Hari Keempat Ramadhan: Penyerahan Bendera Perang Pertama dalam Islam

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh: Dra Nurhudayah, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

PALONTARAQ.ID – Dalam Buku, “Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadan” yang ditulis oleh DR Abdurrahman Al-Baghdady,  disebutkan bahwa setelah Rasulullah SAW berhijrah ke Yastrib, Madinah, kekuatan umat Islam mulai terbangun. Dukungan dari Kaum Anshar Medinah membuat kaum muslimin menjadi kuat.

Meski begitu,  ancaman dan gangguan dari Kaum Kafir Quraisy di Mekkah tetap ada. Lewat sebuah utusan Kaum Quraisy menyampaikan pesan, “Janganlah kalian bangga terlebih dahulu karena kalian bisa meninggalkan kami perhi ke Yastrib. Kami akan mendatangi kalian, lalu merenggut dan membenamkan tanaman di halaman rumah kalian.”

Ancaman ini bukanlah sekadar gertak sambal semata. Rasulullah SAW merasa yakin dan sesudah mendapatkan data tentang tipu daya dan ambisi kafir Quraisy untuk melancarkan serangan.

Dalam kondisi rawan yang mengancam eksistensi kaum muslimin tersebut, Allah SWT menurunkan ayat yang mengizinkan umat Islam untuk berperang.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS.Al-Hajj: 39)

Ayat ini diturunkan di antara beberapa ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin berperang tersebut hanya dimaksudkan untuk mengenyahkan kebatilan dan menegakkan syiar agama Allah.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.“(QS. Al-Hajj: 41)

Maka, setelah turun ayat ini, Rasulullah SAW memilih dua langkah, yaitu: Pertama,  Mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang dengan beberapa kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan, atau menjadi penghalang antara jalur itu dan Madinah. Kedua, Mengirim beberapa kelompok utusan secara terus menerus dan bergiliran ke jalur perdagangan tersebut.

Lihat juga: Hari Ketiga Ramadhan: Wafatnya Fatimah Az-Zahra, Penghulu Wanita di Surga

Untuk mengimplementasikan dua langkah itu, Rasulullah SAW mengirim satuan pasukan pertama ke Saiful Bahr pada 4 Ramadhan 1 H/632M. Di dalam sumber yang lain, “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfurry menyebutkan peristiwa tersebut  terjadi pada tanggal 1 Ramadhan 1 H.

Rasulullah SAW menunjuk pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, sayyidu Syuhada bersama 30 orang Muhajirin. Saat itu Nabiyullah menyerahkan bendera pertama berwarna putih kepada Hamzah. Pembawa bendera itu adalah Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghanwi.

Tujuan satuan ini adalah menghadang kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Syam. Kafilah tersebut terdiri dari 300 orang termasuk Abu Jahl bin Hisyam. Ketika kedua belah pihak telah berhadap-hadapan dan siap untuk berperang, tetiba muncullah Majdi bin Amr Al-Juhani yang menjadi sekutu kedua belah pihak. Ia melerai dan konfrontasi pun tidak terjadi. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response