Pujian itu ‘Membunuh’

by Penulis Palontaraq | Jumat, Mei 17, 2019 | 187 views
Jempol tanda pujian (foto: ist/palontaraq)

Jempol tanda pujian (foto: ist/palontaraq)

 

Oleh: Ummu ‘Adil

PALONTARAQ.ID – BERHATI-HATILAH jika mendapat pujian. Hakikat pujian sebenarnya adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan. Bukankah Allah SWT sudah mengingat, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Berhati-hatilah jika mendapat pujian. Nabi SAW juga telah mengingatkan bahwa ada,  “Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan, yaitu: Pertama, tamak lagi kikir. Kedua, mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan) dan Ketiga, ‘Ujub (takjub pada diri sendiri).” (Lihat Shahihul Jaami’ no. 3039, HR. Abdur Razaaq 11: 304. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Berhati-hatilah terhadap pujian. Karena ketika kita dipuji, bisa jadi akan muncul rasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.

Lihat juga: Rocky Gerung:  “Saya sangat Kagum pada Pendukung Jokowi!”

Berhati-hatilah terhadap pujian. Pujian bisa menjadikan hati orang berbunga-bunga, menerbangkannya ke langit impian, serta membuatnya lupa diri.  Pujian jugalah yang bisa menjadikan orang kehilangan keikhlasan dan pada akhirnya dapat  menghilangkan nilai (value) pengabdiannya.

Berhati-hatilah terhadap pujian. Pujian itu juga dapat menjadi racun bagi yang memuji. Kata Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, “Pujian berlebihan yang ditujukan kepada orang lain seringkali bermotif  “kepiting di balik batu karang, atau tidak jarang juga dengan memuji orang lain, terjadi kepuasan sesaat. Seolah dengan memuji, dirinya telah menjadi pahlawan.”

Berhati-hatilah terhadap pujian.  Karena terkadang pujian kepada orang juga dimaksudkan untuk menutupi “lobang diri sendiri”. Dengan kata lain, pujian itu seringkali dijadikan shield (penghalang) dari “lobang” yang dimaksud.

Berhati-hatilah terhadap pujian.  Nabi SAW melarang kita untuk tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya. Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi SAW, kemudian beliau bersabda, “Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”]

Lihat juga: Lomba Menulis Kisah Ramadan

Dalam riwayat lainnya, Nabi SAW menegaskan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain. Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,  “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.” (HR. Muslim no. 3002)

Berhati-hatilah terhadap pujian. Karena pujian dapat menipu diri sendiri.  Pujian bisa berakibat tragis jika pada orang yang dipuji jika pada dirinya tumbuh keangkuhan, walau sebesar dzarroh bisa menjadi haram surga bagi dirinya. Meski demikian, para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).

Pujian bisa membunuh, terlebih jika itu dilakukan di depan umum. (foto: ist/palontaraq)

Pujian bisa membunuh, terlebih jika itu dilakukan di depan umum. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga:  Orang Baik dan Penyeru Kebaikan

Pujian di Media Sosial

Media sosial dengan segala fasilitas dan kemudahannya, membuat sesama penggunanya bisa saling memuji.  Mulai dari sebatas like, follow, comment, retweet, sampai comment (memberi komentar pujian dan apresiasi). Tragisnya, banyak “desire of praise” (keinginan terpuji) itu tidak ada basisnya, dan bisa jadi kesenangan untuk dipuji itu bukan atas hal-hal telah dilakukan”.

Pujian di Media Sosial itu bisa datang dari status, foto, video, atau dari informasi yang dibagi (share). Terkadang karena ada keinginan untuk terpuji, netizen kadang tak sadar ikut-ikutan menyebarkan informasi dan data yang sebenarnya belum valid atau membagi berita yang tidak akurat (berpotensi hoax).

Narzisme yang berlebihan juga dapat berdampak pada keinginan untuk terpuji secara berlebihan.  Segala kegiatannya diupdate, disertai upload foto, ditambah lagi video siaran langsung, padahal sebenarnya itu ‘pembunuhan’ terhadap diri sendiri.  Selain bisa menanam benih kesombongan, juga bisa menurunkan produktitas kerja dan mematikan kreatifitas.

Lihat juga: Karakter dengan Teman Duduk

Pujian yang dilakukan di depan umum (di media sosial) bisa jadi adalah ‘pembunuhan’.  Perhatikan dan catatlah begitu banyak jejak digital pujian yang pada akhirnya membunuh karakter orang, baik yang memuji maupun yang dipuji. “Ya, Pujian bisa membunuh, terlebih jika itu dilakukan di depan umum”.

Do’a ketika Dipuji

Apakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan, “Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”  (Syarah Riyadhus Shalihin Hal. 564-565)

Segala pujian hanyalah untukNYa (al-mutakabbir) semata, karena itu pujian kepada manusia hendaknya dipahami sebagai ujian dan dengan pujian itu membuat dirinya tetap tidak sombong dan mawas diri.

Lihat juga: Ciri Orang Sombong dan Tak Mau Dinasehati

Karena itu,  ketika dipuji atau menerima pujian, maka baca dan amalkanlah do’a ini:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ

 

Artinya:

“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnadnya dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585)

Berhati-hatilah ketika dipuji!

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response