawesi Selatan, Barat, Tengah dan Tenggara, semuanya menjadikan Danau Matano sebagai destinasi utama untuk mendapatkan bahan ideal yang paling bernilai.

Maka dikenallah suatu ungkapan dalam syair Elong-KElong masyarakat Bugis diluar Luwu, yaitu:

“Iyapa mualai melle’ku
Saba’pi mukapangnga’
Rapangna wessi Luwu”

Artinya:
Nantilah jua kau dapatkan kasih sayangku
Jikalau aku dalam anggapanmu
Bahwa aku ibaratnya bagai Besi Luwu bagimu.

Bahwa Besi Luwu adalah sesuatu yang bernilai karena diyakini keampuhan tuahnya. Terlebih pula karena letak tambang logam berharga itu adanya di Luwu Timur, tidak seberapa jauh dari  Malili dan Ussu’, Ibukota Luwu pertama dan titik pendaratan manusia pertama leluhur para Raja Luwu serta sebagian besar Raja Bugis di Sulawesi Selatan.

Olehnya itu, Besi Luwu disebutnya sebagai “Puengna BessiE” (Pertuanan Segala Besi). Tanpa bermaksud mengecilkan jenis besi lainnya yang beraneka ragam dari banyak tempat diluar wilayah Tana Luwu.

Uraian ini dihaturkan sebagai suatu kajian singkat tentang suatu pandangan (pendapat) yang semoga  menjadi referensi saling berbagi wawasan bagi kita bersama. Kiranya kepada Allah SWT jua dimuarakan segala benar dan khilaf didalamnya.

Bahwa pandangan ini ada yang meyakininya hingga melampaui berlapis-lapis zaman dengan mewasiatkan dalam bentuk narasi tulisan kepada anak turunannya, termasuk leluhur penulis uraian ini.

Selanjutnya Almarhum H. Abdul Rauf Matoa TokaddE (wafat pada tahun 1993) menyatakan bahwa “Bangkung Luwu” (segala jenis senjata Luwu) adalah “Bangkung Salama’” (senjata yang selamat).

Selanjutnya menurut putera bungsu H.Pattola Matoa MacEro itu adalah antara lain disebabkan karena kandungan besi yang ditempa menjadi senjata pusaka itu adalah mengandung unsur Besi Luwu yang disebut sebagai “Puenna BessiE” (tuan segala jenis logam).

Bahwa tak mungkinlah “Puenna BessiE” terbunuh oleh para kawulanya (jenis besi lain ?). Maka kerap didengar pada banyak peristiwa bahwa tatkala 2 orang sedang berhadap-hadapan dengan saling menumpukkan sebelah lutut satu sama lainnnya dalam arena “sigajang” (duel badik).

Dari peristiwa “Sigajang”, jika salah seorang diantaranya kesulitan menghunus badiknya. Bilah senjatanya seakan lengket dengan warangkanya dari dalam.

Tak lain penyebabnya karena badik miliknya itu tidak mengandung besi Luwu sama sekali, meski cuma secuil. Sementara lawannya membawa badik berbahan besi Luwu. Kawula enggan berhadapan dengan pertuanannya.

Maka yang manakah dimaksud “Bangkung Luwu”? Dalam suatu kesempatan perbincangan dengan Wa’ Betta yakni seorang pembuat warangka di Lancirang (Sidrap), beliau menyatakan bahwa semua senjata yang berbahan Bessi Luwu adalah dikategorikan sebagai Bangkung Luwu.

Meskipun itu bentuknya adalah Toasi, GEcong, Raja, Tappi hingga De’dE’ TaEng, jikalau menggunakan bahan Besi Luwu, maka disebutnya sebagai Bangkung Luwu.

Sebaliknya, meskipun “rette’na” (bentuk/model) adalah “Luwu” dengan “ure’” (pamor) Luwu pula, jika tidak menggunakan bahan Bessi Luwu, tetap jua tidak dianggapnya sebagai “Bangkung Luwu”.

Paling banter jika mendapati jenis senjata seperti itu, disebutnya “Bangkung Rette’ Luwu” (senjata model Luwu), sebagaimana ada yang menyebutnya pula sebagai “Laca Luwu”.

Selanjutnya uraian kita kali ini tiba pada hal yang menyangkut “ulempuleng”, yakni sejenis noktah logam putih yang kurang pada umumnya lebih sebesar butiran gula pasir, melengket timbul pada permukaan bilah senjata.

Bahwa jenis logam ini dinyatakan jikalau datangnya dari “langit”, disebabkan ia muncul begitu saja dengan tanpa disengaja. Ia bisa ada sejak bilah itu ditempa atau keberadaannya nanti diketahui setelah permukaan bilah itu tergerus sekian lama oleh bilasan air jeruk.

Kemudian ulempuleng ini tidak mutlak berada pada bilah berbahan besi Luwu, melainkan ia bisa berada pada segala jenis besi, termasuk pada bahan “malEla” (besi hitam legam).

Bahkan menurut penuturan saudara ipar kami (Almarhum H. Andi Tangsi AS), bahwa suatu ulempuleng yang terkenal menjadi simpanan seorang saudagar tembakau di CabbEngngE (Soppeng) justru tumbuhnya secara misterius pada sebatang paku.

Hal mana kemudian dibuktikan oleh penulis tatkala mendapati ulempuleng pada bilah Kawali GEcong yang baru ditempa dari bahan besi jembatan tua.

Ulempuleng adalah anugerah pertanda dari Tuhan sendiri. Keberadaannya bukan dari ikhtiar manusia, melainkan takdir yang dicurahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Olehnya itu, berdasarkan posisi keberadaannya pada sebilah senjata tidak selalu bermakna baik, melainkan ada pula menjadi pertanda sial, berdasarkan hakekat takdir yang terdiri dari 2, yaitu: takdir baik dan takdir buruk.

Sebagai misal adalah pendapat berdasarkan sebagian kalangan, bahwa jika ulempuleng terletak pada ujung lancip bilah senjata, itu adalah pertanda buruk. Siapapun yang membawanya akan pendek umur (maponco’ sunge’). Sementara ada pula yang berpendapat sebaliknya, bahwa barangsiapa yang membawanya justru akan menjadi kaya raya.

Adapun takdir baik yang dibawa oleh ulempuleng pada bilah senjata, hampir semuanya sepakat jikalau ia terletak pada pangkal bilah, sehingga disebutnya sebagai “Ulempuleng Naporo’ Dama” (ulempuleng yang disembur damar).

Khasiatnya bermacam-macam menurut ragam pendapat. Ada yang menyatakan jika pemiliknya senantiasa hidup berkecukupan dan ada pula yang mengatakan bahwa pemiliknya takkan dapat dicelakai oleh sesamanya mahluk ciptaan Allah (tennanrE pakkira-kira, tennalElEi uraga tolino).

Pada akhirnya, menutup uraian ini seyogyanya segal pendapat dan pandangan kita dikembalikan kebenarannya kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Bahwa apapun yang dapat diuraikan pada postingan ini tak lain adalah pendapat manusia yang tentunya tak terlepas dari fitrah doifnya belaka.

Manusia yang meskipun adalah mahluk paling sempurna dalam penciptaannya, tetap jua membutuhkan wasilah (sennu-sennureng) dalam mengikhtiarkan keselamatannya dalam kehidupan ini.

Bahwa logam bertuah yang disebut sebagai “bessi Luwu” tak lain adalah benda belaka. Bahkan agaknya tidak dapat disebut sebagai “mahluk”. Namun unsur alam yang dikandungnya dapat bermanfaat pada manusia.

Sebagaimana halnya manfaat unsur calcium pada susu hewani yang mendatangkan manfaat bagi manusia. Ataupun kandungan vitamin C pada buah jeruk juga bermanfaat untuk menjaga stamina.

Namun apa hubungannya “nasib keselamatan” yang “katanya” terkandung pada sebongkah besi Luwu dan “rezeki” dan “aura kepemimpinan” pada sebutir ulempuleng dengan manusia?

Maka jawabnya sama halnya manusia yang kekurangan Vitamin C, kulitnya kering dan bibirnya pecah-pecah serta staminanya menurun sehingga mudah terserang penyakit.

Jikalau ia banyak memakan buah-buahan yang banyak mengandung Vitamin C, kebutuhan tubuhnya pada Vitamin C akan terpenuhi sehingga kulitnya yang kering akan menjadi lembab kembali. Staminanya meningkat sehingga daya tahan tubuhnya sehat kembali. Insya Allah, ia akan “selamat” dengan stamina tubuh yang fit.

Namun alangkah kelirunya jika dinyatakan bahwa orang itu diselamatkan oleh Vitamin C yang terkandung pada sekantong jeruk orange. Melainkan ia sehat dan selamat disebabkan karena memakan jeruk ciptaan Allah SWT.

Namun sesungguhnya “salama’” (keselamatan) tidak dapat diartikan dalam 1 sisi belaka. Jikalau hanya diri kita yang selamat, namun berimbas luka ataupun mematikan orang lain, maka itupun tidak dapat disebut sebagai keselamatan.

Olehnya itu, leluhur oran Luwu mewasiatkan pesan kepada anak cucunya, “Nariyaseng dEcEng, narEkko madEcEngngi lao rialEta, napodEcEng parimeng To EgaE. Nariyaseng salama’, narEkko salama’i lao rialEta, naposalama’ manengngi ripadatta ripancaji” (Artinya: Disebut kebaikan, jikalau baik bagi diri kita, serta menjadi kebaikan pula bagi orang banyak.

Disebut sebagai keselamatan, jikalau selamat bagi diri sendiri, serta menjadi keselamatan pula bagi sesama ciptaan Tuhan). Sungguh merupakan suatu hidayah tersendiri tatkala mengetahui dan memahami bahwa kita berada dalam keaneka ragaman yang merupakan aset bangsa yang besar ini. Karena sesungguhnya kitapun tercipta oleh berkat dari perbedaan jenis ayah dan ibu kita tercinta.

Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response