Beranda Islam Tuntunan Hari Raya 'Idul Fitri sesuai Sunnah

Tuntunan Hari Raya ‘Idul Fitri sesuai Sunnah

Shalat Idul Fitri di Banda Aceh (foto: serambiindonesia)
Shalat Idul Fitri di Banda Aceh (foto: serambiindonesia)

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

Ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan dan hendaknya dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal, yaitu:

1. Disunnahkan Mandi Pagi

Di Pagi hari, sebelum berangkat Shalat ‘Ied, disunnahkan untuk Mandi Pagi, sebagaimana mandi janabah. Sunnah ini adalah atsar dari sahabat Nabi.

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

 

Artinya: Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426.

Imam Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa para ulama sepakat akan disunnahkannya mandi untuk shalat ‘ied.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.” (HR. Al-Baihaqi, 3: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1: 177)

Dikatakan dianjurkan karena saat itu adalah berkumpungnya orang banyak sama halnya dengan shalat Jum’at. Kalau shalat Jum’at dianjurkan mandi, maka shalat ‘ied pun sama.

2.  Disunnahkan memakai Pakaian terbaik, indah dan rapi

Nabi SAW menyukai pakaian yang berwarna putih, sedangkan bagi wanita, menyukai pakaian yang berwarna gelap. Bagi pria disunnahkan menggunakan parfum atau wewangian, namun tidak boleh menggunakan parfum atau wewangian bagi wanita.

Ada riwayat yang disebutkan dalam Bulughul Maram no. 533 diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki baju khusus di hari Jumat dan di saat beliau menyambut tamu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adab Al-Mufrad)

Ada juga riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ‘Umar pernah mengambil jubah berbahan sutera yang dibeli di pasar. Ketika ‘Umar mengambilnya, Rasulullah SAW datang, Ibnu ‘Umar lantas berkata, “Wahai Rasulullah, belilah pakaian seperti ini lantas kenakanlah agar engkau bisa berpenampilan bagus saat ‘ied dan menyambut tamu.”

Rasulullah SAW lantas berkata,

إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

Artinya: “Pakaian seperti ini membuat seseorang tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Bukhari, no. 948)

Nabi SAW menganjurkan berpakaian dan berpenampilan bagus di Hari Raya Idul Fitri, tapi mengecualikan jenis pakaian yang terbuat dari sutera.

Ada juga riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

Artinya:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765)

Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari ‘ied.

3.  Dianjurkan Memakai Parfum

Bagi laki-laki, disunnahkan memakai parfum atau wewangian. Anjuran ini tidak berlaku bagi  bagi wanita. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa: Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya. (HR. Al Hakim)

4.  Disunnahkan Makan terlebih dahulu.

Salah satu sunnah Hari Raya Idul Fitri adalah disunnahkan Makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke lapangan, Shalat Idul Fitri. Ini merupakan sunnah Nabi, sekaligus sebagai simbol atau pertanda bahwa Idul Fitri adalah hari kembali berbuka.

“Pada saat ‘idul fitri Rasulullah SAW tidaklah berangkat untuk sholat sebelum makan beberapa kurma.”

Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaydullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Artinya:
“Rasulullah SAW biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (2: 446) menyatakan bahwa diperintahkan makan sebelum shalat Idul Fithri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar pada hari Idul Fithri (ke tempat shalat, pen.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953)
Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan halal lainnya.

5.  Disunnahkan Berjalan kaki

Pada Hari Raya Idul Fitri, disunnahkan berjalan kaki menuju lapangan, tempat Shalat atau tidak berkendaraan.  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatangi sholat ‘id dengan berjalan kaki.” (HR. Tirmidzi)

6.  Disunnahkan Perbanyak Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Pada Hari Raya Idul Fitri, disunnahkan memperbanyak ucapan takbir, tahmid dan tahlil ketika berangkat ke tempat Shalat. Takbir, tahmid, dan tahlil terus dibaca sampai pelaksanaan Shalat.

Ketika puasa Ramadhan telah sempurna, umat Muslim   diperintahkan untuk mensyukurinya dengan memperbanyak takbir. Allah SWT berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).

Dalam suatu riwayat lain disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

Artinya:

Nabi SAW biasa keluar hendak shalat pada hari raya Idul Fithri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/1/2. Hadits ini mursal dari Az-Zuhri namun memiliki penguat yang sanadnya bersambung. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk shalat ied, pen.)

“Adalah Rasulullah SAW keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat sholat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah)

Dilihat dari keumuman Qs. Al-Baqarah ayat 185 yang menunjukkan perintah bertakbir itu dimulai sejak bulan Ramadhan sudah berakhir, berarti takbir Idul Fithri dimulai dari malam Idul Fithri hingga imam datang untuk shalat ‘ied.

Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya.

