Berpuasa dan Beridul Fitri pada Hari yang sama

by Penulis Palontaraq | Selasa, Jun 4, 2019 | 67 views
Shalat Idul Fitri di Masjidil Haram. (foto: ist/palontaraq)

Shalat Idul Fitri di Masjidil Haram. (foto: ist/palontaraq)

 

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.iPengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep/Anggota Forum Komunikasi Pesantren Falakiah Indonesia (FPFI),  No. Anggota: 060516013.

PALONTARAQ.ID – Awal puasa Ramadan tahun ini, adalah Hari Selasa, tanggal 6 Mei, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1440 H, sehingga perbedaan pendapat para ulama/pegiat falakiah hanya pada berkisar, apakah hari ini, Selasa 4 Juni 2019 (29 hari Ramadhan, 1 Syawal) atau esok, 5 Juni 2019 (30 hari Ramadhan, 1 Syawal).

Jadi, muncul kontroversi dan perbedaan pada ulama/pegiat falakiah yang tidak melihat hilal, apakah 1 Syawal 1440 H,  jatuh pada Hari Selasa, tanggal 4 Juni  ataukah pada Hari Rabu tanggal 5 Juni 2019, menggenapkan puasa 30 hari.

Pertanyaan lain yang mengemuka, apakah boleh mengabaikan ketiadaan hilal dalam pengamatan, sementara pada negara lain sudah melihat hilal dan jumhur ulama menyepapakati sebagai tanggal 1 Syawal.

Pendapat jumhur ulama, tiga madzhab, Imam Hanafi, Maliki, dan Hambali, menyatakan bahwa wajib serentak berpuasa dan  Idul Fitri pada hari yang sama, sebagaimana dikemukakan oleh Abdur Rahman al-Jaziriy dalam Kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah.

 

إذا ثبت رؤية الهلال بقطر من الأقطار وجب الصوم على سائل الأقطار

لا فرق بين القريب من جهة الثبوت والبعيد إذا بلغهم من طريق موجب للصوم

ولا عبرة باختلاف مطلع الهلال مطلقا عند ثلاثة من الأئمة

 

Artinya:

“Apabila rukyah hilal telah terbukti di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain wajib berpuasa. Tidak ada perbedaan lagi antara negeri yang dekat dengan negeri yang jauh. Apabila berita rukyah hilal itu sampai kepada mereka dengan cara (terpercaya) yang mewajibkan puasa, maka tidak diperhatikan lagi di sini adanya perbedaan mathla’ (tempat terbit) hilal secara mutlak menurut pendapat tiga imam madzhab (Hanafiy, Malikiy, Hambaliy,-pen).”

Dalam Naylul Authar, Imam al-Syaukani menyebutkan bahwa:

 

والذي ينبغي اعتماده هو ما ذهب إليه المالكية وجماعة من الزيدية

واختاره المهدي منهم أو حكاه القرطبي عن شيوخه أنه إذا رآه أهل بلد لزم أهل البلاد كلها

 

 

Artinya:

“Dan (pendapat) yg layak dijadikan pegangan adalah pendapat Malikiyah, sebagian Zaidiyah, atau apa yg disampaikan al-Qurthubiy dari syaikh-syaikhnya bahwa bila penduduk suatu negeri telah melihat, maka rukyah ini berlaku untuk seluruh negeri yg lain.”

Sementara itu, Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, menyatakan bahwa:

 

ذهب الجمهور: إلى أنه لا عبرة باختلاف المطالع. فمتى رأى الهلال أهل بلد

وجب الصوم على جميع البلاد لقول الرسول صلى الله عليه وسلم , صوموا لرؤيته، وافطروا لرؤيته

وهو خطاب عام لجميع الامة فمن رآه منهم في أي مكان كان ذلك رؤية لهم جميعا

 

Artinya:

“Pendapat jumhur ulama bahwa tidak dianggap adanya perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan). Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri yang  lain berpuasa, karena  sabda Rasulullah SAW: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya.” Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh umat. Jadi siapa saja di antara mereka yang melihat hilal, dimanapun berada, maka rukyah itu berlaku bagi mereka semuanya.”

Ketiga pendapat jumhur ulama diatas, berbeda dengan yang menurut Madzhab Imam Syafi’i, yang menyatakan bahwa awal puasa dan Idul Fitri, penentuan 1 Syawal boleh beda berdasarkan perbedaan mathla’, sebagaimana disebutkan ‘Abdur Rahman al-Jaziri, dalam Kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, dibawah ini:

 

الشافعية قالوا : إذا ثبتت رؤية الهلال في جهة وجب على أهل الجهة

القريبة منها من كل ناحية أن يصوموا بناء على هذا للثبوت والقرب يحصل باتحاد

المطلع بأن يكون بينهما أقل من أربعة وعشرين فرسخا تحديدا أما أهل الجهة

البعيدة فلا يجب عليهم الصوم بهذه الرؤية لاختلاف المطلع

 

Artinya:

“Pendapat madzhab Syafi’iy: Apabila terbukti rukyah hilal di suatu daerah, maka atas dasar pembuktian tersebut, penduduk yang terdekat dengan daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan di antara dua daerah tersebut dihitung menurut kesatuan mathla’ yakni jarak keduanya kurang dari 24 farsakh. Adapun penduduk yang jauh dari daerah tsb, maka tdk wajib berpuasa berdasar rukyah tsb karena perbedaan mathla’.”

Sebagai catatan bahwa 24 farsakh yang dimaksud sama dengan 120 km. Jadi, satu titik mathla’ menjangkau daerah di sekitarnya sejauh 120 km. Ukuran ini didasarkan pada jarak qashar shalat.

Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Majmu al-Fatawa, berpendapat:

 

فإن مسافة القصر لا تعلق لها بالهلا

 

Artinya:
“Sesungguhnya jarak qashar shalat tidak ada kaitannya dengan hilal.”

Pendapat yang terkuat adalah pendapat jumhur, dimana ketika ada seorang muslim sudah melihat hilal di manapun berada, maka wajib berpuasa atau beridul fitri secara serentak.

Yang terjadi saat ini adalah mathla’ negara, bukan mathla’ sebagaimana pendapat Madzhab Imam Syafi’i. Tidak ada seorang ulama madzhabpun ataupun ulama salaf al-shalih yang berpendapat mengenai mathla’ negara.

Untuk tahun 2019/1440 H ini, berdasar hisab di Saudi, Mesir, Aljazair, Kuwait, ‘id al-fithri jatuh pada hari Selasa 4 Juni 2019.

Berdasar pendapat jumhur ulama tersebut, Hari ini, Senin (3/6/2019) adalah saat melakukan rukyah hilal untuk Idul Fithri dengan uraian berikut:

Mewakili Indonesia, Metode Falakiyah Markas Ujung Pangkah Gresik, ijtima’ Senin 3 Juni jam 17:02:40 WIB. Tinggi hilal 0(4’40” (kurang dari 2 derajat), tidak memungkinkan dilihat.

Karena di Indonesia tidak terlihat, cari di sebelah baratnya misal Riyadl, tinggi hilal 1(4’53”. Makkah, tinggi hilal 1(29’06”. Sulit dilihat, tapi memungkinkan bisa dilihat. (Selisih Saudi dengan Indonesia hanya 4 jam, rukyah di Saudi misal jam 6 sama dengan di Indonesia jam 10 malam)

Andai di Saudi tidak terlihat, cari lagi di sebelah baratnya, misal Maroko, tinggi hilal 2(5’56”. Sangat mungkin bs dilihat. ‘Id al-Fithri jatuh pada Selasa 3 Juni. (Selisih Maroko dengan Indonesia 7 jam, rukyah di Maroko misal jam 6 sama dengan di Indonesia jam 1 dini hari)

Andai saja di Maroko tidak terlihat, cari lagi di sebelah baratnya, misal Los Angeles, tinggi hilal 5(55’19”. Sangat jelas terlihat. Jadi, 1 Syawal (Idul Fitri) jatuh pada Hari Selasa, tanggal 3 Juni (Selisih LA dengan Indonesia 15 jam, rukyah di LA misal jam 6 sama dengan di Indonesia jam 9 pagi, jadi tetap puasa dulu, ketika dapat info hilal, baru dibatalkan, lalu shalat ‘id.

Jika sampainya info sore hari, maka dibatalkan puasanya dan shalat ‘id besoknya, demikian disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dibawah ini:

 

مِنَ الْأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُمَّ عَلَيْنَا هِلَالُ

شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا مِنْ يَوْمِهِمْ وَأَنْ يَخْرُجُوا لِعِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

 

Artinya:

“Dari seorang sahabat Anshar dari sahabat-sahabat Rasulullah saw berkata: Hilal Syawal tertutup mendung atas kami, shg kami tetap berpuasa keesokan harinya. Menjelang sore hari, datanglah beberapa musafir (dari luar Madinah menuju Madinah, -pen). Mereka bersaksi di hadapan Rasulullah saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (petang). Maka Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin utk segera berbuka dan melaksanakan shalat ‘id keesokan harinya.”

Lebih dari 44 negara menunaikan Shalat Idul Fitri hari ini (4 Juni 2019), hilal Syawal sudah terlihat di Tamir, Tha’if, Saudi Arabia dan mengumumkan pelaksanaannya.

Beberapa negara yang mengikuti Saudi Arabia adalah Afghanistan, Albania, Algeria, Armenia, Austria, Azerbaijan, Bahrian, Belgium, Bolivia, Bulgaria, Burkina Faso, Chechnia, Denmark, Finland, Georgia, Hungary, Iceland, dan Iraq (Sunni di Iraq juga mengikuti Saudi).

Negara lain yang mengikuti Saudi Arabia ialah Italy, Jordan, Kazakhstan, Kuwait, Kyrgizstan, Lebanon, Mauritania, Palestine, Qatar, Qatar, Romania, Russia, Singapore, Sudan, Sweden, Switzerland, Syria, Taiwan, Tajikistan, Tatarstan, Togo, Turkmenistan, Uni Emirat Arab, Ukraine, dan Uzbekistan.

Negara lain, yang mengikuti hilal Syawal yang ditetapkan Turki, tapi tetap pelaksanaan Shalat Idul Fitrinya, hari ini (4 Juni 2019), yaitu Algeria, Angola, Bosnia and Hercegovina, Croatia, France (CFCM – French Council of Muslims), Germany, Ireland, Kosovo, Luxembourg, Macedonia, Montenegro, Serbia, Slovania, Tunisia, USA dan Canada.

Negara Indonesia sendiri sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, berdasarkan Hasil sidang isbat yang difasilitasi Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal 1440 H pada Hari Rabu, 5 Juni 20, menggenapkan puasa 30 hari dan juga berdasarkan laporan pada sebagian besar titik pengamatan, tidak melihat hilal.

Meski begitu ada beberapa ormas Islam yang juga telah melaksanakan Shalat Idul Fitri, hari ini (4 Juni 2019) yang berarti mengikuti kepada pendapat ulama di Saudi Arabia tentang penetapan akhir Ramadhan dan awal Bulan 1 Syawal.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response