Meluruskan Sejarah: Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy

Uang kertas "Pattimura". (foto: ist/palontaraq)

Uang kertas “Pattimura”. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

SEJARAH perlu kita luruskan kembali, agar anak cucu tidak semakin dibodohi oleh penulis-penulis yang punya maksud tersembunyi. Siapa yang tak kenal Kapitan Pattimura? Pahlawan Nasional yang gambarnya tertera di uang kertas Rp. 1000 keluaran tahun 2000. Perjuangannya dalan mengusir penjajah Belanda di Maluku sudah tidak diragukan lagi. namun yang menjadi masalah adalah agama yang dianutnya. Apakah ia beragama kristen atau Islam?

Pahlawan Nasional ini  sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Buku-buku Sejarah di Sekolah juga dikenalkan dengan nama Thomas Matulessy. Inilah Salah satu contoh penulisan sejarah deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Ahmad Lussy yang kemudian dikenal pula dengan Kapitan Pattimura lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku tanggal 8 Juni 1783 dan meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 dalam usia  34 tahun.

Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, disitu tertulis oleh M. Sapija, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara membantah sejarah diatas. Dia mengatakan dalam buku Api Sejarah-nya bahwa Ahmad Lussy (Pattimura) atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan bukan di Pulau Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah.

Ahmad Lussy adalah bangsawan dari Kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

perang

Foto ini diperoleh dari Museum Angkatan Laut di Prince Hendrik Kade, Rotterdam, Belanda, hasil lukisan komandan marinir Belanda, Q.M.R.Verhuell, yang menumpas pemberontakan Ahmad Lussy pada 1871. Verhuell melukis beliau saat membuat berita acara pemeriksaannya. (foto: ist/dok.KITLV Belanda)

Salah satu ungkapan Kapitan Pattimura yang terkenal adalah, “Nunu oli Nunu seli Nunu karipatu Patue karinunu”.  Artinya: “Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya. (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya”.

Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura.  Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya.

Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang Mujahidin yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis. (Buku Sejarah Kapitan Paitimura : M Sapija)

Monumen Pattimura di Ambon. (foto: ist/palontaraq)

Monumen Pattimura di Ambon. (foto: ist/palontaraq)

Ada Beberapa Catatan sejarah tentang Dari Pattimura selain M. Nour Tawainella dalam bukunya “ Menggali sejarah dan kearifan lokal Maluku“.

Referensi Sejarah berbahasa Belanda tentang Kapitan Pattimura dapat ditelusuri melalui buku, “Verhuel Herinneringen van een reis naar Oost Indien” (1835-1836), dan J.B. Van Doren (1857), “Thomas Matulesia, Het Hoofd Der Opstandelingen Van Het Eiland Honimoa”.

Kini, nama Pattimura telah dikenang melalui penerbitan uang kertas bergambar Pattimura, Monumen Pattimura, Universitas Pattimura dan dijadikan nama bandara di Maluku, Ambon. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response