Anjuran Mengonsumsi Garam

Kristal garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Kristal garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Nabi Muhammad Sholallohi ‘alaihi wassallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal apapun, termasuk dalam hal cara, tentang apa, bagaimana dan apa saja yang seharusnya dimakan (dikonsumsi).  Terkait sunnah makan, Nabi SAW pernah bersabda bahwa  “Sebaik-baik lauk adalah garam”  (Hadits Riwayat Al-Baihaqi).

Nampaknya hadits diatas sangat bertentangan dengan dunia medis saat ini yang mengatakan bahwa makan garam bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, dehidrasi, keropos tulang dan penyakit empedu, padahal Sunnah Rasulullah SAW yang seharusnya menjadi rujukan utama dalam kehidupan, termasuk dalam hal kesehatan.

Lihat pula: Trilogi Pengobatan Nabi

Di satu sisi, Hadits mengatakan bahwa sebaik-baik lauk adalah garam, disisi lain dunia medis menemukan bahwa mengonsumsi garam sangat berpotensi menyebabkan hipertensi dan penyakit lainnya. Padahal hal itu tidak akan terjadi jika mengetahui cara mengonsumsi garam secara benar.

Sesuai Sunnah Rasul, Garam bukanlah penyebab penyakit,  tapi malah obat yang paling mujarab seandainya digunakan dengan cara yang betul. Kuncinya adalah “GARAM TIDAK BOLEH DIMASAK!”

Garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Sekali lagi! Ingat bahwa garam tidak boleh dimasak! Umumnya kesalahan kita (kebanyakan orang  Indonesia) ialah memasak garam, dalam artian memasukkan garam ke dalam masakan ketika masakan sedang mendidih atau saat masih panas. Hal tersebut akan menyebabkan garam menjadi racun/toksik.

Lihat pula: Referensi penting Terapis:  Kitab Thibbun Nabawi

Jika garam dimasak dengan cara di atas, garam akan menyebabkannya ber-asid dan membahayakan kesehatan serta mengundang berbagai penyakit. Selain itu kandungan yodium pada garam juga akan hilang dengan percuma. Ingat bahwa Yodium sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita.

Begini cara yang betul penggunaan garam agar garam benar-benar menjadi obat, bukan jadi Penyakit. Masaklah makanan yang ingin dimasak sehingga selesai.  Contohnya: Sayur,  masukkan garam dalam masakan apabila makanan dan airnya sudah berangsur dingin atau dalam keadaan dingin. Ingat  makanan yang dimasak harus tanpa garam! Ingat tanpa garam!

Selagi makan, sediakan semangkuk garam dan taburkan di atas makanan yang ingin dimakan sesuai selera masing-masing. Garam adalah mineral bagi tubuh,  “Banyak amalan yang dilakukan oleh para Salafus soleh ialah dengan mengambil garam sebelum memulai makan”

Garam digunakan sebagai pembuka makan dengan mengambilnya dengan ujung jari dan dimasukkan ke mulut. INGAT GARAM ADALAH MINERAL!  Kelebihannya atau manfaatnya mengkonsumsi garam antara lain ialah:  Mengobati lebih dari 70 penyakit, antara lain Darah tinggi, Diabetes, Tulang keropos, Gondokan, Pusing sakit kepala, dan lain-lain serta tidak akan mengalami keadaan mati mendadak.

Lihat pula: Titik Sunnah Bekam

Berbagai penyakit yang disinyalir timbul akibat garam, seperti gejala jantung dan tekanan darah tinggi adalah akibat dari penggunaan garam yang salah karena menggunakannya sebagai bumbu masakan, padahal seharusnya sebagai pembuka makanan (beberapa biji), layaknya buah.

Garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Lauk terbaik adalah garam dan garam terbaik adalah Garam himalaya. (foto: ist/palontaraq)

Jadi kesimpulannya, yang benar adalah garam itu seharusnya adanya dimeja makan bukan didapur. Dan garam yang dianjurkan untuk dikonsumsi dan termasuk garam paling baik adalah garam himalaya.

Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response