Siapakah Ancaman Kita: Khilafah atau Komunis (PKI)?

by Penulis Palontaraq | Senin, Mei 20, 2019 | 247 views
Waspadai kebangkitan PKI. (foto: ist/*)

Waspadai kebangkitan PKI. (foto: ist/*)

Oleh: Anton Permana, Pengamat Sosial Politik, Alumni PPRA Lemhanas RI Tahun 2018.

Related Post:  “Sumur Tua” PKI, Kebencian Macam Apa yang Tega Adiknya Dibantai

PALONTARAQ.ID – Belakangan ini, Rakyat Indonesia kembali dibingungkan oleh dua isu sentral bernama Khilafah dan Komunis. Tatkala tensi politik yang semakin memanas, diantara dua kubu kandidat Pilpres, dua kata inilah yang paling sering kita dengar dilontarkan masing-masing pihak.

Pihak kubu 01 menuduh pihak kubu 02 ditunggangi oleh kelompok pro khilafah, dan begitu juga sebaliknya. Pihak 02 menuding pihak 01 juga ditunggangi oleh Anak-anak PKI dan pengikut ideologi komunis.

Lebih seru lagi, saling tuding ini juga menyasar dua negara luar yang diidentikkan dengan dua isu ini. Khilafah dengan Arab, dan komunisme (PKI) dengan China. Onta Vs Aseng. Demikianlah kira-kira output dari masing-masing celoteh yang dikeluarkan para netizen itu di dunia maya.

Untuk itulah, penulis akhirnya tertarik untuk membuat sebuah tulisan bagaimana cara kita seharusnya menjadi bangsa yang jernih berpikir, cerdas dalam menganalisis, dan bijaksana dalam bertindak, agar dapat memilah dan membuat sebuah kesimpulan isu mana sebenarnya yang memang menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI ini dari berberapa faktor.

Faktor Sejarah

Dalam sejarah Indonesia, sebenarnya isu khilafah dan komunisme ini bukanlah barang baru lagi. Di era tahun 1960-an, isu khilafah atau pendirian negara Islam serta komunisme yang atheis (anti Tuhan) juga sangat tajam. Ketika itu terafiliasikan dengan Partai Masyumi Vs PKI.

Jadi kalau kita tarik jauh ke belakang lagi sebelum Indonesia merdeka, dua kelompok ini sudah mengkristal kedalam konflik yang dikenal dengan Syarikat Islam Putih (SI Putih) versus Syarikat Islam Merah (SI Merah).

Yaitu sebuah gerakan perlawanan pertama secara kolektif Nusantara sebelum Boedi Oetomo, yang terjadi di awal tahun 1900-an. Dari sejarah ini, Penulis menarik beberapa poin penting, yaitu:

1. Dalam sejarah, dari dua kelompok ini manakah yang punya rekam jejak jahat dan berkhianat kepada Bangsa dan Negara Indonesia? Tentu jawabannya adalah PKI.

Karena PKI telah beberapa kali melakukan pemberontakan/kudeta yang disertai dengan pembunuhan yaitu pada Tahun 1926 (masa penjajahan Belanda), Tahun 1948 di Madiun, dan Tahun 1965 yang kita kenal dengan istilah Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (disingkat: G 30 S/PKI) yang begitu sadis.

Sedangkan kelompok khilafah (Islam Fundamental) hanya terjadi pada DI/TII. Namun kalau kita teliti lebih dalam lagi, DI/TII tidak bisa dikatakan ‘pemberontakan’.

Karena ini sebenarnya adalah konflik internal antara Soekarno yang dianggap ingkar janji oleh para sahabat seperjuangannya sendiri seperti Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh.

Lihat juga: Menyaksikan Detik-detik Berakhirnya NKRI

Mereka kecewa kepada Soekarno yang terpengaruh bisikan PKI ketika itu untuk mengkebiri para laskar Islam (pejuang beragama Islam) dari struktur ketentaraan reguler.

