Menulis sebagai Terapi Kejiwaan

by Etta Adil | Senin, Jul 9, 2018 | 553 views

Menulislah! Nyatakan dirimu dan pemikiran masih ada. (foto: mfaridwm)

SETIAP  orang memiliki alasan yang berbeda-beda untuk menulis, seperti halnya setiap orang punya alasan yang berbeda untuk tidak menulis. Bagi sebagian besar orang, menulis hanya diperlukan untuk memenuhi tuntutan tugas, baik tugas sekolah maupun tugas kuliah, begitupun tugas kantor atau pekerjaan. Meski begitu, tak sedikit pula menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan, sebagai suatu profesi, sebagai suatu jalan hidup.

Dalam konteks pembelajaran, menulis merupakan jalan untuk mengikat pengetahuan. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, kata Imam Ali bin Abi Thalib. Seorang pembelajar sejati umumnya menjadikan kegiatan menulis untuk mengokohkan pemahamannya serta mewariskan pengetahuannya, sehingga pengetahuan berkembang lewat tulisan. Pemahaman berbanding lurus dengan kemampuan literasi, membaca dan menulis. Bukanlah seorang pembelajar yang tak mampu menulis. Tak sedikit pula, seorang pembelajar menjadikan menulis sebagai jalan jihad baginya, berdakwah lewat tulisan.

Menulis bagi sebagian orang merupakan jalan untuk menambah penghasilan, bagi sebagian yang lain hanya menjadikannya sebagai kesenangan. Ya, kesenangan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Menulis juga dapat mengantarkan seseorang menjadi ‘selebriti’ media dan jika terus konsisten menulis, menjadi jalan baginya dipanggil dimana-mana sebagai pembicara, pemateri, serta ahli dalam bidang tertentu terhadap topik bahasan yang sering ditulisnya. Ternyata, bagi seseorang yang senang menulis, kegiatan itu menjadi terapi kesehatan baginya, baik fisik maupun secara psikis.

Selfie - Nulis dulu, baru kamu! (foto: ist/mfaridwm)

Menulis bermanfaat sebagai terapi psikis. (foto: ist/mfaridwm)

Keahlian menulis menyimpan banyak manfaat, lebih dari sekadar kemampuan memilah dan merangkai kata. Menulis pada prinsipnya merupakan saluran pikiran dan perasaan yang sehat. Menulis dengan sendirinya dapat meningkatkan daya ingat, menurunkan tekanan darah, serta mengurangi potensi stress. Menulis adalah penyaluran yang bagus dan sehat untuk meningkatkan mood, mengisi kekosongan diantara jeda pekerjaan, serta sebagai saluran silaturrahim berbagai isu, wacana, serta pengetahuan yang berkembang diantara berbagai media.

Banyak penelitian yang sudah dipublikasi tentang Menulis sebagai terapi kejiwaan, khususnya bagi mereka yang memiliki trauma masa lalu, kecenderungan terhadap lingkungan tertentu, ataupun masalah sosial. Pennebaker telah membuktikan hal ini, hasil penelitiannya di Fakultas Psikologi Universitas Southern Methodist, menyebutkan bahwa orang yang mengalami suatu penyakit mental akibat masalah sosial atau trauma akibat peristiwa berat di masa lalu, akan merasa lebih sehat setelah menulis. Dengan menulis sebagai terapi, dapat meningkatkan Sel Darah Putih, dan secara umum keseimbangan kesehatan jasmani-mental.

Dilansir dari Journal of Consulting and Clinical Psychology, Orang-orang yang gemar menulis umumnya memiliki kondisi mental yang lebih sehat dan stabil dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Kesehatan mental tentunya akan memberi stimulasi yang baik dan positif pada tubuh. Saat ini, menulis sebagai terapi kejiwaan sudah digunakan sebagai salah satu metode dalam Psikologi Klinis untuk membantu pasien yang tertekan dengan masalah hidupnya.

Menulis sebagai kebutuhan untuk berkembang (foto: nhany_rk)

Menulis sebagai kebutuhan untuk sehat, fisik dan psikis (foto: ist/palontaraq)

Karen Baikie, Psikolog dari University of New South Wales (UNSW) Australia membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan, serta penuh emosi jika dituliskan bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Kegiatan menulis berkorelasi erat dengan kebahagiaan. Hal ini dibuktikan lewat penelitian Laura King, bahwa menulis tentang pencapaian tujuan dan impian masa depan dapat membuat orang lebih bahagia dan lebih sehat. Jadi, jika diri merasa tertekan dan galau, cobalah tuliskan sendiri kegalauan itu, dan baca ulang kembali, tulis lagi dan baca ulang lagi, sampai kemudian tulisan tersebut membuat tersenyum dan kita menemukan kembali kebahagiaan dan hikmah dari tulisan kita sendiri. Wallahu ‘alam bis-shawab. (*)

 

Salam Literasi
Like it? Share it!

Leave A Response