Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

by Penulis Palontaraq | Selasa, Jun 4, 2019 | 92 views
Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – TAK terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Selama sebulan penuh berjuang menahan lapar, dahaga, dan nafsu, tentu semua muslim merasa bahagian menjumpai Hari Raya Idul Fitri.

Bersamaan dengan itu, usai pelaksanaan Shalat Idul Fitri, tentu kita akan disibukkan dengan silaturrahim dan saling bermaafan. Terkait dengan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan, “Minal Aidzin wal faidzin” yang umum diartikan, “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Ucapan ini sebenarnya bukan kesalahan, dan tidak terlarang, sebab tidak ada juga dalil larangannya. Asal ucapan “Minal Aidzin wal Faidzin” itu adalah berasal dari kalimat,  “ja’alanallah wa iyyakum minal ‘aaidin wal faaizin,” yang artinya Semoga Allah menjadikan kami dan anda termasuk orang yang kembali (suci) dan menang/beruntung.

Tidak ada yang salah dalam kalimat ini. Imam Asy Syafi’iy mengatakan, bahwa perkataan itu jika baik maka itu adalah baik, jika buruk maka itu adalah buruk.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

Artinya:

Ucapan selamat hari raya itu boleh, dan tidak ada kalimat yang khusus, tetapi disesuaikan dengan kebiasaan di tengah manusia, selama tidak mengandung dosa.

Beliau juga berkata tentang bersalam-salaman dan berpelukan saat di hari raya, yang biasa dilakukan manusia:

هذه الأشياء لا بأس بها ؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل

وإنما يتخذونها على سبيل العادة ، والإكرام والاحترام ، ومادامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة

 

Artinya:

“Semua ini tidak apa-apa, karena manusia tidak menjadikannya sebagai ibadah ritual dan sarana taqarrub ilallah, mereka hanyalah menjadikan itu sebagai kebiasaan saja, pemuliaan dan penghormatan. Maka, selama sebuah kebiasaan tidak ada larangan dalam syariat maka itu diperbolehkan.” (Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin, 16/208-210)

Ucapan yang dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah SAW, yaitu ucapan sebagai berikut:

 

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

 

atau bisa juga:

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

Taqabalallahu minna wa minkum,  shiyamana wa siyamakum, kullu amien wa antum bi khair.

Taqabalallahu minna wa minkum,  shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin

Artinya:

Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian.

Do'a selamat berhari raya. (foto: ist/palontaraq)

Do’a selamat berhari raya. (foto: ist/palontaraq)

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri diatas, sebenarnya juga bukanlah sunnah Rasulullah SAW, tapi itu ucapan, perbuatan atau sunnahnya para sahabat Nabi SAW.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah tidak memakainya untuk memulai ucapan selamat, artinya Beliau memandang ini bukan sunnah dalam artian hukum sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

 

أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلاةِ الْعِيدِ

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك , وَنَحْوُ ذَلِكَ , فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ

مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ , الأَئِمَّةُ , كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ

Adapun Ucapan Selamat Hari Raya, yang biasa diucapkan setelah Shalat Ied, “Taqabbalallah Minna wa Minkum, wa ahaalahullah ‘alaika,” dan yang semisalnya, hal ini diriwayatkan dari segolongan sahabat nabi, dimana mereka melakukannya dan memberikan keringanan atas hal itu, demikian pula para imam seperti Imam Ahmad dan lainnya.

لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ : أَنَا لا أَبْتَدِئُ أَحَدًا , فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته , وَذَلِكَ لأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ

وَأَمَّا الابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا , وَلا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ

فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ , وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ” اهـ

Tetapi Imam Ahmad berkata: “Aku tidak akan memulai mengucapkannya kepada seseorang, tapi kalau ada yang mulai mengucapkan kepadaku, maka aku akan jawab.”

Memulai ucapan selamat tidak ada sunnah perintahnya, dan tidak ada pula larangannya. Maka, barang siapa yang mengucapkannya maka dia ada contoh, dan barang siapa yang tidak mengucapkannya dia juga ada contoh. (Fatawa Al Kubra, 2/228)

Maka mengucapkan “Taqabbalallah Minna wa Minkum”, silahkan saja. Ini ucapan dan perbuatan para sahabat nabi. Mengucapkan “Minal ‘Aidin wal Faaizin”, juga silahkan saja. Ini adalah kebiasaan baik lagi benar (al ‘urf ash shahih) yang ada di Indonesia.

Syaikh Utsaimin mengatakan, jika sebuah kebiasaan itu tidak mengandung dosa maka hal itu diperbolehkan. Agama ini mudah, dan jangan persulit sendiri dengan penilaian egoisme golongan yang tidak perlu.

Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response