Makalah Demokrasi yang Merana: Terabaikannya Nilai-nilai Lokal dalam Pengembangan Demokrasi...

Demokrasi yang Merana: Terabaikannya Nilai-nilai Lokal dalam Pengembangan Demokrasi di Indonesia (5)

-

- Advertisment -

Ilustrasi: SumberL KITLV
Ilustrasi: SumberL KITLV

Oleh: Prof Dr. A. Rasyid Asba, MA, Sejarawan UNHAS

Tulisan Sebelumnya:  Demokrasi yang Merana: Terabaikannya Nilai-nilai Lokal dalam Pengembangan Demokrasi di Indonesia (4)

4. Kerajaan Luwu

Kerajaan Luwu pada awalnya berpusat di Ware adalah salah satu kerjaan tertua di Sulawesi Selatan dan merupakan cikal bakal kerjaan-kerajaan psisir di Sulawesi Selatan.

Kisah mengenai awal mula terbentuknya kerajaan Luwu masih banyak dibumbuhi dengan mitos. Disebutkan bahwa pendiri Kerajaan ini adalah batara Guru. Bersemayan di atas tahtanya di Ware, kemudian dilanjutkan oleh putranya bernama batara lattu. Namun Pusat kekuasaan itu terputus dalam waktu yang tidak Jelas.

Raja Luwu umunya bergelar datu selain itu juga dikenal Payungnnge ri Luwu. Gelar ini dikenakan pada setiap pemegang kendali pemerintahan.

Pada dasarnya semua pemegang kendali pemerintahan disebut Datu, namun tidak semua datu dapat diberi predikat Payungnge ri Luwu. Sebelum menjadi payung mereka harus menempuh ujian berat di temapat yang bernama “Tanah Bangkala”. Setelah lulus barulah datu dinobatkan menjadi Payung.

Lihat pula: Kedatuan Luwu, Benteng Terakhir Pelestarian Nilai Budaya Sulsel

Struktur organisasi pemerintahan Kerajaan Luwu yang berlaku sejak pemerintahan Teri rawe Datu XIV sebagai berikut:

1. Pajung atau datu sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan;

2. Cenning, Wakil datu dalam persidangan jika berhalangan hadir dan juga bertugas mengumumkan perang;

3. Pakketenni Ade yang terdiri Patunru, Pabbicara, Torilaleng dan Balirante.

Dalam mengentrol pemerintahan (semacam DPR) dibentuk dari Ade Asera yang terdiri dari:

1. Ana Tellue yang teridiri dari wilayah pemerintahan yaitu Bua ( Maddika), Ponrang ( Maddika dan Baebunta (Makole);

2. Bandera Tellue: Andi guru Anakkarung (mewakili kaum bangsawan), Andi Guru Antoriolong( mewakili pegawai Kerajaan) dan Andi Guru pappawaepu ( mewakili kaum pekerja);

3. Bate-bate Tellu yang terdiri Matowa Wage (Mewakili rakyat Wage), Matoa Cenrana ( mewakili rakyat Cenrana) dan matoa Lal;engtoro (mewakili rakyat Lalengtoro).

Dalam pembentukan anggota pangngaderreng terdiri atas dua badan yaitu Ade Asera serta Ade Seppulo Seddi. Namun pada masa pemerintahan Pati pasaung Datu XVII yang didampingi oleh Mangawang Patunru Musatafa, diadakan perubahan anggoata perubahan panggngaderreng Ade Seppulu seddi menjadi Ade Seppulu Dua.

Perubahan ini  dengan menambahkan sebuah jabatan bernama Qadhi atau yang digelar Datunna Syara dalam susunan pemangku adat. Hal itu disesuaikan dengan keadaan masyarakat setelah masuk Islam.

Di Dalam setiap persidangan ada dua belas, maka tiap-tiap anggota harus selalu mendasarkan pikiran dan pertimbangannya pada hukum dasar kerajaan baru. Hukum dasar itu adalah pengganti hukum dasar yang lama, berhubung karena Islam Menjadi agama resmi di Kerejaan Luwu.

Agama Islam masuk di Kerajaan Luwu pada masa pemerintahan Patiarase yang merupakan datu ke VI sekitar abad ke 17. Ketiga wilayah pemerintahan dalam kerajaan Luwu yang bergelar anak Tellue berakhir pada masa pemerintahan Andi Jemma yaitu datu ke 36 di Luwu, akan tetapi kekuasaannya telah berakhir pada masa pemerintahan Andi Kambo Opu daeng Risompa datu ke 34 yaitu sejak Belanda menguasai Kerajaan Luwu pada tahun 1906.

 

(Bersambung) …….

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you