Tahapan Menggemari Tahajud

by Penulis Palontaraq | Kamis, Apr 11, 2019 | 44 views
Shalat Tahajud. (foto: ist/palontaraq)

Shalat Tahajud. (foto: ist/palontaraq)

SHALAT  Tahajud adalah sholat yang luar biasa dan sangat istimewa. Inilah sholat sunnah satu-satunya yang perintahnya langsung disebutkan dalam Al-Qur’an disertai dengan keutamaannya. Maka sholat sunnah apa yang bisa menandinginya? Tidak ada. Karenanya ia sangat istimewa dan luar biasa.

Hukum shalat tahajud adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an mengenai sholat sunnah ini:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya:
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Israa’: 79)

Awalnya, sholat tahajud wajib bagi kaum muslimin. Setelah turun perintah sholat lima waktu, sholat ini menjadi sunnah muakkadah bagi kaum muslimin. Sedangkan khusus bagi Rasulullah, shalat ini hukumnya tetap wajib sehingga beliau tidak pernah meninggalkannya.

Lihat juga: Bacaan Do’a dan Dzikir setelah Shalat Fardhu

Dalam khazanah pendidikan di Pesantren atau tarbiyah dalam Islam, setidaknya ada empat proses tahapan dalam mencintai atau menggemari Shalat Tahajud, yaitu:

1. Memaksakan Diri

Paksakan diri untuk Shalat Tahajud, suka atau tidak, ringan ataupun berat. Paksakan diri untuk bangun tengah malam menjelang subuh. Pelajari dengan baik tata caranya dan do’a-do’a yang dianjurkan dalam Shalat Tahajud.

Shalat Tahajud di sepertiga malam adalah ibadah paling tepat untuk membangun kekuatan mental. Allah SWT berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلا

Artinya:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS.al-Muzammil: 6)

Itulah sebabnya, sejak masa silam, para orang soleh memiliki kebiasaan bermunajat dengan Allah SWT di malam hari dan lebih khusus lagi di sepertiga malam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

Artinya:
“Lakukanlah qiyamul-lail, karena ini kebiasaan Orang-orang soleh sebelum kalian.” (HR. Turmudzi dan dihasankan al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut Shalat Tahajud sebagai shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu. Nabi SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ

Artinya:
“Shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Allah juga perintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan Shalat Tahajud, sebagai tambahan kewajiban untuk beliau,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya:
“Pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra: 79)

Ini semua menunjukkan, Shalat Tahajud dan shalat malam adalah shalat yang sangat istimewa dalam islam, dan seharusnya menjadi “paksaan” bagi seorang muslim sampai menjadi kebutuhan.

Shalat Tahajud di sepertiga malam terakhir. (foto: ist/palontaraq)

Shalat Tahajud di sepertiga malam terakhir, hukumnya sunnah muakkadah. (foto: ist/palontaraq)

2. Membiasakan Diri

Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi ‘kebiasaan’. Kita akan merasa aneh jika tidak Sahalat Tahajud. Kita akan terbiasa bangun saat jam tahajud, walaupun tanpa alarm. Lanjutkan.

Waktu Shalat Lail (shalat malam) adalah antara setelah isya’ sampai subuh. Shalat malam (qiyamul lail) boleh dikerjakan di awal malam, pertengahan malam, atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sahabat Anas bin Malik, yang pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

Artinya:
“Setiap kami bangun agar ingin melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, pasti kami bisa melihat beliau shalat.” (HR. Bukhari 1141 dan an-Nasai 1627).

Artinya, kami bisa menjumpai shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkadang di awal malam, di pertengahan malam, dan terkadang di akhir malam.

Dan waktu paling utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Karena ini adalah waktu mustajab untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ

فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya:
“Rabb kami –Tabaroka wa Ta’ala– akan turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari 1145 dan Muslim 758).

Jika seusai tahajud masih ada waktu sisa, dianjurkan untuk tidur sejenak sebelum subuh, agar tidak mengantuk ketika melaksanakan Shalat Shubuh.

Aisyah pernah ditanya mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata Aisyah,

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ

فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

Artinya:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika beliau sempat melakukan hubungan, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar ke masjid.” (HR. Bukhari 1146).

Lihat juga:  Rahasia Sujud dalam Shalat

Shalat Tahajud sebagai sarana membangun kekuatan mental. (foto: ist/palontaraq)

Shalat Tahajud sebagai sarana membangun kekuatan mental. (foto: ist/palontaraq)

3. Menjadikan Tahajud sebagai Kebutuhan

Kebiasaan yang terus menerus dilakukan akan berubah menjadi ‘kebutuhan’.Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta TAHAJUD, Akan merasa rugi jika tidak tahajud.

Bagi yang bangun dari tidur untuk Shalat Tahajud, disunahkan sebelum shalat malam, agar dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.” (HR. Muslim 767)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa mengerjakan shalat malam tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at.

Aisyah menceritakan,

 

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

 

Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari 3569 dan Muslim 738.)

Kemudian dalam hadits lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

 

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

 

Artinya:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at.” (HR. Bukhari 1138 dan Muslim 764)

4. Ubah Kebutuhan menjadi Kenikmatan

Pada tahap ini Shalat Tahajud sudah menjadi candu. Sholat Tahajud berlama-lama adalah ‘kenikmatan’. Sedangkan ketika terlewat tidak tahajud akan membuat diri resah. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah istiqamah dan mengajak sebanyak banyaknya orang untuk Shalat Tahajud agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya Shalat Tahajud.

Ada ditahap manakah kita? Semoga kita semua selalu diringankan oleh Allah SWT untuk selalu dekat denganNYA, salah satunya dengan menggemari Shalat Tahajud. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response