Aplikasi untuk Relawan Bencana Indonesia

Dampak dari Gempa-Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah Bulan September 2018 lalu. (foto: ari/palontaraq)

Dampak dari Gempa-Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah Bulan September 2018 lalu. (foto: ari/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

KEMAJUAN  Teknologi Informasid dan Komunitas (TIK) yang cukup pesat semakin memudahkan dan mempercepat penanggulangan bencana. Berbagai aplikasi TIK terkait darurat bencana dan manajemen penanggulangannya diciptakan, baik oleh NGO di luar pemerintah maupun oleh instansi pemerintah dimaksudkan untuk menjawab tantangan tanggap darurat serta menyuplasi informasi yang memadai bagi semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan bencana.

Khusus di Indonesia, beberapa aplikasi yang memuat informasi kebencanaan dan penanganannya pelayanan informasinya, diantaranya adalah:

1. Info BMKG

Info BMKG merupakan aplikasi resmi milik Badan Meteorolgi dan Geofisika yang menyediakan berbagai informasi kebencanaan seperti gempa bumi, peringatan cuaca dini dan info aktual seputar BMKG. Pengguna bisa memantau info seputar gempa bumi yang terjadi dengan kekuatan 5 skala richter ke atas.  Aplikasi ini bisa diunduh di Google Play Store dan iTunes. Agar lebih akurat, pengguna aplikasi info BMKG bisa pengatur lokasi ke mode High Accuracy.

Info BMKG. (foto: tabloidpulsa)

Info BMKG. (foto: tabloidpulsa)

2. Aplikasi TERRA

Aplikasi TERRA (Telkomsel Emergency Response and Recovery Activity) merupakan aplikasi tanggap darurat bencana guna membantu operasional lapangan para relawan mengevakuasi dan memulihkan korban.

Menurut Direktur Sales Telkomsel Mas’ud Khamid, aplikasi TERRA  merupakan aplikasi Mapper Tracker berbasis online digital map database, menyediakan sejumlah data penting terkait proses tanggap bencana seperti informasi lokasi kantor pemerintahan daerah setempat, kantor kepolisian, serta Markas TNI terdekat yang biasanya menjadi lokasi Posko Utama Penanganan Bencana Alam.

Aplikasi-TERRA-Jadi-Andalan-Relawan-Evakuasi-Korban-Bencana-Alam-Garut

Aplikasi-TERRA-Jadi-Andalan-Relawan-Evakuasi-Korban-Bencana-Alam-Garut (foto: suarajakarta.co)

TERRA juga menampilkan profil relawan beserta keahlian individunya dalam penanganan bencana, serta menunjukkan lokasi terdekat para relawan untuk memudahkan mobilisasi dalam percepatan tanggap bencana.

Dengan aplikasi ini memungkinkan tim relawan mengetahui lokasi menara telekomunikasi Telkomsel terdekat, sehingga membantu relawan mendapatkan kualitas jaringan maksimal ketika berkoordinasi di lapangan.

TERRA juga menyediakan layanan SMS guna memastikan kesiapan relawan serta layanan pembaruan foto dan video kondisi lokasi bencana secara real time.

3. Aplikasi GOTRO

Aplikasi GOTRO (Gotong Royong) merupakan hasil karya Pusat Studi Bencana Alam (PSBA)  berupa aplikasi mobile  yang menginformasikan kondisi posko pengungsi korban bencana.

Aplikasi GOTRO berisikan berbagai informasi terkait perkembangan kondisi posko pengungsian korban bencana. Informasi yang bisa didapatkan berupa informasi pengungsi meliputi usia, jenis kelamin, kondisi, dan jumlah pengungsi. Selain itu, juga berisikan informasi, seperti kebutuhan logistik, tenaga kesehatan dan psikolog, serta menu donasi.

GOTRO dikembangkan sejak awal 2018 dengan tiga sub sistem, yakni GOTRO Relawan, Admin, dan GOTRO Masyarakat. Cara kerja aplikasi ini dimulai dari pemutakhiran laporan kondisi posko bencana dari relawan melalui aplikasi GOTRO Relawan yang sudah terverifikasi oleh sistem admin.

Pengguna aplikasi ini akan memperoleh notifikasi dan bisa memilih jenis serta jumlah bantuan yang akan dikirim. Jenis bantuan dapat berupa barang-barang kebutuhan pengungsi maupun dana sosial. Masyarakat yang akan memberikan bantuan juga akan diverifikasi terlebih dahulu oleh admin.

Aplikasi Gotro (foto: merdeka.com)

Aplikasi Gotro (foto: merdeka.com)

Dengan aplikasi ini,  informasi kebencanaan bisa lebih cepat diterima masyarakat luas karena pelibatan relawan sebagai responden lokal yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Setelah sumber informasi diverifikasi admin dan terunggah dalam sistem maka masyarakat pengguna GOTRO akan memperoleh notifikasi terkait kejadian bencana di Indonesia. Masyarakat dapat mengurutkan informasi kebencanaan berdasarkan bencana terbaru, terdekat, maupun spesifik pada kota yang terdampak.

Gotro memiliki tiga menu utama, yaitu informasi bencana, posko, dan donasi. Menu infromasi bencana menampilkan foto-foto kejadian bencana hasil unggahan relawan, pengungsi, serta informasi korban meninggal dunia dan luka-luka.

Sementara pada menu donasi disediakan dua pilihan untuk membantu para pengungsi yaitu berbentuk barang yang merujuk pada daftar kebutuhan di setiap posko dan dana sosial. Sedang pada menu posko menampilkan lokasi setiap posko yang dapat dilihat langsung dalam google maps. Aplikasi ini juga memungkinkan adanya pilihan penambahan titik posko sesuai kondisi di lapangan.

GOTRO telah dirilis pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Bencana ke 5 di Padang, 1-4 Mei 2018.  Aplikasi ini menjadi aplikasi mobile kebencanaan pertama di Indonesia yang memberikan informasi terkait kondisi posko pengungsi.  Aplikasi GOTRO ini gratis dan dapat diunduh siapa saja melalui google playstore.

Keberadaan aplikasi ini diharapkan bisa membantu posko-posko pengungsian yang acap luput dari pemberitaan media massa, sehingga  pendistribusian logistik bagi pengungsi dapat berjalan efektif dan efisien.  Penyempurnaan aplikasi ini bisa menjadi salah satu instrumen dalam standar operasional prosedur pendistribusian logistik dan manajemen tanggap darurat bencana di Indonesia.

4. Aplikasi Deteksi Dini Bencana BNPB

Ada tiga Aplikasi deteksi dini terjadinya bencana ala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), yaitu tersebut bernama InaWARE, InaSAFE, dan InaMHEWS.  Aplikasi InaWARE merupakan aplikasi pemantauan sebagai alat bantu dan fungsi pendukung dalam pengambilan keputusan.

InaSAFE merupakan software gratis, skenario dampak dan kesiapsiagaan dan resiko yang lebih baik, dan InaMHEWS adalah sistem informasi kombinasi prediksi cuaca.  Tujuan ketiga aplikasi ini untuk monitor  semua data dan informasi kebencanaan, yang digunakan untuk memberikan peringatan dini yang dapat dipercaya.

Aplikasi Kebencanaan BNPB. (foto: youtube)

Aplikasi Kebencanaan BNPB: InaWARE, InaSAFE, dan InaMHEWS. (foto: youtube)

5. Aplikasi Geo Data Collect (GDC)

Aplikasi Geo Data Collect (GDC), adalah aplikasi pada ponsel pintar berbasis android yang berfungsi untuk melaporkan informasi seputar bencana. Aplikasi ini dikembangkan oleh Humanitarian Openstreetmap Team (HOT) Indonesia dan PETAJakarta.org.

Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta turut mendukung sistem kaji cepat bencana menggunakan GDC di awal tahun 2016, untuk memudahkan dalam pengumpulan data survey lapangan.

Aplikasi GDC (sumber: OpenStreetMap Indonesia)

Aplikasi GDC (sumber: OpenStreetMap Indonesia)

Data yang dimasukkan ke dalam GDC nantinya akan menjadi laporan lapangan yang akan ditampilkan secara real time untuk membantu BPBD dalam mengambil keputusan selama peristiwa banjir atau bencana lainnya seperti pohon tumbang, kebakaran, dan konflik sosial. Laporan pengungsian juga disediakan di dalam GDC.

Informasi bencana yang bisa dilengkapi oleh pengguna melalui GDC diantaranya adalah identitas pengguna, jumlah korban dan pengungsi, interval tinggi genangan banjir, serta titik kordinat lokasi dengan menggunakan fitur GPS (Global Positioning System), dimana dibutuhkan koneksi internet yang baik agar agar lokasi pengguna dapat terdeteksi. Informasi tersebut kemudian akan dikirimkan ke server BPBD. Data yang sudah diterima akan diolah oleh BPBD untuk membantu dalam pengambilan keputusan teknis maupun kebijakan untuk penanganan bencana.

6. Aplikasi Siaga Bencana dan First Aid PMI

Palang Merah Indonesia (PMI) meluncurkan aplikasi Siaga Bencana dan Pertolongan Pertama untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana dan berbagai situasi darurat dalam kehidupan sehari-hari. Kedua aplikasi tersebut dapat diakses melalaui sistem Android dan IOS.

Fitur-fitur dalam Aplikasi Siaga Bencana seperti informasi dan pembelajaran tentang bagaimana mengenali risiko, mengurangi risiko, dan membuat rencana darurat, fitur alert atau instan pesan peringatan yang dikirimkan ke ponsel saat terjadi gempa atau tsunami, informasi sejumlah bencana yaitu gempa, tsunami, puting beliung, dan banjir.

Dalam Aplikasi Pertolongan Pertama terdapat sejumlah fitur, yaitu informasi tentang berbagai macam penyakit dan cara pencegahannya, bagaimana menyiapkan diri saat kondisi darurat, serta panduan untuk melakukan tindakan yang harus dilakukan saat kondisi darurat.

Aplikasi First Aid PMI. (foto: PMR Wira Adhi Bakti)

Aplikasi First Aid PMI. (foto: PMR Wira Adhi Bakti)

“Yang membedakan Aplikasi Pertolongan Pertama PMI dengan aplikasi pertolongan pertama lainnya adalah dalam aplikasi ini terdapat informasi tentang epidemi yang sering terjadi di Indonesia seperti malaria, demam berdarah, avian influenza (flu), dan diare.

Untuk lebih mengoptimalkan fungsi kedua aplikasi ini untuk masyarakat, di dalam kedua aplikasi terdapat fitur Ujian yang mengajak pengguna aplikasi untuk menguji sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang hal-hal terkait siaga bencana maupun pertolongan pertama. Selain itu, kedua aplikasi ini juga mencakup informasi tentang kegiatan dan pelayanan PMI dan bagaimana menjadi relawan PMI.

Pembuatan Aplikasi Siaga Bencana dan Pertolongan Pertama ini merupakan kerjasama antara PMI dan Palang Merah Amerika serta Global Disaster Prepardness Centre (GDPC) dengan dukungan dana dari United State Agency for International Development (USAID). Penggunaan teknologi informasi dan telekomukasi oleh PMI dalam berbagai program dan pelayanannya merupakan cara yang sangat strategis, efektif, dan berkelanjutan.

7. Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bencana

Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bencana (SIMB) ini berbasis Geographic Information System (GIS), memuat seluruh sistem informasi seperti logistik, personil relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), kendaraan siaga bencana, prakiraan cuaca dan peta kerawanan bencana diintegrasikan dalam suatu dashboard dengan fitur tracking terhadap relawan Tagana yang berada di lapangan.

Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bencana (SIMB) ini  mengintegrasikan sistem kebencanaan yang ada sehingga terjadi akselerasi penanggulangan bencana secara cepat dan tepat khususnya dalam respon darurat bencana.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI, Harry Hikmat menyampaikan bahwa tujuan dari pengembangan aplikasi GIS ini adalah untuk mempercepat dan memudahkan akses terhadap kaji cepat data, analisa kebutuhan, pengambilan keputusan komando darurat dan publikasi dari suatu kejadian bencana.

Risiko bencana di Indonesia sangat tinggi. Hal tersebut membuat masyarakat harus waspada terhadap bencana yang datang secara tiba-tiba. Berbagai terobosan terus dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) berhasil membuat aplikasi untuk meningkatkan mitigasi bencana yang diberi nama “Magma Indonesia”. Nantinya masyarakat bisa melihat berbagai macam informasi mengenai kebencanaan geologi secara real time.

8. Aplikasi Magma (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assesment)

Aplikasi ini diklaim sebagai aplikasi mobile pertama didunia yang memberikan sajian informasi kebencanaan geologi terintegrasi dalam satu jendela dan bisa diakses secara realtime. Aplikasi ini bisa diakses melalui website magma.vsi.esdm.go.id atau juga bisa diunduh di ponsel Android melalui Playstore.

Dalam aplikasi ini nanti masyarakat bisa mengetahui berbagai macam informasi kebencanaan, mulai dari status gunung berapi, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah tersaji dalam aplikasi tersebut.

Aplikasi Magma. (foto: rizkin)

Aplikasi Magma. (foto: rizkin)

Aplikasi ini dirancang untuk memberikan kemudahan pihak terkait dalam melakukan mitigasi bencana. Contoh jika terjadi peningkatan status gunung berapi.

Para pemangku kepentingan bisa lebih cepat melakukan langkah antisipasi dengan melihat informasi secara real time melalui aplikasi MAGMA. Sumber informasi yang ada diaplikasi tersebut didapat langsung dari lapangan. Untuk Gunung Api, setidaknya sudah ada 200 pengamat yang menyebar diseluruh  Indonesia.

9. Aplikasi FEWEAS

Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), Palang Merah Indonesia (PMI), Zurich Insurance Indonesia, Perum Jasa Tirta II, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PUSAIR) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), membangun aplikasi untuk mengantisipasi bencana banjir di beberapa wilayah sekitar Daerah Aliran Sungai Citarum. Aplikasi berbasis sistem Android, iOS dan Web-Based ini diberi nama FEWEAS (Flood Early Warnng and Early Action System).

Aplikasi FEWEAS ketika pertamakali diperkenalkan. (foto: itb.ac.id)

Aplikasi FEWEAS ketika pertamakali diperkenalkan. (foto: itb.ac.id)

FEWEAS Memiliki Tingkat Akurasi Tinggi dan Mudah Digunakan. Sistem yang merupakan kombinasi dari informasi prediksi cuaca dan prediksi genangan resolusi tinggi hingga 1 km, dinilai memiliki ketepatan tinggi. Tidak hanya itu, aplikasi FEWEAS mudah digunakan oleh masyarakat secara umum.

Masyarakat juga dapat berbagi informasi menggunakan aplikasi FEWEAS. Informasi yang dikirim FEWEAS adalah prediksi jangka pendek, menengah dan informasi observasi near real time. Prediksi jangka pendek di antaranya status kewaspadaan banjir, genangan, tinggi muka air, dan cuaca dalam interval 1 jam untuk tiga hari ke depan. Prediksi jangka menengah di antaranya prediksi kerentanan banjir dalam interval 10 hari untuk 5 tahun ke depan.

Untuk mengirimkan prediksi bencana pada masyarakat, FEWEAS juga dilengkapi dengan fitur Common Alerting Protocol (CAP) sebagai pendukung keputusan yang berguna untuk mengumumkan status kewaspadaan dan mengirim secara otomatis lewat web, Android/iOS, atau SMS. Pada aplikasi ini terdapat pula pilihan adaptasi untuk mengurangi level kerentanan bencana banjir dari hulu hingga hilir untuk 5 tahun ke depan. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response