Dokter Penulis ini Ingatkan Harga Lutut Rp.200 Juta

dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

Tak banyak dokter yang multi-talenta, tapi bukan berarti tidak ada. Bahkan sosok dokter yang satu ini sering tampil di berbagai media, sebagai pembicara dan sebagai penulis buku-buku best seller kesehatan. Adalah Hendrawan Nadesul sosok yang multi-talenta itu, sebagai seorang dokter, penulis, dan penyair. Karya puisinya yang ditulis sejak tahun 1967-2004 diterbitkan dengan judul Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh: Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi, selain Kepada Alammater, Surat-surat Yang Tak Terkirimkan, Sajak-sajak Di Bawah Matahari.

Dokter Hendrawan Nadesul sangat produktif menulis. Sampai Tahun 2010, sudah lebih 1.500 artikel kesehatan, opini, dan kolom, 76 judul buku kesehatan dipublikasikan. Beberapa dari bukunya masuk dalam jajaran laris (bestseller), diantaranya Sehat Itu Murah (2007) sampai tahun 2008 sudah 10 kali cetak ulang, Buku Sehat Calon Pengantin sampai 2008 sudah 3 kali cetak ulang, Cara Sehat Menjadi Perempuan sampai 2008 sudah 3 kali cetak ulang, Membesarkan Bayi Jadi Anak Pintar sampai 2008 sudah 3 kali cetak ulang, Ibu Hamil Sehat sampai 2008 sudah 18 kali cetak ulang, Demam Berdarah: 100 Pertanyaan dan Jawaban (Edisi Revisi) – Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah (Penerbit Buku Kompas), Sehat Pranikah; Resep Mudah Tetap Sehat; Cantik, Cerdas, Feminin. Tahun 2009 dengan Penerbit Buku Kompas, Antologi puisi bersama 14 Penyair Indonesia bertajuk Senandoeng Radja Ketjil pada tahun 2010, serta Dari Negeri Poci (1993, 1994, 1996, 2013, dan 2014)

Buku-buku Kesehatan karya dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

Buku-buku Kesehatan karya dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

Sebagai Health Motivator, dr. Hendrawan Nadesul mengingatkan untuk menjaga dan memelihara kesehatan sesuai dengan usia. Jangan sampai mengeluarkan biaya begitu banyak karena ketidak-tahuan terhadap kesehatan. “Banyak yang tidak tahu, karena memang tidak ada yang memberi tahu, kalau sudah usia kepala 5, sebaiknya tidak memilih jogging, berlari, apalagi lompat untuk kesehatan lutut. Pengetahuan yang sesungguhnya murah ini menjadi mahal, bahkan bisa sangat mahal jika masyarakat tidak tahu karena sendi lutut telanjur rusak. Oleh karena ongkos mengganti satu lutut yang telanjur rusak akibat tidak tahu itu, harganya Rp 200 juta!!

Dokter Penyair ini juga mengingatkan agar jangan sampai salah memperlakukan sendi lutut. Akibat masih tetap jogging, berlari, main tennis, badminton, volley, dan aktivitas fisik lainnya yang membebani sendi lutut. Hal ini yang dimaksudkannya dengan pengetahuan sehat itu murah. Contoh lain yang tidak boleh dilakukan di usia kepala 5, tidak menginjak kerikil tanpa alas kaki sehingga persarafan telapak kaki menderita radang akibat tertekan kerasnya kerikil yg sangat keras selama memikul bobot tubuh. Menurutnya, Alasan bahwa itu sebagai refleksologi tidak bisa diterima akal sehat.

Buku karya dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

Buku karya dr. Hendrawan Nadesul. (foto: ist/palontaraq)

“Refleksologi? Tekanan yg diterima telapak kaki hanya dilakukan oleh jempol tangan saja yg tekanannya paling kuat hanya sekitar 5 kg. Namun apabila berdiri di atas kerikil, tekanannya adalah seberat bobot tubuh. Karena tidak ada yang memberi tahu dan hanya karena mendengar katanya menginjak kerikil tanpa alas kaki bisa menyehatkan, maka yang semula maunya sehat, malah jadi korban kerusakan syaraf telapak kaki dan bisa mengakibatkan terjadinya fascitis/plantaris. Murahnya pengetahuan yang memberi informasi tidak menginjak kerikil tanpa alas itu menjadi mahal kalau kita tidak tahu. Intinya, jaga kesehatan dan perlakukan tubuh sesuai usia”, jelas dokter yang juga penulis buku “Jurus Sehat Tanpa Ongkos” ini. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response