Fragmen Sejarah Barru: Tentang Petta Tomaburu Limmanna

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Mar 30, 2019 | 249 views
Kompleks Makam Raja-raja Tanete, Barru. (foto: ist/palontaraq)

Kompleks Makam Raja-raja Tanete, Barru. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Petta Tomaburu Limmanna merupakan Raja ke-VIII di Kerajaan Agangnionjo (pada perkembangan selanjutnya berganti nama menjadi Kerajaan Tanete, kerajaan ini sekarang telah menjadi bagian dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan).

Petta Tomaburu Limmanna menjadi raja pada Tahun 1597 menggantika raja sebelumnya yang bernama Daeng Sanjai. Ia juga saudara dari Petta Pallase’-Lase’E yang merupakan penyiar Agama Islam di Barru sekaligus Raja Tanete ke-IX.

Lihat juga:  Menelisik Sejarah Kelahiran Pemerintah Kabupaten Barru

Pada suatu ketika, tangannya dipatuk oleh seekor burung rangkong yang menyebabkan muncul luka pada tangannya, namun luka pada tangannya ini tidak kunjung sembuh, sehingga diberilah gelar kepadanya Tomaburu Limmanna (orang yang tangannya hancur).

Petta Tomaburu Limmanna memiliki kebiasaan berkunjung ke Kerajaan Gowa, ia juga disenangi oleh orang banyak, bukan hanya rakyatnya, tapi juga disegani oleh kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Petta Tomaburu Limmanna memiliki banyak keturunan. Perilakunya juga rendah hati dan suka membantu. Jika ada rakyatnya yang sedang kesusahan, maka ia pun dengan rendah hati mendatangi semuanya tanpa membeda-bedakan status dan latar belakang sosialnya.

Salah seorang diantaranya yang pernah dibantu Petta Tomaburu Limmanna yaitu Daeng Lepa yang merupakan putri dari anak tengah To Sangiang yang dirawat dan dididiknya. Daeng Lepa inilah nantinya menjadi Raja di Bawamua, yang bukan dari keturunan raja.

Suatu ketika Petta Tomaburu Limmanna berangkat ke Kerajaan Gowa menghadap ke KaraengE ri Gowa. Secara kebetulan pada saat Petta Tomaburu Limmanna menghadap Karaeng Gowa, datang pula Opu Tanete dari kerajaan Tanete  di Pulau Selayar menghadap Karaeng Gowa.

Rombongan dari Tanete Selayar ini datang membawa jenazah Lasoe yang merupakan anak Datu Luwu yang tertimpa musibah, perahunya tenggelam dan kemudian terdampar di Selayar, dibawalah jenazah ini ke Gowa.

Karaeng Gowa kemudian memohon kepada Petta Tomaburu Limmanna dan Opu Tanete untuk bersama-sama membawa jenazah tersebut ke Kerajaan Luwu.

Peta kuno Kerajaan Agangnionjo/Tanete yang dibuat oleh Jean Michiel Aubert pada Tahun 1752. Foto: commons.m.wikimedia.org

Peta kuno Kerajaan Agangnionjo/Tanete yang dibuat oleh Jean Michiel Aubert pada Tahun 1752. Foto: commons.m.wikimedia.org

Asal Muasal Perubahan Nama Agang Nionjo menjadi Tanete

Oleh karena itu, bersama-sama diangkatlah jenazah tersebut ke atas perahu Raja Agangnionjo, kemudian berlayar sampai ke Agangnonjo. Begitu peti mayat itu sampai di Agangnionjo, digotonglah naik ke belakang istana, kemudian dibuatkan usungan.

Setelah itu diusunglah jenazah itu menuju Luwu diiringi oleh Petta Tomaburu Limmanna dan Opu Tanete, mereka bersama-sama bahu-membahu mebawanya hingga ke Luwu.

Lihat juga: Menengok Obyek Wisata Sejarah Budaya di Barru

Berawal dari kebersamaan Petta Tomaburu Limanna dan Opu Tanete Selayar  ke Luwu inilah, tumbuh rasa persaudaraan di antara kedua raja ini. Sebagai tanda persaudaraan, maka nama Kerajaan Agangnionjo diubah menjadi Kerajaan Tanete, tanda bersatunya orang yang ada di Tanete Selayar dengan Rakyat Agangnionjo di Barru, sekarang ini.

“Jika rakyat Agangnionjo bepergian ke Tanete Selayar, Maka ia menjadi orang Tanete Selayar, begitupun sebaliknya jika orang Tanete Selayar berkunjung ke Agangnionjo, maka ia sudah dianggap sebagai orang Agangnionjo. Jika raja dari kedua negeri saling melewati negeri, maka wajib bagi mereka untuk singgah sebentar sekalipun meraka dalam keadaan terburu-buru.”

Setelah itu Opu Tanete Selayar bersama Petta Tomaburu Limmanna berangkat kembali ke Gowa untuk menyampaikan bahwa mereka telah berhasil mengembalikan jenazah tersebut ke Luwu. Setelah itu kedua raja ini diizinkan untuk kembali ke negerinya masing-masing,

Opu Tanete kembali ke Selayar, sementara Petta Tomaburu Limmanna kembali ke Agangnionjo yang telah berganti nama menjadi kerajaan Tanete. Demikianlah dijelaskan Basrah Gising. dalam Sejarah Kerajaan Tanete (Makassar, 2002)

Antara Tanete dan Segeri

Petta Tomaburu Limmanna kemudian menikah dengan Orang Gowa yang masih memiliki darah keturunan Luwu. Selang beberapa lama pernikahannya, istri Tomaburu Limmanna kemudian melahirkan seorang anak, anaknya itu kemudian dibawa ke Sigeri dan menetap di Kampung Taruttung.

Oleh karena keluarganya tinggal di Sigeri, yang dilakukan Petta Tomaburu Limmanna setiap hari hanya bolak balik Sigeri-Tanete, ia membuka sawah pertanian di Sigeri, mencari ikan, dan juga sering naik turun gunung untuk berburu. Jika  Petta Tomaburu Limmanna kembali ke Tanete, maka ia diiringi oleh Orang Sigeri, nanti setelah sampai di Tanete, barulah orang Sigeri kembali.

Begitupun sebaliknya, Jika Petta Tomaburu Limmanna berkunjung ke Sigeri, maka ia diiringi oleh orang Tanete, nanti setelah sampai ke Sigeri, barulah orang Tanete kembali. Pada akhirnya, Tanete (Barru sekarang ini) dan Segeri (wilayah Pangkep sekarang ini) seperti sudah bersaudara rakyatnya.

Asal Usul “Laparengki” dan “Pancana”

Pada masa ini,  Kerajaan Tanete kian ramai didatangi oleh bangsa-bangsa dari mancanegara. Diantaranya ada orang Parengki yang masuk ke Tanete kemudian diberi tempat bermukim di sebelah selatan hulu Sungai Lajari, itulah sebabnya kampung itu diberi nama Kampung Laparengki.

Lihat juga: Sumpang Ralla, Sejarah Zaman Megalithikum dalam Kompleks Makam

Datang pula seorang putri dari negeri Johor yang kemudian diberi tempat bermukim di sebelah selatan Sungai Tanete, putri Johor tersebut kemudian diturungkan dari kapalnya dengan cara digotong oleh dua orang menggunakan tangan (ripanca).

Itulah sebabnya kampung itu diberi nama Kampung Pancana.  Dibelakang hari Pancana ini nantinya  ibukota kerajaan, Kerajaan Pancana, salah satu kerajaan bawahan Tanete, rajanya disebut Arung Pancana.

Makam Petta Tomaburu Limmanna (foto: ist/palontaraq)

Makam Petta Tomaburu Limmanna (foto: ist/palontaraq)

Warisan Petta Tomaburu Limmanna

Petta Tomaburu Limmanna menerima banyak warisan lahan pertanian dari raja sebelumnya, karena dianggap terlalu luas baginya, maka lahan pertanian itu kemudian dibagikan kepada rakyatnya untuk dikerjakan. Sementara yang menjadi hak mutlak sang raja adalah semua lahan pertanian yang ada di dalam benteng.

Petta Tomaburu Limmanna juga masih menguasai tambak di kampung Berarue, selain sawah dan tambak, sang raja juga punya kekuasaan atas sungai dan lautan. Meskipun demikian, tetap rakyat Tanete juga yang harus mengerjakan, merawat, dan menjaganya. Petta Tomaburu Limmanna kemudian mengangkat saudara dan  anaknya menjadi penguasa di beberapa wilayah di dalam Kerajaan Tanete.

Wilayah-wilayah Kerajaan Tanete tersebut dijadikan palili  atau kerajaan bawahan,  yaitu antara lain:  Alekale, Punranga, Tinco, Ajangpulu/Jempulu, Dengeng Dengeng, Gattareng, Barang, Salopuru, Wanua Waru/Wanawaru, Pange, Pangi, Beruru, Lemo, Bellayanging, Rea, Mammeke, Ampiri, Balenrang, Salomoni, Bolli, Cinekko, Lipukasi, Lalolang, Pao-Pao, Palludda, Laponcing, Lempang, Barammase, dan Pancana.

Tidak lama setelah hal-hal penting yang menyangkut pembagian wilayah kerajaan Tanete tersebut, Petta Tomaburu Limmanna kemudian wafat dan dikebumikan di dekat makam Daeng Sanjai, dan yang menggantikannya memerintah (maggau’) di  Kerajaan Tanete yaitu saudaranya, Petta Pallase-lase’e.  [Sumber: Gising, Basrah. 2002. Sejarah Kerajaan Tanete. Makassar: Sama Jaya.] (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response