Soekarno lebih memilih para Alumni KNIL (bentukan Belanda) dan bekas tentara PETA (bentukan Jepang) untuk jadi pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ketika itu.

Dan konflik inilah yang dieskalasi Soekarno atas bisikan PKI menjadi seolah pemberontakan. Buktinya DI/TII tidak pernah membunuh masyarakat sipil, dan hanya berperang dengan tentara Soekarno. (Sjafroedin Bahar: 2008).

2. Dalam Sejarah Indonesia juga dibuktikan bahwa sejatinya Pancasila itu adalah hadiah dari Umat Islam Indonesia kepada bangsa ini. Bagaimana Umat Islam mengalah dan mau menggantikan ‘7 kata dalam Piagam Djakarta’ dari kata “ Negara yang berdasarkan Ketuhanan dan menjalankan Syariat Islam untuk masing-masing pemeluknya”, diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Artinya, sebenarnya tentang konsepsi antara Negara Islam ke Negara Pancasila itu sudah final. Dan tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Kalaulah Umat Islam mau menjadikan Indonesia ini Negara Islam, tentu dari zaman awal kemerdekaan hal ini bisa direalisasikan.

Beda dengan PKI. Dengan berbagai upaya dan cara biadab sekalipun mereka lakukan untuk mengganti ideologi negara dan menjadikan Indonesia sebagai Negara Komunis. Ribuan nyawa melayang, baik itu dari kalangan ulama, santri, bahkan jenderal sekalipun.

Dan secara rekam jejak Sejarah Pergerakan Islam di Indonesia, konsepsi khilafah ini pun masih dalam perdebatan. Dan mayoritas malah tidak setuju dengan diterapkannya di Indonesia.

Dalam riset Wahid Institute tak sampai dua digit (-10 %)  Umat Islam Indonesia yang setuju dengan Konsep Khilafah dan 92 % tetap setuju dengan Pancasila. (Wahid Institute 2018).

Lihat juga:  Inilah Hasil Keputusan Ijtima’ Ulama III

Faktor Politik

Sebagai negara yang menerapkan Demokrasi, Partai Politik adalah sebuah entitas ideologi rakyat. Partai pPlitik bertindak sebagai ‘agen’ penyaluran aspirasi rakyat melalui Pemilihan Umum (Pemilu).

Jadi kalau dikaitkan dengan potensi siapa yang berpeluang dari dua kubu ini untuk menguasai Indonesia bisa kita ukur dan petakan dari peta kekuatan politik di parlemen hari ini.

Nah sampai hari ini (hasil Pilpres 2019), partai yang berideologi Islam (beraviliasi Islam) tak pernah tembus angka dua digit (diatas 10 %). Baik itu PKS (6 %), PKB (8 %), PPP (7 %), PAN (7%), dan PBB (1,8 %). Pemilu 2014 lalu. Kalau ditotal pun tak sampai 30 %.

Kalau kita kerucutkan lagi,  Partai Politik yang murni menjadikan Islam sebagai azas partainya hanya PPP dan PBB. Ini semakin parah lagi persentasenya. Dan dari semua partai tersebut tidak ada yang tegas menyatakan akan mendirikan negara Islam, apalagi khilafah.

Sebaliknya untuk kubu PKI atau Komunis, sudah sama diketahui bahwa banyak para kader komunis dan Anak-anak kandung eks-PKI lalu bergabung dan menjadi pejabat kunci di PDIP. Sedangkan kita tahu, PDIP adalah penguasa hari ini, partai yang berkuasa, baik di lembaga eksekutif, legislatif, dan bahkan yudikatif.

Dengan potensi kekuatan politik yang dimiliki kelompoknya hari ini, kubu PDIP yang didalamnya banyak anak-anak PKI berkumpul lebih memiliki potensi besar untuk membumikan ideologi komunisme dalam versi zaman now. Dan juga sudah menjadi rahasia umum, sudah ratusan bahkan ribuan kader partai ini dibina dan dilatih di China atau Rusia.

