Beranda Sosial Budaya Narasi Budaya Mengenal Manusia Belang "To Balo" di Barru

Mengenal Manusia Belang “To Balo” di Barru

Masyarkat Suku To Balo, Manusia Belang Di Pedalaman Barru
To Balo, Manusia Belang Di Pedalaman Barru (foto: makassarguide.com)

Oleh: M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya Sulsel

Tulisan Sebelumnya: Ammatoa, Jika Tak Kerja, Berarti mau Jadi Pencuri

PALONTARAQ.ID – SECARA harfiah, Dalam Bahasa Makassar, To Balo berarti “manusia belang”, to artinya orang dan balo artinya belang.

Sebutan “To Balo” diperuntukkan bagi komunitas tradisional yang bermukim di sekitar pegunungan Bulu Pao yang terbentang luas melintasi wilayah Kabupaten Barru dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

To Balo atau Manusia Balo mempunyai tampilan kulit “belang”, tidak seperti masyarakat lain pada umumnya. Pada semua bagian tubuh terdapat belang. Hal ini tidak lazim, karena sejak lahir sudah mempunyai kulit yang belang.

Manusia Balo mempunyai rupa kulit tidak lazim pada sekujur tubuhnya, khususnya pada kaki, badan, serta tangannya, dipenuhi dengan bercak putih. Sementara tepat ditengah dahi mereka, bercak itu juga terpampang hampir membentuk segitiga.

Kelainan yang diidap oleh Masyarakat To Balo bukanlah penyakit akan tetapi pembawaan gen. Namun, penduduk setempat meyakini sebagai kutukan dewa.

Lihat juga: Fragmen Sejarah Barru: Tentang Petta Tomaburu Limmanna

Bagaimana ceritanya sehingga To Balo hidup di sekitar pegunungan dan hutan Bulu Pao, Barru?

Dari narasi tutur yang berkembang tentang To Balo, didapatkan alkisah tentang satu keluarga yang suatu hari melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin.

To Balo (foto: ist/palontaraq)
To Balo (foto: ist/palontaraq)

Satu keluarga nenek moyang To Balo ini bukan hanya menyaksikan, keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku kedua kuda itu.

Menurut narasi tutur yang diterima masyarakat sekitar permukiman To Balo itu, perbuatan satu keluarga itu membuat Dewata SeuwaE (Tuhan) marah lalu mengutuk keluarga ini.

Lihat juga: Silsilah Raja-raja Tanete

Akhirnya satu keluarga itu berkulit belang seperti kuda yang dilihatnya. Lantaran malu dengan keadaan kulitnya yang belang (ma’balo; jadi belang), keluarga tersebut memilih untuk hidup di pegunungan yang jauh dari keramaian.

Ada juga cerita versi lain. Yaitu cerita yang diyakini To Balo bahwa sebenarnya manusia dan kuda turun bersama dari langit kala bumi pertama kali diciptakan.

Artinya, hewan berkaki empat itu bersaudara dengan Manusia. Tapi versi kedua ini dianggap hanya cerita rekaan dibanding dari cerita versi pertama yang lebih banyak mempercayainya.

Ada pula yang beranggapan dari kalangan para raja dan bangsawan di masa lampau, bahwa kelainan kulit “To Balo” adalah sebagai tanda kepemilikan kesaktian, sehingga mereka seringkali dipilih menjadi pengawal raja.

To Balo di Pedalaman Barru. (foto: daradaeng)
To Balo di Pedalaman Barru. (foto: daradaeng)

Kelainan yang diidap masyarakat To Balo hingga saat ini dianggap bukanlah penyakit tetapi sebagai gen bawaan. Artinya, belang atau bercak putih pada tubuh mereka adalah sifat gen dominan yang menurun dari leluhurnya.

Saat pria dan wanita keturunan To Balo menjalin perkawinan dan mempunyai regenerasi tobalo pula, maka sudah pasti salah satu pasangan di antara keduanya menurunkan “belang” tersebut pada anaknya.

Lihat juga:  Dange dan Lanteangoro’: Pelengkap Eksistensi Komunitas Bissu

Komunitas Tradisional To Balo menggunakan bahasa yang disebut Bahasa Bentong. Bahasa ini merupakan bahasa gabungan antara bahasa Makassar, Bugis dan Bahasa Konjo.

Penulis menganggap “Bahasa Bentong” ini adalah hasil pertemuan atau perpaduan dua-tiga bahasa daerah khas dialek orang pegunungan.

Komunitas To Balo hidup mengasingkan diri dan hidup dari pertanian dan perkebunan di pedalaman terpencil di kaki pegunungan Bulu Pao.

Hal ini dilakukan komunitas ini sudah berabad silam, sejak zaman kerajaan masih berlangsung di Tanah Bugis Makassar.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi dan kemajuan pembangunan daerah, Populasi To Balo kini tinggal segelintir. Hal ini terkait kepercayaan To Balo sendiri, bahwa jumlah satu keluarga tak boleh lebih dari 10 orang.

Jika tidak, keluarga ke-11 dan berikutnya harus mati. Entah dibunuh langsung atau dibuang ke suatu tempat sampai diyakini tak bernyawa.

Keluarga To Balo. (foto: ist*/palontaraq)
Keluarga To Balo. (foto: ist*/palontaraq)

Satu di antara yang sedikit itu tersebutlah keluarga Nuru bin Rien. Bersama satu istri, dua anaknya Rakdak dan Mantang, serta beberapa anggota keluarga, dia membangun sebuah gubuk di sebuah sudut Pegunungan Bulu Pao. Di petak sempit inilah, kehidupan Nuru sekeluarga jauh dari udara kota.

Lihat juga: Perkawinan Sah jika Kedua Mempelai sudah Tanam Pohon

Keseharian To Balo diisi dengan bercengkrama, memasak, bercocok tanam ubi, jagung, dan kacang, serta mengolah gula merah. Sesekali mereka turun gunung juga untuk menjual hasil bercocok tanam serta gula merah ke Pasar Kamboti, Desa Bulo-Bulo.

Dari pekerjaan ini, mereka menerima duit yang tak seberapa. Tapi hasil itu sudah membuat mereka merasa sudah cukup.

Anak-anak To Balo bersekolah di sekolah terdekat dari pedalaman tempat tinggalnya, yaitu SD Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru.

Anak-anak To Balo ditakdirkan bersekolah seadanya, peralatan sekolahnya juga seadanya, karena selepas pulang sekolah, mereka diwajibkan untuk mengikuti orangtuanya untuk masuk kebun dan hutan membantu mencari nafkah.

Orang-orang tua To Balo hidup di malam hari hanya dengan penerangan dari sinar lampu teplok. Mereka memang tak pernah menuntut listrik.

Hidupnya digantungkan dari keakraban dengan alam sekitar. Entah sampai kapan, To Balo memilih hidup seperti itu dan nampaknya pula, sampai hari ini pihak Pemerintah Kabupaten setempat belum menemukan solusi untuk To Balo keluar dari keterkungkungan tersebut. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT