Mengapa mesti Traveling? Ini 10 Alasannya!

by Etta Adil | Sabtu, Jul 28, 2018 | 492 views
Penulis di Tana Toraja (foto: ist/aplonatarq)

Penulis di Tana Toraja (foto: ist/aplonatarq)

TRAVELING merupakan aktifitas yang menyenangkan, digemari semua orang dan tanpa mengenal batas usia. Siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Kini,  traveling malah menjadi cara unik untuk menambah penghasilan. Tentu ada caranya, sebagai travel guide ataukah sebagai travel blogger. Tapi bukan menjadi travel guide atau travel blogger yang ingin penulis jelaskan. Kali ini, penulis ingin berbagi tentang nikmatnya menjadi traveler, pejalan, penjelajah, atau sebut saja seseorang yang suka bepergian.

Sudah menjadi fitrahnya, setiap orang ingin merasakan kebebasan, menikmati suasana baru di tempat yang baru, berkenalan dengan orang baru, mengenal bahasa dan tradisi orang lain, serta memahami kebiasaan dan budaya orang lain. Traveling berarti mencari suasana baru dalam hidup dan membuka diri  menerima perubahan yang ada. Seorang penikmati traveling adalah penikmat pengalaman pada setiap dinamika perjalanannya.

Traveler menikmati setiap detil dalam dinamika perjalanannya. (foto: ist/palontaraq)

Traveler menikmati setiap detil dalam dinamika perjalanannya. (foto: ist/palontaraq)

Berikut ini 10 alasan mengapa mesti melakukan Traveling (perjalanan)

1. Traveling Menambah Wawasan.

Traveling dapat menambah wawasan. Hal ini sudah sangat jelas dan tak bisa dibantah. Seseorang yang hobi traveling cenderung mengisi hati dan pikirannya dengan hal-hal inspiratif yang jarang ditemukan dalam rutinitas. Seseorang yang hobi traveling bukanlah berarti ia lari dari rutinitas, pekerjaan atau tanggung jawab. Pengalaman baru saat traveling justru akan menambah sudut pandang dan cakrawala pikiran seseorang menjadi terbuka dan lebih luas. Dalam traveling, banyak hal baru yang dapat diambil pelajaran dan pengalaman, dalam hal memaknai pergaulan sosial, kebiasaan dan budaya, tradisi dan hobi, bahasa dan karakter pertemanan, musim dan cuaca, serta hal lainnya.

Pantai Pulau Kapoposan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pantai Pulau Kapoposan. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Seseorang yang menyukai traveling dan sudah bepergian kemana saja, maka akan menambah wawasannya. Traveling bukan hanya membuka pikiran tentang karakter daerah atau tempat yang dikunjungi, tetapi juga karakter sosial, kuliner, budaya dan bahasanya. Memahami bahasa dan karakter pergaulan merupakan satu kelebihan tersendiri.

Semakin banyak daerah yang dikunjungi maka semakin banyak pula budaya daerah itu yang dipahami.  Setiap tempat baru, akan mengenalkan kebiasaan orang lokal, bahasa, budaya, sejarah, kuliner, dan berbagai hal menarik lainnya sehingga sudut pandang seorang traveler akan berubah, lebih luas, serta berpikiran lebih terbuka dibanding orang kebanyakan, yang merasa hebat di kampungnya sendiri.

Biasanya dalam perjalanan menuju suatu destinasi wisata,  banyak sekali orang yang ditemui sepanjang perjalanan, dan satu kelebihan tersendiri dapat mengajaknya berkomunikasi tentang apa saja. Seorang traveler umumnya juga orang yang terbuka dalam mengenal banyak orang dengan beragam hobi dan karakter. Beberapa orang mungkin merasa kesulitan berkomunikasi dengan orang yang baru ditemui pertamakali, namun jika sudah sering traveling maka dengan sendirinya memupuk kepercayaan dirinya untuk berkenalan dengan banyak orang serta memahami banyak tempat.

Penulis di Malioboro, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Malioboro, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

2. Traveling Merupakan Terapi Psikis

Percaya atau tidak,  Traveling merupakan satu cara yang efektif untuk menghilangkan stress atau kejenuhan dalam rutinitas pekerjaan. Semakin banyak pengalaman traveling, akan membuat pengalaman berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang menjadi semakin luas. Pengalaman ini  sangat bagus bagi kematangan emosional.  Hobi traveling juga dengan sendirinya akan memperkaya pengalaman batin dan psikologis berinteraksi dengan orang lain, dengan latar belakang yang beragam dan berbeda. Traveling membantu kita untuk lebih menghargai ketidaknyamanan yang mungkin terjadi dalam perjalanan dan mendorong agar emosi  segera stabil dan tetap tenang selama terjadi masalah.ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

Penulis di Bukit Teletubbies, Parang Bonto, Bonto Birao, Tondong Tallasa-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Bukit Teletubbies, Parang Bonto, Bonto Birao, Tondong Tallasa-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

3. Membuat Kita Lebih Easy-Going

Traveling membentuk  pribadi  lebih easy-going, tak mudah stress maupun emosi. Hidup itu tidak selamanya lurus, selalu ada saja masalah dan itulah sebenarnya yang membuatnya lebih seru. Percaya deh, dengan traveling membuat kita  belajar banyak tentang lika-liku kehidupan, selalu akan ada tantangan yang akan memacu daya kreatif dan imajinasi.  Tidak peduli, traveling sendiri, backpacker, atau menggunakan jasa travel.  ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

Easy going - Penulis di Lombok. (foto: ist/palontaraq)

Easy going – Penulis di Dusun Sade, Lombok. (foto: ist/palontaraq)

Banyak hal yang akan kamu temukan saat  traveling, mulai dari persiapan keberangkatan hingga budaya baru masyarakat lokal yang tinggal di lokasi wisata. Dalam melakukan perjalanan, kamu mungkin saja menemukan hal yang tidak sesuai dengan rencana, seperti tersesat, ketinggalan kereta atau bus, atau kehilangan barang. Disinilah seorang traveler akan belajar bagaimana memahami satu sama lain, dan belajar mengambil keputusan bersama.

Bertemu dengan orang baru, lingkungan baru, budaya baru, dan kebiasaan baru yang berbeda dari kebiasaan yang pernah kamu temui dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu kamu untuk mengisi kembali energi positif yang ada di dalam diri kamu dan membuat pikiran kamu lebih fresh. Dengan energi positif, selesai liburan pun kamu akan siap menghadapi hidup dengan lebih ceria, semangat, dan penuh senyuman.

ilustrasi (foto: ist/palontaraq)

Traveling membentuk pribadi easy-going. (foto: ist/palontaraq)

4. Traveling Membuat  Awet Muda

Traveling membuat hidup dan suasana hati lebih bahagia. Para prinsipnya, traveling membentuk kesenangan dan keceriaan. Traveling  merupakan gerbang pertemuan dengan Orang-orang baru dan teman lama tentunya. Ketika traveling, setiap saat kita dapat menemukan teman baru, berbagi cerita dan pengalaman, menemukan kesenangan pertemanan, saling memahami keakraban, serta saling tertawa dalam kesempatan mempelajari bahasa dan kebiasaan baru.  Traveling  merupakan satu kesempatan yang baik  untuk keluar dari diri kita yang biasa. Memilih berteman dengan orang yang berkarakter beda dalam traveling  akan memberi warna tersendiri dalam kamus pertemanan kita. Biasanya kita tidak perlu khawatir penilaian orang karena tidak ada seorangpun yang kita kenal sebelumnya.

Keceriaan dan pengalaman indah yang didapatkan dalam traveling akan membuat diri lebih awet muda, terlebih jika teman seperjalanan lebih banyak yang usianya lebih muda dari kita. Setiap perjalanan dan petualangan akan memotivasi diri untuk bergerak lebih energik, pantan menyerah, serta berpikiran terbuka.  Setiap menyelesaikan suatu perjalanan dan petualangan, pasti akan memunculkan sikap dan  karakter positif dalam menilai diri dan lingkungan sekitar.  Seorang traveler seakan dipaksa  belajar menjadi lebih mandiri dalam menghadapi persoalan yang ditemukan sepanjang perjalanan, seperti masalah penginapan, rute, transportasi, dan hal-hal lainnya yang membuat hidup ini menjadi seru, menantang dan menilai diri kembali muda. ㅤㅤㅤㅤㅤ

Untuk sampai di Taman Batu Karst harus melewati hamparan persawahan. (foto: hasbihct/palontaraq)

Traveling membuat awet muda (foto: hasbihct/palontaraq)

5. Traveling Membuang Pikiran Negatif

Hal yang istimewa dari traveling, kita akan selalu bisa berpikir positif dan membuang hal-hal yang merisaukan dan tidak mengenakkan. Traveling bagi kebanyakan orang mungkin seperti telah menjadi makanan sehari-hari. Hobi, lebih tepatnya. Saking seringnya melakukan perjalanan, seakan semua tempat dapat dijelajahi. Kesuksesan perjalanan demi perjalanan yang telah dilewati akan memudahkan perjalanan demi perjalanan berikutnya. Semua bayangan negatif akan kemungkinan buruknya perjalanan memberikan pengalaman sikap positif bahwa semuanya dapat dilewati dengan baik, apapun masalahnya.

Terlepas dari semua alasan itu, traveling pada dasarnya penting untuk dilakukan? Paling tidak sekali-dua kali dalam hidup untuk melihat hidup lain di tempat lain, pengalaman hidup yang berbeda di tempat lain, sehingga akan memunculkan rasa syukur akan karunia Tuhan. Pernah menonton film In to The Wild? Cerita tentang seorang petualang muda yang rela mewujudkan mimpi ke Alaska untuk mencari pengalaman hidup bermakna?  Film ini menginspirasi jutaan traveler  untuk berani menjelajah lokasi baru di luar zona nyamannya. Traveling akan memunculkan sikap positif dan menilai hidup dengan pikiran positif.

Lolai (foto: istimewa/palontaraq)

Traveling membuang pikiran negatif (foto: ist/palontaraq)

6. Traveling membuat Diri Simpati dan Berempati

Orang yang suka melakukan traveling akan lebih menghargai orang lain, karena mereka sadar setiap orang berbeda, baik dari segi fisik, budaya, bahasa, suku, agama, serta kecenderungan lainnya.  Orang yang tak pernah traveling, hanya tinggal terus di daerahnya umumnya cenderung memiliki ego tinggi.  Dengan traveling, akan ada kesadaran pada diri tentang banyaknya perbedaan yang ada di muka bumi ini, dari warna kulit, kebudayaan, bahasa dan agama. Tidak perlu ke luar negeri, di Indonesia saja perbedaan itu sangat terasa dan sangat nampak. Antara daerah yang satu dengan lainnya, antara pulau yang satu dengan lainnya, dan seterusnya.

Lebih banyak traveling membuat kita mudah simpatik dan empati terhadap kondisi miris daerah lain. (foto: ist/palontaraq)

Lebih banyak traveling membuat kita mudah simpatik dan empati terhadap kondisi miris daerah lain. (foto: ist/palontaraq)

Dengan pemahaman perbedaan-perbedaan kehidupan yang didapati dalam perjalanan, akan memunculkan sikap bijaksana dalam memandang diri dan lingkungan. Selain itu, rasa empati juga akan lebih terasah, apalagi jika memang menyukai traveling petualangan mengenal daerah dan budaya masyarakat.  Semakin banyak tempat yang dijelajahi akan semakin menanamkan sikap rendah hati dan tidak sombong.  Seorang traveler akan terasah jiwa simpati dan empatinya, karena memahami manusia dan kebudayaannya, dibanyak tempat, dibanyak lokus kebudayaan, dengan beragam karakter sosial dan kecenderungan hidup.

7. Banyak Cerita di Masa Tua

Pengalaman hidup yang banyak akan membuat seseorang memiliki banyak hal untuk diceritakan. Entah itu dituliskan lewat tulisan atau kelak hanya akan dibicarakan ketika menjadi orang tua atau kakek-nenek. Pengalaman traveling akan menjadi harta tak ternilai yang akan dikenang juga oleh anak cucu. Bertemu dengan lingkungan baru, mengeksplorasi setiap sudut kota yang terkenal dengan destinasi-destinasi wisata unik, ataupun sekedar melakukan refreshing agar pikiran lebih fresh dan jernih setelah pekerjaan rutin yang melelahkan menjadi keinginan bagi setiap individu yang berencana travelling.

Banyak cerita di masa tua. (foto: ist/palontaraq)

Traveling membuat pelakunya memiliki banyak cerita di masa tua. (foto: ist/palontaraq)

Traveling tak harus dilakukan untuk jarak yang sangat jauh, tapi  juga bisa dilakukan di daerah yang dekat  dengan biaya yang relatif murah. Masih banyak tempat indah yang belum dijelajahi, dan sekalipun sudah dijelajahi, sangat boleh jadi memunculkan pengalaman batin yang berbeda-beda dari setiap orang. Tandai wilayah mana saja yang belum sempat dijelajahi dan rencanakan liburan dengan baik untuk mengunjunginya. Traveling juga tidak perlu menunggu waktu hingga usia menua atau keuangan sudah mapan.  Selagi muda dan masih banyak energi, usahakan lebih banyak traveling. Mengapa? Karena traveling memberikan dampak yang baik, baik fisik maupun psikis, bagi kepuasan pikiran dan batin.

8. Berani Menghadapi Tantangan

Menyusuri daerah baru atau destinasi wisata baru  saat traveling, akan menjadi pengalaman yang menantang sekaligus mengasyikkan. Apalagi jika travelingnya dilakukan sendirian, tidak ikut dengan rombongan  travel, maka dapat dipastikan perjalanannya lebih seru dan menegangkan.

Saat traveling sendirian inilah, akan lebih terasa tantangan dan masalah bagaimana harus keluar dari zona nyaman menjadi pribadi yang mandiri. Bayangan tentang perjalanannya kesasar di suatu daerah, sendiri, dengan budget yang terbatas dan perbekalan semakin menipis akan menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Seorang traveler harus  belajar untuk bisa survive, dapat bertahan hidup dengan segala keterbatasan perbekalan, mandiri serta berani menghadapi setiap tantangan perjalanan.

Traveler berani menghadapi tantangan. (foto: ist/palontaraq)

Traveler berani menghadapi tantangan dan memiliki kekayaan pertimbangan saat menghadapi masalah. (foto: ist/palontaraq)

Liburan ke lokasi baru yang menarik akan membuat seorang traveler merasakan hal-hal baru, seru, dan menantang. Perjalanan akan memberikan rasa kebebasan kepada diri sendiri dalam setiap pengambilan keputusan terhadap arah dan langkah.  Seorang traveler harus bisa belajar banyak hal tentang kemandirian dan bertanggungjawab menghadapi setiap tantangan. Setiap tantangan yang berhasil diatasi dalam perjalanan dan pengalaman baru yang kamu temukan, akan membantu kamu lebih percaya diri.

9. Menemukan Hal Penting dalam Hidup

Di kota, umumnya seseorang cenderung membeli berbagai barang mewah yang sebenarnya bukan kebutuhan pokoknya. Hal ini berbeda ketika seseorang berada dalam perjalanan. Mau tidak mau, seorang traveler harus bisa membawa barang yang hanya merupakan benar-benar dibutuhkan, bukan barang-barang yang diinginkan. Disini seorang traveler belajar tentang skala prioritas dan hal penting dalam hidup, belajar tentang kesederhanaan dan menyadari bahwa yang kita inginkan tidak selamanya merupakan hal yang kita butuhkan.

Mencipta dan Membaca Puisi, kegiatan asyik saat jelang buka puasa. (foto: hasbihtc/palontaraq)

Traveling melatih kemandirian dan kematangan (foto: hasbihtc/palontaraq)

10. Traveling Melatih Kemandirian dan Kematangan

Berpergian sendirian membuat seorang traveler lebih mandiri. Tantangan perjalanan membuat seseorang matang dalam menentukan pilihan-pilihan yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup. Seorang traveler akan belajar banyak bagaimana mengatasi hambatan-hambatan sepanjang perjalanan yang sebenarnya merupakan gambaran dinamika hidup yang tidak selamanya berjalan mulus, misalnya seperti ketinggalan bus, tas yang hilang di bagasi pesawat, atau tersesat. Dari berbagai masalah tersebut, seorang traveler  belajar berpikir keras untuk mengatasinya sendirian atau paling tidak belajar bagaimana persiapan perjalanan yang lebih matang di masa yang akan datang. Hal ini akan membuat dirimu lebih berhati-hati dan mengambil keputusan secara bertanggungjawab.

Penulis di Stasiun Balapan, Solo. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Stasiun Balapan, Solo. (foto: ist/palontaraq)

Demikianlah 10 alasan mengapa penting untuk melakukan traveling dan belajar banyak dari berbagai pengalaman perjalanan. Lanjutan dari tulisan ini nantinya, penulis akan mengulas bagaimana melakukan perjalanan yang asyik dan seru saat melakukan perjalanan rombongan atau bersama pasangan. Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response