Jadi kalau kita bandingkan antara kekuatan dua kubu ini, boleh dikatakan bagai langit dan bumi. Walaupun bangsa Indonesia itu secara kuantitas mayoritas Islam.

Lihat juga:  Soal Isu Islam Garis Keras (Bantahan terhadap Prof Mahfud, MD)

Faktor Militer

Salah satu faktor yang bisa merubah ideologi sebuah negara adalah faktor militer. Karena yang punya kekuatan untuk bisa melakukan sebuah kudeta, revolusi, terjadap eksistensi negara adalah kekuatan militer.

Sekarang mari kita lihat. HTI, sebagai organisasi yang dituding mau dirikan negara khilafah tidak punya tentara sama sekali. Begitu juga Partai Islam lainnya. Dengan kekuatan apa mereka mau mengganti ideologi negara ini dengan Khilafah? Pasti akan berhadapan dengan TNI-Polri yang bersenjata lengkap.

Beda dengan kubu pro PKI. Sebagai bahagian dari pemegang kekuasaan, kelompok ini pegang kendali kekuasaan. Dgn presiden ada dikubu ini, tentu secara kekuasaan politik supremasi sipil dimana presiden sebagai panglima tertinggi bisa mengendalikan tentara dan polisi.

Dan kita lihat fakta hari ini, bagaimana institusi TNI-Polri sudah menjadi alat kekuasaan. Bukan lagi alat negara. Karena kekuasaan presidensial negara ini memberikan ruang untuk itu. Yaitu Kapolri dan Panglima TNI yang ditunjuk oleh Presiden RI.

Nah berarti kubu mana yang paling berpotensi bisa mengganti ideologi negara ini? Silakan jawab dan cerna sendiri jawabannya.

Faktor Global

Didalam buku Samuel Huntington, telah dijelaskan tentang apa yang disebut “ Clash of Civilitation “. Yaitu tentang perang peradaban. Dimana ada tiga kekuatan besar ideologi (peradaban) didunia yang akan berebut pengaruh dimuka bumi ini. Yaitu, kapitalisme barat, Sosialisme/Komunis, dan Islam.

Kalau kita turunkan lagi dalam konteks Indonesia hari ini. Dari tiga kekuatan tersebut, kubu khilafah adalah Islam, kubu sosialis-komunis adalah PKI.

Secara afiliasi kekuatan global, kembali dapat kita simpulkan bahwa kubu PKI ini lebih besar dan kuat. Karena dengan semakin besar dan agresifnya China sekarang ini di dunia.

Lompatan ekonomi dan militer China hari ini, telah berhasil membuat perimbangan kekuatan global yang beberapa dekade ini dipimpin Amerika Serikat.

Sedangkan kubu khilafah, justru diwarnai wajah perpecahan dan perang saudara sesama negara Islam didunia. Arab Saudi sibuk dengan konflik perebutan pengaruh di Jazirah Arab dengan Iran.

Turki yang baru muncul di Eropah sebagai kekuatan baru Islam, juga sedang mengalami pasang surut tekanan politik tiada henti baik dari dalam maupun luar negeri.

Sederhananya adalah, kita bisa lihat peta kekuatan 5 negara pemegang hak veto dunia yaitu : Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, dan China. Satupun tak ada yang mewakili negara Islam (kubu khilafah).

Beda dengan kubu PKI ini. Mereka bisa berlindung dan dipayungi dua raksasa baru dunia yaitu China dan Rusia.

Untuk permasalahan faktor global, kubu khilafah yang ditudingkan sangat tidak mungkin mendapatkan tempat. Karena pasti akan terjepit oleh dua kekuataan raksasa global dunia. Karena Amerika dan sekutunya pasti akan menentang konsep khilafah ini.

