BerandaNarasi SejarahBuya Hamka Melawan PKI

Buya Hamka Melawan PKI

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – MARI  kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan.

Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar.  Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.

Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957.

Berteriaklah Presiden Soekarno bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral. Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari partai politik  dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia.

Lihat juga: Menulis ala Buya Hamka

Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari  Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).

Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai  Orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang.  “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden.

Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh  Alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) mendukung konferensi Alim-ulama itu, publikasi pembela Soekarno dan surat kabar komunis telah mencaci maki para Alim-ulama kita.

Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung pada Bulan Juli 1966 lalu.

Muktamar yang berlangsung pada Tanggal 8-11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa:

  1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi  Umat Islam menganutnya.
  2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.
  3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau  Partai-partai berideologi komunisme, PKI,  SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lainnya,  tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi  Umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.

Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu.  Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan.  Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurang ajar).

Akibat dari keputusan Muktamar tersebut,  para Alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai  Orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan lain sebagainya.  Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada Tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun.

Dan banyak lagi Alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi, terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil.  Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno.

Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan  Ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah Panji Nasakom.

Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia.

Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yang telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan.

Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.

Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada Ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan  Ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.

Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia.  Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya.  Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.

Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.

Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang  mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno?

Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka.  Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.

Buya Hamka dan Soekarno
Buya Hamka dan Soekarno.

Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan. Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah Ahli waris para nabi (warasatul anbiya’).

Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.

Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya.  Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.

(Disarikan dari Kumpulan Rubrik “Dari Hati ke Hati” – Majalah Panji Masyarakat dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panjimas, halaman 319).

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT