Beranda Opini Soal Isu Islam Garis Keras (Bantahan terhadap Prof Mahfud, MD)

Soal Isu Islam Garis Keras (Bantahan terhadap Prof Mahfud, MD)

Imam Shamsi Ali. (foto: moslemtoday.com)
Imam Shamsi Ali. (foto: moslemtoday.com)

Oleh: Imam Shamsi Ali

MUNGKIN  karena saya dalam perjalanan yang cukup jauh, sehingga pernyataan Prof. Mahfud MD tentang Propinsi-propinsi yang memilih pasangan calon (paslon) tertentu dikategorikan sebagai Propinsi-propinsi Islam garis keras terlewatkan.

Ada beberapa propinsi yang disebutkan, antara lain, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sul-Sel, dan beberapa lainnya.

Lalu dalam sebuah pernyataan lainnya beliau medefenisikan garis keras itu sebagai  “posisi yang tidak fleksible dan tidak mengenal kompromise”.

Beliau menyebutkan itu dalam bahasa Inggris terbata-bata: stand on issue which is inflexible and not subject to compromise.

Saya sangat menghormati Pak Mahfud karena selain memang ahli dalam bidangnya, juga sangat sederhana, tidak neko-neko dan tidak memburu kepentingan pribadi.

Beliau menerima dengan lapang dada sebuah kenyataan politik pahit baru-baru ini. Dikecewakan oleh pencalonan cawapres, yang mungkin saja dalam bahasa saya sangat pahit dan kejam. Tapi dalam hal ini  saya menilai pernyataan beliau kurang mengena dan sekaligus kurang bijak.

Bahkan pada tingkatan tertentu bisa berbahaya dan semakin memecah masyarakat bawah.

Pernyataan Prof. Mahfud MD ini menimbulkan banyak tanda tanya. Apa kriteria fleksibikitas? Apakah memilih paslon tertentu harus dilabeli dengan karakter tidak fleksible?

Lalu sebaliknya mereka yang memilih paslon lain itu dengan sendirinya “fleksible dan kompromise?”

Apakah “flessibilitas” itu diukur dengan memakai katamata pilihan paslon?Nampaknya dari pernyataan Prof. Mahfud itu jelas bahwa defenisi fleksibikitas ditentukan oleh pilihan paslon.

Jika ini benar maka sungguh defenisi itu sangat tidak ilmiah.Tuduhan kepada propinsi-propinsi pemilih Prabowo sebagai propinsi yang tidak fleksible juga kurang mengena. Jabar kita kenal memang kuat memegang tradisi agamanya.

Tapi jangan lupa, di Jabar juga banyak kasus-kasus yang tidak relevan dengan agama. Tapi yang lebih penting, dalam pilkada lalu Jabar memenangkan Kang Emil sebagai Gubenrurnya, yang dicalonkan justeru oleh Partai Nasdem, pendukung paslon 01.

Sul-Sel juga demikian. Memenangkan Prof. Nurdin Abdullah, yang justeru pengusung utamanya adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).Menyebut Sumatera Barat (Sumbar) sebagai propinsi garis keras juga rasanya kurang pas.

Saya tahu sebagai contoh, Ketua Muhammadiyah Sumbar justru mendukung secara terbuka paslon 01.Jadi intinya saya kira menuduh propinsi tertentu sebagai “hardliners” berdasarkan pilihan politik, sangat kurang mengena sekaligus kurang ilmiah.

Berbahaya dan Memecah

Yang paling berbahaya dari pernyataan Prof. Mahfud MD adalah kemungkinan dipahami secara negatif oleh sebagian masyarakat. Seolah mereka yang memilih Prabowo Sandi itu adalah kelompok garis keras.

Sebaliknya yang memilih Jokowi adalah mereka yang moderat, fleksibel, rasional, dan seterusnya.Tanpa disengaja, pernyataan ini semakin memperdalam luka dan perpecahan di tengah masyarakat.

Bagaimana tidak? Perdebatan di dunia media sosial begitu memecah belah masyarakat dalam pilpres ini.

Kini dengan pernyataan itu semakin membuka perpecahan yang lebih luas.

Jika direspon secara ekstrim oleh pihak lain, anggaplah pemilih paslon 02, maka tuduhan hardliner kepada mereka akan menjustifikasi (membenarkan) jika pemilih paslon 01 adalah mereka yang “anti Islam” dan non Muslim.

Kemenangan Jokowi di Nusa Tengara Timur (NTT) misalnya, akan menjadi alasan bagi pendukung Prabowo untuk mengatakan bahwa Jokowi memang didukung oleh non Muslim. Dan Muslim yang mendukung akan dilihat oleh pendukung Prabowo sebagai “less keislamannya.”

Padahal tidak harus demikian. Karena sejatinya di Kedua kubu ada pihak-pihak yang keras, kaku, tidak kompromi, terlepas dari agama maupun etnis.

Sebaliknya pada Kedua kubu ada pihak-pihak yang santun, moderat, rasional dan kompromise dalam hal-hal Yang menjadi kepentingan besar bersama.

Karenanya sekali lagi, saya menilai pernyatan Pak Mahfud ini kurang bijak, kurang tepat, bahkan pada tingkatan tertentu berbahaya dan semakin memecah.

Semoga saja tidak!

New York, Amerika Serikat, 1 Mei 2019.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...