Lihat juga:  Ambisius China, Presiden Baru, dan Khilafah

Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, dapat kita simpulkan bahwa:

1. Yang sebenarnya menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia saat ini adalah komunisme atau PKI baru. Karena dari 4 faktor diatas, mereka lebih powerful dan hanya tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan mimpinya yg terkubur puluhan tahun.

Malah penulis beranggapan, saat sekaranglah hari pembalasan dan kebangkitan PKI itu di Indonesia. Jadi wajar, upaya untuk selalu menjadikan agama sebagai musuh negara sangat gencar dilakukan.

Karena dalam konsepsi ajaran komunisme ini, agama bagi mereka bagaikan candu. Selagi nilai agama masih ada didalam dada manusia, pasti akan sulit menerima ajaran PKI ini.

Jadi caranya untuk mengeluarkan agama itu dari dalam dada manusia adalah: Meracuni pemikiran generasinya dengan  gaya hidup matrealistis, hedonis, liberalis, menyogok para elitnya, mengkader para calon pemimpinnya, menjauhkan mereka dari agama, merancang skenario fitnah terhadap simbol, tokoh, dan ajaran agamanya agar dibenci dan dijauhi penganutnya sendiri.

Karena Islam adalah agama mayoritas, maka Islam dulu agama yg harus mereka hancur leburkan di Indonesia. Kalau Islam sudah takluk dibawah kendali mereka, agama yg lain akan lebih mudah ditaklukkan.

Sampai pada akhirnya, semua agama inipun akan mereka tiadakan. Inilah sejatinya aliran Pemikiran Komunisme itu,  yaitu Atheisme,  Anti Tuhan atau Tidak percaya kepada (adanya) Tuhan

2. Isu khilafah yang disuarakan hanyalah upaya pengelabuan ‘decoy’ atau apologistik semata. Dalam rangka menyudutkan ummat Islam agar selalu inferior dan mati kutu.

Jangankan untuk mendirikan khilafah, untuk berbicara khilafah saja mereka skenariokan menjadi sesuatu yang seolah haram, pidana, atau kriminal menakutkan. Khilafah adalah hantu ketakutan (halusinasi paranoid) yang diciptakan untuk membungkam Islam. Agar tak berdenyut lagi.

3. Mari kita kembalikan negara ini kedalam rel yang konstitusional sesuai dengan cita-cita para founding father kita.

Yaitu, menjadikan Pancasila sebagai Falsafah Negara, sebagai rumusan bersama dalam bernegara, sebagai jalan tengah dari tarikan dua kutub ideologi antara Negara Agama dan Komunisme atau liberalis-sekuler.

Indonesia bukan negara agama, tetapi bukan Negara tanpa Agama. Indonesia adalah Negara yang mengakui agama, dan menjadikan Agama sebagai sumber nilai dalam nenjalankan pemerintahannya.

Dan komunisme sangat bertentangan dengan Pancasila. Tapi tidak ada larangan untuk rakyatnya untuk menjalankan perintah Tuhan sesuai dengan Agama dan Kepercayaannya masing-masing.

Sesuai dengan UUD RI 1945 Pasal 29 (ayat) 2 yang berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk menjalankan agama dan kepercayaannya, sesuai dengan Agama dan Kepercayaannya masing/masing.”

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan kita semua guidance untuk dapat memilah, mengurai, dan mengambil kesimpulan bahwasanya ancaman sebenarnya yang sangat berbahaya sekali itu terhadap keutuhan Bangsa Indonesia adalah Komunisme dan PKI. Bukan khilafah.

Seperti sesuai apa yang disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Bapak Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu dalam sebuah Sarasehan 2016 yang lalu, “Apabila ada orang atau kelompok yang mengatakan bahwa PKI itu sudah tak ada lagi dan bukan ancaman lagi, berarti mereka itu adalah PKI-nya “.

Salam Indonesia. NKRI Harga Mati. Pancasila Abadi. Indonesia Jaya! (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response