Lafadz takbir yang disunnahkan adalah sebagaimana telah disebutkan diatas. (Al-Irwa’ 3/125-126).  Dalam riwayat lain, lafazh takbir “Allahu Akbar” ditemukan sebanyak tiga kali, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah,  disebutkan dengan sanad yang sama dengan penyebutan tiga kali takbir. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36442).  Syaikhul Islam menerangkan bahwa mengucapkan lafadz takbir “Allahu Akbar” tiga kali, itu juga diperbolehkan. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan menjaherkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

7.  Disunnahkan untuk Mengambil Jalan Berbeda

Pada Hari Raya Idul Fitri, disunnahkan untuk mengambil jalan atau rute yang berbeda, pada saat pergi dan pulang dari Shalat ‘Ied. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi SAW ketika berada di hari ied (ingin pergi ke tempat shalat, pen.), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang. (HR. Bukhari, no. 986)

Di antara hikmah kenapa Nabi SAW membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal. Allah Ta’ala berfirman,

 

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

 

Artinya: “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4)

Rasul SAW lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”  Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

 

Artinya:
“Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi. (HR. Tirmidzi no. 2429. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun hadits ini punya penguat dalam Al-Kabir karya Ath-Thabrani 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin, 1: 439)

8.  Ketika sudah sampai di tanah lapang untuk Pelaksanaan Shalat idul Fitri, maka tidak ada shalat sunnah qabliyah.

Langsung saja menggelar sajadah atau tikar dan duduk disana.  Selama duduk, tetap memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil. Bisa dilakukan sendiri, juga bisa dilantunkan bersama jamaah yang lain.

9. Mengikuti  Sholat ‘Id bersama Imam.

Mengikuti Shalat Idul Fitri bersama Imam. Untuk rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, membaca do’a iftitah. Setelah itu dilanjutkan dengan tujuh kali takbir. Adapun pada rakaat kedua setelah bangun dari sujud, maka ditambah sebanyak lima kali takbir.

Adapun bacaan diantara kalimat takbir, tidak ada nash atau perintah khusus dari Rasulullah SAW, para sahabat biasa mengucapkan kalimat tayyibah, “Subhanallah, walhamdulillah, wa Lailaha illaLlah wallahu Akbar”. Selebihnya sama dengan pelaksanaan shalat sunnah pada umumnya.

Shalat Idul Fitri (foto: pasberita)
Shalat Idul Fitri (foto: pasberita)

Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Sholat ‘id boleh dilakukan di dalam masjid, tetapi melakukannya di mushollah (lapangan) yang berada di luar adalah lebih utama, hal ini selama tidak ada ‘udzur seperti hujan dan semisalnya, karena Rasulullah SAW shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) di lapangan, tidak pernah Beliau shalat di masjidnya kecuali sekali karena adanya hujan.”

Dari Abu Hurairah, “Bahwasanya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi SAW shalat ‘id bersama mereka di masjid.” (HR. Abu Dawud)

10. Mendengarkan Khatib sampai selesai berkhutbah

Ketika sudah selesai melaksanakan Shalat ‘Ied bersama Imam, tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tanah lapang, tapi harus mendengarkan Khatib sampai selesai berkhutbah.

Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berduyun-duyun merayakan Hari Raya Idul Fitri, tak terkecuali perempuan haid,  meski terpisah dari tempat salat (lihat hadits riwayat Imam Bukhari Nomor 928) namun tak boleh ikut salat. Mereka berhak mendengarkan khutbah, melantunkan takbir, berdoa atau zikir lainnya.

Dari ‘Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah SAW, sholat ‘id, maka ketika beliau selesai sholat, beliau berkata: “Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan barang siapa yang ingin pergi maka silahkan.” (HR. Abu Dawud & An-Nasa’i).

Dalam kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan ‘Ali asy-Asyarbaji diterangkan bahwa berbeda dari salat Jumat, khutbah pada salat Id dilaksanakan setelah salat dua rakaat usai, bukan sebaliknya.

Hukum khutbah dalam salat Id memang sunah. Namun, ketika dikerjakan ia harus tetap memenuhi rukun khutbah. Rukun khutbah pada salat Id tidak berbeda dari rukun khutbah pada salat Jumat, yakni memuji Allah, membaca selawat, berwasiat tentang takwa, membaca ayat Alqur’an pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum muslimin pada khutbah kedua.

Khatib disyaratkan berdiri (bila mampu) saat berkhutbah disunahkan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar.
Sebagaimana diungkapkan dalam hadits Nabi Muhammad dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah yang berkata:

السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس

Artinya: “Sunah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

Pada khutbah pertama khatib disunahkan memulainya dengan membaca takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali. Saat khutbah berlangsung, jemaah diperintahkan untuk tenang, mendengarkannya secara seksama, agar memperoleh proses kesempurnaan salat Id.

11.  Disunnahkan Saling Mendo’akan Sesama Muslim

Memberi Ucapan Selamat ‘Idul Fitri. Ibnu Hajar mengatakan: Dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bila bertemu di hari ‘id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكم

Artinya:
Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.

Termasuk sunnah yang baik  di hari Idul Fitri adalah saling mengucapkan selamat dan do’a, saling memaafkan, “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Sebaik-baik ucapan adalah saling mendo’akan keselamatan dan kesejahteraan serta permohonan maaf yang tulus, lahir dan batin, dalam keimanan dan taqwa kepada Allah SWT.

Do'a selamat berhari raya. (foto: ist/palontaraq)
Do’a selamat berhari raya. (foto: ist/palontaraq)

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

 

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

 

Artinya:
“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka.” (Al-Mughni, 2: 250)

Mari diamalkan. Insyaa Allah Penuh Berkah. Semoga hari ied kita penuh berkah. Amieen Ya Rabbal ‘Alamin.

https://www.youtube.com/watch?v=YoNNI7PkxSI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT