Bagaimana Menulis Laporan Perjalanan?

Penulis di kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di kompleks Candi Prambanan, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

LAPORAN Perjalanan (Traveling Report) merupakan tulisan yang menguraikan kisah dan seluk beluk perjalanan. Tentang perjalanan yang dilakukan itu bertujuan apa, menggunakan apa, bersama siapa, biayanya darimana, mengapa harus dilakukan perjalanan itu, siapa yang mau dikunjungi sehingga suatu perjalanan dilakukan, serta merekam kegiatan apa saja dilakukan selama dalam perjalanan.

Berdasarkan bentuk penyajiannya, laporan perjalanan dapat dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu formulir, surat, artikel, dan laporan resmi. Tulisan ini menguraikan tentang bagaimana menulis laporan traveling dalam bentuk artikel, yaitu penyajian laporan perjalanan ke suatu tempat yang dikunjunginya dengan mendeskripsikan bagaimana perjalanan itu dilakukan serta destinasi wisata atau sekolah/pesantren yang dikunjungi.

Lihat juga:  Menulis Travel Blogging

Laporan perjalanan harus berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan observasi langsung pada tempat tertentu yang dikunjungi. Artinya, laporan perjalanan berisi laporan yang berisi kegiatan dalam melakukan perjalanan ke suatu tempat yang didasarkan pada pengamatan, pengalaman, dan observasi langsung terhadap tempat yang dikunjungi.

Laporan perjalanan berisi tentang cerita persiapan yang dilakukan sebelum perjalanan dilakukan, penjelasan kegiatan apa saja yang dilakukan selama perjalanan berlangsung, siapa yang ditemui, tempat apa saja, bersama siapa, dengan menggunakan kendaraan apa, apa saja yang dilihat, serta tujuan yang didapat setelah perjalanan berlangsung.

Penulis di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Tanah Lot, Bali. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Tanah Lot, Bali. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Jatim Park, Malang. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Jatim Park, Malang. (foto: ist/palontaraq)

Pada prinsipnya menulis laporan perjalanan hampir sama dengan menyusun tulisan jenis lainnya. Karena pada hakekatnya menulis merupakan aktivitas yang berproses. Penulisan laporan perjalanan merupakan suatu proses, yang didalamnya ada sejumlah tahapan, mulai dari persiapan, kegiatan dalam perjalanan, kepulangan, sampai penulisan laporan.

Yang harus ada dalam laporan perjalanan adalah nama kegiatan, dasar pemikiran, tujuan perjalanan, waktu, tempat dan lokasi perjalanan, peserta, biaya dan sumber biaya, Hal-hal yang diamati (disertai dengan hasil wawancara dan foto dokumentasi) serta kesan perjalanan secara keseluruhannya, termasuk didalamnya pendeskripsian atau simpulan dari perjalanan yang dilakukan.

Menulis Perjalanan harus menjawab mengapa suatu perjalanan perlu dilakukan. (Temukan jawabannya: DISINI)

Lihat juga:  Celebes Canyon, Wisata Alam Tersembunyi di Tanete Riaja

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis Laporan Perjalanan adalah:

Pertama, Memberikan sudut pandang yang segar, meliputi beberapa pokok permasalahan yang tidak biasa yang didapati dalam perjalanan. Kreatiflah dalam menulis perjalanan, termasuk dalam menggunakan gaya bahasa seperti metafora dan simile yang penuh daya dan orisinal.

Penulis di Taman Selecta, Malang, Jatim. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Taman Selecta, Malang, Jatim. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga: Pesona Cinta Taman Bunga Selecta

Kedua, Personal, Supaya pembaca terkesan dan yakin bahwa benar perjalanan itu dilakukan oleh yang bersangkutan, ambil pendekatan sendiri untuk sebuah tempat yang dikunjungi, sebuah aktivitas yang coba dilakukan, berkesan atau menginspirasi, ataukah memberikan perspektif baru. Kenali dan jelaskan kepada pembaca. Cerita harus memiliki sudut pandang personal.

Penulis di depan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga:  Mengenal Kampung Turis Sosrowijayan di Simpang Malioboro

Baca juga:  Menengok Bungker Jepang di Anggeraja

Ketiga, Jenaka, tulisan perjalanan hendaknya memiliki sebuah nada yang cerah, cemerlang, hidup, dan jenaka.

Perjalanan adalah sebuah proses berangkat dari yang familiar menuju kepada yang asing, unik, tidak biasa, sering kaya akan peristiwa komedi dan jenaka. Masukkan Unsur-unsur tersebut ke dalam tulisan di tempat yang patut dan jangan takut membuat pembaca tertawa. Juga, jangan takut untuk memasukkan ”kecelakaan”, misalnya, ke dalam bagian-bagian tulisan.

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Keempat, Surprise, berilah kejutan kepada pembaca. Berikan pembaca sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang hanya diketahui sedikit orang—tentang suatu lokasi misalnya melakukan ini dengan mencoba aktivitas yang tidak biasa, bertemu dengan Orang-orang yang baru, terlibat ke dalam adegan yang asing ketika berada dalam sebuah perjalanan.

Penulis di Bandara Juanda, Surabaya. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Bandara Juanda, Surabaya. (foto: ist/palontaraq)

Kelima, Seimbang, tulisan perjalanan harus memadukan observasi personal, deskripsi dan komentar dengan informasi praktis yang berguna bagi pembaca.

Keseimbangan yang dimaksudkan disini adalah keberimbangan penulisan yang cermat antara pengalaman personal, deskripsi lokasi, deskripsi kegiatan atau peristiwa.  Seorang penulis kisah perjalanan, haruslah juga memperhatikan akurasi dan kelengkapan informasi, menggali fakta tentang sumber yang diwawancarai serta deskripsi lokasi tempat yang lengkap.

Penulis di Kalipaingan, Pekalongan, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kalipaingan, Pekalongan, Jawa Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga: Kali Paingan dan Kenangan Tubing

Keenam, Kutipan, untuk memperkaya tulisan, kutip komentar teman perjalanan atau pengunjung suatu kegiatan atau lokasi. Silakan mengekspresikan perasaan mereka, kengerian, atau ketakjuban mereka tentang suatu tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung.

Penulis di Bunaken, Menado, Sulawesi Utara. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Bunaken, Menado, Sulawesi Utara. (foto: ist/palontaraq)

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam menulis laporan perjalanan, yaitu aspek isi (substansi) dan aspek kebahasaan (peredaksian). Aspek isi berkaitan dengan materi atautopik yang dilaporkan, sedangkan aspek kebahasaan berkaitan dengan media atau sarana untuk menyampaikan atau mewadahi materi.

Lihat juga: Menengok Taman Sari, Kompleks Permandian Raja Jawa

Dalam penyusunan aspek ini tercermin dalam penjabaran topik menjadi subtopik yang terangkum dalam kerangka tulisan, sedangkan aspek kebahasaan tercermin dalam penggunaan diksi, pemakaian kalimat, penyusunan paragraf, dan aspek simbol tulisan yang meliputi penggunaan ejaan dan pungtuasi.

Penulis di Lolai, Toraja Utara. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lolai, Toraja Utara. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga:  Eksotisme Lolai: Negeri diatas Awan Toraja Utara

Narasi laporan perjalanan juga perlu memperhatikan aspek ejaan dan tanda baca. Dalam hal ini, aspek ejaan mencakup pemakaian huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan. Sementara itu, aspek tanda baca tanda baca mencakup penggunaan titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!), tanda tanya (?), garis miring (/), garis pemisah (-), dan tanda kutip (“….”).

Intinya, suatu laporan perjalanan ditulis untuk menjawab hal-hal: Apa? Siapa? Kapan? dimana? Mengapa? Bagaimana? terkait perjalanan (traveling) atau studi komparative yang dilakukan. Buatlah tulisan perjalanan yang berkesan dan menjawab pertanyaan pembaca terkait urutan tempat, waktu, dan kegiatan yang dilakukan.

Lihat juga: Pesona Karst dan Wisata Sungai Rammang-rammang

Penulis menelusuri Sungai Pute, Rammang-rammang, Maros, Sulsel. (foto: ist/palontaraq)

Penulis menelusuri Sungai Pute, Rammang-rammang, Maros, Sulsel. (foto: ist/palontaraq)

Demikianlah perjalanan seharusnya dituliskan. Ingatlah bahwa sebagian besar tempat atau lokasi kunjungan, sangat mungkin sebelumnya sudah ditulis orang lain. Jadi, harus ada sesuatu yang baru dalam tulisan itu dan disinilah salah satu tantangan penulisan laporan perjalanan, aspek originilitas.

Ok gaes, Semoga dilancarkan perjalanannya, dan ditunggu tulisannya. Jika kamu punya kisah perjalanan yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca, silakan dikirimkan ke: palontaraq@gmail.com dan jika beruntung dapat dimuat di Rubrik Traveling web blog Palontaraq.id atau Palontaraq.com (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response